x

Iklan

Meilia Arifianti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Kamis, 2 Desember 2021 17:12 WIB

Apakah Merdeka Belajar Sejalan dengan Pendidikan Karakter?

Pendidikan sejatinya adalah hak bagi setiap warga negara Indonesia dan pemerintah bertanggung jawab untuk dapat melaksanakan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Namun pada kenyataannya pembelajaran yang terjadi di Indonesia adalah berorientasi pada nilai yang didapatkan siswa. Terkadang sedikit mengabaikan tujuan utama dari Konsep Merdeka Belajar Ki Hajar Dewantara. Guru beranggapan bahwa siswa yang berhasil adalah siswa yang mendapatkan nilai yang bagus. Pertanyaannya Apakah konsep merdeka belajar sejalan dengan pendidikan karakter?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Merdeka belajar sangatlah terasa tidak asing ditelinga kita dalam beberapa waktu ini, karena program ini merupakan kebijakan baru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemedikbud Ristek) yang di canangkan oleh Menteri Nadiem Anwar Makarim.  Esensi kemerdekaan berpikir harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkan kepada para siswa, dalam kompetensi  ini guru di level apapun jika tidak ada proses penerjemah dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada maka tidak akan pernah terjadi yang namanya pembelajaran.

Ki Hadjar Dewantara (KHD), Bapak Pendidikan Indonesia, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan adalah tujuan pendidikan sekaligus paradigma pendidikan yang perlu dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan. KHD menyatakan bahwa kemerdekaan memiliki makna yang lebih daripada kebebasan hidup. Yang paling utama dari kemerdekaan adalah kemampuan untuk “hidup dengan kekuatan sendiri, menuju ke arah tertib-damai serta selamat dan bahagia, berdasarkan kesusilaan hidup manusia” (2013, Hal 480). Makna merdeka dalam merdeka belajar, dengan demikian, bukan semata-mata kebebasan tetapi juga kemampuan, keberdayaan, untuk mencapai kebahagiaan.

Dilain sisi Pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan nilai-nilai diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik agar nantinya menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang banyak.  Nilai-nilai diri seperti apa yang dimaksud? Lima karakter utama yang turut menetukan pentingnya pendidikan karakter yang dimaksud yaitu:

  1. Religius. Diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan lain
  2. Nasionalis. Ditunjukkan melalui apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama
  3. Integritas. Meliputi sikap tanggung jawab, konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran, menghargai martabat individu, serta mampu menunjukkan keteladanan
  4. Mandiri. Menjadi pembelajar sepanjang hayat, mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi, dan cita-cita
  5. Gotong royong. Diharapkan peserta didik menunjukkan sikap menghargai sesama, dapat bekerja sama, inklusif, tolong menolong, memiliki empati dan rasa solidaritas.
Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pendidikan Karakter sendiri merupakan bagian penting dalam program pembangunan bangsa. Menurut Bambang Soesatyo (2021) Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (karakter), bukan semata pikiran (intelektual), kareena pada dasarnya pendidikan adalah proses pembangunan manusia seutuhnya yang menyentuk segenap aspek dan dimensi kemanusiaan. Kita dapat merasakan fenomena dan kecenderungan semakin melemahnya wawasan kebangsaan. Disinilah peran pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam proses pembangunan suatu bangsa.

Pendidikan karakter anak dapat  berhasil ataupun gagal bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya naluri, kebiasaan, hereditas, dan lingkungan. Penguatan Pendidikan Karakter sendiri melibatkan  lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas. Dengan menerapkan konsep Merdeka Belajar sistem pengajaran yang dilakukan guru juga akan berubah dari yang awalnya bernuansa di dalam kelas menjadi di luar kelas. Nuansa pembelajaran akan lebih nyaman, karena murid dapat berdiskusi lebih dengan guru, belajar secara outingclass, dan tidak hanya berpusat pada guru (teacher center) tetapi lebih membentuk karakter siswa yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem peringkat (ranking) yang menurut beberapa survey hanya meresahkan anak dan orang tua saja. Pada dasarnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasan dalam bidang masing-masing. 

Dengan demikian, nantinya akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat. Perubahan paradigma dalam pendidikan tidak akan terjadi dalam satu hari. Pada masa pandemi seperti yang kita alami hampir selama 2 tahun terakhir ini kita dapat melihat bagaimana sebagian guru kesulitan untuk melepaskan sense of control di kelasnya ketika proses belajar yang terjadi hanya melalui Pembelajaran Jarak Jauh. Para Guru tidak dapat mengawasi penuh kegiatan siswanya, dan bagi sebagian guru hal ini adalah hal yang mengkhawatirkan, maka dalam penerapan konsep Merdeka Belajar ini juga melibatkan peran penting dari lingkungan keluarga. Orang tua dapat menyelipkan pendidikan karakter di lingkungan keluarga pada anak, seperti :

  1. Membuat suasana belajar yang menyenangkan agar anak senang
  2. Mengajarkan empati, saling menghargai dan perilaku mau berbagi dengan anggota keluarga
  3. Mengajarkan anak untuk disiplin dengan cara memberikan contoh dari perilaku disiplin orang tua di lingkungan keluarga
  4. Melakukan pembiasaan perilaku baik di rumah seperti membantu orang tua sesuai tahapan anak
  5. Mengajarkan berperilaku bersih, sehat dan teratur

Dengan mewujudkan peran dan tanggung jawab mendidik anak sebagaimana diuraikan di atas, keluarga telah berpartisipasi aktif mewujudkan program Merdeka Belajar yang telah dicanangkan dan digalakkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia.

Ikuti tulisan menarik Meilia Arifianti lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler