Nabastala dan 86400 detik

Selasa, 30 November 2021 22:32 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Senjakala...makasih banyak buat semuanya;-Nabastala Waktu dan sisanya yang sangat berharga untuk seorang penyuka hujan

 

    Cerpen ini bercerita tentang Nabastala.....teman-temanya biasa memanggilnya Tala, anak kedua dari dua bersaudara, tapi sayangnya keluarganya meninggal beberapa tahun yang lalu, ayah, bunda dan kak Anta. Berita tentang kecelakaan yang menimpa mereka beberapa tahun lalu sempat membuat Tala diam membisu, saudara saudara yang perlahan menghilang, seolah olah mereka menyalahkan Tala atas kematian mereka, Tala yang pada waktu itu berumur sekitar 13 tahun hanya mampu menangis melihat abu mereka di depan kaca. Hidup sendiri, berkerja sendiri, semuanya tala lakukan hanya untuk menyemangati dirinya untuk satu hari kedepan.

      Kringgg

     Jam alarm menyebalkan yang berbunyi nyaring memekakan telingga seorang laki laki tampan, tinggi, kulit yang seputih susu dan mempunyai mata yang seolah ikut tersenyum jika pemiliknya tersenyum
"Aduhh iya iya berisik banget si pagi pagi"
Ucap laki laki itu dengan suara serak khas bangun tidur, tanganya bergerak menuju "jam menyebalkan" ia menamai jamnya sendiri sewaktu kecil dulu hingga kini dia tetap memanggilnya demikian. Tala mengucek matanya perlahan, membiaskan pandanganya pada sekitarnya, kamar minimalis dengan warna tembok abu abu dan hitam. Tala bangkit dari tidurnya, lalu duduk di tepian ranjang untuk menggumpulkan nyawanya yang entah kemana. Sekarang hari senin, hari yang sebenarnya Tala sendiri tidak suka, tapi mungkin sekarang ini Tala malah menyukai  hari ini dan akan menjalaninya dengan semangat dan senyuman

     SMA DROOM KRIJGER, sekolah menengah atas yang Tala tempati ini adalah bekas sekolah belanda dulu, namanya "DROOM KRIJGER" yang berati pejuang mimpi, Tala mengikuti jejak kakaknya, kak Anta dulu juga sekolah disini, jika masih hidup, Tala pasti akan berangkat bersama dengan kak Anta, tapi sayangnya beliau sudah meninggal, Tala sungguh menyayangi kakaknya, dirinya tidak merasa benci atau apa, Tala malah bersyukur bisa punya seorang kakak. "TALAAA YUHUUU" teriakan barusan berasal dari Senjakala, teman yang biasa di pangil kala ini adalah sahabat dari kecilnya Tala hingga kini, perawakan Kala tidak jauh dari Tala, hanya berbeda di kulitnya saja, Kala mempunyai kulit tan yang ia dapatkan dari gen bundanya, jadi terlihat lebih manis jika tersenyum. "Oittt tumben gasik berangkatnya, biasanya suka mepet" ucap Tala pada Kala, mereka berjalan bersama untuk menuju kelasnya yang berada di ujung lorong sana, Tala dan Kala bagaikan perangko yang selalu menempel, jadi jangan heran mereka kemana mana berdua seperti anak kembar. "Yeuu gak lah, aku kan anak rajin hehe" Tala memutar bola matanya malas, Kala ini pintar anaknya, hanya saja lebih suka main main dan terlalu santai jadinya ya seperti itu.

     Bu Yena sedang menulis materi bahasa indonesia di papan tulis, guru perempuan yang di kenal dengan baik dan halusnya dalam mengajar membuat kelas Tala menelungkupkan kepalanya di meja, termasuk Kala yang sudah tertidur di meja dengan headset yang terpasang di telingganya, Tala menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya ini, mata Tala tetap melihat ke arah buYena mengajar, jarinya menulis materi di buku, Tala tidak sepintar Kala, hanya saja Tala lebih rajin dan tekun daripada Kala, ia harus berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh nilai yang sempurna di rapotnya, walau tidak berguna tapi Tala tetap ingin melakukanya. "Oke anak-anak, ambil selembar kertas, masukan buku dan ponsel kalian, kita adakan kuiz dadakan" bu Yena tiba tiba berucap setelah menulis materi di papan tulis, Kala terbangun kaget menampakkan muka kusutnya saat mendengar suara bu. Yena, Tala sebenernya ingin menertawakan muka Kala tapi tidak jadi karna akan ada kuiz, murid murid yang malas malas itu menahan nafasnya, inilah yang mereka tidak suka dari bu Yena, suka sekali mengadakan kuiz, walau kuiznya hanya 5 atau 10 soal, tapi itu merupakan soal yang susah dan berbobot.

