Sastra Moderen dan Posmoderen - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 29 November 2021 06:07 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sastra Moderen dan Posmoderen

    Sastra modern di dunia adalah bagian dari perjalanan dialektika sastra sebelumnya sebagai bentuk estetika dan artsitiknya, yaitu realisme abad 19. Awal abad 20 sastra modern menggantikan bentuk sastra realisme abad 19, dan mencapai pucaknya di tahun 1920-an. Setelah era modernisme, kemudian melahirkan sastra posmodern yang ditandai sperti karya James Joyce di tahun 1939 berjudul Finnegans Wake. Secara formal menjadi tren setelah John Barth menulis esai Literature of Exhaustion (1967) dan Literature of Replinisment (980). Artikel ini hanya semacam rangkuman singkat tentang piihan berkarya melalui dua mode: Sastra Modern atau posmodern. Pada dasarnya bentuk aliran memiliki sejarah motifnya sendiri.

    Dibaca : 117 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya


    Sastra, seperti halnya seni, adalah bagian dari sarana ekspresi manusia untuk menyampakan pesan, baik sebagai etika atau politis-ideologis. Pada setiap zamannya, sastra aliran menjadi resonansi nilai apa yang tengah menjadi fasad zamannya. Demikian pula dengan sastra masa modern dan posmodern. Sastra modern hadir ketika poblem kemanusiaan mengemuka akibat adanya nilai-nilai sosial yang dianggap hipokrit, antroposentris, dan lahirnya revolusi industri yang mendorong ekploitasi alam serta perang yang membuat eksitensi manusia tersisih dalam ruang yang sunyi terpencil. 

    Gerakan modernisme abad 20 dipengaruhi oleh dua pikiran besar. Pertama ‘relativitas’ Albert Eisntein, dan kedua ‘psikoanalisis’ Sigmund Freud. Dasar utama dari modernisme secara filosofis adalah semangat nihilisme, penolakan terhadap peran agama atau kode-kode moral tertentu yang dianggap satu-satunya cara untuk membangun peradaban manusia. Kejumudan atau dormansi masyarakat Eropa abad 19 dalam pandangan modernisme ini menghasilkan perubahan radikal dalam sastra dan seni. Dua sumber pikiran itu kemudian membentuk pelbagai capaian artistik dan estetika dalam sastra dan seni. 

    Dalam sastra modern lantas kita mengenal pelbagai bentuk ekspresi artistik, seperti dadaisme (1916). Puisi “Karawane” karya Hugo Ball, misalnya, bermain dengan kata-kata. Salah satu bentuk fiksi yang menonjol adalah jenis sastra absurd yang dikembangkan oleh Franz Kafka melalui konsep Kafkaesque. Sebuah keadaan di mana manusia terjebak oleh pelbagai persoalan hidup yang mengancam kemanusiaannya akibat rutinitas manusia yang bersifat mekanik.

    Dalam posisi yang seperti itu manusia seolah menjadi kehilangan akal sehatnya, atau terkurung dalam dunia yang menjadi absurd. Meskipun demikian, ia mencoba melawan. Maka, Gregor Samsa berubah menjadi kecoa dalam novela Metamorfosis (1915), Joseph K ditangkap tanpa tahu salahnya dalam novel The Trial (1925), atau dalam novel L’Étranger, 1942, karya Albert Camus,  Meursault kehilangan emosi kesedihanya ketika mendengar ibunya meninggal, dan membunuh seseorang tanpa motif tertentu. 

    Prof Gerald Graft dari Amerika, misalnya, menyebut bahwa motif sastra modern adalah mengkritisi nilai-nilai mapan kaum borjuis abad 19 melalui pendekatan estetika yang bersifat refleksi diri, dan dipenuhi emosi manusia yang tersisih. Dalam ekspresi sastranya kita mengenal realisme. Respon modernisme adalah keberpihakan posisi manusia yang bersifat etika dan ideologis. Jean-Paul Sartre (misalnya) menulis buku kecil berjudul What’s Literature?, yang menyatakan bahwa tujuan sastra adalah menjadi saksi bagi tragedi kemanusiaan, atau menjadi saksi atas proses dehumanisasi.

    Puncak sastra modern ditandai dengan lahirnya bentuk estetika yang disebut sebagai stream of consciouness (aliran kesadaran). Bentuk ini diperkenalkan pertama kali oleh May Sinclair (1918) ketika membahas karya Dorotthy Ricahardson berjudul Pilgrimage dalam majalah The Egoist yang diterbitkan secara serial. Sinclair menulis: 

    “Dalam serial ini tidak ada drama, tidak ada situasi, tidak ada adegan latar. Tidak ada yang terjadi. Itu semua hanya kehidupan yang terus berjalan. Ini adalah aliran kesadaran..” 

    Aliran kesadaran kemudian menjadi pilihan teknis Virginia Woolf dalam karya-karyanya. Demikian pula James Joyce melalui novelnya yang dinilai sebagai puncak estetika sastra modern, “Ulysses” (1922). 

    Setelah sastra modern, lahirlah sastra posmodern. Bentuk sastra ini ditandai dengan pendekatan perangkat teknis yang disebut pastiche, metafiksi, mitos, fantasi, intertekstual dan sebagainya. Pastiche adalah semacam sekumpulan cerita yang diambil dari kisah-kisah yang telah ada, bersifat seolah parodi namun bukan tak bertujuan seperti makna parodi, ia hanya bersifat merayakan dari karya yang sudah dituliskan pegarang lain.

    Dalam cerpen di Indonesia kita mendapatkan jenis pastiche berjudul “Samsara Samsa” karya Sulistyo (Koran Tempo). Sedangkan metafiksi adalah fiksi yang melibatkan kesadaran pembaca bahwa apa yang dibaca adalah fiksi. Dalam fiksi jenis ini, sebagai misal, bisa kita temukan pada karya-karya AS. Laksana seperti “Upaya Menulis Kiamat” (Jawa Pos).

    Era Posmodern dalam sastra sesungguhnya sudah dirasakan melalui karya-karya James Joyce,Jorge Luis Borges hingga Kurt Vonnegut, Italo Calvino dan John Barth (1930-an-1960-an). Menurut Fredic Jameson, posmodern secara sosial dicirikan sebagian dengan bergesernya rasionalitas pada irasionalitas, hilangnya pusat-pinggiran atau kontekstual, lahirnya “kedangkalan” yang disebabkan oleh realitas pencitraan melalui tontonan (spectacle) berupa iklan di pelbagai media.

    Dalam sastra, John Barth, dalam esainya Literature of Replinisment (1980), mengutip pendapat Ihab Hassan, bahwa sastra posmodern semata-mata menekankan pada kesadaran diri yang "berkinerja" dan merupakan refleksifitas diri modernisme melalui semangat subversifitas budaya dan anarki. Para penulis posmodernis, kebanyakan menulis fiksi tentang dirinya dan prosesnya, dan semakin sedikit yang menulis tentang realitas objektif dan kehidupan di dunia.

    Sementara Gerald Graft, memandang bahwa sastra posmodern hanya membawakan sesuatu yang bersifat ekstrem logis, namun dipertanyakan ekstremnya. Para pengarang sastra posmodern seolah melakukan perlawanan seperti halnya pada modernisme yang melawan kaum borjuis, tapi justru terjebak di dalam jebakan kapitalisme akhir yang menghidupkan budaya pop.

    Para penulis posmodern juga seperti kata Ihab Hassan, menulis diri mereka sendiri dengan tambatan yang kokoh pada jenis realisme kuadensi (tak terpahami) yang ia tetapkan sendiri. Namun, demikian, seorang sastrawan punya kewenangan untuk memilih gaya dan tujuan menulisnya. Bisa secara modern atau posmodern. Itu adalah pilihan. []



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.