Merdeka Belajar di Dunia Pendidikanku - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Desi Erfan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Desember 2021

Sabtu, 4 Desember 2021 05:54 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Merdeka Belajar di Dunia Pendidikanku

    Dari 13 episode merdeka belajar Mas Menteri, Saya sebagai guru kelas 5 SDN Duren Sawit 05 sudah mulai menerapkan 3 episode yang digulirkan Kemendikbud dalam pekerjaan sehari-hari yaitu Merdeka Belajar, Guru Penggerak, dan Merdeka Berbudaya dengan Kanal Indonesiana.

    Dibaca : 10.252 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

       Maret 2020 adalah awal pandemi Corona di Indonesia. Pandemi Corona banyak mengubah segalanya di Indonesia termasuk pendidikan. Pendidikan di Indonesia mengalami transformasi seiring dengan berjalannya Merdeka Belajar yang dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Nadiem Anwar Makarim di akhir tahun 2019. Merdeka Belajar ala Mas Menteri terdorong karena keinginan beliau menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor. Konsep ini kembali menghidupkan falsafat Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarsa Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Artinya, seorang guru harus bisa memberikan contoh kepada orang lain saat ia berada di depan. Ketika ia berada di tengah-tengah para muridnya, ia harus bisa membangkitkan niat dalam diri muridnya. Ketika ia berada di belakang, guru harus bisa memberikan dorongan kepada para muridnya. Merdeka Belajar berfokus pada kemerdekaan berpikir dimana anak didik dengan bawaan kodratnya diberikan kebebasan atau kemerdekaan untuk mengatasi sendiri masalah-masalah yang dihadapi kecuali masalah-masalah tersebut membahayakan dirinya sendiri, baru pendidik mengambil alih tindakan terhadap permasalahan-permasalahan tersebut. Pak Nadiem membuat kebijakan merdeka belajar bukan tanpa alasan. Pasalnya, hasil PISA tahun 2019 menunjukkan penilaian numerasi dan literasi siswa Indonesia rendah, Indonesia menduduki posisi ke-74 dari 79 Negara. Menyikapi hal itu, Pak Nadiem pun membuat gebrakan penilaian dalam kemampuan minimum, meliputi literasi, numerasi, survei karakter, dan survei lingkungan belajar. Literasi bukan hanya mengukur kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menganalisis isi bacaan. Numerasi bukan hanya mengukur kemampuan matematika tetapi kemampuan menerapkan konsep numerik dalam kehidupan sehari-hari. Survei karakter mengukur sejauh mana penerapan asas-asas Pancasila oleh siswa dan survei lingkungan belajar mengukur sejauh mana kenyamanan siswa belajar di sekolah.

       Sudah ada 13 episode Merdeka Belajar yang digulirkan Kemendikbud antara lain: 1) Merdeka Belajar (menghapus Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), mengganti Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Nasional (AN), penyederhanaan RPP Guru, dan adaptasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPBD) 2020), 2) Kampus Merdeka, 3) Penyesuaian Kebijakan Dana BOS, 4) Program Organisasi Penggerak, 5) Guru Penggerak ( guru-guru yang teridentifikasi lalu dilatih menjadi calon kepala sekolah, pengawas, dan pengajar di masa depan Indonesia, 6)  Transformasi Dana Pemerintah untuk Pendidikan, 7) Program Sekolah Penggerak, 8) SMK Pusat Keunggulan, 9) KIP Kuliah Merdeka, 10) Perluasan Program Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, 11) Konsep Merdeka Vokasi, 12) Sekolah Aman Berbelanja Bersama Siplah, dan 13) Merdeka Berbudaya dengan Kanal Indonesiana. Dari ke-13 merdeka belajar tersebut, Saya sebagai guru kelas 5 SDN Duren Sawit 05 sudah mulai menerapkan 3 episode yang digulirkan dalam pekerjaan sehari-hari yaitu Merdeka Belajar, Guru Penggerak, dan Merdeka Berbudaya dengan Kanal Indonesiana.

       Merdeka Belajar mulai Saya terapkan pada Maret 2020, dimana mulainya pandemi Corona di Indonesia. Pandemi Corona membuat sebagian besar sekolah tutup dan menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Saat itu tahun ajaran 2019/ 2020 semester genap, Saya melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di kelas 6 dengan menggunakan WhatsApp. Semua tugas dikirim dan disimpan melalui HandPhone (HP) sehingga HP Saya cepat penuh memorinya. Setiap hari Saya memindahkan semua kiriman tugas siswa ke laptop dan menghapus tugas-tugas yang sudah dipindahkan dari HP agar HP tidak penuh dan lancar digunakan kembali. Saya bekerja tidak sendiri. Saya memiliki 2 teman sejawat, sesama guru kelas 6, yang saat itu berjumlah 3 rombel dengan total jumlah siswa 88 anak. Setiap hari kami membuat 20 soal pilihan ganda dengan googleform secara bergantian. Soal diambil dari soal-soal ujian sekolah tahun-tahun sebelumnya atau dari internet, bukan soal-soal USBN, karena ada pengumuman resmi bahwa UN ditiadakan dan kelulusan diberikan kepada kebijakan masing-masing satuan pendidikan. Sehingga, kami fokus pada latihan-latihan soal Ujian Sekolah saja. Latihan soal dikirim melalui WhatsaApp group kelas, lalu siswa menjawab soal-soal googleform dari guru, kemudian siswa menyalin semua soal dan jawaban yang benar di buku tulis. Setiap 1 tema selesai dipelajari, semua buku siswa diperiksa dan diambil nilainya sebagai nilai keterampilan. Kami juga punya keyakinan bahwa menyalin soal dapat meningkatkan daya ingat pada siswa tentang soal-soal yang telah dikerjakan. Selain WhatsApp, Kami juga melakukan PJJ dengan menyaksikan TVRI yang dihimbau oleh Kemendikbud. TVRI dapat memberi suasana baru yang menyenangkan bagi siswa-siswa yang sudah jenuh PJJ lewat WhatsApp. TVRI juga dapat mengurangi pemakaian kuota internet, namun disayangkan acaranya terlalu singkat, tiap kelas hanya ditayangkan setengah hingga sejam saja. Untuk acara anak SD hanya berlangsung dari jam 08.00 sampai jam 11.00 pagi. Untuk ke depannya, kami berharap TVRI lebih banyak menampilkan acara berkaitan dengan pembelajaran SD dan diikuti oleh semua stasiun TV swasta lainnya di Indonesia.

       Dihilangkannya USBN, para siswa kelas 6 seperti tidak memiliki beban belajar. Sehingga, Saya mempunyai niat untuk mengkoleksi semua karya siswa selama semester genap tersebut. Para siswa disuruh membuat poster, tiktok, lagu sederhana, komik, pantun, dan puisi, yang semuanya bertema Corona, karena saat itu pandemi Corona membuat sekolah ditutup. Selain itu, para siswa juga disuruh membuat masker, membuat sabun cair dari sabun batang, membuat video makanan sehat bersama ibu di dapur, video membuat minuman sehat, video membersihkan rumah, video melacak jentik nyamuk di rumah, video berjemur pagi, dll. Semua siswa melaksanakannya dengan gembira. Semua siswa mengirim foto karyanya ke WhatsaApp group kelas. Semua karya siswa kelas 6 yang Saya pegang, berhasil Saya kumpulkan dan Saya buat menjadi sebuah buku berjudul “Bersama Kita Berkarya”. Setelah buku itu terbit, timbul kepuasan mengajar di masa pandemi Corona. Corona membuat Saya berani membuat buku. Corona melahirkan buku antologi pertama Saya. Sejak terbitnya buku itu, memberi semangat baru pada Saya bahwa menulis itu asyik, bisa menjadi sebuah profesi baru, ajang berlatih berpikir dan menuangkan ide menjadi tulisan, dan sebuah perjuangan moral tersendiri dimana Saya tak henti-hentinya memberi semangat kepada para siswa, ayo menulis, ayo perbaiki lagi, jangan plagiat, tuliskan pengalaman sehari-harimu, jujurlah menulis, jangan takut salah menulis, dan jadikan tulisanmu, ibadahmu dan ladang amalmu yaitu menyebarkan ilmu yang bermanfaat lewat sebuah buku.

       Konsep Merdeka Belajar lainnya yang juga Saya terapkan pada tahun ajaran 2020/ 2021 adalah adaptasi PPDB 2020. Pada PPDB 2020, jalur masuk SMP negeri dapat melalui beberapa cara yaitu: afirmasi, inklusi, prestasi, zonasi, pindah orangtua dan anak guru, anak tenaga kesehatan korban Covid-19, dan zonasi bina RW. Saat itu Saya menjadi wali kelas 6, sehingga sibuk mengidentifikasi siswa afirmasi (apakah memiliki KJP, anak panti, anak sopir Jakarta), prestasi siswa mulai tingkat sekolah hingga kota, dan siswa yang berada se-RW dengan sebuah SMP negeri. Perbedaannya dengan PPDB 2021, jalur SMP negeri di Jakarta hanya untuk siswa yang memiliki Kartu Keluarga (KK) DKI Jakarta. Prestasi pun dibatasi minimal tingkat kota juara 3. Zonasi bina RW pun dikembangkan menjadi zonasi 1, 2, dan 3 dimana semakin besar zonasinya semakin jauh dari sebuah SMP negeri. Beberapa siswa Saya ada yang tidak masuk SMP negeri karena zonasi 3 dan umurnya terlalu muda. Ada juga yang KKnya daerah, terpaksa masuk swasta atau pesantren. Saya berharap PPDB akan datang lebih baik lagi kebijakannya untuk siswa-siswa di luar DKI Jakarta, berumur terlalu muda, dan memiliki kecerdasan yang tinggi tapi kalah bersaing dalam PPDB masuk SMP negeri. Saya pun mengusulkan agar saat PPDB diminta tes minat bakat siswa agar ABK terdeteksi dari awal masuk sekolah. Siswa ABK sulit dideteksi kecuali saat pembelajaran secara tatap muka. Siswa ABK pun perlu mendapat pendidik yang khusus, bukan pendidik lulusan pendidikan umum agar pembelajarannya lebih bermakna dan terlayani sesuai kondisi ABK.

       Asesmen Nasional (AN) yang juga merupakan salah satu konsep Merdeka Belajar, Saya terapkan pada tahun ajaran 2021/ 2022. Karena ingin mengalami penerapan AN secara nyata di sekolah, Saya memutuskan turun ke kelas 5, biasanya selalu menjadi wali kelas 6. Saya memohon kepada kepala sekolah untuk menjadi wali kelas 5 di tahun ajaran ini. Berbekal pengalaman menjadi salah satu penulis buku Fokus AKM SD yang diterbitkan penerbit Erlangga awal tahun 2021 ini dan mengikuti webinar-webinar AN dan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Saya ingin berbagi pengalaman kepada para guru, para siswa, dan para orangtua kelas 5 tentang AN yang Saya pahami. Saya mencoba memberi gambaran tentang mengapa ada AN, apa saja yang dilakukan dalam AN, siapa saja yang mengerjakan AN, dan apa tujuan dari AN. Kemudian, untuk menyiapkan para siswa kelas 5 menghadapi AN, Saya dan teman sejawat membuat googleclassroom (GCR) AKM. Saat ini sekolah kami memiliki 2 kelas 5 dengan jumlah total siswanya 60 anak. Tapi yang dipilih acak oleh Kemendikbud hanya 30 peserta utama dan 5 peserta cadangan. Kami berdua juga khawatir dengan pilihan tersebut karena ada beberapa peserta terpilih adalah siswa yang berkesulitan belajar, siswa ABK, dan siswa yang mutasi keluar. Sehingga, sekolah kami mendapat pergantian pemilihan peserta AN hingga dua kali. Untuk menyiapkan para peserta AN, kami berdua menyiapkan soal-soal latihan AKM literasi dan numerasi secara bergantian dalam GCR AKM kelas. Sejak awal tahun ajaran, setiap hari para peserta AN mendapat latihan soal AKM sebanyak 3 soal. Soal-soal AKM diambil dari pusmenjar kemdikbud.go.id dan buku Fokus AKM SD Erlangga. Jika semua referensi sudah digunakan, kami ubah saja angka-angkanya atau mencoba buat sendiri soal AKM literasi dan numerasi. Sebelum Pertemuan Tatap Muka Terbatas (PTMT) diberlakukan di sekolah kami, para guru kelas atas dari kelas 4 sampai kelas 6 sempat memberi pendalaman pembahasan soal-soal AKM di sekolah dengan tiap kelasnya diisi oleh 5 peserta AN. AN 2021 berjalan lancar di sekolah kami dari 15 sampai 18 November 2021. Saat AN berlangsung siswa yang kurang secara akademik digantikan dengan siswa cadangan yang lebih mampu dengan alasan dibuat sakit. Semoga trik tersebut dapat membuat hasil AN sekolah kami tidak rendah karena persiapan AN 2021 ini sungguh kurang dalam hal pembahasan soal-soal AKM literasi dan numerasi pada peserta, baik kekurangan SDM dan terbatasnya tatap muka dengan para siswa di sekolah.

      Konsep Merdeka Belajar lainnya yang juga Saya terapkan pada tahun ajaran 2021/ 2022 adalah penyederhanaan RPP guru. Mulai tahun ajaran baru ini, Saya bertekad membuat RPP 1 lembar, istilah dalam konsep Merdeka Belajar. Banyak pendidik salah mengartikan RPP 1 lembar. Artinya bukan RPPnya hanya 1 lembar, tapi penyederhanaan RPP hanya terdiri dari 3 komponen yaitu tujuan pembelajaran, langkah-langkah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), dan penilaian. Di sini, Saya mulai mengembangkan diri dengan penilaian berbasis IT seperti penilaian dengan googleform, quizizz, kahoot, wordwall, liveworksheet. Saya mulai mencari webinar-webinar tentang penilaian berbasis IT tersebut. Penilaian berbasis IT membuat para siswa lebih tertarik menghadapi penilaian, lebih bersemangat karena efek animasi, dan para siswa pun diajak pintar IT pula, otomatis mereka pun harus mengetahui cara menjawabnya secara daring. Yang belum Saya kuasai sekali adalah pembuatan video pembelajaran, karena perlu dipraktekkan langsung sementara bertatap muka dengan para siswa hanya seminggu sekali, mulai 105 menit awalnya sampai 175 menit akhirnya. Saya berharap pandemi Corona segera berakhir sehingga pertemuan tatap muka menjadi seperti dulu kala. Selain kurang dipraktekan, sarana prasarana pembuatan video yang Saya miliki tergolong sederhana yaitu laptop dan HP saja. Untuk membuat video pembelajaran yang lebih baik diperlukan peralatan canggih lainnya seperti gimbal, webcam, tripot, dan alat perekam video lainnya yang canggih dan berkapasitas besar. Untuk merekam video pun perlu pertolongan orang lain, tidak bisa dikerjakan sendiri di kelas.

       Ikut seleksi tahap I calon peserta pendidikan guru penggerak angkatan 5 di link SimPKB menjadi konsep Merdeka Belajar yang Saya terapkan saat ini. Saya sedang menunggu hasil seleksi tahap I dan berharap lolos seleksi karena pasti akan mendapat banyak pengalaman, wawasan, dan ilmu pengetahuan dari ahlinya tentang guru penggerak. Hasil studi pustaka mendefinisikan guru penggerak adalah program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan selama 6 bulan bagi calon Guru Penggerak. Saat seleksi tahap I lalu, Saya mengisi Curriculum Vitae dan essai yang cukup panjang jawabannya (minimal 500-2.000 kata). Semua pertanyaan essai, Saya jawab dengan panjang lebar sesuai pengalaman yang dialami menjadi guru sejak 2004.

       Juara 3 pertunjukan budaya terbaik tentang budaya Betawi dari Indonesia sebagai peserta dari konferensi internasional pendidikan/ ICEDU ke 7 di India, 6-8 April 2021 menjadi konsep Merdeka Belajar terakhir yang Saya terapkan tahun ini. Saya membuat dan membaca puisi tentang guru dalam acara budaya konferensi yang dihadiri 180 peserta konferensi dari 35 negara. Saya bangga memperkenalkan baju encim Betawi dan lagu Kicir-Kicir di akhir puisi berbahasa Inggris Saya. Saya pun bangga dapat berpartisipasi dalam lomba penulisan artikel Indonesiana ini dan diberi kesempatan bercerita tentang kisah Saya menerapkan konsep Merdeka Belajar. Semoga artikel Saya ini dapat memenangkan hati dewan juri yang terhormat.

       Selama menjadi guru, PJJ merupakan momen terberat dalam KBM. Awal pandemi, PJJ hanya menggunakan HP namun sejak tahun ajaran 2020/ 2021 hingga kini, Saya menggunakan Google Suite Education (GSE) sebagai sarana PJJ. Kehadiran GSE membuat guru dan siswa dapat berinteraksi dengan googlemeet dan GCR. Semua tugas siswa dapat disimpan tanpa batas di drivenya. Sehingga, guru dan siswa tidak lagi membuat dan menghapus foto-foto tugas di WhatsApp. Penerapan GSE pun cukup lama dipahami baik oleh Saya, orangtua, dan para siswa. Saya belajar mengaktifkan akun edu.jakarta.go.id. lalu mempelajari semua fitur yang ada dalam GSE. Orangtua siswa pun belajar mengaktifkan akun tersebut. Beberapa orangtua bertanya mengapa tugas anaknya tidak terkirim, ternyata anaknya salah masuk akun akibat di HP anak/ orangtua memiliki beberapa akun. Untuk itu, Saya memberi keringanan waktu dalam pengumpulan tugas siswa hingga tugasnya terkirim dalam GCR. Ada juga beberapa orangtua mengeluh dengan keterbatasan kuota internet dan kepemilikan HP (HP bersama di keluarga). Sehingga banyak siswa yang mengirim tugasnya malam hari atau hari-hari berikutnya setelah adiknya atau kakaknya selesai PJJ atau orangtuanya pulang kerja. Untuk ini, Saya memberi kelonggaran waktu pengumpulan tugas. Siswa yang tidak punya HP sendiri, diijinkan melakukan ulangan di sekolah dengan ijin kepala sekolah dan orangtua siswa dan mematuhi protokol kesehatan. Bagi siswa yang memiliki kesulitan kuota internet, Saya menyarankan agar siswa tersebut melakukan kerja kelompok dengan temannya yang memiliki wifi dengan kesepakatan orangtua mereka. Disini, Saya menghimbau para siswa untuk saling membantu dengan sesama temannya yang kesulitan kuota internet. Siswa yang kesulitan internet juga bisa diganti tugasnya dengan mengisi buku tematik dari sekolah di buku tulis dan tiap minggu diperiksa oleh Saya ketika Saya sedang piket di sekolah. Di sini, Saya perlu memiliki kesabaran terhadap siswanya yang sering terlambat mengirim tugas bahkan hingga lupa akibat terlalu lama menunda.

       Di tahun ajaran ini pun Saya mulai sering mengikuti webinar-webinar. Tiap Sabtu pagi hingga siang, Saya mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh pendidikan.id. Tiap Selasa pagi hingga siang, Saya mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan DKI Jakarta. Saya mengikuti webinar multimedia, pedagogik, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang diselenggarakan P2KPT2 Jakarta Timur tahun 2020 dan tahun 2021, Saya mengikuti webinar Guru Kelas Atas, Penilaian Tindakan Kelas (PTK), dan AKM.  

       Selain PJJ, momen terberat lainnya adalah melayani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). ABK di kelas 5 Saya sekarang sungguh malang. Sudah kelas 5 tidak bisa baca, menulis pun harus ada contoh dan tidak rapi, dan berhitung hanya bisa penjumlahan saja. Namanya Ali. Sudah dua kali tinggal kelas dengan alasan tidak bisa baca dan jarang ke sekolah. Di awal kelas 5 bersama Saya, Ali memperkenalkan dirinya dengan kebohongan. Tugas yang Saya berikan, ternyata yang nulis kakaknya yang sudah SMP. Setiap googlemeet tidak pernah hadir dengan alasan tidak punya kuota. Suatu saat terbongkarlah kebohongannya. Ali dan ibunya dipanggil ke sekolah dan menceritakan alasan tidak pernah masuk sekolah. Ternyata, Ali pakai seragam bukan ke sekolah tapi main burung bersama pamannya. Ia diupah 10.000 rupiah seharian membantu menjaga burung-burung pamannya untuk lomba. Ayah dan ibunya buta huruf. Kedua orangtuanya sering bertengkar. Ayahnya penjual tisu di perempatan jalan. Ibunya juga kurang peduli dengan Ali. Ali tumbuh menjadi pemuda yang berkulit penuh korengan. Seragamnya lusuh. Kuku kaki dan kuku tangannya panjang dan hitam. Ke sekolah pakai sandal karena sepatunya rusak. Rambutnya gondrong dan tidak pakai kaos dalam. Dari cerita orangtua lainnya, makan Ali sehari-hari pun tidak diurus ibunya. Untuk makan, ibunya menyuruh anaknya ke rumah neneknya. Apalagi untuk belajar, ibunya tidak peduli. Ibunya sibuk main HP sendiri. Saya tersentuh untuk meminta para orangtua lainnya agar bisa menyumbang seragam dan sepatu bekas tapi layak pakai untuk Ali. Akhirnya terkumpul sepasang seragam merah putih, pramuka, batik, sepatu, kaos kaki, gesper, dasi, dan topi. Tapi kini gesper, kaos kaki, dasi, dan topi hilang dimainin adiknya. Saya nasehati Ali agar bertanggung jawab dengan barang pribadi di rumah. Ali belajar di sekolah bersama Saya, saat Saya mendapat jadwal piket. Untuk menyemangati belajarnya, Saya belikan buku latihan membaca jilid I yang terdiri dari dua-dua suku kata dan buku paket matematika kelas 2. Sesekali Saya beri uang jajan jika ia berhasil baca dengan lancar yang telah Saya ajarkan. Saya bertanya kepada Ali, buat apa uang jajan dari Ibu? Apakah Ibumu tahu kalau Ibu guru memberimu uang jajan? Jawabnya adalah untuk beli makanan dan ibu Saya tidak perlu tahu karena takut diminta ibu Saya nantinya. Saya makin iba dengan nasib anak ini. Masuk tema 2 dan 3, penyakit bolos sekolahnya kambuh lagi gara-gara lebih tertarik main burung. Akhirnya kedua orangtuanya dipanggil kembali dan atm KJPnya disita beberapa minggu. Jika Ali rajin belajar ke sekolah dengan Saya, atm KJPnya akan dikembalikan. Hukuman tersebut cukup membuatnya berubah. Selama tema 4 dan 5, ia rajin ke sekolah, belajar dengan Saya. Atm KJP pun dibalikan kepada orangtuanya lagi.  Saya berharap Ali terus rajin belajar, minimal ia dapat baca naik kelas 6 nanti.

       Siswaku lainnya bernama Desri, memiliki kesulitan belajar. Orangtua Desri memasak lauk pauk untuk sebuah rumah makan Padang. Kedua orangtuanya buta huruf, jadi tidak bisa mengajarkan Desri di rumah. Desri suka marah kepada orangtuanya yang buta huruf, tidak bisa menjawab tugas-tugas sekolah yang sulit baginya. Desri dan mamanya pun Saya panggil ke 05 untuk mencari solusi. Ternyata, Desri pernah ikut tes IQ dan IQ nya di bawah rata-rata. Sebagai wali kelas, Saya menyarankan jika kesulitan dengan materi kelas 5 ini maka Desri bisa mengajukan ABK, sehingga siswa tidak mengikuti kurikulum berlaku tapi guru dan kurikulum yang mengikuti kondisi ABK. Saya juga menasehati jangan malu dengan label ABK. ABK justru mudah sekali mendapatkan sekolah negeri lanjutan karena PPDB kini ada jalur afirmasi. ABK pun berhak mendapat pengajaran yang bermakna, berhak naik kelas karena materi yang diajarkan melalui pembelajaran individual sesuai kebutuhan ABK. Desri akan mendapat materi, metode pembelajaran, tugas, penilaian yang sesuai kebutuhannya berdasar hasil asesmen diagnostik. Disini dibutuhkan kemampuan guru untuk merancang pembelajaran individual yang bermakna bagi ABK seperti Desri dan Ali.

       Ada sebuah kisah menarik dari pengalaman menggunakan GSE. Tepatnya tahun lalu, 2020, Saya mengajar di kelas 6. Ada satu siswa Saya jarang mengumpulkan tugas. Namanya Dian. Setelah Saya panggil anak dan orangtuanya ke sekolah untuk berdiskusi, ternyata Dian adalah anak panti asuhan sekitar SD Saya. Dian datang bersama Bapak Panti. Saya pun kaget, mengetahui ada anak panti di kelas Saya. Beda sekali penampilan Dian saat ke sekolah dengan foto profil di whatsapp. Foto profilnya seperti anak artis atau anak orang kaya dan sedikit centil. Bapak Panti menceritakan jika Dian tidak memiliki HP dan harus pinjam HP anak panti lainnya untuk mengerjakan tugas sekolah. Dian baru bisa meminjam HP anak panti lainnya setelah mereka selesai mengerjakan tugas sekolah mereka. Mereka biasanya meminjamkan HP ke Dian pada sore atau malam hari dimana Dian sudah lelah dan mengantuk, sehingga Dian sering tidak mengerjakan tugas sekolah. Akhirnya, Saya memberikan solusi lain untuk tugas-tugas Dian. Saya memberikan fotocopy buku ajar Saya kepada Dian dan Dian mengerjakan tugas dari buku ajar tersebut. Buku ajar yang Saya gunakan itu memiliki tugas di tiap pembelajaran untuk tiap harinya. Dian menyalin soal dan jawabannya di buku tulis dengan diberi tanggal, dan tiap Saya piket ke sekolah, dua minggu sekali, Dian bisa menyerahkan salinannya ke sekolah untuk dinilai oleh Saya, sambil Saya juga bisa mengajarkan materi yang belum Dian pahami. Jadi Dian tidak menggunakan aplikasi GSE untuk melihat materi, menjawab tugas, dan mengirim salinan tugas tiap harinya, seperti yang dilakukan teman-teman lainnya. Dian pun jarang mengikuti google meet dengan kelas karena tidak punya HP. Alhamdulillah, pembelajaran tanpa GSE hanya dilakukan selama 1 tema saja. Pada tema berikutnya, Dian sudah memiliki HP sendiri. Dian membeli HP baru dari uang KJP yang dikumpulkan pihak Panti tiap bulannya. Saya sangat bahagia melihat Dian bisa kembali belajar seperti teman-temannya dengan menggunakan GSE, tidak dibedakan lagi. Semester ganjil pun berjalan lancar. Pada bulan pertama semester genap, Dian kembali tidak mengirim tugas-tugasnya di GCR. Saya pun menyuruh Dian dan Bapak Panti untuk berdiskusi kembali di sekolah, mengetahui masalah Dian dan mencari solusinya. Masalah kali ini lebih parah, sebab akun GSE Dian diblokir oleh Google karena Dian menggunakan akun GSE untuk melihat video-video porno. Awalnya Dian tidak mengaku, setelah diperiksa isi HPnya, akhirnya Dian mengaku. Dian suka menonton video porno malam hari di kamar bersama anak panti lainnya. Bapak Panti pun kaget mendengar pengakuan Dian. Saya menasehati Dian agar tidak mengulangi hal itu. Saya pun sering menasehati bahayanya seks bebas dan seks di luar nikah kepada Dian dan para siswaku. Bapak Panti pun berjanji akan menindaklanjuti pengakuan Dian ini. Sejak pengakuan Dian, pihak panti asuhan melakukan penyitaan HP kepada semua anak panti pada malam harinya dari Senin sampai Jumat, dan pada hari Sabtu dan Minggu. Sejak saat itu, tiap 5 anak panti juga mendapatkan seorang bapak/ ibu pendamping belajar. Tiap bulan ada saja sosialisasi pendidikan karakter dari dinas sosial untuk para anak panti, seperti sosialisasi bahaya seks bebas dan seks di luar nikah. Adanya kolaborasi dengan bapak/ ibu pendamping Dian di panti, hasil belajar Dian pun meningkat dan pengiriman tugas tepat waktu. Saya pun bisa memantau perkembangan Dian sehari-harinya melalui whatsapp dengan pendamping. Dulu masalahnya Dian tidak punya HP. Sekarang, punya HP, tapi Dian tidak bisa ikut google meet dan GCR seperti teman-temannya, akun GSEnya tidak bisa digunakan lagi, dan semua produk google tidak membuka akses buat akun GSE Dian. Akhirnya Dian kembali ke solusi masalah pada semester ganjil yaitu pakai fotocopi buku ajar Saya kembali. Saya pun membiayai semua fotocopi buku ajar kelas 6 semester genap untuk Dian. Tiap Saya piket ke sekolah, Dian menyerahkan salinan soal dan jawabannya ke Saya untuk dinilai. Demikian pula saat ulangan harian. Saya mengirim foto soal ulangan berupa pdf kepada Dian melalui whatsapp sementara teman-temannya mengerjakan soal ulangan berupa google form di GCR secara online. Saat ujian sekolah kelas 6 pun, Dian tidak seperti teman-temannya yang melakukan ujian sekolah secara googlemeet dari rumah. Dian mengerjakan soal ujian sekolah di sekolah, secara manual. Sungguh malang nasib Dian. Dian bukanlah anak yatim piatu. Dian masih memiliki ayah dan ibu. Ayah dan ibunya pisah saat Dian kelas 4. Dian ikut ayahnya yang bekerja sebagai tukang bubur ayam di Cikarang. Karena kesulitan ekonomi, ayahnya menitipkan Dian di panti asuhan sekitar sekolah Saya. Ibunya pergi meninggalkan Dian dan ayahnya dan tidak pernah mengunjungi Dian di panti. Ibu yang tidak sayang sama anak kandungnya sendiri. Jika punya rejeki lebih, ayah Dian barulah mengunjungi Dian ke panti. Dian juga punya kakak perempuan yang tinggal di Jepang, tiap bulannya Dian mendapat kiriman uang 200.000 rupiah dari kakaknya. Dian juga anak yang tidak terurus. Pertama kali ketemu Dian, anaknya sangat pendiam. Kalo ditanya, Dian jarang menjawab, hanya menggeleng atau mengangguk-anggukan kepala. Baru di semester genap ini, Dian mau bercerita walau perlu dipancing dulu, dipuji dulu, dan disemangati dulu, baru bicara. Dian juga badannya bau sekali. Untung Saya pakai masker, bau badan Dian sedikit terhalang. Saya pun mencari informasi Dian dari teman-temannya di kelas, dari mama korlas, dan dari guru kelas 4 dan 5 nya dulu. Sebagian besar teman-temannya mengatakan Dian bau, punya banyak kutu, bodoh, tidak bisa apa-apa, pendiam, suka menyendiri, dan suka melamun. Sebelum pandemi, Dian justru bermain dengan adik-adik kelas di sekolah, tidak pernah bermain dengan teman sekelasnya. Saya pun mencari akal bagaimana caranya mengubah Dian lebih baik. Saya mulai mengadakan pendekatan dengan pendamping Dian di panti. Kebetulan pendampingnya seorang ibu muda, sarjana pendidikan, namanya ibu Lia. Saya mulai meminta bantuan ibu Lia agar Dian diberi bedak MBK setelah mandi dan keramas pakai autan agar kutu dan telurnya mati. Untunglah ibu Lia orangnya keibuan, beliau benar-benar melakukan semua saran Saya, dan kini Dian tidak bau dan berkutu lagi. Dian pun tampak segar dalam setiap google meet dan Saya sering melemparkan pertanyaan ke Dian agar Dian berlatih mengeluarkan pendapat dan tidak dicap pendiam lagi oleh teman-temannya. Dian pun mulai berubah menjadi lebih baik di akhir semester genap. Semoga pengalaman Saya bersama Dian menjadi salah satu kisah inspiratif mengatasi keragaman siswa seperti Dian, mengatasi kelemahan aplikasi GSE yang semula Saya pikir sudah canggih, ternyata sulit mendapatkan akun GSE baru, jika akun GSE lamanya diblokir, dan Saya berharap kisah Dian ini tidak terjadi di panti asuhan lainnya dimana kemajuan teknologi tetap perlu dipantau agar tidak kecolongan dan merusak generasi muda seperti Dian, dan tidak ada lagi orangtua seperti orangtua Dian yang menelantarkan anak kandungnya sendiri untuk berjuang sendiri di panti tanpa dilihat/ dikunjungi.

       Itulah kisah Saya menerapkan 3 episode Merdeka Belajar yang dicanangkan Mas Menteri akhir 2019 dalam keseharian belajar mengajar di SDN Duren Sawit 05 Jakarta yaitu Merdeka Belajar, Guru Penggerak, dan Merdeka Berbudaya dengan Kanal Indonesiana. Saya berharap konsep Merdeka Belajar dapat memajukan pendidikan Indonesia apalagi di masa pandemi Corona ini yang belum jelas kapan berakhirnya. Semoga cobaan dari Tuhan ini cepat berlalu dari bumi tercinta.

     

    Dikarang oleh:

    Desi Erfan, S.Si., M.Pd

    SDN Duren Sawit 05

    Jl. Pendidikan IX no 13 RT 008 RW 005

    Duren Sawit, Jakarta Timur, 13440



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.