Laki-laki Berwajah Tengkorak - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Muhamad Hasim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Minggu, 28 November 2021 16:38 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Laki-laki Berwajah Tengkorak

    Sebuah cerpen.

    Dibaca : 989 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Laki-laki berwajah tengkorak itu datang lagi. Tubuhnya semakin kurus kering dan berjalan seperti sempoyongan. Dia menghampiriku beberapa saat sebelum aku berangkat kerja. Entah sudah berapa kali ia datang, aku tak ingat, dan ini adalah kedatangannya yang kesekian kalinya, pada waktu yang sama, dengan cara yang sama, dengan maksud yang sama pula, pagi-pagi sekali. Tadi waktu aku mengeluarkan sepeda motor, aku tak melihat ada orang di sekitarku. Baru ketika aku mengengkol sepeda moror itu untuk memanaskannya, dia muncul secara tiba-tiba, membuatku kaget. Dia pasti telah bersembunyi di gardu di samping rumahku, di tempat yang tak bisa kulihat langsung. “Man,” katanya. Aku menoleh ke arahnya. Dia tersenyum lebar, matanya seperti mendelik seperti biasanya ketika dia tersenyum. Garis-garis kerutan menghimpun di kedua belah pipi dan dua pasang matanya. Gigi-giginya yang tak terawat tampak menjijikkan, usang dimakan usia, meski masih utuh, dan tak seperti kebanyakan orang-orang seusianya yang banyak yang sudah ompong.

    Dan seperti biasa, aku tak memedulikan kedatangannya, tak juga hendak menjawab sapaannya, atau sekedar tersenyum kembali membalas senyumannya. Tanganku terus memainkan gas sepeda motor, menaikkan akselerasinya hingga suaranya meraung tinggi, dan menurunkannya kembali secara tiba-tiba. Ini memang kulakukan setiap pagi sebelum aku berangkat kerja, dengan atau tanpa kedatangannya. Puas bermain-main dengan gas, mesin sepeda motor tua itu aku matikan. Kusodorkan selembar pecahan duapuluh ribu padanya. Dia meraih uang iu dengan tersenyum. ”Asam uratku kambuh,” katanya. Mungkin dalam hatinya dia ingin mengucapkan terima kasih, tapi dia ganti dengan kalimat itu. Dalam adat di kampungku, orang-orang sering kali mengganti ucapan terima kasih dengan kalimat-kalimat lain, sambil tersenyum, terutama jika mereka merasa sudah terlalu sering mengucapkan itu, untuk hal yang sama.

    Kemudian dia menghilang, entah ke mana, mungkin ke rumah pegawai lain yang seperti diriku, atau ke rumah siapa saja yang biasanya dia minta uang, sambil tersenyum dengan cara yang sama, dengan kalimat berita yang sama pula.

    ***

    Tiga puluh tahun yang lalu, keadaan kami belum begini. Kami tinggal di sebuah rumah sederhana, berdinding papan, beratap seng, dan berlantai tanah, di sebuah kampung di pinggiran sebuah kota kecamatan. Selain rumah kami, ada beberapa lagi rumah yang seperti itu, tapi tak salah jika orang mengatakan bahwa keluarga kami merupakan salah satu keluarga termiskin di kampung kami. Apa daya, kemampuan orang tua kami memang cuma segitu.

    Tak jauh dari rumah kami, sekitar dua ratus meter, hanya berselang beberapa rumah lain karena penduduk kampung kami waktu itu belum banyak; rumah-rumah masih jarang, ada sebuah rumah bagus, berdinding beton, beratap genteng, dan berlantai ubin. Penghuninya sebuah keluarga muda dengan dua anak-laki-laki yang masih kecil, lebih kecil dari aku. Setiap hari, mereka, si bapak dengan kedua anaknya yang masih kecil itu lewat di depan rumah kami, entah dari mana mereka datang. Kadang-kadang mereka lewat dengan mengendarai sepeda motor, kadang-kadang jalan kaki. Namun setiap kali melintas di depan rumahku, mereka tak pernah menyapa, juga tidak pernah menengok ke arah kami; mereka berlalu begitu saja seperti angin yang tak pernah memperhatikan apa saja yang dilewatinya.

    Aku masih ingat, setiap kali lewat dengan berjalan kaki, si bapak mengggandeng tangan kedua anaknya, satu di kiri, satu di kanan.

    Si bapak adalah anak ke sekian dari sebuah keluarga terpandang yang mempunyai banyak anak. Setahuku, keluarga terpandang tersebut hanya memiliki anak lelaki. Anak lelaki mereka yang tertua adalah seorang tokoh pemuda di kampung kami yang cukup terkenal, pandai bergaul, dan jago main sepak bola—namun di masa tuanya pernah melarikan diri, menghilang dari kampung kami setelah mencuri seekor sapi milik tetangga. Anak yang kedua adalah seorang playboy kampung yang pernah menghamili anak pembantu mereka, namun tidak mau bertanggung jawab dan memilih melarikan diri, menghilang entah ke mana, dan kembali lagi beberapa tahun kemudian, setelah gadis yang dihamilinya itu kawin dengan orang lain, dan melahirkan anak yang sesungguhnya adalah anak mereka berdua. Anak ke tiga, adalah seorang jagoan kampung yang pernah membunuh seorang pemuda dengan menghantamkan lempengan besi bekas per mobil ke kepalanya, di tengah keramaian pasar, dan mendekam di penjara karena perbuatannya tersebut. Anak ke empat adalah lelaki itu, seorang pemalas yang bahkan tak bisa menghidupi dirinya sendiri. Dan masih ada beberapa lagi adik-adiknya yang aku lupa. Namun semua anak-anak dalam keluarga tersebut memiliki satu kesamaan; tak ada yang memiliki pekerjaan jelas, mereka hanya memakan harta kekayaan bapaknya.

    Waktu itu kami memelihara seekor anjing, bapak memberinya nama Musir. Musir adalah seekor anjing yang lucu dan setia. Kulitnya berwarna hitam dengan selingan warna oranye di sekitar mulut dan tumitnya. Bapak sering membawa anjing itu ke kebun untuk menemaninya bekerja di ladang, memberi tahu jika ada orang atau binatang lain yang memasuki area ladang kami dengan gonggongannya yang lantang.

    Musir sehari-harinya berperilaku baik dan ramah. Dia tidak pernah menggonggong jika sedang berada di rumah. Namun entah kenapa, pada suatu hari dia berkelakuan aneh dan agresif pada orang yang lewat di depan rumah kami. Dan di luar kontrol kami, pada suatu hari, dia menyerang dan menggigit salah seorang anak dari lelaki itu, ketika mereka sedang melintas di depan rumah kami. Tak ayal, lelaki itu ngamuk sejadi-jadinya, dan menyerang Musir dengan membabi buta, namun anjing tersebut berhasil melarikan diri.

    Mendengar suara jeritan dan kegaduhan yang timbul, bapak saya langsung berlari ke luar rumah. Dia mendapati anak lelaki kecil itu sedang meringis kesakitan memegangi tumitnya, dan wajah merah padam lelaki itu yang terengah-engah, setelah berusaha memukul anjing kami dengan membabi buta. “Sayalah hakimnya!” katanya lantang pada bapak. Bapak hanya terdiam, tak bisa berkata apa-apa, dan Musir menghilang entah ke mana.

    Setelah si anak dibawa ke rumah sakit dan sembuh, lelaki itu datang ke rumah kami, meminta penggantian semua biaya pengobatan. Bapak membayarnya. Entah dia dapat uang dari mana.

    Dan karena  tak ingin menimbulkan petaka lebih lanjut, bapak terpaksa membunuh Musir dengan menenggelamkannya di sungai, setelah diikatkan dengan batu besar sebagai pemberat. Mendung kelabu bergelayut di wajah bapak, seperti akan pecah menjadi hujan, dan aku tak kuasa menahan tangis.

    Peristiwa sekitar tigapuluh tahun lalu itu masih kuingat dengan jelas, juga oleh bapak.

    ***

    Setelah peristiwa itu, hubungan kami dengan lelaki itu semakin tidak harmonis. Dia dan anak-anaknya terus saja lewat di depan rumah kami seperti biasa, dan kami tetap menganggap mereka seperti angin, yang tak kami sadari kehadirannya.

    Dan kini, tiga puluh tahun kemudian, bapaklah yang yang paling jengkel setiap kali melihat lelaki itu datang menemuiku, mungkin karena bapak selalu berada di kampung, yang mengikuti kejadian demi kejadian setelah itu, yang menyangkut hubungan lelaki itu dengan masyarakat dan dengan dirinya sendiri, sedangkan aku pernah meninggalkan kampung untuk jangka waktu lama, dan baru kembali beberapa tahun belakangan ini.

    Bapakku masih menyimpan sentimen tentang peristiwa tiga puluh tahun lalu itu. Tapi aku tidak. Lelaki itu adalah orang yang perlu dikasihani. Dia adalah lelaki yang tidak berdaya, lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghidupi dirinya sendiri, apalagi keluarganya. Rumah yang mereka tempati adalah rumah keluarga istrinya, warisan dari orang tua istrinya, yang diberikan pada mereka karena mereka adalah keluarga yang paling tidak berdaya di antara saudara-saudara istrinya yang lain. Anak-anaknya yang sudah dewasa juga tidak berdaya untuk membantu. Mereka juga menjalani kehidupan yang kurang lebih sama.

    Bapakku berkata, bukan sentimen masa lalu yang membuatnya tidak suka dengan lelaki itu, tetapi karena dia pemalas. Orang pemalas adalah telui hamberok*; telur ayam yang gagal menetas, yang tak berguna dan tak berharga apa-apa. Kata bapakku, dia adalah anak dari sebuah keluarga yang merupakan salah satu keluarga terkaya di kota kecil yang kami tempati ini dahulu, tapi karena dia, dan juga saudara-saudaranya semua pemalas, maka hidup mereka hancur. “Orang pemalas tak perlu dikasihani,” kata bapak. “Dan tak pantas diberi sedekah.”

    Tapi kupikir, bukankah saya juga pemalas, bahkan bapakku juga pemalas, tapi nasib baiklah yang membuat aku sekarang jadi begini, punya pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri, dan punya rumah yang lebih bagus dari rumah lelaki itu.

    “Man, aku harus beli obat, asam uratku kambuh lagi,” kata lelaki itu beberapa minggu lalu, sambil meringis, sebelah tangannya menekan perutnya. Tubuhnya terlihat lemas tak berdaya seperti belum makan selama beberapa hari, dan pucat. “Aku sudah beberapa hari  tak bisa keluar rumah,” katanya lemah. Aku tak menjawab apa-apa, dan memberinya selembar duapuluh ribuan. Dan seperti pagi-pagi yang lain, dia kemudian menghilang setelah mendapatkan uang dariku.

    Setelah itu, hampir sebulan dia tak pernah muncul lagi. Dan pengumuman dari masjid pagi tadi mengatakan bahwa dia tak pernah akan datang lagi.***

    *Bahasa Daerah Lampung

    Ikuti tulisan menarik Muhamad Hasim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.



    Oleh: Merta Merdeka

    12 jam lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 83 kali