Botak Licin - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Mati bahagia

Tonny Tokan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 November 2021

Jumat, 26 November 2021 21:23 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Botak Licin

    Setelah menghabiskan waktu dua tahun di penjara, nama yang telah melekat padanya kemudian ia persingkat menjadi Boli, yang memang artinya tetap sama yaitu botak licin. Pada bagian belakang namanya ia ganti. Menurut pendapat pribadinya, didukung oleh teman-teman sepemabukan, Sang Provokator adalah nama bagi seorang pengecut.

    Dibaca : 260 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Ibu, berceritalah pada kami tentang Boli Bajingan.” Ujar Tomas pada sebuah makan malam menyenangkan ketika diisi oleh kisah-kisah yang pernah menjadi sejarah panjang kampung. Ibu menghentikan makan kemudian mulai bercerita.

     

    2003-2005

    Nakalnya Boli tak tanggung-tanggung. Meski tubuhnya kurus kerempeng dan kepalan tangannya hanya sebesar ukuran tangan orang-orang gizi buruk di Sudan tahun 1993, tetapi jangan ditanya sebesar apa nyali kurus kerempeng ini. Ia bahkan bisa mengancam satu kompleks meskipun itu bukan kompleks koramil, atau bahkan bisa mengumpulkan satu kampung hanya untuk ikut pesta tuak dan makan babi hasil curian.

    Meski ia tidak disukai oleh orang-orangtua di kampung itu, Boli sangat dicintai oleh politisi terutama jika pemilu tiba. Tidak peduli Boli buta huruf atau bahkan bebal minta ampun, kemampuannya mengorganisir massa adalah sesuatu yang sudah sepatutnya bikin ia tak bisa dianggap sepele. Ia bahkan bisa membuat seorang politisi menang telak tanpa harus susah payah kampanye di kampung-kampung.

    Perihal namanya, tentu punya asal usul sendiri. Sudah dapat dipastikan nama baptisnya bukan Boli, melainkan Markus. Perihal mengapa ia dipanggil Boli adalah sebuah musabab yang tak kalah menarik dari cerita pencurian babi atau kemampuan mengorganisir massa saat pemilu. Nama itu diberikan ketika pada suatu masa ia masuk penjara akibat memutuskan telinga salah satu seporter bola saat tawuran di kampung. Ia berakhir di penjara, dipukul babak belur oleh polisi dan tahanan lama, digunduli kepalanya, sebelum akhirnya dibaptis ulang oleh tahanan lama dengan nama Botal licin sang provokator.

    Setelah menghabiskan waktu dua tahun di penjara, nama yang telah melekat padanya kemudian ia persingkat menjadi Boli, yang memang artinya tetap sama yaitu botak licin. Pada bagian belakang namanya ia ganti. Menurut pendapat pribadinya, didukung oleh teman-teman sepemabukan, Sang Provokator adalah nama bagi seorang pengecut. Ia harus menggantinya dengan bajingan. Maka berdasarkan voting serampangan di tempat mangkal, namanya pun berubah menjadi Boli Bajingan.

    Sejak keluar dari penjara, karirnya dalam hal-hal buruk semakin mendarah daging. Saking sering dianggap sebagai tukang bikin onar, Boli mulai naik tingkat setelah mengamini semua anggapan orang pada dirinya. Di lain sisi, tentu kau dapat segera mengetahui, siapa yang kemudian merajai dunia perpremanan di kampung itu. Dari aktivitas curi babi, minum tuak dan pajak pasar, kini telah berubah menjadi kaki tangan politisi saat pemilu. Ia bahkan punya jatah khusus setiap pemilu.

    Bagaimanapun, Boli menyadari seberapa jauh kemampuannya sebagai seorang lelaki kurang pendidikan. Ia hanya tamat SD. Dapat dipastikan jatah untuknya jelas tidak layak ia tempati. Ia bahkan menyadari yang bisa ia lakukan sebagai manusia hanyalah hal-hal yang bagi orang lain dianggap sebagai hal bodoh. Kesadaran semacam ini membuat jatah yang jatuh kepadanya, entah sebagai pegawai negeri sipil di salah satu kantor atau pegawai bank di kantor lainnya, ia berikan secara cuma-cuma bagi para sahabat dan kenalannya.

    Ia pernah memasukan Sia menjadi pegawai di kantor catatan sipil, ia pernah memasukan Lia di dinas pendidikan dan kebudayaan, juga pernah memasukan si cantik Lian menjadi pegawai bank di salah satu kantor cabang di kota. Boli punya banyak kenalan politisi, kepala dinas dan para pegawai di kantor-kantor lain. Bukan mustahil baginya memasukan orang lain bekerja di kantor-kantor penting tanpa harus mengikuti prosedur tes. Tinggal sebut nama salah satu anggota dewan kenalannya, selesai urusan.

    Ia tidak hanya memberikan para perempuan pekerjaan. Beberapa lelaki lulusan perguruan tinggi yang sering menghabiskan masa pengangguran mereka di pinggir jalan bersamanya, ikut ia masukan ke berbagai instansi penting di kota. Meski ia tahu terkadang ia punya jenis ketidaksukaan khusus pada orang-orang di perguruan tinggi dengan banyak istilah aneh yang entah mereka pungut dari mana, tetapi ia tetap merasa kasihan pada mereka. Setidaknya bagi Boli, sekolah dan jumlah uang yang telah mereka keluarkan untuk membeli banyak istilah aneh di perguruan tinggi, tidak membuat mereka menjadi orang-orang tidak berguna dalam pandangan masyarakat dan Negara.

    Suatu ketika Boli ditanya oleh sesama pemabuk di bawah pohon beringin, mengapa ia mau melakukan itu untuk orang-orang yang dengan jelas ikut membencinya sebagai pembuat onar di kampung. Boli dengan santai berkata kepada temannya,

    “Mereka sudah mengeluarkan uang banyak untuk membeli istilah-istilah aneh. Biarkan mereka menutupi utang orangtua mereka dengan pekerjaan itu.”

    Jawaban semacam ini tentu bikin teman-temannya tak hanya naik darah, melainkan ingin melayangkan tinju di wajah Boli, meski mereka tak pernah sanggup melakukannya. Tentu saja rasa jengkel sesama putus sekolah itu bukan disebabkan oleh iri hati, melainkan karena mengetahui bahwa Boli Bajingan terlampau murah hati pada orang-orang yang membencinya.

    Sisi lain dari pemuda kurus kerempeng ini tidak hanya soal bagaimana ia melakukan kebaikan yang hanya menjadi konsumsi sesama pemabuk di tempat mangkal pohon beringin samping pasar. Ia bahkan punya kesepakatan dengan orang-orang yang telah ia masukan bekerja di segala instansi penting di kota, bahwa mereka tidak boleh memberitahu siapapun bahkan orangtua mereka, bahwa Bolilah yang mempromosikan mereka hingga dapat bekerja di tempat itu.

    Meski pada dasarnya, terkadang orang-orang itu bersikeras ingin bercerita, Boli akan datang menggunakan cara lain yaitu dengan ancaman mencuri anak babi mereka, atau meminta para petinggi di kantor memecat pegawainya. Orang-orang itu pun akan pasrah dengan satu gerakan bungkam sepanjang menjalani karir sebagai pegawai di kantor-kantor penting di kota.

    Cerita tentang Boli barangkali baru sebuah permulaan. Ia bahkan punya sisi yang jarang diketahui oleh teman-temannya. Boli bahkan tidak menceritakan itu pada teman-teman pemabuk, selain ia simpan sendiri luka batinnya, menjadi bagian yang ia sembunyikan rapat di dasar ingatannya, namun sewaktu-waktu menciptakan sungai di matanya ketika malam menyeret kembali ingatan yang sebetulnya tidak pernah ia minta.

     

    1993-2003

    Anak pertama dari pasangan Lukas dan Rina baru saja lahir tepat sehari setelah Kevin Carter, seorang Fotographer penerima Pulitzer Prize untuk fotonya kelaparan di Sudan pada tahun 1993, ditemukan tewas bunuh diri. Lukas yang adalah seorang Jurnalis di salah satu media di Jakarta bersikeras ingin menamai anaknya Kevin, tetapi seminggu setelahnya, anak itu tak berhenti menangis. Menurut penjabaran seorang tetua di Jakarta yang mereka temui untuk suatu konsultasi perihal anak mereka mengungkapkan bahwa, kakeknya di liang lahat tak sudi anaknya diberi nama kevin, selain harus diberi nama sesuai dengan namanya.

    Saran yang datang tak bisa mereka kompromikan. Bagaimanapun, sepasang kekasih itu masih memegang teguh pesan leluhur, meski beberapa saran seperti soal nama sungguh tak masuk akal kedengaran di telinga mereka, keduanya kemudian bersepakat mengubah nama Ignasius Kevin menjadi Markus Laba, sesuai dengan nama salah satu leluhur Lukas.

    Demikianlah bocah kecil itu menjadi Markus Laba, anak pertama dan satu-satunya dari hasil pernikahan Lukas dan Rina. Tentu program mendapatkan anak selalu mereka jalankan guna mendapatkan anak kedua. Namun terkadang faktor penghambat justru bukan datang dari ranjang melainkan dari lingkungan dimana mereka menetap.

    Situasi Jakarta yang tak bisa dikontrol, baik dari pendapatan ekonomi pra krisis hingga buronan militer apabila menuliskan berita kritis, dengan sendirinya tidak hanya mempengaruhi gairah bercinta mereka, melainkan berdampak pada dapur ekonomi pribadi keluarga kecil tersebut. Dalam dua bulan terakhir sejak Redaktur surat kabar tempat Lukas bekerja ditangkap, nasib sial pun ikut serta menimpah Lukas. Ia tak hanya kehilangan pekerjaannya, ia juga kehilangan sumber ekonominya. Demikian dapat dikatakan gempa bumi dalam keluarga segera terjadi. Mulai dari adu mulut sampai saling meninggalkan satu sama lain, meski pada akhirnya tak sungguh-sungguh saling meninggalkan.

    Dengan inisiatif kecil akibat perkara besar yang tak dapat dikontrol dengan kedua tangannya, Lukas memutuskan mengirim Rina dan Marlus kembali ke kampung. Cerita tentang pertumbuhan Markus dengan sendirinya menghilang dari padangan ayahnya, sekaligus dengan cara yang sama kabar tentang Lukas mulai tak terdengar di pelosok manapun.

    Menurut pengakuan orang-orang yang kembali dari Jakarta ke kampung, Lukas bahkan tidak pernah terlihat lagi sejak tahun 1997. Tak satupun titipan atau bahkan pesan singkat yang bisa menguatkan Rina dan keluarga bahwa Lukas masih hidup. Keyakinan terus bertumbuh dalam harap yang lebih terdengar sia-sia daripada masuk akal.

    Dituntun oleh perasaan kehilangan berkepanjangan, dan karena pada hakikatnya cinta punya daya magis dalam membunuh seseorang, maka pada suatu malam di luar kendali siapapun, tepatnya pada tahun 2003, Rina mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

     

    2017-2019

    Barangkali benar belaka bahwa tidak semua manusia dapat bebas dari masa lalunya. Bagaimanapun caranya, mereka terikat dengan hal-hal aneh yang dapat menjelma hal-hal menyedihkan kapan saja sebelum mereka benar-benar tertidur. Demikian pula yang terjadi pada Boli Bajingan. Pada tahun yang berat setelah usianya menginjak 25 tahun, kami menemukan Boli mati dalam keadaan dan tempat yang sama dimana ibunya gantung diri.

    “Mengapa ia mengakhiri hidupnya, ibu?” Tanya Tomas dengan raut wajah serius.

    “Ibu tak tahu.” Jawab ibu datar, sebelum akhirnya menghabiskan sisa nasi yang sempat tertunda dalam piring.

    Makan malam itu menjadi jauh lebih menakutkan dari sebelumnya. Usia kami sudah cukup untuk memahami apa yang mengakibatkan seluruh kekacauan yang terjadi pada Boli Bajingan. Dan karena itu pulalah cerita ini diceritakan oleh ibu pada kami sebelum akhir kami mengenangnya hari ini sebagai air mata, cerita dan sejarah.

     

    Yogyakarta, 2021

    Ikuti tulisan menarik Tonny Tokan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Arif Munandar Prayitno

    12 jam lalu

    Senja

    Dibaca : 85 kali


    Oleh: Farhanaang__

    12 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 135 kali