Inovasi Asesmen Pembelajaran Sebagai Potret Potensi Siswa dalam Bingkai Merdeka Belajar - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Siswa menjelaskan materi dalam video sebagai bahan penilaian

Hariyanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Selasa, 30 November 2021 13:13 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Inovasi Asesmen Pembelajaran Sebagai Potret Potensi Siswa dalam Bingkai Merdeka Belajar

    Paparan hasil penerapan inovasi asesmen pembelajaran sebagai potret potensi peserta didik dalam bingkai merdeka belajar

    Dibaca : 133.811 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Berbicara mengenai merdeka belajar memang semakin menarik perhatian. Terlebih setelah gaung sekolah penggerak semakin marak terdengar. Bagaimana tidak? Sebanyak 2500 sekolah dari 34 provinsi dan 111 kabupaten/kota di Indonesia sudah menerapkan program ini mulai tahun ajaran 2021/2022.  Kemudian seperti yang diketahui, merdeka belajar adalah salah satu ruh dalam penerapan sekolah penggerak tersebut.

    Program sekolah penggerak sendiri merupakan upaya untuk mewujudkan visi pendidikan Indonesia dalam mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Fokus dari sekolah penggerak ini adalah pengembangan hasil belajar peserta didik. Hasil belajar yang dimaksud disini bukan hanya hasil belajar yang menekankan nilai akhir. Namun lebih daripada itu, hasil belajar dikembangkan secara holistik yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) dan karakter.

    Kemerdekaan siswa belajar dalam bingkai sekolah penggerak kemudian dapat dilihat dari keseriusan pemerintah untuk merubah kebiasaan dan paradigma. Salah satu hal yang terlihat adalah perubahan dari segi asesmen atau penilaian yang dilakukan. Jika kita kembali ke belakang, penilaian yang kita lakukan secara umum lebih mengedepankan nilai akhir. Artinya segala sesuatu tentang keberhasilan peserta didik kita hanya melihat dari skor yang didapat saat ujian berlangsung. Hal tersebutlah yang kemudian menjadi salah satu perhatian pemerintah dengan menghilangkan ujian akhir nasional dan pembaharuan konsep ujian sekolah. Pemerintah kemudian mengganti ujian tersebut dengan mengadakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), dimana yang dinilai adalah kemampuan literasi peserta didik, lingkungan sekolah, dan tentunya karakter.

    Perubahan paradigma terkait asesmen yang terjadi tersebut pada dasarnya hendak memotret secara lebih konkret kemampuan peserta didik. Artinya yang hendak dilihat bukan lagi hanya kecerdasan secara kognigtif. Namun lebih dari itu, kecerdasan peserta didik dalam berliterasi, karakter, serta lingkungan belajar adalah perhatian utama. Hal ini dilakukan sesuai dengan tuntutan output pendidikan yang sesuai dengan sumber daya manusia (SDM) yang diperlukan pada abad 21 ini. Tentunya hal ini kemudian membuat kita sebagai guru harus juga ikut bersiap dan memulai. Lantas apa yang harus kita lakukan?

    Sebagai seorang guru, tentu yang harus kita lakukan pertama kali adalah menerima. Artinya kita sebagai seorang guru harus menerima dengan hati yang lapang segala perubahan yang terjadi. Seorang guru di abad ini tidak lagi harus kaku dan terpaku pada satu pakem. Guru harus siap dengan segala perubahan dan dinamika pendidikan yang terjadi. Harapannya dengan penerimaan dari hati tersebut, kita sebagai guru dapat sedikit demi sedikit merubah cara kita menilai (melakukan asesmen) terhadap peserta didik sesuai dengan tuntutan yang ada.

    Selanjutnya hal yang harus dilakukan adalah mencari inovasi cara melakukan asesmen. Sebagai guru tentunya kita sangat paham dengan segala potensi peserta didik yang kita miliki. Dalam bingkai merdeka belajar ini, potensi peserta didik tersebut yang kemudian memang harus kita tonjolkan dan menjadi bahan asesmen (penilaian) hasil belajar mereka. Misalnya saja, sebagai guru biologi di salah satu SMA Negeri tertua di Kabupaten Belitung Timur, saya melihat potensi siswa saya dalam bidang teknologi informasi. Mereka dalam hal ini sangat mahir menggunakan sosial media terutama Instagram. Oleh sebab itu, saya mengarahkan mereka untuk menggunakan social media tersebut sebagai bagian dari penilaian.

    Setiap peserta didik yang saya ajar dalam hal ini saya minta untuk membuat video reels Instagram terkait materi tertentu. Selanjutnya saya buatkan tabel kriteria yang harus dicapai oleh peserta didik yang terdiri dari ketepatan materi, kejelasan penyampaian, keterbacaan, penyajian data, dan desain. Dari video reels yang dibuat peserta didik tersebut, kemudian saya ambil penilaian terhadap hasil belajar mereka pada materi tersebut.

    Hasilnya ternyata diluar dugaan, peserta didik dalam kelas saya sangat antusias mengerjakan tugas tersebut. Banyak sekali video-video rells kreatif yang mereka hasilkan. Tidak hanya itu, kemampuan mereka menganalisis materi untuk konten video reels juga luar biasa. Kemampuan menyajikan media pendukung seperti gambar, grafik, dan teks dalam video yang disajikan juga dilakukan oleh siswa dengan baik. Secara lebih jelas, potret hasil video reels siswa dapat disajikan dalam gambar berikut.

    Hasil video reels Instragram karya siswa

    Link video siswa: https://www.instagram.com/tenscienceone_/

    Berdasarkan gambar tersebut, dapat terlihat bahwa imovasi dalam penilaian yang dilakukan dapat memotret potensi dan hal lain dari diri peserta didik. Tidak hanya memotret kemampuan-kemampuan kognitif saja, kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi, berpikir kritis, menganalisis, menyajikan data, dan lainnya juga dapat dilihat dari penilaian yang dilakukan.

                Inovasi dalam penilaian dengan tidak lagi berpatokan pada penilaian konvensional ternyata dapat membuat peserta didik lebih leluasa mengeksplore kemampuannya. Banyak potensi yang terlihat dari setiap peserta didik berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan. Hal inilah yang mungkin dapat kita sebagai guru dalam mendukung merdeka belajar saat ini. Salah satunya adalah dengan menyusun penilaian hasil belajar yang lebih kreatif dan inovatif.

    Mungkin terlihat sepele, namun ternyata inovasi dari segi asesmen yang dilakukan dapat berdampak luar biasa. Hal ini kemudian jelas pula mendukung program sekolah penggerak dalam bingkai merdeka belajar yang dilakukan pemerintah yang dalam salah satu poinya adalah perubahan porsi asesmen. Asesmen yang pada kebijakan sebelumnya mengedepankan asesmen sumatif, dilakukan perubahan dengan menambah porsi asesmen formatif menjadi lebih besar. Artinya apa? Dalam hal ini harus dilakukan perubahan besar-besaran dalam cara guru memberikan penilaian.

    Guru harus mengedepankan penilaian proses pembelajaran dibandingkan penilaian akhir pembelajaran itu sendiri. Hal ini sebenarnya sudah dilakukan dalam dokumen pembelajaran sebelumnya, namun dirasa kurang efektif. Kebanyakan guru kembali lagi menjadikan penilaian akhir sebagai patokan keberhasilan peserta didik. Akan tetapi dalam program sekolah penggerak yang mengedepankan kemerdekaan belajar, kebiasaan ini harus segera diubah. Terasa sangat rumit memang, namun sebagai guru saya rasa kita semua tidak boleh menyerah. Kita harus tetap dapat menyajikan pembelajaran berkualitas dengan penilaian yang tepat. Mungkin contoh yang saya lakukan tersebut tidaklah dapat diterapkan di setiap sekolah. Namun saya yakin dan percaya, rekan guru-guru di seluruh Indonesia sangat paham potensi anak didiknya. Maka pesan saya adalah, buatlah penilaian yang sesuai dengan potensi anak didik kita. Buatlah mereka serasa tidak sedang dinilai, namun sedang berkreasi dengan potensi mereka. Salam hangat dari guru biologi Negeri Laskar Pelangi!

    #BergerakDenganHati

    #DemiKemajuan

    #MerdekaBelajar



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.