x

Iklan

Keinarra_Yuka

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2021

Senin, 6 Desember 2021 06:38 WIB

Aku Tak Mengenal Aku

Bayang-bayang itu masih ada, bahkan ketika cinta tiba. Perasaan ini, keinginan ini tak lagi bermakna. Rasa percaya pun memudar tak tergambar. Kesimpulannya, cinta dan sebuah hubungan hanyalah ilusi yang tak akan bertahan lama.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Aku berhenti setelah beberapa langkah memasuki halaman sekolah. Tubuh ini mematung beberapa detik dengan sepasang mata yang memperhatikan banyak orang berlalu lalang, sibuk dengan tujuan masing-masing, canda tawa hadir diantara mereka. Tak terasa salah satu sudut bibir terangkat membentuk garis lengkung tipis, sebelum melanjutkan langkah kaki yang sempat terhenti.

Suara bising dari balik tembok menggema di gendang telinga. Tak lama kedua mata ini memperlihatkan kesemrawutan beberapa orang saat kaki ini membawanya kesana.

"Safa, akhirnya kamu datang juga! Tugas mtk udah?" sambut salah satu dari mereka.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Udah," jawabku enteng sembari menaruh tas di kursi pada meja kedua di bagian depan.

"Liat dong, aku dah ngerjain tapi gak ketemu jawabannya."

Tanganku otomatis mengambil buku di dalam tas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Sini aja Ma nulisnya," ucap seseorang dari arah belakang.

Alma, teman sebangkuku langsung beranjak dari duduknya, menyisakan diriku yang masih setia dengan kursi.

Suara bising itu semakin menjadi, seakan ada rombongan semut yang menemukan gula.

Aku mengambil benda persegi panjang berwarna hitam di saku rok abu-abu dan memasangkan kabel yang terhubung dengan telinga. Tangan ini mulai berselancar di atasnya, mencari musik yang pas untuk didengarkan. Aku menenggelamkan wajah di kedua lengan tangan di atas meja.

Sebuah tangan menyentuh pundak tanpa izin, segera kutepis dengan cepat. Aku memandangnya dengan tatapan tak senang. "Apaan sih ganggu aja!"

"Tidur terus..."

Aku tak mengindahkan perkataannya, mataku beralih pada benda pergi panjang dan tenggelam dalam keindahannya. Hingga suara langkah sepatu membisukan kebisingan yang telah terjadi.

****

"Saf, ke kantin yuk," ajak Alma bersemangat setelah mendengar bel istirahat.

"Ayo."

"Tapi kamu juga beli, makan di kelas deh gak disana."

"Iya." Tanpa banyak kata aku mulai menjajari langkah Alma.

Setelah membeli beberapa makan ringan, kami langsung kembali ke kelas.

Bunyi langkah sepatu sampai pada gendang telinga, namun aku enggan untuk membuka suara.

"Saf, kamu kenapa gak suka makan di kantin sih?"

Aku memandangnya sejenak, "Soalnya ramai, aku gak suka."

Merasa bingung untuk menanggapi, ia hanya menganggukkan kepala dan terdiam hingga sampai di kelas.

"Al, nonton film ini yuk," ajakku sembari menunjukkan apa yang dimaksud.

Alma mengangguk sambil tersenyum menanggapi ajakanku.

****

Tet... Tet... Tet.... 

Bunyi bel itu begitu nyaring di telinga, juga begitu membahagiakan hati. Dengan segera aku memberesi barang-barang yang berserakan di atas meja dan memasukkan ke dalam tas.

Seusai Pak Guru mengucapkan salam, segera aku beranjak dari tempat duduk.

Bayangan kasur sudah memenuhi otak, kakiku lekas mempercepat langkahnya agar segera sampai di rumah.

****

Hari-hariku terus berputar seperti itu, tak ada yang begitu spesial. Bangun pagi, berangkat sekolah, dan melakukan aktivitas kecil di rumah, lalu tidur. Nothing special, begitu kata orang. Memang, aku akui duniaku begitu monoton, meski sesekali aku merasa bahagia, ikut tertawa karena lawakan teman sekelas, kadang sedih bahkan hingga menangis karena beberapa hal, namun sebagian besarnya tak berarti.

Hingga tak terasa satu tahun telah berlalu, kini aku telah menduduki bangku perkuliahan, menjadi mahasiswa yang tentunya masih biasa-biasa saja. Berteman dengan banyak orang dari berbagai daerah, banyak tugas yang harus dikerjakan. Namun dari sini aku mulai dekat dengan beberapa orang, salah satunya dia. Pemuda yang paling menyebalkan, pandai membuatku kesal, namun membuatku nyaman. Bukan karena tampangnya, meski bisa dikatakan dia cukup tampan dari kebanyakan orang, memiliki kulit yang cukup putih, perawakan cukup bagus meski tingginya hanya rata-rata orang Indonesia, dan memiliki isi otak yang lumayan pintar.

Itu semua tidak membuatku jatuh hati padanya, mengingat dia merupakan teman sekelasku dulu yang paling jail. Kedekatan kami berawal dari persiapan-persiapan pendaftaran kuliah, dan berlarut hingga sekarang ini.

Sayangnya kedekatan kami terjadi hanya secara virtual via chat, mengingat jarak kami yang cukup jauh. Namun bukan kedekatan hangat seperti teman yang terjebak friendzone, kami cenderung seperti Tom & Jerry yang akan berselisih bila bertemu, tak ada kata mengalah jika sudah melempar argumen, bahkan tak pernah ada kata manis diantara kami, dan entah mengapa aku suka.

****

Beb?

Apasih bebeb, bebeb?

Emang gak boleh manggil beb?

Gak lah, geli tau dengernya.

Aku pengennya manggil beb, gimana?

Emang bisa didengerin ya?

Gak boleh!

Ya gak sih, tapi geli aja.

Emang dalam rangka apa manggil beb?

Dalam rangka anniversary kita yang ke-1 :v

Sejak kapan gitu ya?

Masa kamu lupa sih?

Joking isn't funny.

Kamu maunya serius Fa?

Gak.

Yaudah. 

Kamu berharapnya serius? Gak juga kan?

Ayo sih kalo mau serius. 

Maleslah serius-serius, ntar tegang. 

Malesan banget sih.

Lah baru tau kalo aku malesan?

Lagian kamu gak serius juga kan tanyanya?

Iya, baru tau aku kalo kamu malesan. 

"Serius Safa, kurang serius apa sih aku?"

Plis, becanda kamu gak lucu ya Daffa. 

Coba gimana caranya biar kamu percaya sama aku?

Kenapa suka sama aku sih?

Ya gak tau, kalo chat-an sama kamu asik aja. 

Dah, karna itu?

Ya gak sih, susahlah kalo dijelasin

Jadi gimana?

Gak tau, aku bingung

Aku langsung keluar dari room chat untuk menyudahinya. Rasanya antara deg-deg-an dan tidak percaya. Orang yang selama ini menjadi musuh bebuyutan dan suka menjaili di kelas kini menyatakan cinta padaku.

Kubaca sekali lagi chating tadi dengan data seluler dimatikan, aku meruntuki diriku sendiri. Aku kenapa sih pake ngomong kaya gitu? Bodo banget deh! Untung aja udah gak pernah ketemu.

Alhasil kini benda bernama handphone itu tak kupedulikan lagi. Tergeletak begitu saja di atas nafas. Aku mengguling-gulingkan badan di atas kasur sembari memikirkan bagaimana nasib kedepannya.

Tapi emang bener ya dia suka aku? Ah... Gak mungkin, dia pasti bercanda! Dia kan gak pernah bilang serius ke aku. Kalo chatting juga pasti suka adu argumen. Iya, gak mungkin banget. Seorang Daffa yang suka jahatin aku tiba-tiba suka aku. Sadar Safa, dia lagi ngetes kamu aja, gimana reaksi kamu. Kamu jangan berlebihan dong!

****

Tak terasa hari berlalu begitu saja, kini di layar ponselku tak ada lagi notif darinya. Tak bisa dibohongi, ada rasa rindu tanpa ada kabar darinya. Namun aku takut, aku takut untuk kembali jatuh cinta. Aku takut memulai suatu hubungan yang tidak jelas akan berakhir seperti apa.

Seakan dia mendengar suara hatiku, tak begitu lama Daffa mengirim pesan. 

Gimana Fa? 

Hah? Gimana apanya? 

Gak usah pura-pura lupa deh.

Aku membisu membaca pesan terakhir darinya, jadi dia emang bener suka aku? Aku harus gimana ini?

Sejujurnya aku ingin menyobanya Daf untuk yang pertama kalinya, tapi aku masih gak yakin perasaan aku ke kamu itu apakah cinta? Aku takut harapan kamu, bayangan kamu tentang aku, itu terlampau jauh sehingga nantinya aku hanya mengecewakan kamu karna tak sesuai.

Balasan itu hanya bisa kusampaikan dalam hati. Aku tak mau mengatakan yang sejujurnya.

Maaf Daf, aku gak bisa. Makasih karena kamu udah suka aku, tapi kalo kamu mau menjalin hubungan yang lebih serius, lebih baik kamu cari yang lain. Sekali lagi maaf.

Aku langsung mengirimkan pesan itu, dan menutup ponselku. Aku tak mau melihatnya lagi.

Sejujurnya bukan hanya masalah tak yakin akan perasaan, tapi aku tak mau memiliki keterikatan hubungan lagi dengan orang lain. Karena aku takut itu akan terjadi lagi.

****

Enam tahun yang lalu... 

Mataku sayup-sayup mulai menerima cahaya, namun kepalaku enggan untuk lepas dari kedua tangan yang berperan sebagai bantal. Aku melihat tulisan "aku benci semuanya" di atas meja. Memang bukan masalah besar, namun aku tahu tangan siapa yang menulis itu. Tanpa banyak berpikir, aku langsung menanyakannya pada penulisnya.

"Ya, kenapa kamu nulis kaya gitu di meja?"

"Oh... Iya, emang gitu kenyataannya. Aku gak suka sama semuanya," jawabnya enteng.

Aku yang nyawanya masih setengah dan perasaan masih labil untuk ukuran siswa putih biru maka aku pun merasa sedih sekaligus kecewa. Jadi slama ini keberadaanku disampingnya gak berarti? 

"Kalo aku? Apa kamu juga benci aku?" tanyaku dengan menatap matanya, berharap mendapat jawaban yang seharusnya.

Namun keinginan itu pupus, karena dia hanya menatapku beberapa detik tanpa mengeluarkan suara yang kemudian memalingkan wajahnya dariku.

Aku pun hanya bisa bersedih tanpa bisa menangis.

Kesedihanku tak berangsur lama karena ada Ana yang menemani. Aku pun menjadi dekat dengannya, namun anehnya hatiku tak merasa dekat. Sampai pada hari kenaikan kelas, saat diumumkan peringkat kelas, peringkat kami pun sama-sama pada posisi kedua. Namun yang paling mengagetkan, tiba-tiba dia memberiku surat dan aku pun langsung membacanya di kamar mandi, tak mau ada yang mengetahuinya. 

Untuk Safa, 

Sebelumnya maaf jika perkataanku menyakitimu.

Aku kira kedekatan kita cukup sampai disini, karena aku sudah lelah dengan sikapmu. Kamu yang suka tidur di kelas, kamu yang pendiam, tak pernah menceritakan banyak hal tentangmu. Maaf ya, jujur aku gak tahan dengan itu semua. Aku harap kita menjadi teman seperti biasa, gak ada lagi kata dekat diantara kita. 

Anna

 

Tanpa terasa air mataku menetes perlahan-lahan hingga membanjiri kedua pipiku. Aku gak habis pikir, ternyata kamu cuma mau memanfaatkan aku untuk naik peringkat. Aku kecewa sama kamu Na. Dalam diam aku terus menangis dan meruntuki diri sendiri karena merasa bodoh.

****

Kenangan pahit itu masih membekas di hati, bahkan ingatanku pun menolak untuk melupakannya. Dari sanalah aku mencoba membatasi diri, menarik diri untuk tak terlibat dan bergantung pada orang lain. Semua kulakukan sendiri selagi aku mampu, aku tak suka menyusahkan orang lain. Barang kali selama aku berteman, hanya aku yang merasa dekat, sedangkan mereka biasa saja.

Kini bagiku antara cinta dan hubungan sama-sama tidak mengasikkan. Keduanya terlalu menyiksaku karena harus terikat, dan aku pun akan terlihat lemah karenanya. Aku tidak suka itu. Entah kapan kisah cintaku kembali bersemi, aku pun menunggu hal itu.

 

Ikuti tulisan menarik Keinarra_Yuka lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu