Proyek Based Learning Melalui Media Daring Memanfaatkan Akun Media Sosial Menciptakan Merdeka Belajar dan Mewujudkan Pelajar Berprofil Pancasila dalam Pembelajaran Terbatas di Masa New Normal - Analisis - www.indonesiana.id
x

COVER

Karmila Yusuf

Penulis Indonesia
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Senin, 29 November 2021 06:05 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Proyek Based Learning Melalui Media Daring Memanfaatkan Akun Media Sosial Menciptakan Merdeka Belajar dan Mewujudkan Pelajar Berprofil Pancasila dalam Pembelajaran Terbatas di Masa New Normal

    Terlepas dari aturan pemerintah daerah yang menghimbau anak anak untuk tidak membawa Hp ke sekolah, justru sekarang sebaliknya anak anak malah harus membawa Hp tapi tetap dalam kontrol ibu bapak gurunya disekolah. Pada pertengahan Oktober lalau terkait penyebaran covid 19 dimana daerah NTB mulai memasuki zona orans ke hija, pemerintah daerah mengacu pada pernyataan mas menteri yang membolehkan daerah zona orens untuk melakukan kegiaatn simulasi pembelajaran dengan protokol kesehatan yang ketat. Sekolah kami melakukan kegiatan simulasi dengan model sip, sehingga anak anak disekolah belajar per mapel selama 45 menit. Berangkat dari itu maka semua guru diminta untuk menyiapkan materi esensial yaitu materi yang dianggap paling penting yang sudah disesuaikan dengan KD setiap bab mata pelajaran. Hal inilah yang memunculkan ide saya dalam mengEmbangkan model pembelajaran Projek Beased Learning, projek anak anak dipembelajaran ini cukup berbeda, anak anak disekolah hanya membahas materi esensial saja selebihnya 80% pembelajaran dilakukan secara berkelompok dirumah dan semua penilaian dilakukan melalui media sosial yaitu melakukan promosi hasil karya melalui WA, Fb, IG ataupun media sosial lainnya, mereka harus memiliki sebuah toko online yang di aplikasinya melalui Hp. Dalam pembelajaran ini anak anak secara tidak langsung akan terlihat kemampuan sesuai dengan profil pancasila yaitu yaitu gotong royong, kreatif, bernalar kritis dan mandiri serta anak anak dapat berekspresi sehingga terwujudnya merdeka belajar. Merujuk dari pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengatakan semua anak itu berbeda dan setiap perbedaan adalah unik, guru itu bukanlah menuntut anak untuk harus mengikuti segalaa proses pembelajaran yang di dalam kendalinya namun guru tuganya menuntun anak sesuia kodrat yang melekat pada diri anak, dimana seoarang guru tidak dapat merubah kodrat anak melainkan hanya dapat menuntun kodrat tersebut layaknya seorang petani yang sedang menyemai padi. Tumbuhnya padi tidak bisa dipaksa seperti tumbuhnya tanaman jagung atau tumbuhan yang lainnya, tumbuhnya padi hanya bisa dioptimalkan menjadi padi yang tumbuh subur dan mengasilkan padi berkualitan tinggi. Anak anak SMA memang sudah lama mempelajari PKWU ( Prakarya dan Kewirausahaan ), anak anak sangat mumpuni dalam bereksperimen, mengenai alat alat rumah tangga seperti sendal jepit dan bermacam macam aksesoris lainnya, banyak jenis gaun gaun dari hasil limbah plastik yang merupakan hasil karya anak anak SMA di pelajaran dan seni budaya prakarya. Namun baru dua tahun ini anak anak dipokuskan pada makanan olahan tradisional yang digabung dengan makanan modern terkait dengan program pemerintah yaitu meningkatkan pengetahuan budaya lokal, anak anak praktik pengolahan makan sekaligus mempresentasikan olahan mereka sendiri yang dilakukan disekolah, sebagai tim penilai adalah Ibu Bapak guru disekolah. Berangkat dari potensi itu saya berpikir bahwa anak anak selain berkarya memang harus belajar berwirausaha terkait anak anak memang sudah memiliki modal utama yaitu mampu memproduksi makanan atau barang aksesoris lainnya. Selain itu pendidikan kewirausahan juga menguntungkan siswa dari semua latar belakang sosial ekonomi karena mengajarkan anak anak untuk berfikir luas, mengasah bakat dan keterampilan yang tidak konvensional. Lebih jauh lagi, ini dapat menciptakan peluang kerja, menjamin keadilan sosial, menanamkan kepercayaan diri dan merangsang ekonomi. Oleh karena itu saya mengajak anak anak untuk melihat dunia pasar yaitu pasar online, anakpun sekarang sudah lihai berseluncur ke dunia media sosial, saya hanya menuntun potensi mereka untuk mengidentifikasi media sosial, anak anak menemukan beragam toko toko online berseliwerran. Saya menanyakan kembali apakah anak anak siap beewirausaha bersma ibu guru sambil berkata jika memang ada pembelajaran wirausaha menurut anak anak yang membuat anak anak nyaman silahakan kita diskusikan bersama “untuk menciptakan merdeka belajar yaitu belajar atas dasar kemauan sendri”. Anak anakpun dengan semanagat mengatakan kami mau belajar berwirausaha bu guru. Dengan begitu saya mulai mengajak anak anak untuk merencakanan produk andalan apa yang akan diproduksi untuk di promokan ke media media sosila mereka, dengan membetuk kelompok kerja kemudian memberikan tips serta ilmu berwirausaha. Anak anak langsung saya minta mulai dari sekarang. Jadi anak anak membuat produk dan melakukan promosi dengan tetap saya kontrol melalui photo photo dan vidio vidio yang diunggah di media sosial atau dikirim langsung ke WA saya. Disekolah anak anak hanya membahas materi esensial saja terkait proses dalam memproduksi, tehnik mengemasan produk, dan tehnik pemasaran. Pada kesempatan inilah anak anak berkolaborasi anatar kelompok, dengan memperkenalkan produk produk ungggulan mereka bersamaan dengan proses serta kendala kendala yang anak anak temuan di lapangan. Disini terbentuk sebuah sinergi, saling mensuport, belajar saling menghargai serta memberikan masukan masukan berbentuk nilai nilai positif yang nantinya mampu memajukan iptek dan wawasan dunia luar secara bersama sama.

    Dibaca : 137 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    A. Latar belakang tentang situasi yang dihadapi oleh Calon Guru Penggerak 

    Usia remaja memang rentan terhadap hal-hal baru seperti lingkungan dan pergaulan baru, hal ini juga menjadi salah satu faktor mengapa remaja banyak yang kurang memperhatikan belajar. Anak-anak jarang membaca dirumah untuk persiapan belajar besok meski ibu bapak gurunya sudah memberikan materi untuk di baca, jarang berdiskusi dan sulit sekali bisa mengungkapkan ide serta pendapatnya, anak anak lebih pokus pada gadjetnya dan malah waktunya sangat banyak dan tidak merasakan lelah ataupun mengeluh soal materi dalam gadjet tersebut, dan memang inilah potensi yang harus sama sama kita lihat untuk diberdayakan sesuai dengan budaya positif yang dikembangkan di dalam kelas. Untuk itu saya mencoba melakukan rancanagn aksi nyata, yaitu “PROJEK BASED LEARNING MELALUI MEDIA DARING dengan MEMANFAATKAN MEDIA SOSIAL UNTUK MENCIPTAKAN MERDEKA BELAJAR dan MEWUJUDKAN PELAJAR BERPROFIL PANCASILA Dalam PEMBELAJARAN TERBATAS Dimasa NEW NORMALdimana pembelajaran ini lebih berpusat pada peserta didik sehingga pembelajaran lebih bermakna dan dapat mewujudkan merdeka belajar berprofil pancasila yang didalamnya ada nilai nilai positif serta berpihak pada anak.

    B. Deskripsi Artikel, berikut alasan mengapa melakukan aksi tersebut.

    Terlepas dari aturan pemerintah daerah yang menghimbau anak anak untuk tidak membawa Hp ke sekolah, justru sekarang sebaliknya anak anak malah harus membawa Hp tapi tetap dalam kontrol ibu bapak gurunya disekolah. Pada pertengahan Oktober lalau terkait penyebaran covid 19 dimana daerah NTB mulai memasuki zona orans ke hija, pemerintah daerah mengacu pada pernyataan mas menteri yang membolehkan daerah zona orens untuk melakukan kegiaatn simulasi pembelajaran dengan protokol kesehatan yang ketat.

    Sekolah kami melakukan kegiatan simulasi dengan model sip, sehingga anak anak disekolah belajar per mapel selama 45 menit. Berangkat dari itu maka semua guru diminta untuk menyiapkan materi esensial yaitu materi yang dianggap paling penting yang sudah disesuaikan dengan KD setiap bab mata pelajaran. Hal inilah yang memunculkan ide saya dalam mengEmbangkan model pembelajaran Projek Beased Learning, projek anak anak dipembelajaran ini cukup berbeda, anak anak disekolah hanya membahas materi esensial saja selebihnya 80% pembelajaran dilakukan secara berkelompok dirumah dan semua penilaian dilakukan melalui media sosial yaitu melakukan promosi hasil karya melalui WA, Fb, IG ataupun media sosial lainnya, mereka harus memiliki sebuah toko online yang di aplikasinya melalui Hp.

    Dalam pembelajaran ini anak anak secara tidak langsung akan terlihat kemampuan sesuai dengan profil pancasila yaitu yaitu gotong royong, kreatif, bernalar kritis dan mandiri serta anak anak dapat berekspresi sehingga terwujudnya merdeka belajar.

    Merujuk dari pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengatakan semua anak itu berbeda dan setiap perbedaan adalah unik, guru itu bukanlah menuntut anak untuk harus mengikuti segalaa proses pembelajaran yang di dalam kendalinya namun guru tuganya menuntun anak sesuia kodrat yang melekat pada diri anak, dimana seoarang guru tidak dapat merubah kodrat anak melainkan hanya dapat menuntun kodrat tersebut layaknya seorang petani yang sedang menyemai padi. Tumbuhnya padi tidak bisa dipaksa seperti tumbuhnya tanaman jagung atau tumbuhan yang lainnya, tumbuhnya padi hanya bisa dioptimalkan menjadi padi yang tumbuh subur dan mengasilkan padi berkualitan tinggi.

    Anak anak SMA memang sudah lama mempelajari PKWU ( Prakarya dan Kewirausahaan ), anak anak sangat mumpuni dalam bereksperimen, mengenai alat alat rumah tangga seperti sendal jepit dan bermacam macam aksesoris lainnya, banyak jenis gaun gaun dari hasil limbah plastik yang merupakan hasil karya anak anak SMA di pelajaran dan seni budaya prakarya. Namun baru dua tahun ini anak anak dipokuskan pada makanan olahan tradisional yang digabung dengan makanan modern terkait dengan program pemerintah yaitu meningkatkan pengetahuan budaya lokal, anak anak praktik pengolahan makan sekaligus mempresentasikan olahan mereka sendiri yang dilakukan disekolah, sebagai tim penilai adalah Ibu Bapak guru disekolah. Berangkat dari potensi itu saya berpikir bahwa anak anak selain berkarya memang harus belajar berwirausaha terkait anak anak memang sudah memiliki modal utama yaitu mampu memproduksi makanan atau barang aksesoris lainnya. Selain itu pendidikan kewirausahan juga menguntungkan siswa dari semua latar belakang sosial ekonomi karena mengajarkan anak anak untuk berfikir luas, mengasah bakat dan keterampilan yang tidak konvensional. Lebih jauh lagi, ini dapat menciptakan peluang kerja, menjamin keadilan sosial, menanamkan kepercayaan diri dan merangsang ekonomi.  

    Oleh karena itu saya mengajak anak anak untuk melihat dunia pasar yaitu pasar online, anakpun sekarang sudah lihai berseluncur ke dunia media sosial, saya hanya menuntun potensi mereka untuk  mengidentifikasi media sosial, anak anak menemukan beragam toko toko online berseliwerran. Saya menanyakan kembali apakah anak anak siap beewirausaha bersma ibu guru sambil berkata jika memang ada pembelajaran wirausaha menurut anak anak yang membuat anak anak nyaman silahakan kita diskusikan bersama “untuk menciptakan merdeka belajar yaitu belajar atas dasar kemauan sendri”. Anak anakpun dengan semanagat mengatakan kami mau belajar berwirausaha bu guru. Dengan begitu saya mulai mengajak anak anak untuk merencakanan produk andalan apa yang akan diproduksi untuk di promokan ke media media sosila mereka, dengan membetuk kelompok kerja kemudian memberikan tips serta ilmu berwirausaha. Anak anak langsung saya minta mulai dari sekarang. Jadi anak anak membuat produk dan melakukan promosi dengan tetap saya kontrol melalui photo photo dan vidio vidio yang diunggah di media sosial atau dikirim langsung ke WA saya.

    Disekolah anak anak hanya membahas materi esensial saja terkait proses dalam memproduksi, tehnik mengemasan produk, dan tehnik pemasaran. Pada kesempatan inilah anak anak berkolaborasi anatar kelompok, dengan memperkenalkan produk produk ungggulan mereka bersamaan dengan proses serta kendala kendala yang anak anak temuan di lapangan. Disini terbentuk sebuah sinergi, saling mensuport, belajar saling menghargai serta memberikan masukan masukan berbentuk nilai nilai positif yang nantinya mampu memajukan iptek dan wawasan dunia luar secara bersama sama.

    C. Hasil dari Artikel (aksi nyata)yang dilakukan 

    Melalui pembelajaran PKWU dengan model Projek beased Learning yang dilkaukan secara Daring Anak anak dapat berwirausaha dengan mandiri, mampu mencerminkan sikap gotong roryong, kemandirian, kreatif, bernalar kritis dengan mampu memecahkan masalah masalah dalam berwirausaha. Keterampilan yang dicapai anak anak yaitu mampu membuat produk yang akan dijual, mampu melakukan promosi, serta mampu melihat peluang pasar di era vandemi ini, dan yang tidak kalah penting adalah anak anak mampu memanfaatkan media social dengan baik dan maksimal. Keberhasilan dapat dibuktikan oleh angket motifasi yang sudah diisi oleh semua anak anak yang sudah mengikuti pembelajaran, serta bukti bukti photo serta vidio proses produksi, pengemasan, dan promosi barang. Serta testimoni langsung dari anak anak setelah melalui pembelajaran ini.

    D. Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan (kegagalan maupun keberhasilan)

    1. Anak anak masih ada yang tidak ikut aktif dalam kerja kelompok sehingga hasil pembejaran baik ini tidak didapatkan secara merata oleh setiap anak.
    2. Anak anak dapat belajar sesuai dengan kodrat zamannya yaitu di era digital ini anak anak memang harus mampu memanfaatkan teknologi dengan baik, terwujudnya merdeka belajar karena anak anak menetukan produk sesndiri dan menetukan lokasi pasar online sendiri, guru hanya menuntun dengan cara memberikan kritik saran serta motifasi.

    E. Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang.

    Terkait dengan kegagalan yang merupakan bukti dari refleksi diri maka sudah barang pasti untuk menjadi guru yang mampu mencoptakan kepemimpinan belajar dalam kelas saya sudah merencanakan upaya upaya perbaikan seperti memperkecil jumlah anak dalam setiap kelompok dan memberikan tugas ini sebagai tugas mandiri saja tanpa berkelompok sehingga asetiap anak bisa merasakan bagaiman berwirausaha dengan produk sendiri dan pemikiran sendiri serta membuka pasar online sendiri, sementara kolaborasi akan dilakukan ketika presentasi produk di dalam kelas.

    F. Dokumentasi proses dan hasil pelaksanaan

    berupa foto-foto atau video-video singkat berikut caption/narasi singkat nya. Anda dapat juga menambahkan ‘testimoni’ dari rekan guru dan murid yang terlibat dalam proses perubahan yang Anda lakukan.

    1. Pembuatan produk dirumah.

    Canel youtube

    https://youtu.be/p-AMx-o5g3M

    https://youtu.be/Xt5MQXIl2ZA

    https://youtu.be/5WphxDh4Ldg

    2. Presentasi menegnai strategi promosi dan dan strategi pengemasan produk

         Anak anak di dalam kelas pada proses simulasi pembelajaran, hanya menyampaiakn materi esensial mengeani proses apa saja yang sudah dikerjakan di rumah.berkolaborasi, bersinergi, diksuki mencari ide ide kreatif.

    berikut canel youtube

    https://youtu.be/WrSg5emPEcQ

    3. Testimoni siswa tentang proses pembelajaran

    Canel youtube

    https://youtu.be/wrLX-sTiTd8

     

     

     

    Rancangan Tindakan Untuk Aksi Nyata

    Judul : Belajar Daring Menggunakan model Projek Beased Learning

    Nama penulis : KARMILAWATI, S.Pd.

    Tempat kegiatan aksi : SMA Negeri 2 Masbagik, Lombok Timur

     

    1. Latar Belakang
    • Usia remaja memang rentan terhadap hal-hal baru seperti lingkungan dan pergaulan baru, hal ini juga menjadi salah satu faktor mengapa remaja banyak yang malas untuk belajar. Anak-anak jarang membaca dirumah untuk persiapan belajar besok meski ibu bapak gurunya sudah memberikan materi untuk di baca, jarang berdiskusi dan sulit sekali bisa mengungkapkan ide serta pendapatnya, atas masalah ini saya mencoba untuk melakukan rancanagn aksi nyata, yaitu belajar Daring menggunakan model pembelajaran Projek Beased Learning dimana pembelajaran ini lebih berpusat pada peserta didik meski anak anak belajar dari rumah sehingga anak anak bisa termotifasi dan lebih aktif, karna akan merancang suatu projek sendiri.

    2. Tujuan

    • Melalui model pembelajaran berbasis projek yang diterapkan secara Daring yaitu belajar berwirausaha dalam pembelajaran PKWU anak anak dapat menumbuhkan karakter gotong royong, mandiri, kreatif serta bernalar kritis dan dapat memecahkan masalah.

    3. Tolok Ukur

    • Anak anak dapat berwirausaha dengan mandiri setelah mempelajari PKWU di sekolah
    • Memalui pembelajaran PKWU dengan model Projek beased Learning yang dilkaukan secara Daring anak anak mampu mencerminkan sikap gotong roryong, kemandirian, kreatif, bernalar kritis dengan mampu memecahkan masalah masalah dalam berwirausaha.
    • Keterampilan yang akan dicapai anak-anak melalui prosen pembelajaran ini adalah, anak anak mampu membuat produk yang akan dijual, mampu melakukan promosi, serta mampu melihat peluang pasar di era vandemi ini, dan yang ndk kalah penting adalah anak anak mampu memanfaatkan media social dengan baik dan maksimal.

    4. Linimasa Tindakan yang akan dilakukan

    • 04-08 November 2020 : koordinasi dan sosialisasi program dengan kepala sekolah
    • 09-12 November : Persiapan metode, materi, siswa, serta jadwal pembelajaran
    • 13-16 November : Penyususnan instrument untuk mengukur keberhasilan program
    • 17-25 November : Pelaksanaan Program
    • 26-30 November : Analisis dan penyusunan laporan

    6. Dukungan Yang di Butuhkan

    • Dukungan berupa kritik,saran,sarana prasarana dari kepala sekolah yang sifatnya memotifasi saya dalam melaksanakan program ini
    • Materi PKWU yang mendasari anak anak untuk mendapat ilmu berwirausaha
    • Anak anak yang sudah sangat mumpuni dalam memasak karena sudah sering praktik disekolah.
    • Kelihaian anak anak dalam memanfaatkan beragam media social di Hp.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.