Tukang Sayur yang Dimahkotai Kejayaan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Amirah Fathinah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 November 2021

Kamis, 2 Desember 2021 17:42 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Tukang Sayur yang Dimahkotai Kejayaan

    Hati menggalau tiada dapat dihalau, Pak Zai melangkah gontai menyusuri jalan setapak menuju rumah sembari menyeret gerobak sayur miliknya yang hanya diisi udara kosong. Sayur mayur yang ia jajakan tersapu bersih seperti biasa. Namun, langkah kakinya terasa gamang ketika menapak. Sanubarinya diselimuti kebimbangan. Ucapan Pak Turai terngiang-ngiang.

    Dibaca : 152 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dari luar, Pak Zai tampak seperti bagaimana cuitan orang-orang di kampung yang meninggikan perangainya yang jujur dan menyenangkan. Pak Zai si pedagang sayur keliling yang selalu menjadi sasaran serbu ibu-ibu ketika pagi hari. Selain ramah, beliau disenangi karena tidak pelit. Pak Zai membiarkan para makhluk berdaster itu menawar dengan harga yang mereka inginkan. Selagi tidak keterlaluan, ia  akan melepas sayuran segar dengan harga yang melenceng dari standar. Pak Zai nyaris tidak punya musuh, kecuali satu orang. Namanya Pak Turai, sama-sama tukang sayur keliling.

    Tak perlu dipertanyakan, jawabannya sudah jelas. Satu-satunya alibi Pak Turai membenci Pak Zai karena pembelinya selalu kabur setiap batang hidung rivalnya itu tampak. Lalu, Pak Turai yang dengki hatinya lantang menyindir status Pak Zai yang notabene suami dari seorang PNS yang bekerja di kelurahan.

    “Istrinya PNS, kok suami masih ngider kesana kemari cari cuan. Takut diceraikan atau memang gila uang?” Seru Pak Turai disertai kekehan sinis.

    “Jualan ya jualan aja, Pak. Gak usah julid!” Bukan Pak Zai yang menyahut, melainkan ibu gendut berdaster merah jambu bergambar Hello Kitty.

    “Pak Turai iri, ya? Iri tanda tak mampu, Pak.” Yang lain ikut menggarami. Sisanya menjadi tim penyorak. Pak Turai bersungut-sungut lalu menyeret gerobaknya pergi dari situ dengan senyum kecut. Melihat itu, semakin kencanglah sorakan ibu-ibu yang merendahkannya.

    “Heran, ada orang kayak gitu. Kerjanya sirik mulu sama pencapaian orang lain. Pak Zai ga usah dengerin dia, ya.” Bahkan meski bayangan Pak Turai tak lagi tampak oleh netra mereka, ibu-ibu itu masih saja menggunjing perilakunya yang dianggap memalukan.

    Pak Zai yang bingung harus bereaksi seperti apa, hanya mengulas senyum tipis seperti  biasa. “Nggih, ibu-ibu.” Namun, diam-diam membawa tudingan Pak Turai terhadap dirinya ke alam pikir.

    Hati menggalau tiada dapat dihalau, Pak Zai melangkah gontai menyusuri jalan setapak menuju rumah sembari menyeret gerobak sayur miliknya yang hanya diisi udara kosong. Sayur mayur yang ia jajakan tersapu bersih seperti biasa. Namun, langkah kakinya terasa gamang ketika menapak. Sanubarinya diselimuti kebimbangan. Ucapan Pak Turai terngiang-ngiang.

    Pak Zai menyipitkan mata. Istana tempat dia dan keluarganya bermukim telah terjangkau oleh penglihatan. Bangunan berlantai marmer. Dipoles dengan cat anti noda. Terasnya disokong oleh dua pilar besar dan tegak. Rumah Pak Zai tergolong megah bagi warga kampung tempat ia tinggal. Sepadan dengan status istrinya yang merupakan PNS kelurahan. Pak Zai meringis. Lagi-lagi sindiran Pak Turai berdengung keras.

    “Istrinya PNS, kok suami masih ngider kesana kemari cari cuan. Takut diceraikan atau memang gila uang?”

    “Bapak!”

    Suara riang milik putri bungsunya berhasil membawa Pak Zai kepada kesadaran sekaligus menjernihkan telinganya dari nyinyiran Pak Turai untuk sesaat. Pak Turai memacu lajunya. Kemudian berhenti di pekarangan depan yang dipenuhi bunga-bunga. Itu ulah istrinya yang gemar bercocok tanam tanaman hias. Di antara bunga-bunga itu, ada satu pohon kelapa gading yang meski tak pernah berbuah, Pak Zai bersikeras mempertahankannya.

    Rika, putri tunggal Pak Turai yang baru masuk SMA tahun lalu gegas menghampiri ayahnya dengan wajah sumringah. SMA tempat Rika sekolah sedang direkonstruksi. Alhasil, para siswi bergiliran menggunakan ruang kelas yang tersisa. Rika kebagian datang pukul sepuluh.

    “Rika minta uang kas bulan ini dong, Pak.” Ucapnya disertai tangan menengadah.

    Pak Zai tanpa pikir panjang langsung mengeluarkan dua lembar uang sepuluh ribu dari tas kecil yang diikat di pinggangnya.

    “Ini. Uang jajan udah?” tanya Pak Zai.

    “Terima kasih, Bapak. Udah, tadi minta sama ibu sebelum ibu pergi ke kantor. Tapi kalau Bapak mau nambahin, Rika pasti seneng banget.” Rika cengengesan.

    Pak Zai terkekeh. “Ambil ini.”

    Rika tiada dapat menahan sorakan usai selembar uang kertas berwarna ungu mendarat di telapak tangannya. “Terima kasih, Bapak. Rika berangkat sekolah dulu, ya.” Serunya riang seraya mencium punggung tangan Pak Zai dengan takzim.

    “Hati-hati di jalan. Belajar yang rajin.” Pesan Pak Zai yang disahuti Rika dengan anggukan cepat.

    Kala punggung Rika menghilang di ujung gang, Pak Zai melesat masuk ke dalam rumah dengan tergesa. Beliau mondar-mandir dari kamar ke dapur memindahkan beberapa barang.

    Seharian Pak Zai mengurung diri, mengunci pintu kamar rapat-rapat. Istri dan putrinya tak lagi heran. Oleh sebabnya mereka bungkam saja. Agaknya mereka bisa membaca gelagat sang kepala keluarga.

    Malam itu, istri Pak Zai keluar rumah tanpa pamitan. Mengenakan lipstik merah menyala yang membuat mata sesepuh di kampung memicing curiga. Pak Zai justru tak menunjukkan reaksi apa-apa. Beliau hanya memandangi bayangan sang istri yang menghilang dalam remang-remang lewat kaca jendela kamar. Raut mukanya terlihat samar.

    Mendekati pukul dua belas, daun kelapa di pekarangan rumah Pak Zai menggisil hebat, tapi tak meluruhkan sesuatu yang bisa mengotori tanah. Lolongan anjing membisingkan telinga insan yang masih terjaga. Ayam-ayam menjadi ribut. Serangga-serangga bergidik lantas perlahan-lahan membubarkan pertemuan.

     Di kamarnya yang lembab, suhu ruangan justru meningkat dua kali lipat. Pak Zai yang banjir peluh memegang erat replika manusia di tangan kiri dan jarum di tangan kanan. Mulutnya berkomat-kamit memantrai kedua benda tersebut. Kemudian dalam satu tarikan napas panjang, jarum di tangan kirinya menghujam berkali-kali boneka yang ia pegang. Lantas begitulah, malam yang ribut berhasil ditenangkan dengan menumbalkan satu jiwa.

    Keesokan harinya, warga kampung digemparkan oleh berita kematian Pak Turai yang dikumandangkan oleh marbot masjid. Mereka berduka sekaligus terheran-heran. Seharian warga kampung sibuk mengemasi mayit Pak Turai dan silih berganti datang ke kuburan. Mereka melupakan hampir segala urusan. Hanya Pak Zai yang tetap pada aktivitasnya. Beliau melesaki kampung yang lengang sembari menyeret gerobak sayur miliknya.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Bionarasi Penulis

    Amirah Fathinah, 19 tahun. Pembaca yang gemar menulis.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.