Merdeka Belajarku, Sebuah Upaya dari Seorang Guru Biasa

Kamis, 2 Desember 2021 17:16 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tentang usaha guru memerdekakan muridnya agar belajar dengan bahagia, menuju keselamatan setinggi-tingginya

Merdeka Belajarku, Sebuah Upaya  dari Seorang Guru Biasa

Ketika Kemendikbud meluncurkan  merdeka belajar di akhir 2019, saya sebagai guru yang terbilang lumayan lama mengabdi di kancah dunia pendidikan tergelitik. Dalam benak terbayang siswa yang merdeka, boleh semaunya di sekolah. Menjadi bagian dari guru yang mengajar di SMK dengan siswa  heterogen, saya mulai berangan-angan. Siswa-siswa saya yang ini, kalau ia wajib dimerdeka belajarkan, pasti senang bukan kepayang. Siswa Y, ia akan berasumsi bahwa ia boleh belajar hanya pada mata pelajaran yang dimauinya, kan Merdeka. Siswa X akan bersorak gembira, boleh bolos kapan saja, kan Merdeka. Atau si Z, akan dengan lantang memproklamirkan diri hanya mengerjakan tugas yang ia ingini saja, sekali lagi … kan Merdeka.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Untung itu hanya imaji liar saya yang tak berlanjut. Merdeka Belajar pun dipaparkan sebagai konsep yang memiliki 4 komponen, empat program pokok kebijakan pendidikan “Merdeka Belajar”. Program tersebut meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.

Seiring berjalannya waktu program demi program, episode demi episode pun berjalan. Penghujung tahun 2021, saat peringatan Hari Guru Nasional Mas Menteri pun menyampaikan kebijakan yang menurut saya sangat WOW, yaitu melanjutkan aksi kepegawaian, guru honor yang direkrut menjadi P3K, tahun depan akan ada lagi dan masih banyak, nasib guru honorer benar-benar diperhatikan. Sebuah gebrakan dalam permasalahan dunia guru honor yang klise dan telah menggurita.

Mas menteri tidak main-main mereformasi pembelajaran, dari penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), penghapusan Ujian Nasional (UN), dan pelaksanaan Asesmen Nasional (AN), semuanya dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Ada pula janji akan meluncurkan berbagai macam platform teknologi, bukan hanya bagi-bagi laptop dan proyektor terbesar di sejarah Indonesia, tetapi juga memberikan berbagai macam pelatihan online yang bisa diikuti guru-guru secara mandiri sesuai kebutuhannya. Bukan belajar teori-teori saja, tetapi  praktis dan relevan, dari guru untuk guru. Hal yang ditekankan mas menteri ialah peningkatan kualitas guru melalui pelatihan,  minim teori, banyak praktik baik. Karena yang menjadi mentor adalah rekan guru lainnya, sehingga bisa konek sesuai konteks kelas. Guru saling belajar sesama guru.

Janji selanjutnya adalah akan menawarkan kurikulum yang jauh lebih merdeka, saat ini sedang diuji coba di sekolah-sekolah penggerak. Kurikulum yang bisa dimengerti oleh guru, fleksibel, sehingga guru boleh mengadaptasi sesuai kebutuhan dan kemampuan murid-muridnya, memberikan kesempatan guru untuk berkreasi dan berinovasi sehingga proses pembelajaran jauh lebih mudah, kurikulum yang memberikan kemerdekaan kembali kepada guru-guru.

Sebagai guru yang saat ini  sedang mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak, mendengar pemaparan Mendikbud di atas membuat saya berasa mendapat angin surga. Guru sebagai pilar utama pendidikan wajib "terdidik", tak hanya harus S-1, tetapi harus mengembangkan diri, beradaptasi dengan segala perubahan, karena yang dihadapi adalah siswa, yang tentu saja selalu berubah.

Jujur, secara pribadi, selama ini saya merasa tuntutan kurikulum terlalu tinggi. Konsep tujuan pembelajaran yang terlalu tinggi tidak sesuai tahap perkembangan anak, kurang relevan dan tidak realistis.

Akibatnya saya sering dihantui rasa bersalah ketika mengajar. Karena dituntut menuntaskan konten sehingga saya terjebak pada cara mengajar satu arah. Kurang ada ruang kreativitas bagi guru. Di sisi lain saya pun membayangkan bahwa banyak murid  belajar dalam keadaan terpaksa, terpasung. Mereka dituntut mempelajari banyak konten sehingga sangat sering hanya belajar hafalan dan tidak mendapatkan pemahaman yang utuh.

