x

Iklan

Agustinus Donny

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 November 2021

Minggu, 28 November 2021 13:48 WIB

Kelewatan

Bahkan Arga tak menyangka kalau masalahnya bisa serumit ini. Cerita ini diikutkan dalam lomba "Sayembara Cerpen Indonesiana"

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“Bu, aku berangkat sekolah dulu ya! Nanti aku pulang jam 11.00 karena hari Kamis hanya ada 3 pelajaran saja.” kata Arga sambil mencium tangan ibu.

“Ya, hati-hati di jalan ya, Nak! Ingat pesan ibu, jangan ngebut-ngebut di jalan.” balas ibu yang sedang menyapu halaman rumah.

Arga langsung mengambil motornya, kemudian dia berangkat sekolah. Lalu lintas hari ini tidak terlalu ramai. Arga pun menaikan sedikit kecepatan motornya supaya sampai ke sekolah lebih cepat.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sesampainya di sekolah, Arga tak lupa untuk mengecek suhu badannya. Suhunya normal. Setelah itu, Arga langsung memarkirkan motornya di sisi paling pojok dan mengunci motornya. Kemudian masuk ke kelas dan menuliskan suhunya pada list nama siswa dan suhunya masing-masing.

Arga biasanya langsung bergabung Bersama teman-temannya yang lain di belakang, namun kali ini ia tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia mengecek ulang tugas bahasa Inggris minggu kemarin karena masih kurang yakin.

“Ga, kamu udah ngerjain tugas bahasa Inggris minggu kemarin? Kalo udah liat dong. Hehe.” tanya Fitri, gadis yang duduk di depan Arga.

“Udah nih. Barusan aku cek ulang.” kata Arga sambil memberikan buku tugasnya.

Bel jam pertama berbunyi. Saatnya mengikuti pelajaran. Arga mengeluarkan semua buku pelajarannya hari ini lalu dia menaruhnya laci meja.

Ketika jam istirahat, Arga pun hanya keluar ke kamar mandi saja lalu menghabiskan waktu istirahat di kelas seperti temannya yang lain. Ia dan teman-temannya seperti Restu, Budi, Aji, dan Supri bermain game online yaitu Clash of Clans bersama-sama. Kali ini mereka sangat bersemangat karena sedang ada perang antarklan. Mereka pun Menyusun pasukan dan meminta pasukan tambahan untuk menyerang base musuh.

“Hadeh. Tau gini pake data internet sendiri aja, WiFi kelas jelek sinyalnya.” kata Arga sambil mengeluarkan muka tak bersalah.

“Ah, dasar beban kamu, Ga! Canda, Ga, hehehe.” kata Supri.

“Nggak apa-apa, Ga. Tenang. Masih ada satu kesempatan lagi kok.” kata Aji.

“Maaf ya, ehehehe.” kata Arga masih dengan muka tak bersalahnya.

Bel jam terakhir pun berbunyi, Arga dan teman-temannya bersiap untuk pelajaran terakhir.

 

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, para siswa pun bergegas pergi ke parkiran untuk mengambil motor. Arga langsung menuju tempat parkir untuk mengambil motornya, lalu pulang menuju ke rumah.

Ketika di jalan, Arga tak sengaja mendapati murid SMA yang sama dengannya dan kemungkinan murid tersebut adalah adik kelasnya.

“Buset. Ni kok anak kayak anggota geng motor ya? Udah knalpotnya brong. Berisik. Gak pake helm pula. Eh udah gitu jalannya lambat pake digeber-geber motornya. Hadeh baru 3 detik di belakangnya aja rasanya kuping udah budeg. Belum lagi rambutnya begitu, udah mirip anak geng motor banget.” kata Arga dalam hati.

Arga ingin menyalipnya, namun ia ragu karena ia takut murid tadi akan menyalipnya lalu terjadi drama saling salip-menyalip.

“Salip gak ya? Ntar kalo dia nyalip lagi habi itu geber-geber lagi, terus malah jadi masalah gimana dong?” tanya Arga pada dirinya sendiri.

“Salip aja lah. Berisik banget knalpotnya. Semoga aja gak kenapa-kenapa.” jawab Arga.

Arga pun menyalip murid tadi. Hal buruk yang dipikirkannya pun terjadi. Murid tadi menyalip Arga kembali. Kali ini, murid tersebut menggeber-geberkan motornya di samping Arga.

Arga pun menambah kecepatan motor matiknya dengan harapan menghindari kebisingan murid tersebut. Namun murid tadi malah kembali menyalip Arga dan menggeberkan motornya kembali di samping Arga. Hal yang sama terus berulang selama 3 kali. Arga pun kelepasan emosinya.

“Woi, tau berisik nggak? Motor bagus-bagus malah dipretelin jadi jelek, pasang ban tipis, ganti knalpot bobok. Naiknya gak pake helm pula. Merasa keren kah?” teriak Arga pada murid tersebut Ketika berada di sampingnya.

Murid tadi dengan cepat menghalau Arga dan memberhentikannya di pinggir jalan.

“Dasar, masih kelas 10 aja gayanya minta ampun.” ucap Arga dalam hati.

“Maksudmu apa ngata-ngatain kayak gitu? Jangan mentang-mentang kakak kelas jadi bisa nasihatin adik kelas deh!” kata si murid banyak gaya.

“Lah? Udah jelas salah, malah ngotot. Dikira knalpot bobok nggak bikin berisik apa gimana? Wong sekolahan aja ngelarang knalpot bobok kok kamu nekat pake knalpot bobok.” balas Arga dengan tegas

“Kalo gak suka mending berantem aja yok sekalian biar selesai masalah!” kata murid banyak gaya dengan penuh kesombongannya.

“Daripada ngabisin waktu buat berantem, mending waktunya dimanfaatin buat kamu ngaca sama mikir ini kira-kira bener nggak. Syukur-syukur sadar.” kata Arga yang masih mencoba menahan amarahnya.

“Dasar kakak kelas iri! Mending gak usah sok ceramahin adik kelas deh.” ucap murid banyak gaya.

Suasana memanas. Begitu pula dengan panasnya matahari pada siang hari. Murid tadi masih bersikeras terhadap pendiriannya. Emosi Arga mulai mencapai batasnya. Arga merupakan orang yang ketika sudah marah, ia tidak bisa dibendung. Kemarahannya hanya akan muncul ketika ia sudah benar-benar murka.

“KNALPOTMU ITU BIKIN BERISIK. GAK CUMA AKU, TAPI ORANG DI JALAN JUGA GAK TAHAN DENGERNYA. PAHAM GAK, KAMU!!? ” kata Arga dengan amarah telah ia tahan sejak berpapasan dengan murid banyak gaya.

 

“Udah ayok mending kita berantem aja! KAKAK KELAS BANYAK CINCONG!” kata murid banyak gaya yang langsung mendaratkan pukulan kencang ke muka Arga.

Arga mengelak. Ia berusaha sekeras mungkin menahan amarahnya untuk tidak menghajar si murid banyak gaya tadi. Pada saat yang sama ketika pipi Arga terkena pukulan si murid banyak gaya, Pak Adi, staff kesiswaan di sekolahan, membunyikan klakson sekencang mungkin di depan Arga dan si murid. Pak Adi pun turun dan melerai mereka berdua. Pak Adi juga meminggirkan mereka dari pinggir jalan.

“ADA APA INI? Kalian berantem di pinggir jalan. Kamu, Arga. Kenapa kamu berantem sama adik kelas?” tanya Pak Adi dengan nada tinggi.

“Iya nih, Pak! Mentang-mentang kakak kelas!” kata si murid banyak gaya.

“Mas, kamu tolong diam dulu. Saya lagi ngomong sama Arga. Bukan sama kamu, Mas!” kata Pak Adi dengan tegas.

Arga kemudian menjelaskan dengan detail kepada Pak Andi tentang peristiwa yang terjadi. Lalu Pak Adi menyadari sesuatu.

“Mas, kamu namanya Bastian, ya? Kalo saya gak salah inget, Kamu yang pas hari Senin kemarin dihukum suruh lari muter lapangan sekolahan 30 kali ya?” tanya Pak Adi.

“I-i-iya, Pak.” kata Bastian, si murid banyak gaya dengan gagap dan nada bicaranya mulai melemah. Aura songongnya mulai berkurang.

“Hemmmmm. Mas Bastian, kamu ini gimana? Kemarin kamu dihukum karena motormu ini melanggar aturan sekolah terus kamu tiap berangkat itu nggak pernah pake helm kan? Terus kalo nggak salah, kamu didenda 100 ribu sebagai kas kelas kan, Mas?” tanya Pak Adi.

Bastian pun terdiam. Ia malu dan lupa kalau guru yang ia ajak bicara melihatnya dihukum pada hari Senin. Mukanya pun bingung. Bastian tak mengeluarkan satu kata pun. Muka malunya tidak terbendung.

“Kalo diam, berarti iya, ya, Mas?” tanya Pak Adi.

“I-i-i-iya, Pak. Saya yang hari Senin dihukum.” kata Bastian .

“Lho, kamu ini gimana, sih, Mas? Motormu itu udah jelas melanggar aturan sekolah. Tapi sama kamu masih dipake, eh kamunya pas naik gak pake helm. Hukuman lari muter lapangan masih kurang ya? Kalo kurang nanti saya sama staff kesiswaan ganti hukumannya sama yang lebih “bagus” lagi.” Kata Pak Adi dengan tegas.  

Pak Adi menasihati mereka berdua. Ia berkata bahwa perbuatan yang Arga lakukan tidaklah sepenuhnya salah. Namun, ada baiknya jika Arga tidak menanggapi perbuatan Bastian.

Pak Adi juga berkata kalau apa yang dilakukan Bastian tidak dapat dibenarkan dari sisi manapun. Bastian seharusnya sadar akan perbuatannya dan tidak mengulanginya, apalagi ia sudah terkena sanksi dan denda. Pak Adi sebagai staff kesiswaan memberi hukuman lagi kepada Bastian karena tidak mengindahkan aturan. Setelah itu, mereka disuruh pulang. Bastian diminta Pak Adi untuk menghadap ke kesiswaan bersama orangtuanya.

 

Keesokan harinya, Bastian dan orang tuanya memenuhi panggilan kesiswaan. Kemudian Pak Adi selaku saksi dan penengah menjelaskan semua yang terjadi tanpa ada yang dirubah.

“Si Bastian ini gabung ke geng motor. Dia sudah gabung dari kelas 8 sewaktu di SMP. Dia itu suka banget modif motor karena ajakan teman-teman di gengnya. Jujur saya berat banget, Pak. Sebagai bapak yang cuma jadi supir angkot, penghasilan gak seberapa, terus istri saya juga cuma jualan kue tradisional di pasar. Hobinya Bastian ini sangat membebani, Pak. Sekali modif itu bisa habis banyak sekali. Setiap bulan, Bastian pasti minta uang buat modif ulang motornya.” kata ayah Bastian sambil menangis.

“Bastian terpengaruh perkataan temannya yang membujuk Bastian untuk menggunakan motor hasil modifannya ke sekolah. Pergaulannya ini udah gak bener, Pak. Pernah suatu hari Bastian ini pulang jam 2 pagi dengan luka parah di kakinya. Dia jatuh dari motor karena ikut balapan liar, Pak. Kami sebagai orangtua sudah mencoba keras mengingatkan. Tapi sifatnya Bastian ini keras sekali. Susah diatur. Kami mau marah, tapi kami berdua sudah lelah kerja seharian, ya pak guru sekalian bisa saya rasa memahami kondisinya. Kalo pun kita berlaku tegas, nanti yang ada Bastian malah jadi lebih berontak lagi.” tambah sang ibu.

Staff kesiswaan sadar bahwa masalah ini sangatlah serius. Mereka memutuskan bekerja sama dengan guru BK untuk memberi pencerahan kepada Bastian. Orangtua Bastian akhirnya lega karena pihak sekolah mau membantu untuk memberi anaknya sebuah pencerahan.

Saat pulang sekolah, Pak Adi berterima kasih kepada Arga, tanpanya, Pak Adi tidak akan tahu kalau masalah Bastian ini ternyata rumit. Arga juga berterima kasih karena jika tidak ada Pak Adi, ia mungkin sudah berkelahi dengan Bastian. Yang mungkin akan berlanjut karena bisa saja Bastian mengajak teman perkumpulannya untuk mengeroyok Arga.

Tak lama setelah kejadian ini, sekolahan membuat kebijakan untuk melarang keras penggunaan knalpot brong. Jika ada yang masih bersikeras memakai knalpot brong, orangtuanya akan dipanggil ke sekolahan dan si pengguna knalpot tersebut mendapat skors selama 6 bulan. Hal ini dilakukan supaya kasus seperti Bastian tidak terulang, dan jika ada kasus seperti Bastian lagi, pihak sekolah siap memberi pencerahan.

 

Ikuti tulisan menarik Agustinus Donny lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler