x

Iklan

puspita permatasari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 November 2021

Minggu, 28 November 2021 14:21 WIB

Nobita, Mesin Waktu, dan Kemerdekaan Belajar

Sejak kecil, kita sudah mengenal sosok Nobita. Anak kelas 5 SD yang percaya bahwa dirinya tidak sebaik anak lain karena nilai ujian di sekolahnya selalu buruk. Seiring berjalannya waktu, marilah kita merefleksi bahwa masalah utamanya bukan ada di diri Nobita, tapi ada pada sistem pendidikan yang tidak memerdekakan anak. Ikuti cerita bagaimana kisah dari Nobita begitu menginspirasi untuk menyusun suasana merdeka belajar di mata pelajaran Sejarah jenjang SMP Sekolah Murid Merdeka.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Siapa Nobita?

Waktu saya kecil, rutinitas setiap hari minggu pagi adalah menonton tayangan kartun di televisi. Satu judul tayangan kartun yang saya tunggu-tunggu dan masih saya tonton sampai sekarang adalah Doraemon. Siapa yang tidak tahu tayangan ini? Robot kucing yang dikirim dari masa depan untuk membantu masa kecil Nobita yang malang. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Nobita sungguh anak yang hampir tidak pernah beruntung. Murid kelas 5 SD ini dinilai malas belajar karena nilai ujian di sekolahnya konsisten mendapatkan nilai 0 di semua mata pelajaran, termasuk olahraga. Karena hal inilah, Nobita selalu mendapatkan perundungan dari teman-temannya, dimarahi oleh guru dan orangtua, dan tidak jarang, robot kucing yang seharusnya dikirim untuk membantu dan menghibur, malah ikut merendahkannya.

Waktu saya kecil, saya sepakat dengan teman-teman dan keluarga Nobita. Nobita adalah anak yang kelewat malas, sehingga wajar untuk menerima amarah dari orang-orang disekelilingnya. Semuanya berubah saat saya mulai rutin menonton kembali Doraemon ketika mendampingi anak-anak saya di rumah. Setelah saya menjadi guru, setelah saya menjadi orangtua, saya menyadari bahwa yang dibutuhkan Nobita bukanlah perundungan, ceramah, atau hukuman. Saya menyadari bahwa yang paling dibutuhkan oleh Nobita adalah kemerdekaan belajar.

 

Sekolah Murid Merdeka

Saya belum lama bergabung dengan Sekolah Murid Merdeka. Alasan utama saya bergabung di sekolah ini adalah adanya kesamaan pandangan bahwa proses pembelajaran yang harus dilalui oleh seorang anak seharusnya tidak menyiksa, menghukum, menghardik, dan merendahkan. Cara-cara belajar yang seperti itu sungguh tidak berpihak ke anak, padahal sesungguhnya justru anak yang menjadi subjek utama dalam pembelajaran di sekolah.

Sekolah Murid Merdeka yang hadir untuk menjawab keresahan-keresahan saya dalam dunia pendidikan selama ini. Saya resah dengan tugas menghapal yang menggunung, pekan ujian yang penuh tekanan, sistem peringkat yang bisa membuat seorang anak merasa tidak memiliki masa depan karena mendapat urutan ke 30 dari 35 siswa, dan cara belajar konvensional dari buku sehingga menutup kesempatan untuk berdiskusi.

Sekolah Murid Merdeka, sebuah PKBM yang mengadopsi sistem pembelajaran campuran antara daring dan luring, memberikan kesempatan kepada semua anak di manapun mereka berada untuk merdeka belajar dan berkarya. Menggali nilai-nilai dari setiap kejadian dan pembelajaran, ketimbang menghapal konten. 

Saya senang bahwa saya sudah berkarya di tempat yang tepat. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana saya sebagai guru menghadirkan pembelajaran yang memerdekakan anak? Menciptakan proses belajar yang menyenangkan, dan berfokus pada konsep daripada bolak-balik menghapalkan konten?



Menaiki Mesin Waktu Bersama Nobita

Di Sekolah Murid Merdeka, saya mengajar jenjang SMP untuk mata pelajaran IPS Terpadu, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Sejarah. Pada bulan Oktober kemarin, di mata pelajaran sejarah, kami membahas mengenai kerajaan Bercorak Hindu-Buddha di Nusantara. Sejak awal, saya sudah membayangkan betapa topik ini bisa menjadi topik yang membosankan jika saya menerapkan strategi yang sama ketika saya belajar topik ini di sekolah. Bayangkan saja, dulu saya belajar dengan cara membaca begitu banyak bahan, menghapal begitu banyak nama, tempat, tahun kejadian, dan mengerjakan puluhan soal yang jawabannya berupa hapalan. Tidak heran kalau dulu nilai sejarah saya pas-pasan.

Pada saat inilah saya teringat kepada Nobita. Saya ingat ada satu episode yang menceritakan alat ajaib Doraemon berupa roti menghapal. Di malam itu, Nobita panik karena esok paginya ada ulangan, sedangkan Nobita belum belajar apapun. Doraemon menawarkan solusi dengan mengeluarkan alat ajaib berupa roti tawar yang ketika ditempelkan ke lembaran buku, maka roti itu bisa menyerap tulisan di buku. Lalu ketika roti itu dimakan oleh Nobita, maka Nobita bisa mengingat semua pelajaran. Semalaman suntuk Nobita berusaha memakan berlembar-lembar roti menghapal, dan yakin sekali akan mendapatkan nilai 100 karena sudah menghapal semuanya. Sayangnya, di pagi hari Nobita kehilangan semua ingatannya ketika ia buang air besar. Saat Nobita ingin memakan rotinya kembali, ia sudah terlambat sehingga yang dihapalkannya hanya sedikit. Ujungnya bisa ditebak, Nobita kembali mendapatkan nilai 0.

Episode itu sungguh membuat saya berpikir bahwa sesungguhnya yang paling penting dari proses pembelajaran adalah menggali nilai-nilai dan konsep, karena hapalan akan segera hilang di memori jangka pendek. Dulu saya sama seperti Nobita, menghapalkan banyak hal hanya untuk ujian, kemudian cepat melupakan setelah mendapatkan nilai.

Di sisi lain, Nobita sebenarnya menangkap konsep-konsep dari perjalanannya menjelajahi waktu bersama Doraemon. Ada beberapa film spesial Doraemon dengan durasi sekitar 1 jam dan ditayangkan di bioskop. Film-film ini mengangkat kisah-kisah petualangan Doraemon, Nobita, dan teman-teman dengan satu pola yang sama. Mereka selalu pergi menaiki mesin waktu, berpetualang di masa lalu, dan kembali pulang setelah melakukan refleksi bersama.

Di film-film tersebut, saya melihat bahwa Nobita bisa mengeluarkan ide-ide untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. Nobita juga sering mengesampingkan kepentingan diri dan bekerjasama dengan teman-teman, dan mampu merefleksi dari kejadian yang baru saja mereka lalui. Kalau dengan proses seperti ini, bukankah Nobita sudah memenuhi proses pembelajaran yang luar biasa? Sangat disayangkan jika kecerdasan Nobita didefinisikan hanya dari nilai-nilai sekolah, sedangkan di dalam dirinya, ada Nobita dengan kecerdasan yang menyeluruh, bahkan sampai terimplementasi pada prilaku.

Saat saya menyusun materi mengenai Kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara, saya menggunakan cara Nobita. Saya ajak anak-anak menaiki mesin waktu bersama Nobita dan Doraemon, dan mempersilakan mereka untuk terlibat dalam sejarah itu sendiri.

Salah satu contohnya adalah saat kami membahas mengenai Kerajaan Singasari. Ada satu bagian di mana kami mendiskusikan untuk membantu Raja Kertanegara menyusun strategi Ekspedisi Pamelayu, tanpa membahayakan pertahanan dalam negeri. Hal ini kami lakukan dalam rangka merefleksi kejadian dari sejarah di mana Ekspedisi Pamelayu yang dilakukan oleh Raja Kertanegara membuat pertahanan di pusat pemerintahan melemah karena prajurit terbaik dikirim pergi, sehingga Jayakatwang mudah menyerang dan mengakhiri era kepemimpinan Raja Kertanegara. Sayang sekali, padahal justru di masa kepemimpinan Raja Kertanegara inilah Singasari baru mencapai masa kejayaan. 

Dari kegiatan ini, banyak sekali yang bisa kami refleksikan bersama. Kami mendiskusikan mengenai berdamai dengan dendam masa lalu, bagaimana seorang raja harus bijaksana, manajemen sumber daya manusia, sampai strategi pemerintahan luar dan dalam negeri. 

 

Kemerdekaan Berkarya

Setelah selesai mempelajari mengenai materi ini, tentu saja harus dilakukan asesmen untuk melihat pencapaian murid. Dalam proses asesmen ini, kami melakukannya dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah mendiskusikan rubrik, tahap kedua adalah diskusi dan konsultasi bentuk proyek, tahap terakhir adalah refleksi dari proyek yang dibuat.

Pada tahap pertama, kami berdiskusi mengenai hal-hal apa saja yang harus kita perhatikan ketika kita memiliki kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Kami berhasil menyusun rubrik penilaian yang berisi poin-poin bahwa dalam peristiwa sejarah, hal yang paling penting adalah mencari pembelajaran pada peristiwa tersebut dan bagaimana cara membuat masa depan menjadi lebih baik. Kami sepakat, bahwa bobot penilaian yang terbesar ada pada poin refleksi dari peristiwa sejarah.

Pada tahap kedua, saya memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk membuat proyek dengan format apapun yang mereka inginkan, selama memenuhi kriteria yang ada di rubrik penilaian. Hasilnya luar biasa, ada yang membuat puisi, infografis, cerpen, bahkan film animasi. Kemerdekaan berkarya seperti ini membuka peluang untuk semua anak agar dapat menganalisis dan merefleksi peristiwa sejarah, sekaligus mengasah minat dan bakat mereka. Anak-anak tidak perlu lagi merasakan ketidaknyamanan seperti Nobita yang dinilai selalu gagal, anak-anak justru bisa merasakan manisnya merasa berdaya serta yakin pada dirinya sendiri karena berhasil mengimplementasikan proses berpikir tahap tinggi, yakni tahap mencipta di taksonomi Bloom.

Pada tahap ketiga, kami menerapkan 6 langkah refleksi kritis untuk membangun keberlanjutan. Kami berdiskusi mengenai proyek yang sudah mereka buat, pelajaran apa yang bisa mereka tangkap, kelebihan dan kekurangan apa yang sudah mereka dapatkan, serta rencana yang akan dilakukan agar dapat melakukan pekerjaan yang lebih baik lagi di proyek-proyek mendatang.

 

Nobita Berhak Merdeka Belajar

Tidak bisa kita pungkiri bahwa pada hari ini masih banyak anak-anak kita yang masih merasa menjadi seperti Nobita. Diremehkan dan dirundung oleh orang-orang terdekatnya sendiri karena sistem pendidikan yang belum memerdekakan. Nobita seumur hidup merasa rendah diri dan mengubur potensinya sendiri karena tidak adanya kesempatan untuk belajar dan berkarya dengan caranya. 

Sudah saatnya kita semua sebagai agen pendidikan betul-betul menerapkan strategi 5M untuk menciptakan suasana merdeka belajar. Kita harus menjadi orang yang berempati kepada murid sebagai wujud memanusiakan hubungan. Kita harus mengajak anak kita untuk memahami konsep, bukan menghapal konten. Kita harus memberikan kesempatan kepada anak melakukan perubahan di sekitarnya melalui memberdayakan konteks. Kita harus membebaskan anak memilih tantangan untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Terakhir, kita harus membangun keberlanjutan melalui refleksi dan umpan balik agar anak kita bersemangat menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Dibutuhkan kerja keras dari kita semua untuk menciptakan suasana yang merdeka belajar, sehingga tidak ada lagi Nobita atau anak-anak lain yang merasa bahwa dirinya tidak berharga. Semua anak berhak merasakan kemerdekaan belajar dan menjadi pribadi yang berdaya.

Ikuti tulisan menarik puspita permatasari lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu