Merdeka Belajar dalam Membina Rohis - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Penulis memberikan Pembinaan kepada Rohis dan Pembina Rohis Se-Jawa Tengah

Hery Nugroho

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Sabtu, 4 Desember 2021 20:33 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Merdeka Belajar dalam Membina Rohis

    Pada masa pandemi, pembelajaran menggunakan daring. Dampaknya, siswa lebih banyak berselancar di dunia maya. Begitu juga dalam memahami agama, banyak mengakses berbagai sumber informasi dari internet. Merujuk hasil survey PPIM UIN Jakarta Tahun 2017 bahwa internet berpengaruh besar terhadap meningkatnya radikalisme dan intoleransi generasi Z. Dari kenyataan tersebut, penulis bersama dengan segenap pengurus dan pembina melakukan inovasi dengan menyelenggarakan kemah rohis SMA/SMK virtual se-Jawa Tengah.

    Dibaca : 1.018 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Hery Nugroho

    Salah satu orang tua siswa, menyampaikan pesan kepada penulis agar mengawal Rohani Islam (Rohis) di sekolah agar tidak mempertentangkan antara Islam dan Pancasila.  Pesan lain yang penulis terima dari beberapa pengurus Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Kabupaten/Kota di Jawa Tengah menyampaikan pentingnya pembinaan Rohis SMA di Provinsi Jawa Tengah. Dia beralasan, kalau MGMP PAI SMA Provinsi tidak melakukan pembinaan, maka Rohis di Jawa Tengah akan dibina “orang diluar” guru PAI.

    Pada kesempatan lain, penulis mendapatkan amanah untuk melatih pengurus Rohis SMA dari Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah. Sebelum mulai pelatihan, penulis melakukan survei. Dari empat puluh peserta, ada empat peserta yang menyetujui penggantian idiologi Pancasila dengan khilafah. Kemudian hasil survey dari Wahid Fondation (2016) yang mengagetkan berbagai kalangan bahwa 60% aktivis Rohis bersedia jihad ke wilayah-wilayah konflik jika ada kesempatan dan 6 % mendukung ISIS.   

    Senang atau tidak, itulah faktanya. Tidak perlu menyalahkan siapa yang bersalah, tetapi bagaimana mencari solusinya? Langkah mendesak adalah perlunya pembinaan Rohis yang sistematis dan kolaboratif dari jenjang sekolah, kabupaten/kota, provinsi, bahkan nasional. Dalam tulisan ini fokus ke pembinaan Rohis pada level provinsi. Dari kenyataan tersebut, penulis bersama pengurus Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Jawa Tengah, MGMP PAI SMA dan SMK Jawa Tengah untuk melakukan pembinaan Rohis SMA dan SMK. Penulis bertambah semangat karena Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah mendukung penuh kegiatan tersebut. Ditambah lagi adanya program Merdeka Belajar dari Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menjadi inspirasi untuk melakukan inovasi dalam memecahkan salah satu masalah dalam dunia Pendidikan, yaitu pembinaan Rohis.

    Langkah awal pada bulan November 2019 adalah dengan menyelenggarakan Penguatan Pendidikan karakter melalui Kemah Rohis di Masjid Agung Jawa Tengah. Pada saat itu belum ada pandemi, sehingga kegiatan dilaksanakan dengan tatap muka. Sebenarnya dari Kementerian Agama RI telah menyelenggarakan Kemah Rohis Nasional setiap dua tahun sekali. Hanya saja, setelah ada pandemi, anggaran untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut terkena pemangkasan. Akhirnya, kegiatan tersebut tidak diselenggarakan. Dalam pengamatan penulis, aktivis Rohis semangat dalam mencari ilmu agama sangat tinggi. Mereka kalau tidak ada yang membina, maka akan mencari sendiri.

    Pada masa pandemi, pembelajaran menggunakan daring. Dampaknya, siswa lebih banyak berselancar di dunia maya. Begitu juga dalam memahami agama, banyak mengakses berbagai sumber informasi dari internet. Merujuk hasil survey PPIM UIN Jakarta Tahun 2017 bahwa internet berpengaruh besar terhadap meningkatnya radikalisme dan intoleransi generasi Z. Dari kenyataan tersebut, penulis bersama dengan segenap pengurus dan pembina melakukan inovasi dengan menyelenggarakan kemah rohis SMA/SMK virtual se-Jawa Tengah pada tanggal 21-22 Desember 2020 dan tahun 2021 akan diselengarakan pada tanggal 21-23 Desember 2021. Dalam pengamatan penulis kegiatan ini yang pertama kali di Indonesia.

    Deklarasi Rohis dan NKRI

    Bagaimana pelaksanaan kemah rohis virtual? Teknis pelaksanaannya adalah peserta, narasumber, fasilitator, dan panitia berada di rumah atau di sekolah atau kantor masing-masing mengikuti kemah rohis secara daring. Dari segi biaya, kemah rohis virtual lebih hemat dibandingkan luring. Selain daring, peserta mendapatkan tugas mandiri dari panitia untuk melaksanakannya dengan pendampingan para Pembina yang sudah ditunjuk. Hal ini sekaligus memanfaatkan bantuan kuota internet dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk kegiatan yang sangat bermanfaat pada siswa dan menggunakan waktu liburan sekolah untuk menambah ilmu pengetahuan dan silaturrahim di bawah pengawalan pembina.  

    Diantara hasil dari kegiatan tersebut, Rohis SMA/SMK Se-Jawa Tengah mendapatkan penguatan materi keislaman yang rahmatan lil āllamīn, kebangsaan, dan organisasi Rohis di era pandemi. Adapun narasumber yang kompeten mulai dari Gubernur Jawa Tengah, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jawa Tengah, MUI, Wahid Fondation, dan Bapak/Ibu Pembina Rohis Jawa Tengah, termasuk penulis.

    Gubernur Jawa Tengah memberikan penguatan kepada Pengurus Rohis Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah

    Yang sangat fenomenal adalah deklarasi Pengurus Rohis SMA/SMK Kabupaten/Kota Se-Jawa Tengah dengan mengikrarkan tujuh butir, yaitu: pertama, menjalankan kewajiban kepada Allah Swt. dan berbuat baik kepada sesama. Kedua, menjunjung tinggi nama Rohis SMA/SMK se-Jawa Tengah dengan akhlakul karimah dan prestasi. Ketiga, melaksanakan program kerja Rohis dengan disiplin dan penuh tanggung jawab. Keempat, rela meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk kepentingan Rohis SMA/SMK. Kelima, memegang teguh empat pilar bangsa (Negara Kesatuan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila, dan Bineka Tunggal Ika). Keenam, menjadikan Rohis sebagai wadah untuk menumbuhkembangkan Islam yang damai, toleran, menangkis segala bentuk intoleransi, dan radikalisme; Ketujuh, menjadi pelopor bagi generasi milenial dalam mengkampanyekan Islam yang rahmatan lil ālamīn dan meneguhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.    

    Selain itu juga diselenggarakan musyawarah Pengurus Rohis SMA/SMK Kabupaten/Kota Se- Jawa Tengah yang membicarakan tentang kondisi Rohis sekarang, berbagi pengalaman baik (best practice) program kerja, dan pembentukan pengurus Rohis SMA/SMK Jawa Tengah. Hebatnya lagi kepengurusan ini mendapatkan legalitas berupa Surat Keputusan dari Kepala Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah. Menariknya lagi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jawa Tengah masuk dalam jajaran penasehatnya.

    Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Moderasi Beragama

    Dalam pembinaan dan pendampingan Rohis, penulis bersama dengan pembina yang lain menfokuskan pada penguatan profil pelajar Pancasila sebagaimana yang digaungkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dibawah komando Mas Manteri. Pelajar pancasila menekankan pada enam karakter, yaitu: pertama, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Penguatan karakter ini menjadi pondasi bagi pengurus dan anggota rohis. Dengan kata lain, anggota rohis harus mempunyai pribadi yang shaleh spiritual dan sosial. Cara penanamannya adalah dengan penguatan materi keislaman yang kuat melalui kegiatan kemah rohis virtual, pesantren Ramadhan, dan kajian rutin bulanan, serta pengamalan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pemahaman ajaran ditekankan pada Islam yang rahmatan lil aalamiin dan moderasi beragama. Karakter moderasi beragama yang dikembangkan dalam progam kerja Rohis adalah toleransi, nasionalisme, anti kekerasan, dan menghormati budaya lokal.

    Kedua, mandiri. Aktivis Rohis Jawa Tengah harus mempunyai sikap mandiri. Cara pembinaannya dimulai dari pemilihan penempatan kepengurusan sesuai bakat minat siswa. Dengan kata lain aktivis Rohis diberikan ruang Merdeka Belajar dalam menentukan pilihannya sesuai potensi yang dimiliki. Setelah itu Pembina menempatkannya sesuai bakat dan minat. Selain itu aktivis Rohis dilatih mandiri dalam penyelenggaraan berbagai kegiatam, termasuk dalam pelaksanaan kajian rutin. Siswa dilatih mandiri menjadi penyelenggara mulai merencanakan, melaksanakan, dan evaluasi. Dalam publikasi siswa dilatih untuk membuat flyer kegiatan, edit video, dan menulis berita kegiatan yang diunggah di media online. Kemudian juga dilatih untuk menjadi pengisi acara, mulai dari host, master ceremony (MC), yang membaca al-Qur’an, memimpin lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan pidato bagi yang memberikan sambutan.    

    Ketiga, bernalar kritis. Penulis bersama pembina yang lain mengajak pada aktivis Rohis agar mempunyai nalar kritis terhadap kondisi yang dihadapi oleh siswa. Apabila mendapatkan informasi dari media sosial yang belum jelas kebenarannya, pembina mengarahkan untuk mengecek terlebih dahulu kebenaran informasi tersebut. Saring sebelum sharing. Dengan kata lain pengurus Rohis harus menjadi pelopor dalam literasi digital. Begitu juga apabila dalam menghadapi momentum, aktivis Rohis diajak untuk menyelenggarakan kegiatan yang bermanfaat untuk anggota.   

    Keempat, kreatif. Pengurus Rohis didorong untuk kreatif dalam melaksanakan program kerjanya dengan menggunakan kemajuan dan teknologi. Mulai dari pendaftaran, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan dilaksanakan dengan memanfaatkan kemajuan informasi dan teknologi (IT) bisa dilakukan dengan murah, mudah, dan tepat sasaran. Dari berbagai kegiatan, aktivis secara bergantian membuat pendaftaran online, flyer, twibon, edit video dan yang lain. Program kerja Rohis Jawa Tengah yang sangat banyak dengan jangkauan wilayah yang luas, penggunaan IT adalah keharusan. Untuk melatih anggota dengan IT, peserta penguatan Pendidikan karakter melalui kemah Rohis, peserta diminta untuk membuat vlog. Untuk melatih keativitas, aktivis Rohis diajak untuk mengisi media sosialnya dengan konten-konten yang bermanfaat bagi anggota.  

    Kelima, bergotong royong. Aktivis Rohis diajak langsung untuk praktik gotong royong melalui penyelenggaraan kegiatan. Untuk bisa menyelenggarakan kegiatan yang baik perlu membutuhkan orang lain, sehingga perlu gotong royong. Dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan setiap bulan adalah bukti gotong royong dapat memperingan kerja dan hasilnya pun lebih baik. Pengurus Rohis diajarkan bahwa dalam menyelenggarakan kegiatan tidak harus membutuhkan uang yang banyak, bahkan tanpa mengeluarkan biaya, kegiatan bisa berjalan. Kuncinya adalah komunikasi, gotong royong atau kolaborasi bersama. Asal ada komunikasi dengan baik, kegiatan besar bisa terwujud tidak perlu mengeluarkan biaya besar bahkan bisa tanpa biaya. Pengalaman dalam mendampingi Rohis dalam melaksanakan kajian rutin dan pesantren Ramadhan tanpa biaya sama sekali. Penulis berkomunikasi dengan berbagai pihak yang mempunyai kepedulian dengan Rohis untuk menjadi narasumber. Diantaranya adalah Badan Penguatan Ideologi Pancasila (BPIP), Badan Kesbangpol Jawa Tengah, UIN Walisongo Semarang, UIN Banten, Forum Kerukunan Umat Beragama, dan berbagai pihak.   

    Keenam, berkebinekaan global. Penulis bersama dengan Pembina Rohis agar pengurus Rohis mempunyai karakter berkebinekaan global. Dalam lingkup kepengurusan Rohis saja terdiri dari berbagai latar belakang. Dari segi asal Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah, bisa berbeda dialeknya. Antara siswa yang berasal dari Demak, Tegal, Banyumas sangat berbeda dialeknya. Belum lagi ada pengurus yang berlatar belakang dari Nahdlatul Ulama atau dari Muhammadiyah.  Dalam pengurus Rohis Jawa Tengah, siswa diajak langsung bisa berinteraksi dan bekerjasama satu dengan yang lain untuk melaksanakan program kerja tanpa memandang perbedaan. Perbedaan adalah sunnatullah yang perlu dihormati. Meskipun berbeda daerah, dialek, dan latar belakang, dalam melaksanakan program kerja harus kompak dan bersatu untuk mensukseskannya.  

    Dari uraian di atas, pembinaan Rohis Jawa Tengah banyak sekali manfaatnya untuk sekarang dan masa depan. Untuk sekarang, siswa dapat merasakan langsung menjadi pemimpin untuk dirinya dan teman-teman. Dengan kata lain bisa menambah pengetahuan, menigkatkan kedewasaan dalam berfikir dan bertindak. Sedangkan manfaat untuk masa depan, menyiapkan menjadi pemimpin pada masa yang akan datang yang amanah, religius, jujur, moderat, dan berintegritas dalam membawa kemajuan bangsa Indonesia. Kalau kondisi ini bisa dipertahankan dan terus ditingkatkan, kekhawatiran orang tua dan masyarakat terhadap Rohis akan terjawab. Bahkan penulis yakin, ke depan akan lahir pemimpin nasional bahkan internasional masa depan dari aktivis Rohis Jawa Tengah. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.

    Hery Nugroho adalah Guru SMA Negeri 3 Semarang, Ketua MGMP PAI SMA Jawa Tengah, Sekretaris Asosiasi Guru PAI Jawa Tengah, dan Mahasiswa S3 UIN Walisongo Semarang.

    #BergerakDenganHati

    #DemiKemajuan

    #KanalPendidikanIndonesia

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.