Bunyi yang Memecah Keheningan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi pencarian kebenaran. Gambar dari Pixabay.

Isnan Adi Priyatno

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 November 2021

Rabu, 1 Desember 2021 11:47 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Bunyi yang Memecah Keheningan

    Cerita Pendek

    Dibaca : 2.133 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Belum juga adzan subuh, suara berisik sudah terdengar dari dapur kecil yang temboknya terbuat dari bambu. Di dekat pawon, seorang wanita paruh baya duduk sambil berusaha menyalakan api dengan korek kapas. Asap berwarna putih pekat pun mengepul ketika Blarak yang disulut api mulai terbakar. Wanita itu memasukkan blarak yang sudah terbakar ke dalam pawon, lalu meniupnya lagi. Di ruangan yang sama, seorang laki-laki yang tampak lebih tua dari wanita itu duduk di amben sambil menggulung papir yang telah diisi tembakau dan kemenyan. Kedengarannya, mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting.

    "Kang, Bagaimana kalau si Diman benar-benar mogok sekolah?"

    "Kalau tidak mau sekolah ya biarkan saja. Suruh kerja saja di kebun. Bantu aku cari rumput."

    "Halah! Diman sekolah itu biar pinter dan banyak temannya. Tidak seperti bapaknya, setiap hari bergaul dengan kambing!"

    "Tahu sendiri kan Yung? Harga singkong di pasaran benar-benar anjlok. Kalau seperti ini, mana mungkin kita bisa menuruti keinginan si Diman? Bisa makan saja sudah untung."

    "Coba Kang, pinjam uang lagi ke Yu Sarti."

    "Hutang yang kemarin saja belum lunas, mau ngutang lagi?"

    Sementara orang tuanya sedang berkeluh kesah, Diman masih tertidur pulas di kamarnya. Asap putih pekat dari dapur menyusup dari sela-sela dinding bambu ke kamar Diman. Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak mengganggu tidurnya yang pulas.

    Beberapa hari ini, Diman terlihat tidak bergairah untuk pergi ke sekolah. Dua hari yang lalu, dia sengaja mengotori seragam biru putih satu-satunya dengan kotoran kambing. Hari berikutnya, dia sengaja mengotori sepatu satu-satunya dengan air comberan. Alhasil, Diman berhasil tidak berangkat sekolah selama dua hari.

    Sebenarnya, Diman adalah anak yang rajin, penurut, dan sederhana. Dia tidak pernah menolak ketika dimintai bantuan oleh orang tuanya. Dia juga sadar betul dengan kondisi keluarganya yang hidup serba pas-pasan. Ketika teman-temannya membeli sepatu baru, Diman tetap setia dengan sepatunya yang sudah retak-retak. Kalau tidak disol ulang, moncong sepatunya mungkin sudah menganga seperti anjing yang siap menerkam mangsanya. Baju seragamnya juga sudah kusam, tapi dia tidak berniat meminta seragam baru kepada orang tuanya. Sepulang sekolah, Diman selalu membantu Bapak dan Ibunya. Kadang, Dia mencari rumput untuk pakan kambing. Kadang, dia mencari kayu bakar. Ketika musim tanam dan panen singkong, Diman tidak pernah absen menyumbangkan tenaga.

    Sikap Diman berubah drastis sejak peristiwa di kelas kurang lebih satu minggu yang lalu. Ketika sedang ulangan matematika, Diman tidak bisa menahan sesuatu memaksa keluar dari perutnya. "Tuuuuuuuuuuut!" Sebuah bunyi yang tidak asing bagi semua orang yang ada di dalam kelas. Bunyi itu terdengar pelan, tapi panjang. Sudah hampir satu jam dia menahannya dan itu benar-benar membuatnya tersiksa. Dia tidak mampu lagi membendung hasrat itu keluar dari perutnya.

    Bunyi itu seketika memecah keheningan. Aroma fermentasi umbi-umbian pun segera menyusul bunyi itu. Kipas angin yang tepat berada di atas Diman membuat aroma itu dengan cepat menyebar ke segala penjuru kelas. Semua anak-anak di kelas saling memandang dan saling melontarkan tuduhan. Suasana kelas yang semula hening menjadi riuh.

    " Siapa yang kentut?" tanya Pak Soleh.

    “ Kasim, Pak! Tadi pagi, dia sarapan bangkai tikus!” kata si Slamet.

    “ Enak saja! Kentutku tidak pernah sebusuk ini!” sanggah si Kasim.

    Semua orang di ruangan kelas terbahak, termasuk Pak Soleh. Diman juga pura-pura terbahak untuk mengelabui teman-temannya. Dia berharap bahwa teman-temannya tidak mengetahui bahwa dirinya yang mengeluarkan gas busuk itu. Akan tetapi, Diman memang sial saat itu. Mansur yang duduk tepat di belakang Diman ternyata memiliki indera penciuman dan insting yang cukup tajam.

    "Diman! Asli! Diman yang kentut!"

    "Sembarangan! Bukan aku yang kentut! Kamu pasti yang kentut!" Diman mengelak tuduhan Mansur dan balik melayangkan tuduhan.

    "Coba kalian mendekat ke Diman. Bau busuk itu bersumber dari Diman," kata Mansur sambil mengedus-endus.

    Diman semakin terdesak. Semua mata di kelas tertuju padanya. Dia masih mengelak tuduhan teman-temannya. Karena gugup, perutnya tiba-tiba merasa mulas. Gas dilambungnya pun kembali berontak. Tak lama kemudian, bau yang kurang lebih sama dengan sebelumnya kembali tercium. Untuk kedua kalinya, pertahanan terakhir Diman tidak dapat membendung gas itu. Semua orang di kelas sontak menutup hidung dengan rapat. Diman pun menjadi bahan tertawaan anak-anak sekelas, termasuk Pak Soleh.

    Lambung Diman memproduksi gas lebih banyak dari biasanya setelah enam hari berturut-turut sarapan dengan singkong, ubi, atau suweg. Hal itu benar-benar membuatnya kerepotan, terutama ketika berada di kelas atau di dekat teman-temannya. Akan tetapi, Diman tidak memiliki pilihan lain. Hanya singkong, ubi, atau suweg yang tersedia di rumah. Orang tua Diman tak mampu membeli beras. Harga singkong di pasaran terjun bebas. Hasil panen hanya cukup untuk menyicil hutang. Kondisi itu membuat mereka harus melakukan berbagai cara untuk bertahan hidup, salah satunya dengan cara mengganti beras dengan umbi-umbian.

    Singkong atau ubi rebus memang nikmat disajikan ketika hangat, apalagi ditemani dengan segelas kopi yang hangat pula. Akan tetapi, kenikmatan itu tidak lagi dirasakan Diman ketika menyantap singkong atau ubi rebus untuk yang kesekian kalinya. Peristiwa di kelas pun membuatnya hilang selera untuk menyantap umbi-umbian itu lagi. Sayangnya, Diman tidak punya pilihan lain.

    Diman sempat meminta ibunya untuk menanak nasi. Dia mengatakan bahwa jika permintaannya tidak dikabulkan, maka dia tidak mau berangkat ke sekolah. Dia benar-benar tak mau repot lagi menahan kentut. Di rumah, dia bisa mengeluarkan gas-gas itu dengan bebas. Tidak ada yang protes, bahkan sesekali saling sahut dengan bapaknya.

     

    (*)

    Blarak: Daun kelapa kering

    Pawon: Tungku yang terbuat dari tanah liat

    Amben: Tempat tidur/tempat duduk yang terbuat dari bambu

     

    Ikuti tulisan menarik Isnan Adi Priyatno lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Arif Munandar Prayitno

    12 jam lalu

    Senja

    Dibaca : 84 kali


    Oleh: Farhanaang__

    12 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 134 kali