     Tala menjalani hari ini disekolahnya dengan semangat yang luar biasa, seperti tadi ini, walau nilai kuiz tala tadi hanya mendapatkan 76 tapi tala sudah bangga sekali, karna dia sedikit paham materi yang diajarkan oleh bu Yena. Laki laki seperti tala ini selalu berusaha untuk tersenyum cerah layaknya matahari, tapi ada beberapa orang yang membencinya selain saudara Tala yang menyalahkan Tala atas kematian ayah, bunda, serta kak Anta. Salah satu orang itu adalah akak kelas Tala yang sangat membencinya, namanya Samuel, entah kenapa Tala selalu tidak paham tabiat dari kakak kelasnya ini, dulu waktu SMP mereka satu di sekolahan yang sama, Samuel begitu membenci Tala sebab perempuan yang ia sukai sekaligus ia cintai ini malah menyukai Tala, namanya Rain. Rain itu perempuan cantik dengan poni  dan rambutnya yang hitam legam tergerai indah, Rain menyukai Tala karena sifat Tala yang baik hati dan selalu tersenyum manis sepanjang hari, Samuel yang mengetahui Rain suka dengan Tala jadi merasa tersaingi, Samuel mencari anak bernama lengkap Nabastala di SMPnya, yang ternyata adik kelasnya sendiri.

     Samuel berencana untuk melakukan hal bejat, yaitu memberi Tala pelajaran. Nabastala anak sedernaha yang mensyukuri segala apa yang di dapatkanya, Tala tidak seperti anak lain yang berangkat atau pulang sekolah itu naik motor atau punya bodyguard pribadi yang menjemputknya menggunakan mobil, Tala berjalan kaki. Saat siang itu Tala di cegat oleh sekumpulan geng Samuel, tanpa ba bi bu Samuel membabi buta memukuli Tala, ia merasa kalah dengan anak cupu seperti Tala ini, Samuel memukul keras tepat di dada Tala, seketika itu Tala meremas kuat celananya sendiri, merasakan sesuatu yang amat sakit di dadanya. Setelah kejadian itu, Tala selalu menahan rasa sakitnya yang suka tiba tiba menyerangnya, Tala tidak dipukul satu kali saja oleh Samuel waktu itu, sering bila bertemu lagi Samuel akan memukul Tala lagi, dan itu selalu di dadanya. Tala tak menceritakan kejadian waktu itu pada Kala, Tala tak ingin membuat sahabatnya ini kawatir, tapi harapan Tala hilang karena Kala dengan cepat mengetahuinya, Kala tau sahabatnya di pukul seperti itu dari berita temanya yang melihatnya secara langsung, Kala benar benar marah, dirinya ingin membalaskan itu pada kakak kelas bajingan itu, tapi Tala mencegahnya, Tala tak ingin ada masalah yang lebih panjang lagi nantinya.

     Kala selalu menempel pada Tala, satu hari ini hari yang sangat Kala tak ingin terjadi, perasaanya tidak enak, hingga selepas pulang sekolah tadi Kala mengajak Tala untuk pergi ke taman bermain, taman itu berisi taman seperti taman pada umumnya, banyak orang yang disitu, entah hanya berjalan jalan, menemani anak bermain atau berpacaran, Kala tau Tala ini begitu menyukai hujan, entah kenapa Kala ingin menangis sekarang ini, jika orang lain yang menggalami hal seperti Tala mungkin sudah bunuh diri, tapi semangat hidup Tala membuat Kala tergugah karena harus selalu bersyukur tentang apa saja yang kita dapatkan, jika meninggatnya membuat Kala ingin berteriak pada tuhan agar di beri waktu lebih lama.

     Angin semilir mengenai wajah mereka berdua yang sedang makan jajanan di taman bermain, cuacanya mendung, awan awan hitam bergelantungan indah di atas sana "Kala mau ujan" ucap Tala pada Kala, Kala hanya memejamkan matanya sambil menikmati semilirnya angin, tak berniat menjawab ucapan Tala barusan. Setelah beberapa menit terdiam, jajanan yang di belipun sudah habis, Kala bangkit dari duduknya, mengajak Tala untuk pergi ke pantai, Tala sungguh menyukai tempat yang seperti ini, baginya ini adalah ketenangan. Pantai dan tanam bermain letaknya berdekatan, jadi seperti ada dua tempat wisata sekaligus. Mereka membaringkan tubuh mereka di pasir pantai yang berdekatan dengan air ombak, ombak ombak kecil itu menyambut lembut kaki Tala dan Kala

     Tetes demi tetes air hujan mulai turun mengenai muka Tala dan Kala, hujan gerimis yang menguyur mereka mulai semakin deras, Tala maupun Kala sama sama tak ada niatan untuk berteduh, Kala sungguh ingin membiarkan Tala pada dunianya sendiri "Bisa gak si aku mau kamu hidup lebih lama" ucap Kala secara tiba tiba, Tala tersenyum manis...manis sekali, matanya yang terpejam membiarkan hujan menimpanya, Tala tahu jika sahabatnya ini tengah menangis sekarang "Kala...janji sama aku buat selalu bahagia, jika tuhan emang ngasih waktu aku hidup lebih lama pasti kita bakal jadi temen selamanya" Tala menjeda kalimatnya "Tapi kehendak tuhan berbeda, tubuh ini udah gak kuat buat nampung satu ginjal, bener yang di bilang dokter waktu itu....sekarang ini hari terakhirnya, aku bisa ketemu sama kak Anta, bunda sama ayah nanti, aku bahagia kok, Kala jangan sedih" ucap Tala barusan, tangis Kala semakin menjadi jadi, bukan isakan hanya derasnya air mata yang Kala keluarkan, ia tak mampu menjawab kalimat Tala tadi, ingin rasanya Kala kembali ke masa lalu untuk mencegah hal bodoh yang di lakukan ayah dan bunda Tala, tepat saat umur 13 tahun Tala memberikan satu ginjalnya untuk kakaknya, kenapa?karena sejak lahir kakak Tala hanya mempunyai satu ginjal, kakak Tala yang pintar dan berbakat itu menjadi berlian di keluarga Tala, hingga ingin jadi orang sukses yang menghasilkan banyak uang, saat itu Anta, kakak Tala beranjak dewasa, kesehatanya memudar karena usianya yang semakin menua membutuhkan satu ginjal lagi untuk hidup, dan dengan teganya orang tua Tala mengambil ginjal Tala yang masih berumur 13 tahun itu untuk Anta, Tala tidak marah saat itu, karena dia masih polos dan menuruti kemauan orang tuanya. Oprasinya berjalan lancar, setelahnya orang tua Tala beserta Anta langsung berangkat ke Australia untuk pendidikan Anta disana, meninggalkan Tala yang masih kecil di rumah sendirian. Lalu berita tak mengenakan itu terdengar, pesawat AR7 mengalami kecelakaan, hidup Tala jadi tidak seperti dulu, Tala menjalani kehidupanya seorang diri, tapi ada Kala di sampingnya yang selalu menyemangatinya untuk bertahan lebih lama lagi dan selalu membantunya untuk terus bangkit dan berjuang

     Tahun demi tahun terlewati, Tala semakin bertambah umurnya, sering mengalami sesak di dadanya, apa lagi Samuel yang pernah memukul tepat di dadanya membuat Tala seringkali memegang dadanya sendiri yang terasa nyeri, Kala menyarankan untuk memeriksa ke dokter, dan saat itu tangis Kala runtuh kembali, umur Tala yang masih rentan saat mendonorkan ginjalnya tak akan hidup lama lagi, dan saat ini, benar benar saat ini hari terakhir untuk Nabastala. Mereka tetap diam membisu membiarkan hujan mengenai tubuh mereka, Tala yang masih tersenyum manis sambil memejamkan matanya, dan Kala yang masih mengatur nafasnya tak sangup melihat sahabatnya akan tiada lagi, Nabastala si pemilik senyum matahari itu akan hilang. Udara semakin dingin, hujan semakin deras, dan langit semakin gelap, tak menyangka sudah hampir malam tiba, Tala merasakan sakit yang luar biasa di dadanya, nyeri yang Tala rasakan ia biarkan sendiri tak mengurusinya "Senjakala...makasih banyak buat semuanya" ucap lirih seorang Nabastala, air matanya turun sekali, tubuhnya dingin serta bibirnya yang terukir senyum manisnya. Jika boleh memilih Tala ingin terus hidup, merasa sangat bersalah pada Kala yang selalu membantunya hingga sampai titik sekarang ini, seorang sahabat yang benar benar sahabat hingga salah satu dari mereka meninggalkan satunya

     "AAAAAAAGGRHHHHHHHHHH" Kala menjerit keras...keras sekali, mengabaikan orang orang yang melihatnya heran dari jarak jauh. Kala memeluk tubuh dingin Tala, tangisan Kala yang semakin deras tertutup oleh derasnya air hujan...tepat tanggal 12 november 2021,86400 detik terakhir yang sangat berharga untuk Nabastala, penyuka hujan ini telah meninggalkan dunia yang kejam sekaligus indah ini, Kala menghapus air matanya, sahabatnya meninggal di bawah derasnya hujan, hujan adalah favorit Tala. Kala tersenyum lembut pada Tala "Selamat tidur Nabastala..jiwamu sudah menembus cakrawala dan tersenyum di atas langit sana".

Bagikan Artikel Ini
img-content
Raja Sagotra

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

13 Mawar Putih

Senin, 6 Desember 2021 06:39 WIB
img-content

Pelukan untuk Senantha

Rabu, 1 Desember 2021 21:55 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua