Berfikir Jernih Mensikapi Kasus Profesor Budi Santoso Purwokartiko - Analisis - www.indonesiana.id
x

Muhamad Hasim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Kamis, 5 Mei 2022 06:37 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Berfikir Jernih Mensikapi Kasus Profesor Budi Santoso Purwokartiko

    Kasus tulisan rektor ITK prof. Budi telah memancing banyak kontroversi di media sosial. Namun, Pemerintah hendaknya bijaksana dalam menanggapi kasus ini.

    Dibaca : 581 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Status Prof. Budi Santoso Purwokartiko, rektor ITK, yang juga guru besar ITS, di Facebook yang mengatakan bahwa orang yang mengenakan kerudung sebagai manusia gurun telah memancing banyak reaksi, pro dan kontra di berbagai media sosial. Mereka yang pro mengatakan istilah ‘manusia gurun’ adalah sebuah istilah yang netral, yang tidak mengandung muatan rasis atau SARA; istilah ‘manusi gurun’ hanya memiliki pengertian mereka yang hidup di gurun, sebagai mana istilah ‘orang gunung’ bagi mereka yang hidup di gunung, dan ‘orang kota’ bagi mereka yang hidup di kota. Sedangkan mereka yang kontra memandang istilah tersebut bermuatan SARA, rasis, dan mengandung makna tidak suka pada mereka yang mengenakan penutup kepala.

    Namun, prof. Budi menampik tuduhan bahwa tulisannya tersebut bersifat rasis, "Itu adalah opini pribadi saya ya, tidak sebagai rektor. Maksud saya tidak ingin merendahkan orang yang pakai jilbab atau diskriminasi tidak ada maksud itu, saya hanya bercerita saja kebetulan kok ke-12-nya (mahasiswi) itu nggak pakai kerudung," jelas Prof Budi Santoso dilansir dari detikSulsel, Sabtu (30/4/2022).

    Adapun status yang bikin heboh tersebut antara lain berbunyi, “…. Dan kebetulan dari 16 yang saya harus wawancara, hanya ada dua cowok dan sisanya cewek. Dari 14, ada dua tidak hadir. Jadi 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar open mind. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju, seperti Korea, Eropa Barat dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi."

    Dari status yang secara keseluruhan terdiri dari 226 kata tersebut, hanya dua kata yang mengusik banyak orang dan memancing protes dari berbagai kalangan, yaitu frasa ‘manusia gurun’. Sedangkan 224 kata lainnya, yang menurut hemat saya berisi pencerahan dan inspirasi, tidak banyak mendapat perhatian.

    Prof. Budi menulis status tersebut dala kapasistasnya sebagai reviewer yang melakukan tugas wawancara pada para peserta program beasiswa LPDP. Lewat perannya sebagai reviewer tersebut, prof. Budi memiliki andil dalam menentukan diterima atau tidaknya seorang pelamar beasiswa LPDP. Namun, setelah kemunculan tulisan yang membuat heboh tersebut, banyak yang nenilai Prof. Budi tidak lagi layak diberi tugas sebagai reviewer dan diminta diberhentikan dari tugas tersebut.

    Anggota Komisi XI DPR Ri, Ecky Awal Mucharam, mengecam Prof. Budi atas tulisannya tersebut dan meminta status beliau sebagai reviewer program LPDP dievaluasi. Menurutnya, pernyataan Budi Santosa dinilai sangat menyakitkan umat Islam yang menjungjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan dan persatuan Indonesia.

    "Tidak selayaknya dan tidak ada tempat bagi orang yang punya pemikiran rasisme ikut terlibat dalam seleksi dan penetapan pemberian beasiswa yang didanai LPDP," kata dia.

    Dan gayung pun bersambut, permintaan tersebut langsung disetujui oleh pihak Kemdikbud. "LPDP dan Dikti akan mengevaluasi dan men-suspend penugasannya (prof. Budi) sebagai reviewer," ujar Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Kemendikbudristek Prof Nizam saat dikonfirmasi, Rabu (4/5/2022), seperti yang termuat dalam Republika.co.id.

    Sebagai orang yang berteman dengan Prof. Budi di Facebook, saya banyak mengamati tulisan-tulisan beliau. Beliau memang kritis dalam hal kehidupan beragama. Beliau banyak menulis tentang praktik beragama yang berlebihan, dan sifat golongan tertentu yang intoleran. Setiap kali ada isu baru dalam praktik kehiduoan beragama sehari-hari, beliau langsung memberi tanggapan yang krtitis dalam status Facebook-nya, yang isinya bukan sekedar racauan emosional, tetapi merupakan analisis yang tajam dan menggunakan sumber-sumber yang terpercaya, berdasarkan bacaannya yang luas.

    Di samping itu, berdasarkan pengakuannya sendiri, dan pengakuan beberapa teman Facebook lainnya, Prof. Budi adalah seorang antikorupsi yang berintegritas tinggi, hidup sederhana, dan bersahaja. Beliau sering mengeluh tentang layanan yang berlebihan yang diberikan kepadanya sebagai seorang rektor yang menggunakan anggaran negara.

    Beliau juga banyak membantu orang kesusahan, terutama para mahasiswa yang kesulitan membayar uang kuliah. Ketika seorang teman Facebook mem-posting tulisan yang berisi permintaan bantuan bagi seorang mahasiswi yang kesulitan membayar uang kuliah, permintaan tersebut langsung mendapat reaksi dari seorang guru besar ITS dengan mentransfer uang sejumlah yang dibutuhkan. Meski tidak disebutkan siapa guru besar ITS tersebut, tapi saya menduga iu adalah Prof. Budi karena dia telah banyak melakukan hal seperti itu sebelumnya.

    Tulisan ini tak hendak membela Prof. Budi secara serta merta, tetapi saya ingin sekedar mengingatkan bahwa kita membutuhkan seorang yang berintegritas tinggi dan kritis seperti Prof. Budi untuk membangun negeri ini. Jangan memberhentikan seseorang dari kedudukannya hanya berdasarkan sebuah pertimbangan yang emosional, apalagi hanya karena salah paham akan sebuah tulisan. Sementara, di tempat lain, banyak pejabat yang korup tetap dipertahankan hanya karena di tidak pernah menyampaikan pendapatnya secara kritis di media sosial.

    Kiranya tak berlebihan jika saya katakan bahwa Prof. Budi adalah salah satu aset dalam pembangunan negeri ini.

     

    Ikuti tulisan menarik Muhamad Hasim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.