Wanita Besi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Foto menggambarkan seorang ibu mengasuh anak

A. Warits Rovi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 November 2021

Rabu, 1 Desember 2021 21:50 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Wanita Besi

    Sira adalah ibu dua anak yang punya suami tidak bekerja. Sudah begitu, suami Sira malah beristri lagi dan kebutuhan istri keduanya bersumber dari pendapatan Sira yang setiap hari bekerja sebagai penjaja kroket keliling. Tak cukup dengan begitu, suami Sira juga sering menyakiti Sira hingga tak jarang ia menangis. Tapi satu hal yang harus Sira wujudkan adalah kedua anaknya harus tetap hidup bahagia, sebab itulah ia harus menyembunyikan segala penderitaannya agar tidak diketahui oleh kedua anaknya.

    Dibaca : 398 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kumandang azan subuh baru saja berlalu, berganti raung suara kendaraan dengan lampu-lampu silau melintas di depan rumah Sira. Hari masih gelap dan embun melabuhi setiap puggung daun dengan dingin yang menyilet. Sejak dini hari, ia sudah berjibaku dengan pekerjaannya. Menumbuk singkong di lesung batu, mencampurnya dengan merica, garam, bawang, dikepal jadi lonjong lalu digoreng hingga mengembang.

    Keringat membutir hangat di keningnya. Saat menoleh ke pintu kamar, dua anaknya masih tidur, suaminya masih mendengkur. Wajah Sira yang berminyak dijamah lesapan angin lirih dari celah daun pintu yang agak terkuak. Aroma harum meruap dari tumpukan kroket yang ada di talam kuning tepat di depannya.

    Setiap pagi, saat ufuk timur pecah garis cahaya fajar yang agak silau, sesudah Sira berhasil membangunkan anak sulungnya untuk salat subuh, ia berangkat menjajakan dagangannya itu, menjelajahi gang-gang dan sudut kota. Dagangannya tertampung dalam bak karet yang disunggi di atas kepala, ia berjalan menapaki liuk-liuk jalan gang, keluar-masuk kelurahan, berpapasan dengan banyak kendaraan, bahkan kadang diusili sekelompok lelaki nakal.

    Sudah tujuh tahun Sira menjajakan kroket demi memberi uang saku kepada anak-anaknya. Bagaimana pun jerit hidup yang dialami, ia berprinsip bahwa anak-anak harus selalu bertemu kebahagiaan. Itulah sebabnya ia terus berusaha merahasiakan tikaman yang sesungghunya terjadi pada keluarganya agar tidak diketahui oleh anak-anaknya.

    Di balik senyum bibir yang kerap terpincuk indah di depan anak-anaknya itu, Sira merahasiakan perilaku keras suaminya yang sering menganiaya dirinya. Anak- anaknya yang penting merasa bahagia punya uang saku dan bisa makan, tanpa harus tahu bahwa semua itu diperolah dari punggung seorang ibu yang sering ditampar, dimaki, ditendang atau kadang diludahi oleh suaminya. Anak-anaknya tak perlu tahu jika ayahnya hanya tukang tidur yang doyan mabuk,  main perempuan, dan gemar main judi.

    “Ayah  pergi ke mana, Bu?” tanya si kecil pada suatu malam.

    “Ayah bekerja untuk kalian, nanti kalau dapat duit, akan dikasih kepada kalian,” ucap Sira sambil menemani anak-anaknya menggunting dan melipat kertas pada suatu malam.

    “Horeee! Ayah baik ya, Bu!” ungkap anak bungsunya yang seketika berdiri memeluk leher Sira dari belakang. Sira tersenyum sambil mengangguk, tapi dadanya menggelegak magma kepedihan. Ia membohongi anak-anaknya agar mereka tetap bahagia, mereka tidak tahu bahwa setiap malam ayahnya hanya pergi ke kumah Ento Rukib untuk berjudi dan mabuk-mabukan.

    Malam itu kedua anaknya baru tidur setelah Sira bercerita tentang musang berbulu ayam. Lalu pandangan Sira yang basah, tertuju ke langit utara. Ada bulan ceking bergantung  ragu-ragu. Mirip kesedihan yang melanda dirinya.

    Satu jam kemudian, suaminya datang dengan tubuh terhuyung-huyung karena mabuk. Sebuah bogem mentah mendarat di pelipis kiri Sira karena tak segera membukakan pintu. Tangis Sira semakin dahsyat, kelopak matanya mulai tampak membengkak. Sebentar ia menoleh pada kedua anaknya yang sedang tidur lelap dengan wajah polos tanpa dosa. Tangan kanan Sira membelai rambut keduanya secara bergiliran, sedang tangan kirinya tak usai menyeka air mata. Ia bersikeras agar anak-anaknya tidak mendengar kabar duka apa pun dan hanya boleh mendengar kebahagiaan dan keceriaan.

    #

    Sira tak pernah menyesali pernikahannya dengan Anton, sebab lelaki—yang ternyata suka berulah itu—adalah lelaki pilihannya sendiri yang dulu ia yakini di depan ketidaksetujuan keluarganya. Nyatanya, apa yang dikhawatirkan keluarganya benar-benar terjadi. Suaminya adalah lelaki tak bertanggung jawab. Ia selalu keluar rumah untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Jika pulang, ia hanya makan dan tidur atau marah-marah. Setiap akan keluar rumah, ia kerap minta uang. Kalau Sira tak memberinya, ia akan marah-marah bahkan tak jarang memukul Sira.

    Hari itu mendung menyelimuti kota. Gerimis yang turun sejak semalam tak kunjung reda. Air melimpahi halaman, selokan dan jalan-jalan. Sira buru-buru masuk ke dapurnya setelah menutup payung dan menyandarkannya ke kaki meja. Ia baru saja mengantar anaknya ke sekolah dan harus segera menjajakan dagangannya ke gang-gang. Petir sesekali memecah suasana. Angin bertiup kecang. Sejenak Sira melongo ke mulut jendela, mengamati keadaan sekitar, gerimis bagai jarum-jarum berjatuhan, suasana teramat sunyi, hanya terdengar bunyi air mengalir diselingi suara angin dan petir. Pintu-pintu rumah tertutup rapat, seperti bisa ditebak, pemiliknya masih tidur dalam selimut.

    Sira diliputi rasa bimbang. Saat melihat suasana kota, ia khawatir dagangannya tak akan ada yang membeli. Tapi setelah ditolehnya kroket yang ada di bak karet  itu, menumpuk segar dan mengembang, Sira merasa bersalah jika dagangannya itu tidak dijajakan, pasti hanya akan jadi pakan ayam. Lagi pula, sudah pasti ia tidak akan punya uang untuk kebutuhan hidupnya.

    Pagi itu, suami Sira tidak tidur seperti biasanya, pagi-pagi sekali ia keluar rumah, membelah rintik yang berjatuhan, pamit untuk membeli pulsa ke konter terdekat di ujung gang. Tapi ia tak balik pulang, mungkin sedang asyik ngobrol di konter itu, menunggu hujan reda.

    Saat jarum jam di temboknya lurus ke angka 8, Sira baru keluar untuk menjajakan dagangannya. Ia membelah genangan air yang mengalir di jalan, kadang terdengar  mengecipak, kadang berarus tenang dengan bunyi yang cuma mengecius. Tangan kanan Sira memegang payung yang diupayakan agak miring guna menutupi bagian bak karet yang ia sunggi di atas kepalanya. Sedang tangan  kirinya menjimpit roknya agar tak berendam air.

    Di depan pagar setiap rumah, ia coba menawarkan dagangannya dengan suara setengah berteriak. Mengulanginya beberapa kali seraya melihat pintu-pintu rumah masih rapat tertutup. Gerimis terus medera, angin berangsur kencang, membuat Sira menggigil kedinginan, bibirya tampak putih dan gemetar. Sudah belasan rumah yang ia lalui, tapi tak seorang pun yang sudi membelinya. Hingga jelang zuhur, ketika kakinya tak terasa menapak perbatasan kota, hanya ada tiga bungkus kroket yang terjual. Beban bak karet yang menindih kepalanya masih terasa berat, itu artinya, dagangannya masih banyak yang tidak laku.

    Gerimis agak reda saat Sira memutuskan untuk pulang. Ia berpikir, dua anaknya pasti sudah  menunggu dijemput di sekolah. Saat tiba di sebuah jalan yangn sedikit menikung, ia dikejutkan oleh sebuah pemadangan yang mulanya ia sendirinya tak percaya pada pemandangan itu; suaminya terlihat duduk di sebuah pos ronda, berdua dengan seorang wanita dan terlihat sangat akrab. Mereka sedang menikmati segelas teh hangat yang diminum bergiliran. Sesekali bercanda, sesekali berpegang tangan. Sebagai seorang wanita normal, tentu Sira sangat terluka melihat pemandangan itu. Ingin sekali ia menegur keduanya, tapi ia takut kepada suaminya. Ia hanya mengelus dada, bersamaan ketika air matanya sebutir-sebutir berjatuhan.

    #

    Tak ada yang bisa Sira lakukan saat suaminya pamit untuk beristri lagi, kecuali hanya mengizinkan dengan ketulusan yang dipaksakan demi kebaikan bersama. Satu hal yang ia minta kepada suaminya, agar kabar pernikahannya itu tak sampai ke telinga anak-anaknya. Ia berjanji untuk menampung segala perih sendirian di dalam dadanya yang sunyi, dan rasa perih itu tak boleh sedikit pun didengar oleh kedua anaknya, karena Sira selalu berupaya membuat telinga kedua anaknya itu hanya menerima kabar kebahagiaan agar aktivitas belajarnya tidak terganggu, agar masa kanaknya itu tak terusik hal-hal buruk yang dilakukan orang dewasa.

    Suatu pagi, setelah suaminya resmi menikah, Sira bertemu dengan madunya itu di depan sebuah rumah ketika dirinya tengah dikerumun orang-orang yang hendak membeli kroket. Dugaannya benar, wanita itu ternyata adalah wanita yang pernah ia lihat beberapa waktu lalu.

    Entah ia tahu atau tidak bahwa Sira adalah madunya, sekonyong-konyong ia turun dari motor maticnya dan bergabung dengan orang-orang yang berkerumun di depan Sira. Sesaat ia menatap wajah Sira, Sira pun menatapnya dengan rasa sakit yang tak tertakar. Sira merasa wanita itu tipe pedandan yang penampilannya lebih modis dari dirinya, dan tubuhnya harum diparam aneka kosmetik, handbody dan minyak wangi, jauh dari keadaan tubuh Sira yang selalu mandi peluh.

    “Ih…kalian kok tidak jijik membeli barang jorok seperti itu?” tukas wanita itu, membuat orang-orang di sekelilingnya menoleh dan tentu Sira merasa ada tikam tajam menancap ulu hatinya. Wanita itu lalu pergi saat Sira merasakan ada tetesan bening di sudut matanya.

    Nyatanya, hari-hari berikutnya, pendapatan Sira dari menjajakan kroket sebagian diminta oleh suaminya dan dengan jujur suaminya menyatakan bahwa uang itu akan diberikan kepada istri mudanya. Sira tak bisa menolak karena takut, ia hanya mengelus dada, berurai air mata dan tetap berusaha keras menyimpan luka-lukanya itu agar tidak diketahui oleh anak-anaknya.

    #

    Malam itu bunyi kendaraan di depan rumah Sira berpadu dengan ujung gorden yang dijilam angin. Bertukar suara dengan tiktok jarum jam, atau dengan suara dua anak Sira yang sedang belajar. Sira tersenyum melihat anak-anaknya semangat belajar.

    “Bu! Saya sering melihat ayah membonceng seorang wanita lewat di depan sekolah. Siapa itu, Bu?” tanya anak bungsunya seketika, seraya menakar tatap agak suram, membuat Sira terperanjat. Anak sulungnya pun ikut penasaran. Sira sejenak termenung. Ada yang bergejolak keras di dadanya. Hening menyergap.

    “Bu.!”

    “Hehe. Dia itu cuma orang yang ngojek, Nak. Ayahmu sekarang bekerja sebagai tukang ojek,” kata Sira berbohong. Ia tetap tidak ingin anak-anaknya terluka oleh kabar buruk suaminya. Setelah sedikit kebingungan, lalu kedua anaknya mengangguk dan kembali belajar.

    Setelah kedua anaknya tidur, Sira menangis sendirian, merasakan ragam tombak kepedihan menancap di dadanya, tapi malam itu ia tak lupa merayakan hari ulang tahun pernikahannya yang ke-14 dengan menyulut lilin sendirian di dapur. Di dekat lilin itu ia berdoa. Api lilin meliut-liut, menjilat kelam, memuntahkan asap tipis yang meliuk-liuk tak karuan ke udara sebelum akhirnya pecah dirajam angin. Sira menatapnya dengan sorot yang tajam, menatap gambaran hidupnya sendiri yang mirip asap itu.

    “Andai takdir kehidupan ini adalah sebatang lilin, biarlah aku yang jadi asapnya, meliuk-liuk pedih dipermainkan angin, anak-anak harus tetap jadi api yang menyala dan terus bercahaya,” ucap Sira lirih seraya mengusap butiran air matanya.

    Sumenep, 2021

    BIODATA PENULIS

    A. Warits Rovi, adalah nama pena dari Abd. Warits, lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988, karya-karyanya dimuat di berbagai media seperti Kompas, Tempo. Jawa Pos, MAJAS, Horison, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Majalah FEMINA, detik.com, basabasi.co, Tabloid Nova, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jabar, Sinar Harapan, Solopos, Padang Ekspres, Riau Pos, Bali Post, Banjarmasin Post, Lampung Post, Haluan Padang , Minggu Pagi, Suara NTB, Koran Merapi, Radar Surabaya, Medan Bisnis, Majalah Ummi, Majalah Sagang, Majalah Bong-ang, Radar Banyuwangi, Radar Madura Jawa Pos Group, Buletin Jejak dan beberapa media online. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok dan Tongkat Kayu” (Basabasi Yogyakarta, 2018). “Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” (Basabasi Yogyakarta, 2020). Buku puisinya yang berjudul “Ketika Kesepian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela” terpilih sebagai pemenang II di Pekan Literasi Bank Indonesia, 2020. Kumpulan puisinya dapat dinikmati di antologi komunal; Ketam Ladam Rumah Ingatan (Antologi penyair muda Madura 2016), Bersepeda Ke Bulan (Antologi Puisi Pilihan harian Indo Pos, 2014), Ayat-Ayat Selat Sakat (Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos, 2014). Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (Dewan Kesenian Mojokerto, 2010). Epitaf Arau (Padang, 2012). Dialog TaneyanLanjang (2012). Narasi Batang Rindu (2009), Terpenjara Di Negeri Sendiri (2013). Juara I Lomba Cipta Puisi Nasional Tulis.me, 2021. Juara I Lomba Cipta Puisi Hari Bumi tingkat nasional FAM 2017. Juara I Lomba Menulis Cerita Rakyat antar Guru se-Kab.Sumenep (2017). Juara I Lomba Cipta Puisi KH. As’ad IKSAS Bondowoso (2018). Juara II Lomba Cipta Cerpen ICLaw Green Pen Award 2019. Juara II Lomba Cipta Cerpen Remaja tingkat nasional FAM 2016. Juara II Lomba Cipta Puisi Kenangan Penerbit SIP Publishing (2020). Juara III Lomba Cipta Puisi Esai LBM Sumenep (2016). Juara II Lomba Cipta Cerpen nongkrong.co, 2021. Kini aktif di Komunitas SEMENJAK dan membina penulisan sastra di Sanggar 7 Kejora serta mengajar seni rupa di Sanggar Lukis DOA (Decoration of Al-Huda). Mengajar di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Dusun Dik-kodik RT. 007 RW. 002 Desa Gapura Timur, Kec.Gapura, Kab. Sumenep Madura 69472. Email: waritsrovi@gmail.com. HP. 087866326277. IG: waritsrovi88 FB: Warits Rovi.

    Ikuti tulisan menarik A. Warits Rovi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.