Guru juga tidak  mengajar dengan nyaman,  murid cenderung menderita belajar karena proses penilaian yang rumit dan menghabiskan energi akibat pembedaan antara penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan. Belum lagi tentang durasi pembelajaran. Guru tidak  dapat melakukan penyesuaian durasi dan kecepatan pembelajaran sesuai kebutuhan murid karena setiap tujuan pembelajaran ditetapkan, diatur, dan dikunci dalam satuan minggu. Semuanya tidak bisa disesuaikan oleh guru dan satuan pendidikan. Meskipun tahu muridnya belum paham, guru dengan tegas dan “terpaksa” melanjutkan pembelajaran berikutnya. Kejadian beruntun, murid belum menguasai pemahaman dasar dipaksa mempelajari pengetahuan yang lebih kompleks pun tak terelakkan.

Angin Merdeka Belajar dan janji yang disampaikan mas menteri menjawab semua, Merdeka Belajar paling tepat digunakan sebagai filosofi perubahan dari metode pembelajaran yang terjadi selama ini. Sebab, dalam "Merdeka Belajar" terdapat kemandirian dan kemerdekaan bagi lingkungan pendidikan menentukan sendiri cara terbaik dalam proses pembelajaran.

Merdeka Belajar untuk menumbuhkan profil Pelajar Pancasila dibutuhkan di era saat ini, anak-anak tidak lagi harus mengikuti kurikulum kaku yang terpatok harga mati, tetapi sesuai kondisi, bermakna, dan konteksual. Murid akan mendapat lingkungan belajar yang menyamankan karena gurunya menyuguhkan metode belajar yang paling cocok digunakan untuk anak-anak didik. Merdekanya pemikiran anak-anak didik,  tidak bisa dijajah baik kurikulum kaku, maupun orang lain, siapa pun , bahkan media sosial.

Ketika kemerdekaan itu juga berlaku untuk guru di dalam kelas, guru dapat menentukan sendiri apa cara mengajar yang terbaik untuk anak didiknya. Selain itu, guru juga dapat secara merdeka untuk memilih elemen-elemen dari kurikulum yang terbaik. Lebih lanjut, kemerdekaan juga berlaku untuk kepala sekolah, hal ini agar secara mandiri dapat menentukan apa yang terbaik dalam hal menggunakan anggaran.

Beragam poin manis dalam merdeka belajar tersebut telah  membuat saya bersemangat kembali, mulai tergerak, berusaha bergerak, syukur-syukur bisa menggerakkan yang lain. Berangkat dari berbagai hal tersebut, sudah saatnya  KITA, khususnya para guru,  langsung memulai aksi  dari diri sendiri, yang ada dalam lingkar kuasa dan pengaruh kita. Untuk saya, saya telah mengawalinya dengan kegiatan di gerbang sekolah pada pagi hari. Bukan hal baru, tetapi sedikit terlupakan ketika pandemi Covid-19 melanda, yaitu 5 S; Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun.

Saat anak didik datang ke sekolah untuk mengikuti Pembelajaran Tatap Muka Terbatas ( PTMT), di gerbang sekolah guru bersiap menyambut, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Meskipun tanda sentuhan, jabat tangan, dan tepuk pundak seperti dahulu, tetapi dengan salam berjarak, diiringi senyum, sapaan hangat, dan anggukan. Hal kecil yang akan berdampak besar, bagaimana mereka diperlakukan, seperti itu juga yang akan dilakukan oleh anak didik kepada orang lain.

Guru dan elemen sekolah lain adalah contoh nyata untuk menumbuhkan karakter siswa. Sopan dan santun adalah indikator yang menunjukkan karakter baik seseorang. Sepandai dan seterampil apapun seseorang, tanpa akhlak yang baik, sia- sia saja. Saya berharap bahwa sekecil apapun langkah yang diambil akan membentuk karakter siswa, ayo turut ambil bagian dalam proses besar ini.

Merdeka belajar dengan selalu mengedepankan penumbuhan karakter seyogyanya terus dilaksanakan dan dirawat,  dimulai dari keluarga, lingkungan, dan tentu saja sekolah.  Selain peran orang tua,  peran guru sangat signifikan. Guru merupakan salah satu penentu penting pembentuk karakter anak. Bagaimanapun menjadi guru adalah profesi mulia, menjadi bagian dari usaha memajukan pendidikan adalah kebanggaan. Semoga merdeka belajar tak hanya jargon, gaungnya akan terimplementasi di kelas, di sekolah, untuk keselamatan dan kebahagiaan anak didik, para pemilik masa depan, para generasi penerus bangsa. Mari bergerak dengan hati, pulihkan pendidikan.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Sulastri

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler