x

Foto anak laki-laki kesepian. FeeLoona dari Pixabay.com

Iklan

Amirah Fathinah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 November 2021

Selasa, 12 Maret 2024 07:06 WIB

Anak Bapak

Pada 15 tahun silam, ketika tahun ke-9 usiaku, mahligai kami yang semula sunyi mendadak bising dipenuhi tangisan bayi dalam gendongan ibu. Ibu muncul di depan pintu sembari memandangi ayah dan menghampirinya dengan takut-takut. “Maaf.” Ibu menyambut ayah dengan berlutut. Satu tangannya melingkar di kaki ayah. Ibu tersedu sedan, sedangkan ayah menegang dengan raut muka yang tidak terbaca. Naluriku mengatakan ada yang salah. Sepasang purnamaku menatap mereka silih berganti, tapi tetap saja aku tidak mengerti.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sudah lekang waktu, kau menjelma menjadi sosok remaja yang kehilangan mata-telinga, tangan dan kaki, bahkan diam-diam pelita temaram yang dititipkan ibu untukmu seluruhnya telah padam. Pada sepasang purnamamu, kerap kusaksikan kau tersesat bersama alamat kesunyian yang dijinjing bertahun-tahun. Diam-diam dalam rentang warsa yang menumbuhkanmu, kuhitung seberapa banyak dosa ibu terhadap bapak. Barangkali berkat dosa-dosa itu, kau tumbuh menjadi ilalang liar, menggabungkan diri di tengah kumpulan bunga-bunga yang mewangi. Tanpa kau sadari, kehadiranmu di sana telah merusak nilai estetika.

“Ini sudah kesekian kali Abang dipanggil ke sekolah untuk membereskan masalah yang kamu buat.” Aku menghela napas guna menetralkan emosi yang hampir meledak. Sementara sosok pemuda tanggung di sebelahku bergeming. Sikap apatisnya tidak kunjung memudar, justru kian menjadi dari hari ke hari. Kalau berhadapan dengannya, aku seperti orang gila yang bicara sendiri. Tangannya bergerak menyumpal earphone ke telinga. Sudah hafal betul aku mengenai watak keras Dasa. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkan dia lolos. Dengan gerakan cepat kurentun earphone di telinganya. Dasa melotot marah.

“DENGERIN ABANG!” Bentakku dan berhasil membuat Dasa terperanjat. “Kamu ga capek buat onar terus, hah? Kemarin ikut tawuran, terus nyebat di belakang sekolah, bolos, sekarang kamu buat ketua kelas kamu sekarat!” ucapku berapi-api. “Kalau dia mati, kamu jadi pembunuh. Terus masuk penjara!” Dasa tidak menjawab. Dia mematung, memasang ekspresi acuh seperti biasa. Dia tidak terlihat kesal apalagi menyesal. Berikutnya Dasa membuang pandangan ke kaca mobil yang setengah terbuka. Melihat itu aku mengusak rambut, kesal. Tangan yang menganggur kupukul pada setir mobil. Tak mengapa tanganku memar setelah ini, asalkan wajah Dasa bisa selamat. Saat ini aku tidak munafik. Keinginan untuk menghadiahi bogem keras ke wajah Dasa sudah mencapai ubun-ubun, begitu menggebu. Aku mati-matian meredam hasrat itu untuk menyelamatkan ikatan persaudaraan kami. Aku tidak ingin Dasa semakin memberi jarak denganku. Itu hanya akan menambah kerumitan.  Akhirnya aku justru melampiaskan amarah dengan memukul tangan pada setir mobil. Aku benar-benar kalut, kehilangan akal menghadapi kenakalan Dasa yang tidak kunjung mencapai titik klimaks.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Mau kamu apa sih, Sa?” Lagi, pertanyaanku hanya mengudara. Mungkin tak pernah sampai ke telinga Dasa. “Kamu ga capek? Abang yang capek kalau kamu gini terus.” Lirihanku menutup konversasi kami hari itu. Kupikir tiada guna melanjutkan perbincangan searah ini. Tak lama Dasa mengintruksi dengan nada dingin untuk segera melajukan mobil. “Aku mau pulang. Laper.” Karena terlalu malas berdebat, aku menurut saja. Sebenarnya siapa yang bermasalah di sini. Aku atau Dasa?

Lima belas tahun silam, ketika tahun ke-9 usiaku, mahligai kami yang semula sunyi mendadak bising dipenuhi tangisan bayi dalam gendongan ibu. Ibu muncul di depan pintu sembari memandangi ayah dan menghampirinya dengan takut-takut. “Maaf.” Ibu menyambut ayah dengan berlutut. Satu tangannya melingkar di kaki ayah. Ibu tersedu sedan, sedangkan ayah menegang dengan raut muka yang tidak terbaca. Naluriku mengatakan ada yang salah. Sepasang purnamaku menatap mereka silih berganti, tapi tetap saja aku tidak mengerti.

Bermula pada hari itu, status anak tunggal aku tanggalkan. Berkat kepiawaian ayah dalam merayu, aku setuju untuk menerima Dasa sebagai adik. Meski gen ayah sama sekali tidak ada padanya. Setelah peristiwa itu, kami diboyong ayah hijrah ke kota lain. Tiada satu yang tahu mengenai aib ibu, kecuali keluarga terdekat. Oleh ayah, Dasa diperlakukan setara denganku sampai para tetangga mengira kami benar-benar saudara kandung. Bertahun-tahun, keluarga kami tumbuh harmonis tanpa masalah. Ibu dan ayah sepakat melupakan masa lalu dan memilih menjadi sepasang tua.

Mungkin karena ini, semesta menjadi cemburu lalu menaburkan benih kesialan di keluarga kami. Dia merenggut ayah dan ibu dalam kecelakaan mobil di hujan bulan Juni. Maksudnya apa? Supaya aku lebih tabah dari hujan bulan Juni itu sendiri, begitu? Tapi aku tidak setangguh itu. Aku menjadi lebur usai ditinggalkan ayah dan ibu. Kepergian yang terlalu tiba-tiba, membuatku memilih untuk melupa. Aku hidup kembali, dibentuk menjadi lebih keras dari baja. Barangkali aku yang telah berubah keras, membuat Dasa perlahan-lahan menjauh dan diam-diam berguru untuk menjadi lebih brengsek supaya bisa melawanku.

Pada akhirnya, kami seperti pelari tiga kaki. Berkat seutas tali yang mengekang kaki, kami punya kesempatan untuk menjatuhkan satu sama lain. Tapi aku lupa, bilamana berhasil menyepak Dasa, maka aku akan turut terjerambab menimpanya sebab tali di kakiku terhubung ke kakinya, begitu pula sebaliknya.

“Aku harus bagaimana? Semakin hari kelakuan anak itu semakin mirip anak setan. Apa sebaiknya aku lepas tangan saja. Atau sekalian aku putuskan hubungan persaudaraan kami?” Pertanyaan itu kulayangkan kepada Hanung, temanku yang punya segudang pemikiran bijaksana tentang kehidupan. Belakangan aku rutin menemuinya dan bercerita perihal Dasa dan kelakuan ajaibnya yang bikin pikiranku kalut. Mendengar pertanyaanku, Hanung terkekeh. ”Ya udah, kalian hidup masing-masing aja mulai dari sekarang.“  Mendengar itu aku mendengus sembari mengulas senyum yang dipaksakan. Ketika aku hendak membuka mulut untuk merespon, Hanung lebih dulu mengudarakan pernyataan yang bikin aku tertegun. “Tapi sampai saat ini kamu masih setia membereskan kekacauan yang Dasa buat. Artinya, jauh di lubuk hatimu, kamu masih sangat peduli sama dia. Buktinya sekarang, kamu memusingkan bagaimana caranya supaya Dasa kembali jadi anak yang...yah dalam tanda kutip baik.” Aku kehilangan seluruh kosakata untuk menjawab. Hanung melanjutkan, “Bertahanlah Rendra! Saat ini kamu yang harus menyelamatkan Dasa. Suatu hari nanti, bisa jadi Dasa yang menyelamatkan kamu.”

Perkataan Pak Hanung benar-benar memberiku pencerahan. Aku seperti raja yang baru saja mendapatkan wejangan dari penasihat kerajaan. Maka sepulang dari kediaman Pak Hanung, aku langsung berlari ke kamar Dasa, berharap masih bisa menemukan raga Dasa lengkap dengan nyawa. Aku khawatir akan kondisi anak itu setelah aku marahi habis-habisan pulang sekolah tadi. Apa aku berlebihan? Bahkan sejak dalam perjalanan menuju rumah, isi kepalaku dipenuhi siluet yang bukan-bukan tentang Dasa.

“DASA!”

Aku lantas meredam teriakan setelah berhasil menyusup ke kamar Dasa dengan tergesa dan refleks menutup mulut. Tanganku yang bertengger di gagang pintu perlahan merosot. Aku menjadi kikuk tatkala manik Dasa menghujamku dengan penuh tanda tanya. Anak itu tak disangka-sangka baru saja melakukan kegiatan yang bahkan aku sendiri tidak terpikirkan.

“Ini peringatan hari kematian Ibu dan Bapak. Abang ga ngirim Surat Yasin buat mereka? Lupa?” ujar Dasa. Kalimatnya memuat  sindiran tersirat. Aku tercenung. Kelopak mataku mendadak berkeringat, bulir bening nan hangat bergelayut di sana dan kuyakini sebentar lagi akan luruh. “Buat Bapak juga?” tanyaku ragu-ragu. Jujur, meski bapak sudah merelakan dan memaafkan kesalahan ibu, satu sudut dalam hatiku tetap tidak bisa membenarkan itu. Mengetahui fakta bahwa Dasa bukan anak bapak, menciptakan linu setiap kali otakku membelah ingatan tentang itu.

 “Aku bukan cuma anak Ibu, tapi juga anak ‘Bapak’.” Tegas Dasa menekankan kata ‘bapak’ setelah aku memandanginya dengan tatapan tidak menyangka. Usai mengatakan itu, serta merta aku menghambur mendekap Dasa. Terharu, aku seperti mendapatkan tamparan telak. Tanpa disadari aku telah menyimpan dendam terhadap ibu selama bertahun-tahun dan hari ini Dasa berhasil melunturkan senyawa kotor itu.

“Kenapa sih? Minggir, lepasin! Aneh banget.” Awalnya Dasa risih dan memberontak, hendak menyingkirkan tubuhku darinya. Tapi kalimat berikutnya yang meluncur dari mulutku membuat Dasa tidak berkutik lalu diam-diam ikut terisak. “Iya, kita berdua anak ‘bapak’. Ini Dasa dan Rendra, dua saudara yang akan membuat Bapak tenang ‘di sana’.”

“Anak ibu juga,” sambar Dasa. Aku mengangguk sambil berlinang air mata. Entah mengapa dadaku serasa plong setelah membenarkan ucapan Dasa. Kami saling melepaskan diri. “Maaf.” Dasa memandangiku penuh penyesalan dengan dua netra yang basah oleh airmata. Aku menggeleng. “Maaf karena selalu bikin repot Abang.” Gelenganku semakin kuat. “Maafin Abang juga, yah. Abang terlalu keras sama kamu. Abang lebih suka menghakimi kesalahanmu ketimbang memahami.” Ujarku bersungguh-sungguh sembari mengusak rambutnya yang lebat. Dasa mengangguk.

Demi Tuhan, adikku lucu sekali. Aku seperti berhadapan dengan Dasa di beberapa tahun silam. Saat kami masih saling menggenggam, kala hatiku dengan polosnya menganggap Dasa selayak adik kandung yang wajib dikasihi dan dilindungi. Otakku berkelana mencari kunci untuk membuka satu peti kenangan yang sengaja aku bekukan, kenangan masa kecil kami yang bahagia. Betapa aku bangga kala Dasa menyerukan namaku untuk menyelamatkannya dari gerombolan anak-anak perisak di kompleks perumahan. Masa itu aku merasa seperti jagoan dan pahlawan untuknya. Walaupun berakhir kami dipukul bersama, tapi aku bersyukur sebab Dasa tidak menanggung rasa sakit seorang diri. Berbanding terbalik dengan kondisi kami sekarang yang saling menjatuhkan. Tapi aku telah bertekad, mulai hari ini akan menjadi kasa dan obat merah supaya Dasa bisa mengandalkanku ketika dia terluka. Benar, aku adalah kakak. Aku yang dilahirkan lebih dahulu, untuk alasan itulah aku yang harus menjadi lebih tangguh.

“Rambut kamu harus dipotong, nih! Anak sekolah tapi rambutnya kayak preman pasar.” Kataku tegas. Aku baru menyadari rambut Dasa terlalu lebat untuk ukuran anak sekolahan. Aku yakin dia pasti sering ditegur oleh guru perihal ini. Dasa tidak menjawab dengan kalimat pemberontakan seperti biasa. “Ck, nanti kalau dipotong jadi culun. Cakepan juga begini.” Aku tercengang. Gila, Dasa benar-benar anak ‘bapak’. Cara bicaranya persis seperti bapak yang menangkis perintah ibu untuk memotong rambut. Ah, aku jadi merindukan mereka.

Ikuti tulisan menarik Amirah Fathinah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler