Kannivaloi - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Surat di dalam botol yang terombang ambing di pinggir pantai

Aurelia Pratama

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Desember 2021

Jumat, 3 Desember 2021 04:54 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kannivaloi


    Dibaca : 133 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mayu sedang  berdiri di dekat garis kuning batas di mana penumpang boleh menginjakkan kaki. Keramaian yang terasa familiar di telinga Mayu pun berdengung bagaikan alunan lagi yang unik. Ya, seperti inilah keramaian suasana hiruk pikuk yang terjadi di stasiun bawah tanah Victoria Walthamstow Central.

     

    Butuh tiga stasiun lagi untuk mencapai tujuan akhir.

     

    Tidak butuh waktu lama bagi Mayu untuk tiba di Warren Street Station. Setibanya di sana, ia melihat sosok pria yang menyita perhatiannya. Bukan karena ketampanannya, tetapi penampilannya yang begitu urakan layaknya seorang tunawisma yang sedang meminta sedekah.

     

    ‘Aneh. Bagaimana gelandangan itu tidak tertangkap oleh security?’ batinnya.

     

    Mayu pun memutuskan untuk memberikan uang sebesar 10 Poundsterling padanya.

     

    “Ini sedikit uang untukmu. Belilah makanan yang bergizi.” Ucap Mayu sambil menaruh uang tersebut ke dalam topi yang ditadahkan oleh pria itu.

     

    “.... Hmmmh" Pria itu bahkan tidak menoleh sedikitpun.

    "Bau telur.” Begitulah balasan dari pria urakan tersebut.

     

    Mayu yang kebingungan pun sempat menoleh ke arahnya dan menanyakan mengenai hal itu, tetapi tidak kunjung mendapat jawaban.

     

    ‘Haaaa. Bisa-bisa aku telat. Nanti aku bisa dimarahi oleh Mr. Smith.’ Batin Mayu sambil berlalu dan menghiraukan ucapan pria tersebut.

     

    Namun sayang, semakin ia berusaha untuk menghiraukannya, ia merasa semakin terganggu karena ucapan orang itu.

     

    “Bau telur katanya. Aku sudah memberikan uang dan ia mengatai aku bau busuk?” gerutu Mayu sambil mengendus tubuhnya.

     

    “Aku bahkan memakai parfum keluaran terbaru! Bagaimana bisa ia mengatai ku bau telur?!” Sambil menghentakkan langkahnya menuju tempat tujuannya, ia mendengus kesal mengingat perkataan gelandangan itu.

     

    Keesokan harinya, di tempat yang sama, Mayu melihat gelandangan itu. Masih dengan pakaian yang sama. Meskipun kesal dengan perkataannya, Mayu tetap tidak tega melihat gelandangan itu berdiri di sana sambil meminta uang. Ia pun menghampiri orang tersebut dan memberikan uang dengan nominal yang sama.

     

    “... Bau susu.” Begitulah jawaban dari pria itu setelah diberikan uang.

     

    Kali ini lebih baik. Apa mungkin ia mengira parfum vaniliku sebagai susu?’ batin Mayu kemudian bergegas meninggalkan pria itu.

     

    Di belakang Mayu, ia mendengar pria itu berbisik lagi dan mengatakan, “Bau sapi.”

     

    Mayu pun segera menoleh dan melihat orang manakah yang dihina oleh pria itu.

     

    Bau sapi katanya, bagaimana mungkin? Tidak ada yang sebau itu, berani sekali pria itu menghina orang lain?’ Mayu mulai geram dan ingin menanyakan langsung mengenai maksud perkataannya.

     

    Sayangnya ia tidak memiliki bukti fisik. Mayu lalu memutuskan untuk melakukan interogasi besok.

     

    Besok aku harus datang lebih awal. Andai saja Mr. Smith dapat menoleransi keterlambatanku. Hah... baiklah aku harus bergegas ke kampus.

    Sambil berlari kecil menuju jalan keluar Warren Street Station, Mayu menantikan bau apa lagi yang akan dilontarkan oleh gelandangan tengik itu.

     

    Keesokan harinya, Mayu menghampiri gelandangan itu. Ia sudah bertekad untuk mendengarkan perkataan orang itu dengan jelas. Seperti biasa, ia memberikan uang kepada pengemis itu sambil berlalu.

     

    “Hmmmm. Bau apel.” Katanya.

     

    Tidak buruk juga. Tapi parfumku bau aprikot, bukan apel. Sepertinya ia memiliki gangguan penciuman.’ Mayu memberikan dugaan setelah mendengarnya beberapa hari ini.

     

    Kemudian sambil berjalan menjauh secara perlahan, ia mencuri dengar perkataan orang tersebut, sambil sesekali menengok untuk melihat orang yang dihinanya.

     

    “Bau sapi.” Katanya kepada seorang pria bertubuh gempal. ‘Kurang ajar sekali perkataannya.’

     

    “Bau manusia.” Kata pengemis itu kepada seorang pria bertubuh cungkring.

     

    Bau manusia katanya? Wah, pria itu beruntung sekali. Hanya dia yang baunya paling normal sejauh ini.’ batin Mayu.

     

    “Bau ayam.” Katanya kepada seorang gadis yang sepantaran dengan Mayu. Bagaimana mungkin pengemis ini dengan tidak sopannya mengatai seorang gadis dengan menyebutnya bau ayam?

     

    “Satu kata lagi dan aku akan memaksanya menjawab pertanyaanku.” Ucap Mayu sambil berhenti di satu titik yang ia rasa tidak dapat dilihat oleh pria itu.

     

    “Bau ikan.” Katanya kepada seorang nenek paruh baya yang sedang tersenyum kepada pria itu.

     

    Benar-benar. Bahkan ia tega mengatai nenek itu dengan sebutan bau ikan??! Wangi nenek itu malah tercium seperti kayu manis!

    Mayu yang membatin sudah tidak tahan lagi untuk melabrak pria itu. Benar saja, ia segera menghampiri pria itu dan berdiri tepat di sampingnya.

     

    “Aku mendengar kau mengatai aku dengan sebutan ‘bau telur’ dan ‘bau apel’.” Kata Mayu memulai percakapan untuk menyerangnya.

    “Dua hari yang lalu juga kau bilang aku ‘bau susu.’ Aku tidak masalah jika kau mengatai ku.”

     

    “Tapi aku tidak tahan saat kau mengatai orang lain. Bahkan kau tega mengatai seorang nenek dengan sebutan ‘bau ikan’? Lalu, bau apakah yang kau miliki, hai tuan?” kata Mayu sambil menunggu jawaban dari pria tersebut.

     

    Pria itu tidak bergeming dan masih memilih untuk bungkam.

     

    “Lalu mengatai orang lain dengan sebutan ‘bau sapi’ kepada orang yang memiliki postur tubuh yang agak gempal. Dan kau tega sekali menyebut seorang perempuan dengan sebutan ‘bau ayam’?” Mayu melipatkan kedua tangannya untuk menahannya menampar pria yang tidak dikenalnya. Setidaknya ia memiliki etika.

     

    “Cepat jawab. Kuharap jawabanmu bagus.” Kesabaran Mayu mulai habis.

     

    Ia maju selangkah dan membuatnya semakin dekat dengan pria itu. Mayu pun tersadar meskipun penampilannya urakan, pria ini sama sekali tidak bau.

     

    “Bahkan ketika aku menjawab, kau tidak akan percaya.” Jawab pria itu dengan entengnya.

     

    “Oh, ya? Bagaimana aku bisa tahu jika kau belum mengatakan sesuatu. Cepat jawab, aku tidak suka menunggu.” Mayu membalasnya dengan menaikkan nadanya. Ia mulai terlihat kesal.

     

    Pria itu lalu menatap Mayu dan terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu. Tak lama, pria itu mulai menghela napas dan mengangkat kedua bahunya.

     

    “Hah.... Baiklah."

     

    "Aku memiliki kemampuan untuk mengetahui makanan terakhir apa yang mereka makan. Bagiku, makanan yang mereka makan menyisakan bau yang menempel pada diri mereka. Apakah sekarang kau percaya?” Jawab pria itu melihat ekspresi terheran-heran milik Mayu, yang menurutnya sangat imut.

     

    Mayu yang terkejut lalu mengingat-ingat lagi sarapan yang ia makan sebelum menuju kampus. Dan memang ketiganya tepat. Di hari pertama, ia makan dua butir telur yang digoreng. Hari kedua ia hanya minum susu karena terlambat bangun. Dan hari ini ia hanya makan sebuah apel karena berencana untuk membeli makanan di kantin.

     

    Kekesalannya pun berubah menjadi rasa takjub dan penasaran.

     

    “Wow, bagaimana kau tahu? Berarti orang-orang yang kau sebutkan baunya berarti bau makanan yang mereka makan, begitu?” tanya Mayu yang tak henti-hentinya memberikan tatapan takjub.

     

    “Yup. Aku tidak mengatai mereka, hanya saja memang bau itu yang tercium. Apakah kau sudah puas dengan jawabanku?” Tanya pria itu yang tersenyum geli melihat tingkah Mayu yang menggemaskan.

     

    “Ya.. Ya.. Aku sudah puas. Maafkan kekeliruan dan perkataanku tadi.” Mayu membungkuk sebagai gestur permintaan maaf.

     

    Saat sedang membungkukkan badan, Mayu tiba-tiba tersadar. Ia pun memekik pelan, sebisa mungkin menahan diri untuk berteriak.

     

    “Tunggu.. tunggu.. tunggu.” Mayu bergidik ngeri membayangkan satu hal.

     

    “No way.... jika yang tadi kau ucapkan itu benar, berarti....” Mayu melihat pria itu dengan tatapan takut.

     

    Uh-huh.” Jawab pria itu dengan santainya.

     

    “Masa... makanan yang dimakan pria tadi..... daging manusia?” Mayu menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya setelah mengetahui satu rahasia besar. Ia terus menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya.

     

    “... Kau tahu apa yang membuatku terkejut hari ini?” Pria yang semula terdiam karena terkesima melihat reaksi Mayu mulai membuka suara.

     

    “Apa itu? Apa kau terkejut setelah mengetahui ada yang memakan manusia?” Tanya Mayu dengan polosnya.

     

    “Haa! Lucu sekali, itu bukanlah hal yang luar biasa. Kurasa kau yang akan terkejut ketika mengetahui berapa banyak orang yang memakan daging itu setiap harinya.”

     

    “Saat aku berbisik ‘bau sapi’ dan ‘bau manusia’, apa kau tahu berapa jarak tempatku berdiri dari tempatmu bersembunyi?”

     

    Pria itu lalu menunjuk ke tangga stasiun, kurang lebih sekitar 20 meter dari arah mereka.

     

    “20 meter. Manusia mana yang mampu mendengar suara sebesar 30 desibel secara jelas dengan jarak melebihi panjang lapangan voli?”

     

    “Katakan padaku, sebenarnya kau manusia atau bukan, gadis cilik?”

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.