x

Iklan

A. Maria Partiani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Selasa, 30 November 2021 13:39 WIB

Percakapan Meja Bundar

Tiga perempuan bergelut dengan nasib mereka dibawah pengawasan sistem (kekuasaan); yang dirugikan, yang terkekang, dan yang berusaha bebas. Mereka menjadi korban dari sistem yang tidak membela perempuan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mereka bertiga berkumpul di meja bundar. Bohlam kuning yang tegantung di atas meja membuat ruangan dapur terlihat suram. Semakin tak kentara cicak-cicak menempel pada dinding beluwek dibawah cahaya buram. Mereka terdengar di atas lemari, perabot, atau di atas kulkas. Cak. Cak. Cak. Bunyi mereka menemani ketiga perempuan yang tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Seorang perempuan mengisap rokok ketiganya dan memandang kaca jendela yang buram. Aroma tanah yang basah menambah nikmat mengisap rokok sehingga hidangan di atas meja tidak lagi menggugah selera. Asupan nikotin mengalahkan kebutuhan makan Gayatri setiap harinya.

Berbeda dengan Gayatri, di sebelah kanannya, seorang perempuan memegang sendok dengan erat, suap demi suap nasi dengan tumis genjer, rendang ayam, dan sambal terasi masuk ke dalam mulut melewati bibir tipisnya yang membentuk garis ketika mengatup, pandangannya lurus menatap adiknya, Gayatri. Kepulan asap rokok di meja makan telah menjadi asupan tambahan bagi paru-paru Dwi, walaupun ia lebih menyukai mencerup rempah-rempah aromatik di dapur yang bisa membantu menjaga kewarasannya. Tetapi, lain halnya bila Gayatri ada di dapur, atau dimana pun ada Gayatri dan rokoknya, maka yang terjadi adalah kebalikan saat ia menghirup rempah. Seperti saat Gayatri lihat pada pantulan kaca lemari dipojok kiri, ia mengamati ketegangan, kejengkelan, dan kegamangan di sepasang mata bulat sang kakak dan rahangnya yang mengeras ketika memamah makanan. Gayatri menerka mimik macam ini menunjukkan pertentangan antara hati dan pikirannya. Ia mengembuskan kepulan asap rokoknya ke langit-langit.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Gayatri menyimpan puntung rokok ketiganya di atas pisin. Kemudian tanpa ia sadari, ia mulai mengisap lagi rokok yang lainnya. Kali ini ia melirik Prihatini di samping kirinya yang sedari tadi mengaduk-aduk nasi dan sayur di piringnya, menyantap sedikit, dan mencerling kedua adiknya secara bergantian.

Adalah Mas Danu, lelaki pendek dengan perut buncit, yang apabila tertawa perutnya akan bergoyang-goyang mengikuti irama, seperti penari dari Timur Tengah. Lelaki yang satu tahun lebih muda dari sang Ibu—yang saat itu berumur 46 tahun—telah memikat dan meminang Prihatini. Mas Danu, yang logat Jawa nya sangat kentara, hidup sendiri sebagai penjual burung hias setelah diceraikan istrinya yang muak mengurus tahi burung setiap hari.

Ibu merasa seperti memiliki adik ipar daripada menantu. Tetapi, Prihatini bersikeras akan bisa membantu merawat burung-burungnya dengan hatinya yang rapuh dan kakinya yang pincang. Binatang lebih mudah bersimpati pada manusia macamnya, ia bergurau. Sesekali Mas Danu meminta Gayatri yang masih SMP untuk membantu memberi makan burung-burungnya dengan cacing, kroto, atau ulat bumbung. Sungguh malang, pikir Gayatri, bahwa kakaknya direkrut menjadi sukarelawan dengan status legal sebagai istri.

Apa yang dipikirkan Gayatri terhadap kakaknya tidaklah berlebihan, bahwa memang pekerjaannya sebagai sukarelawan menyita hati dan pikirannya. Sebab, pada malam hari pun, Mas Danu akan lebih memerhatikan burung-burungnya. Kabar angin berkata, Prihatini tak bisa memuaskan suaminya diatas ranjang. Dalam beberapa tahun, angin ini menjadi tornado, memporak-porandakan Prihatini. Pernikahannya kandas, tetapi, bukan karena ia muak dengan tahi atau gagal bersahabat dengan burung-burung hias Mas Danu, atau burung pribadi suaminya. Suatu hari, Mas Danu berpamitan ingin menjenguk sepupunya diluar kota, dan ia tak pernah kembali. Prihatini yang malang kembali hidup bersama kedua adiknya.

Mata sayu dengan bulu mata lentik sang kakak adalah hal yang paling memikat darinya, pikir Gayatri, tetapi mata itu telah meredup. Memandangnya seperti menarik diri sendiri ke liang kubur. Maka, Gayatri memutuskan tatap-tatapannya dengan sang kakak.

 

***

 

Terdengar jangkrik mengalahkan bunyi cicak di dalam ruang temaram itu. Satu dua jangkrik masuk melewati ventilasi di atas pintu dan kompor. Meloncat ke atas daun genjer segar di dalam baskom berair. Menyantap makan malamnya dengan nyaring.

Gayatri ingat ia sering mengadu jangkrik ketika masih anak-anak. Senyaring apapun bunyinya, jangkrik akan mati diadukan dengan jangkrik lainnya. Kalau tidak, jangkrik itu dibiarkan hidup dengan sebelah kakinya dipatahkan agar tak bisa melompat kabur. Dengan sisa satu kaki, jangkrik yang pincang tak berdaya.

Sekilas, jangkrik malang itu mengingatkannya pada Prihatini.

“Tri, sedikit betul kau makan, rokokmu lebih nikmat daripada masakan mbak ya?”

“Masakan mbak Tini selalu enak, tetapi rokok memang nikmat saat musim hujan.”

“Ada yang lebih nikmat,” Dwi menambahkan, “yaitu berkumpulnya kita malam ini.” Dwi menarik bibir tipisnya hingga membentuk garis lengkung, keriput disekitar matanya nampak ketika tersenyum. Gayatri waswas dengan ucapan sarkastiknya.  

“Beberapa orang kedapatan memergokimu pulang dini hari diantar laki-laki beberapa bulan ini.”

“Ya, mereka mengantarku dari stasiun, atau terminal, mbak tentu sudah mengerti pekerjaanku membuat aku bolak-balik ke kota.”

“Perjalanan pulang-pergi tak tentu waktu dipandang kurang baik, dik,” cetus Prihatini, menuangkan segelas air kepada adiknya.

Mengapa manusia gemar sekali membuat standar? Dulu Mas Danu yang seorang duda, gendut dan pendek dianggap memenuhi standar untuk seorang perawan tua macam Prihatini. Baik atau buruk, mereka yang menentukan. Dan, perempuan dituntut untuk patuh. Mengapa aku harus patuh, mengapa kedua kakak ku menginginkan aku patuh, pada siapa pula aku diharuskan patuh, geram Gayatri.

“Aku memandang semuanya wajar-wajar saja. Aku tak memerlukan untuk dipandang. Masalahnya ada pada pandangan mereka sendiri.”

“Jika memang demikian, mengapa tak kau pilih salah satu dari teman lelakimu itu untuk kau nikahi saja? Sehingga kau akan lebih aman dan leluasa bepergian kapan pun juga.”

“Kenapa aku harus menikah dahulu? Lagipula aku tidak selalu diantar oleh teman lelakiku, aku bisa dan bebas menentukan sendiri.”

“Tidak bisa, Tri, karena…”

“Karena kita hidup dibawah pengawasan mereka, begitu mbak?”

“Gayatri!” Dwi berseru dengan matanya yang berkilat-kilat amarah. Gayatri meremas rokoknya hingga tersundut.

“Dik…” Prihatini memekik. Menarik tangannya dan meniupinya. “Maksud mbak mu dik, mungkin sudah saatnya kau memilih calon suami, mencari teman hidup.”

Ia seperti sedang membujuk bocah ingusan, “bagaimana  kalau kami carikan untukmu, dik, ya?”

Sudah saatnya. Kata ini menusuk kuping Gayatri. Dua puluh sembilan tahun, orang kampung bilang perawan tua, alias tak laku. Dulu Prihatini menikah dua tahun lebih tua daripadanya, dan semua orang memaklumi dengan situasinya. Tetapi, Gayatri dipandang nakal dan pemilih.

Demi siapa kah keputusan dua kakaknya itu? Tidak kah mereka bermawas diri bahwa pernikahan tidak selalu menjamin keamanan dan kebahagiaan. Bahwa pernikahan adalah suatu pilihan, bukan suatu keharusan atau kewajiban, adalah yang dipikirkan Gayatri. Bagaimana ia bertumbuh dalam keluarga dimana kepala keluarga dan tokoh-tokoh pendukungnya adalah perempuan, membuat ia sadar betapa institusi pernikahan lebih banyak merugikan perempuan, seperti yang terjadi pada kedua kakaknya.  

Pemikiran ini, sukar Gayatri diskusikan dengan kedua kakaknya. Bahwa ia merupakan manusia yang mempunyai pilihan pun, ia ragu mereka paham. Panas terasa membakar matanya.

“Apakah ini tuntutan dari mereka atau keinginan mbak, agar aku menikah?”

Prihatini menggigit bibir bawahnya, ia tahu adiknya ini pejuang. Ia berjuang untuk membantu membuka toko jahit Dwi supaya minatnya tersalurkan dan menghasilkan uang, serta mengobati kepedihan yang dirasakan Prihatini saat ditinggal Mas Danu dengan mengikuti kelas memasak sehingga bisa membuka katering rumahan.

Dwi menjambak rambutnya dalam diam. Ia ingat salah satu dari mereka menawarinya kerjasama untuk memperluas usahanya, tentu jika ada namanya yang mempromosikan. Serta, untuk mempererat kekeluargaan di kampung, adalah penting untuk bisa membatasi kebebasan Gayatri, dengan menikahkannya dengan anaknya yang rupawan tetapi dungu.

Kedunguan sang anak akan tertutupi dengan kecakapan Gayatri, dan utamanya, tentu agar usaha-usaha Gayatri dalam membantu memberdayakan perempuan—setidaknya kedua kakaknya dan beberapa tetangga yang membantu usaha toko jahit dan katering—dapat dibatasi dan diawasi. Entah kedua kakaknya menyadari tujuan tersembunyi itu atau tidak. Tetapi, bahwa mereka masih ada dalam kuasa mereka, tak dapat dielakkan.

Gayatri menyulut sebatang rokok lagi. Mengisap dalam-dalam rokoknya, dan mengumpat dalam hati, “tolol!”

Ikuti tulisan menarik A. Maria Partiani lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu