Jengger Emas - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 28 November 2021 14:05 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Jengger Emas


    Dibaca : 233 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ketika usiaku sepuluh tahun, ayahku mengatakan niatnya untuk maju menjadi kepala desa. Aku senang mendengarnya, tapi ibuku tidak. Seperti tidak yakin, ibuku, saat itu memandang wajah ayah tanpa bicara untuk beberapa detik. Matanya dipenuhi rasa tidak suka. Ditatap seperti itu, ayahku terlihat gusar karena merasa tidak mendapatkan dukungan. Ayah sangat yakin bisa menang dalam pemilihan kepala desa.

    “Banyak teman-teman mendukungku,”kata ayah mencoba meyakinkan ibu.

    Aku memang melihat itu, setiap hari di rumah dipenuhi tamu, teman ayah. Mereka datang untuk minum kopi sambil bercerita. Mereka tampak begitu akrab dan menyenangkan. Kata ayahku, mereka menjadi modal pendukung utama. Selain itu ayah sangat dikenal dan dihormati warga desa. Pergaulannya luas. 

    Tekad ayah semakin kuat ketika salah satu temannya, Fuad, menceritakan mimpinya. Katanya, ia melihat ayam jago berjengger emas bertenger di atas rumahku

    "Benar, Kang, itu pertanda baik! Bakal jadi, Kang!" Kata Fuad bersemangat.

    Ayahku senang sekali mendengar itu. Wajahnya yang hitam menjadi terang bersinar. 

    "Sudah, Kang, mantap saja maju," tegas Fuad yang disokong oleh yang lain.

    Karena sudah pasti ikut, ayahku akhirnya meminta ibu untuk menjual semua perhiasannya, termasuk menjual beberapa tanah agar bisa mendanai pencalonannya. Ibuku tentu saja tidak setuju dengan permintaan itu. Sebab perhiasan itu peninggalan ibunya. Akhirnya setelah ribut-ribut karena ibu menolak, ayah pun memutuskan meminjam uang pada beberapa temannya. Keinginan ayah meminjam itu ternyata disambut baik oleh teman-temannya yang punya uang. Di antara mereka bahkan begitu dermawan berucap akan menyumbang semua yang dibutuhkan.

    “Tak usah berhutang,” kata salah satu teman ayah saat itu.

    Pemilihan kepala desa waktu itu diikuti oleh lima calon. Ayahku duduk di sebuah panggung bersama calon yang lain. Wajahnya dipenuhi dengan senyum percaya diri. Aku lihat tanganya tak henti melambai untuk menyapa para warga yang datang. Aku dan ibuku duduk di sebuah kursi barisan depan. Kami dengan bangga duduk memperhatikan suasana yang meriah itu. 

    Ketika menjelang sore, panitia pemilihan mulai menghitung perolehan suara. Wajah ibuku terlihat berbinar karena jumlah suara ayah melampui ke empat calon lain. Saat itu ayah mendapatkan suara seratus lima puluh, sementara yang lain masih hanya sekitar puluhan. Karena yakin akan menang, ibuku memutuskan pulang. Katanya, ia harus mempersiapkan jamuan untuk tamu yang bakal datang nanti. 

    "Ayo, kita pulang, Le," ajak ibuku dengan suara bahagia.

    Menjelang malam, tiba-tiba listrik padam. Ibuku segera memintaku untuk menyalakan lilin. Lilin-lilin itu aku letakkan di beberapa meja ruang tengah dan dapur. Tetapi sejam kemudian tiba-tiba ibuku menjerit karena ada kebakaran di dapur. Beberapa perempuan yang tengah rewang berteriak panik. Aku sendiri lari-lari kebingungan karena api semakin besar membakar. Sekitar setengah jam, orang-orang kampung yang datang berhasil memadamkannya. Hampir separuh dapur rumah terbakar. 

    Ketika ayahku pulang, wajahnya seperti awan gelap yang muram. Tak ada cahaya di wajahnya. Ia hanya duduk di kursi dan tak mengatakan apa-apa. Seolah tak peduli rumahnya terbakar. Beberapa tetangga mencoba menghiburnya di teras yang berantakan. Sementara aku hanya duduk ketakutan di pojok teras memandang orang-orang yang berseliweran. Aku takut disalahkan. 

    Pada saat itu pula, tiba-tiba aku mendengar orang mengatakan bahwa ayah kalah pilihan. Aku baru sadar, ayah murung bukan karena rumah terbakar. Rasa takutku hilang, tapi berganti rasa tak senang. Ibuku meskipun juga kecewa, tapi ia bisa bersabar. Seminggu kemudian, beberapa teman ayah datang berkumpul di rumah. Tapi mereka datang bukan untuk menghibur, mereka datang hanya untuk menagih pinjaman. Ayah kaget waktu itu, karena uang yang katanya disumbangkan ternyata hutang. Kecuali beberapa orang yang akadnya memang pinjam.

    “Mana ada uang dikasih hanya untuk dibuang,” kata salah satu teman ayah.

    Akhirnya ayah menerima saja apa yang ditanggungkan. Dia tak mau ribut dengan dengan kawan-kawannya. Tapi, mereka marah ketika ayah hanya menjanjikan. Mereka tak mau tahu betapa susahnya ayah ketika itu. Mereka ngotot hutang harus segera dibayarkan. Salah seorang bahkan sempat mencekik leher ayah dan mengancam. Keribtutan itu membuatku menangis di kamar. 
    Sejak saat itu, ayah selalu sembunyi bila ada orang datang. Saat itu, aku melihat wajah ayah seperti kucing yang sakit kudisan meringkuk di pojok kuburan. Cahayanya kelam. Dia selalu di dalam kamar. Aku tahu ayah sangat kecewa dengan sikap beberpa temannya. Untuk menutup semua itu, ibuku akhirnya menjual seluruh perhiasan. Meskipun itu ternyata tak cukup juga untuk melunaskan.

    Hingga suatu waktu, setelah ayah lama mengurung di dalam kamar, dia memutuskan pergi semalaman. Ayah kembali di pagi berikutnya. Syukurnya, dia datang dengan membawa uang. 

    “Berikan uang ini nanti pada siapa yang datang duluan.” Ibuku meskipun agak bimbang, tapi mengangguk mengiyakan. 

    Setelah itu ayah pergi lagi dan pulang membawa uang. Keadaan itu membuat ibuku merasa senang karena hutang semakin berkurang. Tiga bulan kemudian, ayah bilang, sekali ini dia akan pulang agak lama, dia akan mendapat banyak uang untuk melunasi semua hutang. Aku mendengarkan itu dari kamar. Perasaanku lega. Aku tertawa senang mendengar hutang ayah akan segera terselesaikan. Tapi, waktu itu aku enggan mengantar ayah keluar ketika dia berpamitan. Aku tak mau konangan berlinangan air mata seperti bocah kecil. Saat itu hanya kudengar ayah mengatakan, biar saja anak itu tidur. 

    Seminggu kemudian, sebelum ayah mengirim kabar, orang-orang kampung berdatangan di waktu siang. Beberapa orang menyalami ibuku yang kebingungan. Kata orang itu, “bersabarlah, semua sudah takdir Tuhan.” Lalu kulihat ibu pingsan. Satu jam kemudian, beberapa orang kembali datang, kali ini mereka menyerahkan tubuh ayah yang tak lagi bisa bicara. Saat itu, aku hanya diam. 

     

    Ikuti tulisan menarik Ranang Aji SP lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.