x

Mama Aleta, begitu sapaan hangatnya seakan tak mengenal lelah berjuang mempertahankan kelestarian alam, bersama masyarakat adat Mallo kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur melawan perusahaan tambang marmer.

Iklan

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Senin, 29 November 2021 05:56 WIB

Bak Singa Mengaum, Mama Aleta Berjuang Pertahankan Alam

“Perempuan bertanggung jawab menjaga identitas orang timur dan alam”, ungkapan ini seolah menggetarkan hati, dengan optimisme dan keteguhan tanpa mengenal menyerah mereka berbuat sesuatu yang berarti bagi masyarakat. Mulai dari mempertahankan tanah adat, hingga berjuang melestarikan lingkungan alam.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Adalah, Aleta Baun yang berjuang selama 13 tahun lebih bersama masyarakat adat Mallo kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur melawan perusahaan tambang marmer di Desa Fukoto.

Bak singa betina mengaum, Mama Aleta tak mengenal takut demi memperjuangkan alam tanah kelahirannya. Kisah heroik ini berawal ketika penambangan marmer milik pengusaha asal Jakarta datang, mereka mengeksploitasi alam Mallo.

Sementara, sebagian besar masyarakat Mollo percaya leluhur mereka berasal dari batu, kayu, dan air. Ketiga unsur ini menjadi simbol marga dan martabat bagi warga setempat. Karena itu, mereka terusik ketika wilayahnya terancam akibat penambangan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sepak terjang Wanita kelahiran  Lelobatan, 16 Maret 1966 ini semakin dikenal setelah menduduki lahan penambangan marmer, sambil melakukan aksi menenun bersama ratusan warga wanita selama kurang lebih dua bulan. "Batu ini sudah tidak utuh, salah satu yang paling mudah memahami isu lingkungan, alam itu seperti tubuh manusia. Batu itu tulang, air itu darah, tanah itu daging dan hutan itu sebagai kulit, paru-paru dan rambut. Jadi merusak alam sama dengan merusak tubuh kita sendiri," tuturnya.

Dalam setiap perjuangan, tentu selalu ada batu penghalang mama Aleta bercerita sempat mengalami intimidasi dari para preman yang dibayar oleh perusahaan penambang. Ibu dua anak ini, harus mengungsi keluar masuk kampung bahkan tak jarang bersembunyi di hutan bersama buah hatinya yang masih berumur dua bulan kala itu. Kondisi miris ini, tak membuat Aleta mundur selangkah pun.

Akhirnya, seluruh masyarakat Mollo bersatu mengusir perusahaan tambang dengan nafas yang sama, tidak ingin kehilangan identitas alam mereka yang identik dengan gunung batu. Hingga kini, Perjuangan Aleta menghentikan pertambangan di kampungnya tidak hanya berhasil. Pada 2013, dia turut menerima penghargaan lingkungan Goldman Environment Award 2013.

Selain itu, Aleta Baun juga berhasil mendapat penghargaan sebagai pejuang lingkungan dan Hak Asasi Manusia (HAM) dari yayasan Yap Thiam Hien, sebuah lembaga yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Perjalanan perjuangan panjang ini, membuktikan bahwa setiap usaha keras dengan tujuan kebaikan tidak akan mengkhianati hasil.

Sekelumit kisah wanita pejuang lingkungan ini, memberikan pelajaran besar bagi bangsa terutama bagi generasi muda. Bahwasanya, revolusi mental sangat penting demi menyongsong tujuan Indonesia Emas di waktu yang akan datang.

Ikuti tulisan menarik sangpemikir lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler