x

Iklan

Agustinus Donny

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 November 2021

Minggu, 28 November 2021 13:56 WIB

Terbalas

Cerita ini diikutkan dalam lomba menulis cerpen Indonesiana.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

            Malam sudah semakin larut, namun Cakra masih mengerjakan tugas bahasa Inggris.

“HAH? Udah jam 12? Untung tugasnya udah selesai. Tidur ah biar besok gak kesiangan lagi.” kata Cakra.

            Cakra kemudian tidur. Saat ia tidur, Cakra mendapat mimpi yang aneh.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Kra, kamu mau nggak sama aku?” kata seorang perempuan dengan paras yang sangat cantik kepadanya.

“HAH? Ya gimana ya?” kata Cakra yang sedang bingung.

“Ih, kamu mau nggak sama aku, Kra?” tanya si perempuan lagi untuk meminta kepastian.

“Iya deh, aku mau. Tapi namamu siapa?” kata Cakra sambil menggenggam tangan si perempuan tersebut.

Ketika Cakra menggenggam tangan perempuan tersebut, Cakra terpesona. Tangan gadis itu sangat dingin dan halus. Cakra memegang tangannya dengan erat seolah tak mau melepaskannya.

“Masa kamu lupa, Kra? Ini tuh aku, Sal-“ jawab si gadis.

Ketika si perempuan menyebutkan namanya, Cakra terbangun dari alam bawah sadarnya.  Saat Cakra bangun, tangannya dingin. Dan yang dingin adalah tangan kirinya, tangan yang ia gunakan ketika menggenggam tangan si perempuan dalam mimpinya. Tak hanya itu, badannya juga dingin sampai-sampai ia menutupi tubuhnya dengan selimut tersebut. Padahal, semalam hawanya sangat panas.

“MIMPI APA LAGI INI. Kenapa tangan kiriku dingin?” kata Cakra sambil melihat jam di tembok.

“ADUH! Udah jam 6.30? Yaahhh kesiangan lagi deh. Dasar mimpi aneh!” kata Cakra.

Cakra langsung bergegas ke kamar mandi. Ia mandi dengan sangat terburu-buru. Setelah mandi, ia bergegas mengambil buku pelajaran sesuai jadwal pada hari Rabu. Ia juga tidak lupa memasukan tugas yang telah dikerjakan semalam. Cakra kemudian meminta ibunya untuk membungkuskan bekal untuk sarapan di sekolah karena waktunya sudah tidak cukup untuk makan di rumah.

“Buu, Cakra berangkat dulu, ya!” kata Cakra sambil terburu-buru.

“Ya, Nak! Hati-hati di jalan ya! Nggak usah gugup.” kata ibu sambil berusaha menenangkan Cakra.

            Cakra kemudian langsung berangkat ke sekolah. Ketika di jalan, Cakra sempat mengalami kemacetan selama 15 menit. Cakra pun melihat ke depan siapa tahu ia bisa menyalip kendaraan di depannya supaya ia bisa sampai ke sekolah lebih cepat, namun kondisi jalanan yang buruk membuat Cakra harus lebih bersabar lagi.

Sesampainya di sekolah, ia langsung memakan bekal sarapan yang sudah disiapkan ibunya. Baru makan 5 suapan, bel jam pertama telah berbunyi. Cakra kemudian menambah 5 suapan lagi dengan cepat, lalu ia menyiapkan buku pelajaran jam pertama.

Pada jam pertama yaitu bahasa Inggris, Miss Indah tidak bisa hadir karena harus mendampingi tim debat Bahasa Inggris di kota. Sehingga Miss Arin hanya memberikan tugas kepada kelas XII MIPA 1. Cakra kemudian dengan sigap menyelesaikan tugas tersebut, kemudian ia menghabiskan bekal sarapannya.

“Laper banget ya, Kra?” kata Putri, gadis yang duduk dibelakangnya.

“Iya, Put. Tadi pagi aku gugup banget jadi gak sempet makan di rumah.” balas Cakra.

“Hmm, pasti kamu kesiangan lagi ya, Kra?” tanya Putri.

“Besok lagi kamu tidurnya yang gasik, dong, Kra! Biar gak kesiangan terus!” kata Putri.

“Iya deh, nanti malem aku tidur gasik, biar gak kesiangan.” kata Arga sambil menggaruk kepalanya.

            Bel jam kedua berbunyi, Cakra sebagai ketua kelas menagih tugas pada jam pertama dan Putri selaku wakil ketua kelas menagih tugas bahasa Inggris minggu kemarin. Tugas minggu kemarin yang baru dikerjakan semalam oleh Cakra. Cakra bersama Putri kemudian pergi ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas bahasa Inggris di meja Miss Arin.

            Ketika sedang menuju ruang guru, mereka berpapasan dengan Pak Setya. Pak Setya bergurau kepada mereka. kata Pak Setya, mereka berdua terlihat cocok seperti sebuah pasangan. Cakra yang terlihat dewasa walau masih memiliki kekurangan seperti ceroboh dan gugup, kemudian Putri yang sangat peduli terhadap teman-temannya, dan sering menjadi teman bicara yang baik sehingga bisa menenangkan temannya, sangat cocok mengisi satu sama lain.

Cakra pun tertawa. Begitu pula dengan Pak Setya. Berbeda dengan Putri yang diam dan tersenyum. Tak hanya itu, pipi Putri pun memerah, seolah ia memendam perasaan pada Cakra. Pak Setya menyadari pipi Putri yang memerah. Pak Setya kemudian melanjutkan perjalanannya ke perpustakaan, sedangkan Cakra bersama Putri menuju ke ruang guru.

“Put, sini, tugasnya biar aku aja yang naro di mejanya Bu Arin. Nanti kamu tungguin aku, ya. Jangan ninggalin ke kelas.” kata Cakra.

“Oke. Nih tugasnya, awas nanti jatuh.” balas Putri.

            Cakra kemudian masuk ke ruang guru dan menuju meja Miss Arin untuk mengumpulkan tugas kelas. Saat sedang menuju ke meja Miss Arin, Cakra melihat tangan Putri. Tangannya sangat mirip dengan perempuan dalam mimpinya. Cakra kemudian mengingat kembali mimpinya.

            Sementara Putri yang menunggu di luar ruangan teringat dengan gurauan Pak Setya barusan. Ia memang memendam rasa kepada Cakra. Namun, Putri malu untuk mengungkapkannya. Ia kemudian membayangkan jika suatu saat Cakra menjadi pasangannya. Pipinya pun kembali memerah.

“Put? Putri? Haloo, Putri?” teriak Cakra yang telah memanggil Putri selama beberapa kali.

“Eh, Cakra?” balas Putri yang terkejut.

“Ayok, kita balik ke kelas. Eh, Put, itu pipimu merah kenapa?” kata Cakra.

“Ah, ini, bukan apa-apa, kok! Udah yuk balik ke kelas.” balas Putri yang terlihat jelas menyembunyikan sesuatu.

            Arga menyadari kalau Putri menyembunyikan sesuatu. Namun, ia tak mau menanyakannya. Mereka pun kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Pada saat menuju ke kelas, Arga terus memperhatikan Putri yang terlihat sangat cantik pada hari ini.

            Putri yang menyadarinya kemudian bertanya pada Cakra, apakah ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Cakra menjawab tiidak ada yang salah dengan Putri. Cakra ingin berkata bahwa Putri terlihat cantik pada hari ini, namun nyalinya kurang. Keduanya pun masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran berikutnya.

            Setibanya di rumah, Cakra langsung pergi mandi dan makan malam. Cakra masih kepikiran dengan mimpinya semalam dan Putri. Menurutnya, mimpi yang ia dapati semalam bukanlah sekedar mimpi biasa.

“Cakra? Biasanya kamu kalo makan lahap, ini kenapa kok kamu melamun? Ada yang salah sama masakan ibu, ya?” tanya ibu.

“Eh, gak kok, Bu. Masakannya enak kaya biasa. Cakra cuma kepikiran sesuatu aja.” balas Cakra.

“Ada apa, Nak? Boleh ibu tahu?” tanya ibu.

“Emmm, gini, Buk. Menurut ibu, kalo kita dapet mimpi sampe mimpinya masih bisa kita ingat-ingat lagi waktu kita udah bangun, itu kira-kira mimpi biasa, atau punya pesan tersendiri, ya?” kata Cakra yang berusaha menyederhanakan pikirannya.

            Ibu kemudian menjelaskan kalau menurutnya jika kita mendapat mimpi dan mimpi tersebut bisa kita ingat ketika sudah bangun. Mimpi itu bisa memiliki pesan tersendiri. Setelah itu, Cakra kemudian pergi ke kamarnya dan mengingat kembali mimpinya semalam dan mencoba mengaitkan mimpinya dengan Putri.

            Cakra ingat saat perempuan dalam mimpinya menyebutkan namanya. Perempuan itu menyebutkan kata “Sal”. Cakra memulai dari sepatah kata tersebut. Cakra ingat kalau dirinya memiliki daftar nilai tes akhir semester bahasa Inggris. Cakra kemudian mencoba mencari nama perempuan di kelasnya yang memiliki kata “Sal”. Di kelas hanya ada satu orang yang namanya memiliki kata “Sal”.

“Salsabila Fitriani Putri. HAH? Ini kan Putri! Masa sih Putri ada perasaan ke aku?” kata Cakra.

Cakra masih kurang puas. Ia kemudian mencoba mengingat kembali wajah perempuan dalam mimpinya.

“Perempuan yang semalam itu, dari mukanya dan matanya sangat cocok sekali dengan Putri. Bahkan tangannya sama persis dengan Putri.” kata Cakra.

“Tidak pernah aku menyangka jika orang yang dekat denganku karena jabatannya sebagai wakil ketua kelas bisa menyimpan perasaan suka kepadaku dengan sangat baik. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?!?” tambahnya.

            Cakra kemudian teringat saat pertama kali bertemu dengan Putri 2 tahun lalu saat kelas 10. Ketika itu, Putri terus memandang Cakra setiap kali Cakra berbicara. Putri juga terlihat bahagia ketika ditunjuk menjadi wakil ketua kelas mendampingi Cakra sebagai ketua kelas.

            Putri juga selalu menunjukan sifat pedulinya kepada Cakra seperti selalu mengingatkan Cakra untuk tidur lebih awal supaya tidak bangun kesiangan meski Cakra selalu tidur larut malam. Saat kelas 11, ketika Cakra terjatuh dari motor dan dirawat di rumah sakit, Putri adalah satu-satunya temannya yang menjenguknya selama 3 hari tersebut dan terus menanyakan perkembangan Cakra. Kemudian, ketika Cakra merasa kesal terhadap sesuatu, Putri selalu berhasil meredam amarah Cakra.

            Pada saat itu, Cakra tidak menyadari kalau Putri menyukainya. Cakra mengakui kalau Putri merupakan gadis yang sangat cantik dan amat pintar, bahkan tercantik dan terpintar satu sekolahan sehingga membuat Cakra merasa bahwa gadis seperti Putri tidak cocok dengannya yang memiliki wajah biasa-biasa saja.

“YA TUHAN, ternyata Putri menyukaiku dari kelas 10. KENAPA AKU BARU MENGETAHUINYA SEKARANG?” kata Cakra dalam hati sambil memukul tembok kamarnya.

            Cakra kemudian menangis membayangkan Putri yang memendam perasaan selama kurang lebih 2 tahun lamanya. Cakra memaki dirinya sendiri yang tidak peka terhadap perempuan sampai membenturkan kepalanya ke tembok hingga jidatnya merah.

“BODOH SEKALI KAMU, CAKRA! KAMU PINTAR DI SEMUA PELAJARAN, TAPI BODOH DALAM URUSAN PERASAAN! MASA KAMU GAK NYADAR SI PUTRI SUKA SAMA KAMU?” kata Cakra dalam hati sambil membenturkan kepalanya ke tembok.

“Cakraa! Kamu gak apa-apa?” kata ibu sambil mengetuk pintu kamar Cakra.

“Cakra gak apa-apa, Bu! Barusan udah ngitung lama tapi gak nemu jawabannya.” kata Cakra sambil menahan tangisannya.

            Ibu merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Cakra, namun ibu tidak mau menanyakannya. Ibu hanya berkata pada Cakra untuk lebih sabar lagi. Kemudian ibu kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya.

            Malam itu seketika hujan deras. Derasnya hujan makin membuat Cakra larut dalam kesedihannya. Tak henti-hentinya ia membayangkan menjadi Putri.

“Gimana pun caranya, aku harus balas perasaan Putri.” kata Cakra dalam kesedihannya.

            Cakra pun berjanji pada dirinya sendiri kalau dia harus membalas perasaan Putri. Cakra kemudian berdoa kepada Tuhan untuk membantunya dalam menyatakan perasaanya kepada putri. Cakra tidak bisa membayangkan jika dirinya menjadi Putri dan si Cakra tidak membalas perasaan yang telah ia sembunyikan selama 2 tahun.

            Keesokan harinya, Cakra bangun lebih awal. Ia sudah bangun dari jam 5 pagi, kemudian ia sarapan, mandi, dan mengatur jadwal. Cakra kemudian berangkat sekolah pada jam 6 pagi. Ia sampai di sekolah pada jam 6.30 dan langsung menuju kelas XII MIPA 1.

            Sesampainya di kelas, Cakra terkejut ketika melihat Axel, anak kelas XII MIPA 3, berada di kelasnya dan bercanda dengan Putri. Cakra kemudian langsung menuju tempat duduknya yang berada tepat di depan tempat duduk Putri.

“Loh, Cakra? Akhirnya kamu berangkat gasik! Gitu dong gak kesiangan terus!” puji Putri sambil tersenyum.

“Iya nih, Put. Enak juga ya berangkat gasik. Put, titip tas sama barangku, ya. Aku mau ke kamar mandi dulu.” balas Cakra.

            Di kamar mandi, Cakra benar-benar terkejut dengan adanya Axel. Rencana Cakra kacau. Hari ini, Cakra akan membalas perasaan Putri kepadanya. Namun, ketika Axel datang, semua seolah runtuh seketika. Wajah Axel jauh lebih tampan dibandingkan Cakra. Namun, Cakra tetap mencoba optimis berharap rencananya berjalan dengan baik.

            Ketika pulang sekolah, Cakra meminta Putri untuk ikut bersamanya. Cakra mengatakan ia ingin berbicara sesuatu. Putri mengiyakan permintaan Cakra. Sesampainya di kantin, Cakra mulai menarik nafasnya dalam-dalam.

“Jadi, ada apa, Kra?” tanya Putri yang masih bingung.

“Gini, Put. Pertama, aku mau bilang kalo kata-kata yang aku ucapin ini, udah aku siapin matang-matang dan udah kupilih hati-hati.” kata Cakra sambil menghela nafas.

“Tak satu pun teman yang mau menengokku selama 3 hari aku dirawat karena kecelakaan dan menanyakan perkembanganku tiap harinya. Tak satu teman pun yang selalu mengingatkanku untuk tidak tidur larut malam agar aku tidak bangun kesiangan. Tak satu pun temanku yang bisa menenangkan amarahku.” kata Cakra.

“Kamu begitu peduli padaku, Putri. Kamu bisa melengkapi kekurangan yang kumiliki. Kamu tidak pantas jika hanya menjadi temanku saja. Maukah kamu menjadi perempuan yang menemaniku di sisa hidupku?” kata Cakra dengan penuh keyakinan sambil berlutut dan menggenggam tangan Putri.

“Cakra… a… aku menerima permintaanmu. Aku sangat menerimanya dengan penuh hati.” kata Putri.

“Dari awal bertemu denganmu. Aku sudah menyukaimu. Namun aku ragu untuk mengatakannya. Aku merasa bahwa dirimu terlalu cantik untukku. Namun, hari ini, aku memberanikan diri untuk mengatakannya kepadamu. Walau tadi aku sempat ragu karena ada Axel di kelas.” kata Cakra

“Aku juga menyukaimu dari awal, Cakra. Aku hanya menyukaimu. Aku tidak tertarik kepada Axel.” kata Putri dengan mata yang berkaca-kaca.

            Cakra tersenyum, Wajahnya sangat bahagia. Pipi Putri pun memerah, Senyumnya yang sangat indah membuat Cakra terpesona. Cakra kemudian mengantarkan Putri ke rumahnya.

Keduanya kemudian menjadi pasangan yang berbeda dari yang lain. Mereka saling memotivasi satu sama lain terutama dalam hal belajar. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk belajar bersama dan mengerjakan tugas bersama. Ketika ulangan, Cakra dan Putri bersaing mendapatkan nilai yang lebih tinggi dari yang lain. Hal itu membuat keduanya pun menjadi lulusan terbaik satu sekolahan.

 

Ikuti tulisan menarik Agustinus Donny lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler