x

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul \x22Dipilih Jokowi Jadi Mendikbud, Nadiem: Saya Lebih Mengerti Masa Depan\x22 , https://katadata.co.id/agustiyanti/berita/5e9a4e57e2bf3/dipilih-jokowi-jadi-mendikbud-nadiem-saya-lebih-mengerti-masa-depan\xd Penulis: Dimas Jarot Bayu\xd Editor: Agustiyanti\xd \xd Diakses pada 3 Desember 2021 21:00

Iklan

Andre Yoga Channel

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Minggu, 5 Desember 2021 08:20 WIB

Suatu Hari Ketika Mas Nadiem Tidak Menteri Lagi

Nadiem Anwar Makarim dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sejak tahun 2019. Gagasan-gagasan beliau diusung melalui konsep Merdeka Belajar yang menelurkan program-program cemerlang untuk mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Memutuskan mundur dari CEO Gojek dan mengambil posisi Mendikbud, lalu berubah menjadi Mendikbudristekdikti, lalu entah Men- apa lagi di masa mendatang, merupakan sebuah bukti jiwa kepahlawanan seorang Nadiem Anwar Makarim. Dalam sebuah diskusi, Mas Nadiem (Anwar Makarim) berkata bahwa saat beliau menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, istrinya memiliki Gaji yang “juauh” lebih besar. Pastinya, selisih nominal gaji tersebut dapat dibayangkan dari intonasi dan pengucapan beliau. Posisi ini mengantarkannya ke dalam daftar suami-suami yang bergaji lebih rendah dari pada istri, tapi ini bukanlah hal yang sensitif bagi beliau. Mas Nadiem tetap tampil percaya diri sebagai seorang anak muda yang siap berkorban untuk negeri.

Gaji Besar, kesempatan bereksperimen, relasi kelas global, waktu santai yang cukup untuk keluarga, dan masih banyak lagi hal yang ditinggalkan Nadiem Anwar Makarim untuk sementara ini menyandang sebutan Mas Menteri, sebuah tangan panjang Presiden untuk mengurusi carut-marutnya pendidikan di negeri ini. Beliau siap dengan gagasan-gagasannya yang cemerlang. Orang-orang yang sebelumnya duduk di kursi beliaupun juga sudah bekerja dengan baik. Namun, tingkat literasi generasi muda Indonesia secara umum, yang dalam beberapa tahun terakhir dipandang PISA (Program for International Student Assessment) berada pada rangking 10 terendah dari 50-an negara di Dunia, menunjukkan bahwa ini adalah keadaan yang tidak sedang baik-baik saja. Para menteri sebelumnya itu sudah bekerja, tetapi sayangnya, mereka kurang merespon kondisi ini dengan baik.

Tidaklah cukup berlebihan jika banyak orang membanggakan Mas Nadiem. Konsep “Merdeka Belajar” bukanlah slogan belaka. Program-program turunan dari Merdeka belajar sungguh dapat diaplikasikan di dalam sistem pendidikan di Indonesia. Taruhlah program-program luar biasa seperti Asesmen Nasional Berbasis Komputer, Guru Penggerak, Seri Guru Belajar, dan Seri Guru Berbagi sebagai contoh. Bisa jadi, weekend-nya Mas Menteri habis hanya untuk menggali ide-ide terbaiknya. Itulah respon yang beliau tunjukkan untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan di negeri ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Momen ini menjadi saat yang tepat untuk membuat perubahan pada ujung tombak sistem pendidikan Indonesia, guru. Usaha- usaha yang telah dilakukan oleh Mas Menteri perlu direspon oleh semua guru. Program-program yang diselenggarakan Kemdikbudristek Dikti tentunya hanya mampu merekrut beberapa persen saja dari jutaan guru yang tersebar di seluruh wilayah tanah air. Namun, merespon konsep Merdeka Belajar dapat dilakukan secara mandiri oleh semua guru dengan cara memahami nilai-nilai yang terdapat di dalamnya.

Tergerak dari konsep Merdeka Belajar, SD Negeri Gunungwungkal 01, Kabupaten Pati, Jawa Tengah menyelenggarakan pembelajaran yang merdeka dari borgol buku siswa dan buku guru terbitan kemendikbud, serta banyak praktik konservatif lainnya yang telah dilakukan secara turun-temurun. Terlebih di situasi Pandemi yang belum diprediksi sebelumnya, banyak rencana skenario pembelajaran pada buku tersebut tidak mampu diaplikasikan dengan baik. Oleh karena itu, pihak sekolah mengadakan kerjasama dengan pihak ketiga dalam penyedian sumber belajar, baik itu berbentuk video, slide, maupun buku.

Usaha yang telah dilakukan ini direspon baik oleh guru kelas VI SD Negeri Gunungwungkal pada tahun pelajaran 2021/2022. Berbekal semua sumber belajar tersebut, guru mencoba menyusun sebuah Kelas Maya yang mengusung konsep Merdeka Belajar. Siswa dapat mengeksplorasi sumber belajar yang tersedia pada Learning Management System (LMS). Ide pembuatan Kelas Maya ini terinspirasi dari konsep Merdeka Belajar yang dicetuskan oleh Mas Nadiem. Selama 24 jam dalam sehari, siswa memiliki kesempatan mengakses semua sumber belajar secara mandiri dengan cara yang mereka sukai. Tugas-tugas diberikan pada waktu tertentu dan dapat dikerjakan secara merdeka tanpa ada batasan waktu. Walapun begitu, siswa tetap mempertanggung jawabkan nilai-nilai yang mereka peroleh. Pertanyaan lisan yang disampaikan pada aplikasi chat secara langsung, akan memperlihatkan kondisi pengetahuan siswa yang sebenarnya. Hal ini juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan predikat prestasi koginitif siswa selama mengikuti kegiatan.

Penggunaan layanan Google dalam menyelenggarakan pembelajaran merupakan sebuah modifikasi dari gagasan Mas Nadiem yang mencoba menggunakan aplikasi berbasis web sebagai salah satu penyelesaian masalah kehidupan.  Hal ini mendasari pelaksanaan pembelajaran daring pada Kelas VI SD Negeri Gunungwungkal 01. Materi dan Penilaian diberikan secara daring, lalu siswa mengerjakan secara daring. Layanan ini juga memberikan kemudahan bagi guru dalam melakukan penilaian kognitif. Beberapa otomatisasi-otomatisasi dalam penilaian tidak lantas membuat guru mangkir dari jam mengajarnya, namun kesempatan ini dapat digunakan guru untuk memberikan sentuhan kepada peserta didik yang membutuhkan bimbingan khusus. Seperti yang disampaikan Mas Menteri, peran guru tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh mesin atau aplikasi.

Patung karya Devina Safa, Siswa Kelas VI SDN Gunungwungkal 01

Pada saat-saat tertentu, pembelajaran di SD Negeri Gunungwungkal 01 dilaksanakan secara tatap muka terbatas. Kesempatan ini betul-betul dimanfaatkan guru untuk mengadakan kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan hal- hal fisik, bukan maya, seperti pembuatan karya sebagai tugas keterampilan tematik dan pembimbingan keterampilan literasi numerasi. Dalam kurikulum K-13, guru tidak hanya bertugas menilai kemampuan kognitif. Namun, ada keterampilan siswa yang perlu dinilai. Ada beberapa keterampilan yang tidak bisa dinilai dengan akses data internet. Oleh karena itu, pembelajaran tatap muta terbatas sangat penting untuk mengakomodasi kegiatan pembelajaran dan penilaian keterampilan peserta didik.

Presentasi tentang Ciri khusus Kelelawar oleh Hilmi Atta Alharis, Siswa SDN Gunungwungkal 01

Hilmi Atta Alharis, salah satu peserta didik Kelas VI SD Negeri Gunungwungkal 01, menggunakan kesempatan belajarnya dengan mempresentasikan ciri khusus kelelawar melalui video. Pada saat guru memberikan kemerdekaan untuk memilih media yang dipergunakan, Hilmi memilih sebuah aplikasi edit video kekinian untuk mempersiapkan presentasinya. Pada video tersebut diselipkan teks, musik, video, dan narasi untuk menyampaikan pesan terkait dengan ciri khusus kelelawar. Lebih dari itu, dia mengunggah video tersebut pada media sosial dan dapat disaksikan oleh publik. Ini merupakan sebuah kemerdekaan yang dimanfaatkan dengan baik.

Presentasi tentang Rangkaian Listrik oleh Kejora Shula Kasya PH, siswa SDN Gunungwungkal 010

Lain halnya dengan Kejora Shula Kasyara Putri Haryono yang membuat rangkaian listrik dengan alat-alat yang disediakan guru. Melalui ketekunannya dalam memahami prinsip-prinsip rangkaian listrik, dia berhasil mempresentasikan sebuah rangkaian listrik melalui media video. Kejora melakukan presentasi tersebut layaknya seorang vlogger yang menjelaskan dengan kalimat yang runtut, seperti mengucapkan salam, dan melakukan tahap demi tahapnya secara urut. Kreativitas yang dilakukan Kejora adalah buah dari Merdeka belajar yang diterapkan di kelas VI SD Negeri Gunungwungkal 01.

Pertunjukan Tari Kreasi oleh Alisa Khoirunisa, Siswa SDN Gunungwungkal 01

Mampu melakukan seuatu keterampilan terkadang perlu diusahakan dengan maksimal, meskipun tidak memiliki bakat sejak lahir. Hal ini seperti yang diyakini oleh Alisa Khoirunisa. Peserta didik ini memiliki prestasi akademik yang baik, namun dalam hal menari, Nisa kurang luwes dalam melakukan gerakan-gerakan. Baginya, dia punya kemerdekaan dalam membuat karya, tidak peduli apakah berbakat ataupun tidak berbakat. Jiwa pantang menyerahlah yang membuat Nisa berlatih semampu mungkin. Peserta didik ini telah mampu membuat sebuah gerakan tari kreasi yang terdiri dari gerakan tari tradisional berbagai daerah di Indonesia, seperti dari Jawa Barat, Papua, Sumatera Barat, dan beberapa daerah lainnya.

Kombinasi antara pembelajaran daring dan pembelajaran tatap muka terbatas telah menjadi bukti bahwa pandemi bukan penghalang. Pandemi adalah tantangan, dan SD Negeri Gunungwungkal 01 telah menjawab tantangan tersebut. Guru tetap dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, peserta didik mendapatkan layanan pendidikan yang maksimal, dan hasil pembelajaran dapat dinikmati oleh semua warga sekolah sebagai sebuah perayaan kemerdekaan belajar di era modern ini. Kesemuanya itu lahir atas insipirasi yang telah diberikan Nadiem Anwar Makarim kepada Guru, Staff, Kepala Sekolah, dan tentunya peserta didik di SD Negeri Gunungwungkal 01.

Andreas Yoga Arditama ketika mengikuti Peringatan Hari Guru Nasional di JIExpo Jakarta, 25 November 2021

Pada saatnya nanti Mas Nadiem Tidak menjabat menteri lagi, yakinlah bahwa saat itu adalah waktu yang tepat untuk beristirahat sebentar. Lalu lihatlah betapa karya Mas yang luar biasa. Sekolah-sekolah yang dipimpin oleh Lulusan Guru Penggerak, dengan segudang kompetensi yang dimilikinya tentunya. Mereka ini yang dengan lantangnya menanggalkan kebiasaan “ongkang-ongkang”, lalu membuat sekolah menjadi pusat peradaban, kumpulan para agen perubahan, dan mencetak generasi yang mampu menjawab tantangan global. Para Lulusan Guru Penggerak inilah yang akan responsif terhadap tugas-tugasnya sebagai kepala sekolah dan tidak lempar tanggung jawab. Senyum Mas Nadiem akan mengiringi kertas-kertas inspiratif tertempel di dinding-dinding sekolah. Peluh dan keringat yang pernah tercurah akan menjadi aliran semangat yang senantiasa diteruskan oleh guru-guru di negeri ini.

Para peserta didik terbiasa dengan konsep belajar yang merdeka. Sudah tidak ada lagi penghalang, mereka memiliki kemampuan mengembangkan diri yang terbebas dari belenggu keterbatasan. Tidak akan lagi ada “Ikan” yang dinilai dari kemampuan memanjat. Para generasi muda mendatang memiliki peluang yang sama untuk memahami bakat yang dimilikinya, lantas menekuninya dengan sepenuh hati.

Kurikulum akan tersusun rapi dengan segala kemerdekaan yang ada di dalamnya. Akan menjadi sebuah pertanyaan besar apabila gagasan ini tidak didukung oleh pemangku kepentingan di kemendikbudristek Dikti. Kedatangan Mas Nadiem di kementerian ini merupakan sebuah pencerah akan kejelasan arah pendidikan di Indonesia. Ada atau tidaknya Mas Nadiem pada pengorganisasian pemangku jabatan, pastinya akan menjadi kesedihan mendalam bagi guru-guru apabila ide dan gagasan beliau diabaikan pada masa mendatang. Akan dipandang sedemikian jahatnya, jika gagasan Merdeka Belajar digantikan dengan gagasan lain yang belum tentu lebih baik. Apalagi jika motifnya hanya demi gengsi prestasi dan motif politik, dengan mengabaikan perasaan membangun negeri.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Mas Nadiem karena sudah berjuang mati-matian untuk pendidikan di Indonesia. Sebuah pengorbanan yang luar biasa, sebuah attitude yang hanya dimiliki oleh seorang negarawan. Konsep “Merdeka Belajar” merupakan hadiah untuk para guru di Indonesia agar semakin percaya bahwa Indonesia bisa, Guru Indonesia mampu, dan Bangsa ini akan pulih sebagai sebuah bangsa yang besar dan bermartabat.

Ikuti tulisan menarik Andre Yoga Channel lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler