x

Seorang guru yang sedang mengajar

Iklan

Irfansyah Masrin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Januari 2020

Kamis, 4 April 2024 08:05 WIB

Tantangan Pendidik Menghadapi Era Post-Truth

Para pendidik mesti menguasai teknologi dan informasi digital. Ini sebuah keharusan, karena jika tidak mereka akan digerus kemajuan jaman. Penguasaan teknologi dan informasi akan memperkecil kemungkinan anak didik terjebak dalam informasi yang salah di era post truth ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Di mana ada manusia, di situ ada pendidikan. Ya, begitulah ungkapan yang sering kita dengar, bahwa manusia memang tidak bisa lepas dari pendidikan, dan pendidikan itu sendiri hadir untuk manusia. Karena manusia memiliki potensi terbesar yang disebut akal, sebagai dasar berkembangnya manusia dalam kehidupan. Memfungsikan akal artinya memfungsikan makna pendidikan sebagai sebuah naluriah kehidupan manusia untuk dapat hidup lebih baik dan lebih bahagia.

Pendidikan secara umum sebagai wadah dan kendaraan dalam upaya memanusiakan manusia. Mencerdaskan manusia, membentuk karakter kemanusiaan pada diri manusia, menggali segala potensi manusia agar tumbuh dan berkembang dalam mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya.

Sejalan dengan pendidikan, pendidik adalah figur-figur yang melaksanakan fungsi-fungsi dan tujuan pendidikan yang hendaknya membekali diri dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang pendidikan. Baik tentang sistem pendidikan, metode pendidikan, kurikulum pendidikan, konsepsi pendidikan dan sebagainya. Karena pendidik akan menghadapi berbagai tantangan di dunia pendidikan. Baik yang datang dari sistem dan regulasi pendidikan yang terus berubah, konsep pendidikan yang kian berbeda, metode pendidikan yang variatif dan peserta didik yang harus dididik sesuai dengan perkembangannya maupun tantangan teknologi dan kemajuan jaman yang semakin menambah keruwetan dalam dunia pendidikan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tentu akan banyak perbedaan yang mencolok dalam dunia pendidikan sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Kemajuan teknologi harapannya dapat mempermudah berjalannya sistem pendidikan yang lebih baik, namun faktanya tidak semua pendidik dapat dengan mudah menerima perkembangan teknologi terkhusus di dunia pendidikan formal.

Apalagi bagi pendidik yang berada di era transisi perkembangan teknologi, membutuhkan adaptasi besar-besaran, tentunya menyita banyak waktu dan energi dalam menghadapi tantangan pendidikan di era kemajuan teknologi. Lain halnya dengan pendidik yang lahir dari rahim teknologi itu sendiri, sudah barang tentu dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan dan kemajuan teknologi. 

Namun apa sebenarnya yang menjadi titik problem dari bahasan ini?

Bahwa salah satu dampak dari perkembangan dan kemajuan teknologi adalah munculnya era post truth. Apa itu? Yaitu era di mana kebohongan dapat menjelma menjadi kebenaran. Bagaimana maksudnya? Kebohongan-kebohongan yang dilakukan secara berulang-ulang pada akhirnya akan diyakini sebagai kebenaran. Seseorang yang terus dicekoki dengan informasi-informasi bohong, lambat laun informasi bohong itu akan diyakini benar oleh orang tersebut. 

Awalnya istilah post truth ini populer saat dinobatkan oleh Oxford sebagai Word of The Year pada tahun 2016, karena penggunaannya yang begitu banyak digunakan selama masa pemilu presiden di Amerika Serikat dan referendum untuk keluar dari Uni Eropa yang diadakan di Inggris. Di era post-truth, kebenaran tidak lagi disepakati dan diterima secara umum karena masyarakat seringkali lebih memilih mengabaikan fakta-fakta obyektif. 

Namun istilah post truth membias di segala lini informasi dan komunikasi. Bahkan mengancam pengetahuan dan informasi bagi generasi-generasi muda terkhusus bagi para remaja yang memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap segala informasi dan pengetahuan. Bukan hal yang tidak mungkin dis-informasi yang menyeruak berpengaruh pada pembentukan pola pikir dan pola perilaku generasi muda kita. 

Apa hubungannya?

Era teknologi adalah era perkembangan informasi dan media digitalisasi yang sangat masif. media massa menjadi asupan baru bagi generasi muda di era ini, waktu mereka lebih banyak dihabiskan di dunia Maya, berkantor di balik-balik smartphone, bercengkrama melalui media sosial, menatap layar sepanjang hari hingga mereka tak sadar bahwa sebagian besar aktivitas hidup mereka telah disita oleh media dan teknologi. Pada akhirnya sebagian dari mereka bahkan sulit membedakan realita dan dunia Maya. 

Aktivitas yang sangat masif ini membuat lebih dari setengah pengetahuan dan pemahaman mereka dapatkan dari media sosial. Sehingga apa yang mereka baca, yang mereka dengar dan tonton adalah informasi yang secara tidak langsung telah membentuk pola pikir baru, sehingga berpengaruh pada pola sikap dan perilaku yang kian membentuk karakter baru bagi mereka. Hingga mereka tak menyadari bahwa lebih dari separuh informasi itu adalah informasi yang didesain atas nama kebenaran. Dalam artian lain bahwa informasi tersebut adalah informasi-informasi bohong yang terus disiarkan hingga para pengguna media sosial meyakininya sebagai kebenaran.

Berita hoaks yang terus menjalar adalah senjata bagi para oknum yang merasa diri berkuasa dan punya segalanya, sehingga merasa dapat mengendalikan psikologi sosial masyarakat dengan informasi dan berita bohong yang mereka siarkan. Semakin kita meyakini kebenaran dari informasi yang beredar, maka kita semakin mengeksplorasi informasi serupa. yang diuntungkan adalah mereka yang memiliki media. Kita dan anak-anak serta generasi muda kita yang menjadi korban dis-informasi media ini. Sehingga ini menjadi tantangan terbesar bagi para pendidik, guru, dosen, orang tua dan para pemuka agama dalam mendidik generasi di era Post-truth ini.

Lantas apa yang mesti dilakukan oleh pendidik dalam upaya menghadapi era post truth ini?

Seluruh pendidik hendaklah membekali diri dengan pendidikan agama yang baik sebagai pondasi moral, sehingga dapat mendidik dan mengarahkan anak didik kepada pilihan terbaik dalam hidup mereka. Hingga anak didik mampu menyaring segala informasi-informasi yang didapatkan.

Selanjutnya untuk para pendidik di lingkup pendidikan formal mesti menguasai teknologi dan informasi digital sebagai sebuah keharusan dari kemajuan jaman. Karena jika tidak, para pendidiklah yang akan digerus dan dihempas oleh kemajuan jaman. Penguasaan teknologi dan informasi digital oleh pendidik akan memperkecil kemungkinan-kemungkinan anak didiknya terjebak dalam informasi yang salah di era post truth ini. sehingga selain bekal agama, pengetahuan akan teknologi juga mesti dikuasai oleh pendidik dalam mendidik anak-anak didiknya ke jalur yang positif dalam hidup.

Selain itu, pendidik harus memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap masa depan generasi. Sebagai tanggung jawab moral pendidik dalam upaya mewariskan hal-hal baik bagi generasi. Sehingga generasi selanjutnya adalah generasi yang siap menggantikan generasi sekarang dengan kesiapan yang baik. Yakni generasi yang siap menghadapi berbagai tantangan jaman. Tentu dibekali dengan kesiapan mental yang baik, Spiritual yang baik, intelektual yang baik, emosional dan kecerdasan sosial yang baik. 

Semua itu tidak akan tercapai jika pendidik sekarang hanya menggugurkan kewajiban jam-jam ngajar di pojok-pojok ruang kelas. Hanya menghabiskan energi dengan beban-beban administrasi yang menumpuk. Lebih dari itu mesti ada panggilan hati untuk memastikan generasi muda kita berada dalam rel ketaatan. Hingga tidak ada lagi kecemasan yang terus menghantui para pendidik, dan anak didik sudah siap menghadapi tantangan jaman, terutama mampu menyaring informasi secara baik di eEra post truth ini. 

 

Semoga bermanfaat

Dasana Indah, Blok RE/Castel Afista

Ikuti tulisan menarik Irfansyah Masrin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler