Sentimental

Selasa, 7 Desember 2021 14:09 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Seorang siswa harus menerima menghadapi kenyataan bahwa ia sebagai tersangka atas kematian ketiga temannya. Terbangun di ruangan interogasi di hadapan cermin yang sering terlihat sosok pria bertopeng, hanya 24 jam waktu menuju eksekusi kematian. Menariknya, ia berdiskusi dengan pria bertopeng itu. Menceritakan kembali kisah hidupnya sebagai petunjuk dari masalah ini. Akankah ia berhasil dari situasi ini?

*Headline News: Seorang siswa SMA unggulan membunuh ketiga temannya di rumah, motif tersangka masih belum jelas. diduga karena gangguan jiwa.*

"Aku tidak bersalah"
"Aku tidak bersalah!"
"Aku tidak bersalah!!!"

"Kau pembunuh, apapun alasanmu! "

"Aku bukan pembunuh!" Tegas ku dengan suara lantang.

Aku melupakan semuanya, apa yang terjadi padaku. Ada apa dengan foto-foto ini? Dimana ini?  tolong jelaskan!

"Apa kau membenci mereka? Apa alasanmu membunuh mereka?"

"Siapa dirimu? Tolong hentikan semua ini...tolong" Pintaku dengan nada rendah.

"Aku adalah harapanmu, dasar bodoh"

Apakah aku sudah mati? Atau ini hanyalah mimpi? Setidaknya beritahu aku, apa yang terjadi.

"Dengarkan, 24 jam lagi kau akan dieksekusi mati. Foto-foto itu adalah korbanmu, semuanya mati saat berada dirumahmu"

"Pengecut, jangan lari dari masalah. jujur pada dirimu, tarik nafas dalam-dalam, kosongkan pikiran sejenak".

*Dug... Dug... Dug... * suara detak jantung.

Keringat dingin mengalir tanpa henti. Menegangkan, dia yang berada dicermin menggunakan topeng dengan inisial tanda tanya seakan ingin terus menghakimiku.

"Ingat kembali dirimu, manusia tidak berguna"

"Aku... " Ujarku dengan suara terbatah-batah

Aku tidak bisa mengingat namaku, yang kuingat aku tinggal di jogja dengan ibuku yang berada dikursi roda. Dari kecil, ayahku sudah tiada. Banyak masalah yang menimpa kami sehingga aku dan ibu harus tinggal dirumah kakak ayahku. Kehidupan disana adalah kenangan buruk bagiku. Mereka memperlakukan kami seperti budak. Aku bisa Terima jika aku yang di aniaya ataupun dihina tapi tidak dengan ibuku. Aku menyayangi ibuku, Satu-satunya harapanku.

"Sekarang cuma aku harapanmu untuk bertemu dengannya"

Pada bulan September 2017, saat kelulusan SMP. Aku pindah dari rumah bibi tinggal di rumah hasil dari penjualan warisan dari ayah. Bersekolah di SMA terbaik yogyakarta. Bekerja sambilan untuk membantu ibuku. Aku ingat ya aku mengingatnya!

"Apa yang kau ingat? Ceritakan"

"Bully ya aku dibully disekolah, hahaha" Tawaku keras

"Kenapa kau tertawa? Bangga menjadi yang terlemah, menyedihkan!"

"Sudah kubilang bukan? Tidak apa jika itu aku, asalkan bukan ibuku" Jelasku

"Ibu...ibu...ibu...memang ada apa dengan ibumu? apa yang kau banggakan darinya?"

Biar kuberitahu ibuku adalah wanita yang sangat cantik, lembut, penuh kasih sayang. Sering kali para pria mendekati ibuku, tapi aku tau mereka tidak sungguh-sungguh mencintainya. Logika kasarnya "Bagaimana bisa mencintai seseorang yang cacat, miskin, dan berstatus janda tanpa ada maksud tertentu?" Aku bersikap realistis.

"Kau sangat mengingat ibumu dibanding  dirimu"

"Jelas, aku sangat menyayanginya" Ucapku sigap

 Kata-kata favoritnya adalah "maaf" ya aku mengingatnya. "Maaf ibu tidak bisa membelikanmu" atau "Maaf ibu tidak bisa memberimu". Mendapatkan beasiswa bukan karena aku ingin, tapi karena memang aku membutuhkannya. Aku selalu mencari kuantitas dibanding kualitas.  Apapun itu selagi menguntungkanku. Biar kuberitahu perbedaan kelas atas dan kelas bawah ?  mereka yang berada dikelas atas selalu mengakhiri kalimat dengan tanda baca titik "Aku ingin makan daging hari ini". Sementara, kami yang berada dikelas bawah cenderung menggunakan tanda tanya "Bagaimana cara membelinya?". Bersikap realistis  adalah salah satu cara untuk menganggap diriku kaya.

"Kau pintar tapi kau salah, setidaknya beri apresiasi terhadap dirimu. Ego juga kebutuhan manusia, manusia harus mempunyai kualitas. Dasar pecundang!"

"Bukan, itu hanya pendapatku saja. Berapa waktu yang kupunya?" Tanyaku selagi melihat foto-foto yang ada ditanganku.

"8 jam lagi menuju kematianmu, selagi kau membuang waktu membanggakan ibumu dan pemikiran super memuakkan yang kau punya. Malaikat kematian masih sabar menunggu"

"Aku tidak bisa mengingatnya bahkan aku lupa nama teman-temanku" jelasku dengan nada rendah.

"Jujur, jauh di dalam hati kecilmu. Apa kau merasa bersalah? Jawab itu saat detik-detik terakhir yang kau punya"

*Penghakiman di Mulai*

"Foto pertama, teman satu sekolahmu berinisial  "D" Seorang siswa atletis meraih banyak medali tewas dipenuhi luka tusuk dibagian perut.

Jangan diam saja, bela dirimuTidak ada seorangpun manusia yang bisa dilecehkan.

"Apa kau mengingatnya?"

"Lalu, pada 21 desember 2019. Kau mengatakan padanya untuk tidak mempedulikanmu?"

"Maksudmu, aku membunuhnya karena iri dengan karisma yang dimilikinya? Jangan bercanda!" Tegasku

"Kenapa tidak? Banyak alasan bodoh manusia untuk membunuh manusia lainnya!"

Aku menaruh hormat padanya sama seperti aku menghormati ibuku. Aku manusia juga, kadang membenci diriku yang terus-terusan di bela. Aku merasa semakin aku dilindungi, semakin aku dikasihani. Seperti yang kamu bilang kadang aku harus mengikuti egoku, dan pada saat itulah egoku bertindak.

"Aku mengerti, kau adalah sampah sosial! Kebaikan yang orang berikan padamu, kau anggap bentuk mengasihani."

"Dengarkan bedebah, mereka yang berbuat kebaikan tidak bisa kau hakimi atau kau anggap itu hal yang salah.  Dengan cara apapun itu!"

"Persis seperti katamu, saat itu aku menuruti egoku." Jawabku sigap

"Kau adalah tipe manusia yang dibenci manusia lainnya. Mari kita selesaikan ini secepetnya"

Kenapa kamu tidak pernah percaya padaku?  Dia terlalu baik padaku, dia sering memberikan separuh uang sakunya untukku hanya demi melihat temannya kenyang.  Hari demi hari terus dibela, di kasihani, bahkan diberi makan seperti pengemis. Terlintas dalam pikiranku "Aku tidak ingin selamanya menjadi yang terlemah". Aku tidak pernah iri dengan apapun kelebihan yang mereka miliki , tapi setidaknya biarlah  kelemahanku menjadi masalahku sendiri.

"Pada tahun keduamu sekolah menengah atas, kau mendapatkan tujuh jahitan di kepala karena berkelahi dengan korban "A"."

"Penyebabnya adalah karena dia iri dengan kau yang sangat di perhatikan ibumu"

"Apa intinya? bukankah sudah jelas siapa yang benar dan siapa yang salah? jika aku membunuhnya apa alasanku? karena dia ingin di perhatikan seorang ibu juga." Jelasku dengan raut wajah kebingungan.

"Ceritakan, bedebah!"

Dengarkan, Si "A" dan aku sudah sangat lama berteman. Ikatan kami benar-benar kuat, dia yang memiliki segalanya dan aku yang kekurangan segalanya.  Satu yang ia tidak miliki kasih sayang kedua orang tuanya. Jika aku adalah siswa unggulan, dia diatasnya seseorang yang jenius. Satu hal yang paling tidak bisa kulupakan, sewaktu ia meraih medali emas. Sebelumnya orang tuanya telah berjanji akan menyisihkan waktunya untuk dia jika berhasil mendapatkan medali. Tidak sekali ya berulang kali mereka mengecewakannya. Tebak apa yang terjadi? ibuku yang paling baik, memintaku untuk memanggilnya ke rumah kami nan sempit. Malam itu begitu dingin, ibu membuatkan sup hangat yang isinya daging jika di hitung satu mangkok sup itu sama dengan lima hari biaya makan kami. Ibuku mengatakan padanya...

"Orang tuamu pasti bangga, jangan berkecil hati. Kasih sayang tidak selalu harus tentang bersama. Bekerja dengan giat, juga bagian dari menyayangimu" begitu kata ibuku.

Dia menangis selagi memakan sup buatan ibu, di lain sisi ia juga tersenyum lebar. Dia tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Kasih sayang yang ia impikan begitu sederhana, ingin berada di meja makan bersama kedua orangtuanya selagi menikmati makanan. Menanyakannya "Bagaimana hari ini disekolah?", menceritakan impiannya , bahkan memarahinya jika semester ini sering tidak masuk sekolah.  Aku sangat senang berada di dekatnya, aku merasa kami saling berbagi rasa sakit di kehidupan ini dengan masalah yang berbeda. Aku tidak mungkin membunuhnya.

"ZzZzZ..." Suara dengkur pria bertopeng

"Haaaaa...Membosankan"

"Terakhir, Seorang wanita berinisial "N". Kau membunuhnya karena dia tidak benar-benar mencintaimu? bedabah belahan neraka mana kau, memaksakan hati seorang wanita untuk mencintai dirimu".

"Apa seperti ini tindakan orang yang sangat menyayangi ibunya? haha, cukup membuatku tertawa."

Aku mengingatnya, waktu itu sekolah kami di gemparkan karena kehadiran guru baru yang gagah dan sangat tampan. Namanya "Daniel  Dekker" keturunan belanda, aku sangat dekat dengannya dan ia juga mengenal ibuku.  Siswi mana yang tidak jatuh hati padanya? yap, dialah "N".  Dari dulu aku terus memperhatikannya, Wajah cantiknya yang diselimuti sikap dinginnya membuat siswa lainnya merasa perbedaan levelnya terlalunya jauh. Bukan hanya itu, dia juga pintar. Definisi kesempurnaan ada pada dirinya. Aku hanya bisa mengaguminya bahkan untuk berbicara dengannya saja aku keringat dingin sekujur tubuh. 

Walaupun, ibuku berada di kursi roda masih bisa bekerja sebagai kasir di laundry cukup terkenal daerah kami. Aku tidak pernah melihatnya bekerja karena aku juga sibuk melakukan part time sepulang sekolah. Pada hari itu, aku sangat bahagia karena pemilik toko memberiku bonus sebanyak tiga kali upah harianku. Sepulangnya, aku pergi ke tempat ibuku bekerja, menceritakan padanya dan merencanakan ingin makan malam apa nanti dengan uang sebanyak ini. Dari belakangku, tiba-tiba seorang wanita datang "Tante, belum makan, kan? makan bareng aku lagi ya." sembari membawa keranjang berisi pakaiaan. 

"Ehh...Kamu" Serunya kaget melihatku.

"Kalian saling kenal? ini anak pemilik toko, dia baik sama ibu" Terang ibuku sambil tersenyum kecil.

Semenjak hari itu, dia menjadi sangat dekat denganku. Kami berempat sering bermain dirumahku. Wah, Aku sangat senang mengingat kembali kenangan itu. Oh iya, Pak Dan juga sering bermain bersama kami dirumah. Aku ingat alasan kenapa si "N" menyukaiku dan setiap kali aku mengingatnya rasanya masih sama, masih tidak percaya dia mencintaiku yang miskin ini. 

"Hey, coba tebak apa yang di katakannya?" pintaku pada pria bertopeng selalu emosi.

"Hey, apa peduliku."

"Siapa yang tidak jatuh hati dengan pria yang sangat menyayangi ibunya? itu adalah refleksi kamu mencintai seorang wanita" begitu katanya.

Membekas dihati  seperti kelakuannya, jika tadi aku mengatakan tidak membunuh kedua sahabatku. Kali ini, bisa kukatakan aku mungkin membunuhnya. Aku melihatnya dari kejauhan bersama dengan Pak Dan. Mereka mengkhianatiku,  Pak Dan mengelus pipi kekasihku dan dia hanya diam. Walaupun, aku tidak tau apa yang mereka bicarakan tapi dari tindakan aku sudah tahu apa yang sedang terjadi. Aku memilih diam dan menyimpan rasa sakit ini, tidak seorang pun di dunia ini yang bisa di percaya selain ibuku. Aku sudah menceritakan semua kenangan yang kembali kuingat. 

"Sekarang, apa bisa kamu katakan untuk apa semua ini?" Pintaku pada pria bertopeng nan penuh misteri.

*Suasana begitu hening*

Entah kenapa aku merasa aku melewatkan sesuatu yang sangat penting di foto ini, Aku ingat foto ini di ambil saat ulang tahunku yang ke-18. Aku dan tiga korban berfoto di depan rumah, saat itu ibu sedang memasak didapur. Foto ini diambil lewat drone milik "A".

"Kau merasa tidak ada yang aneh dari foto ini ataupun televisi itu?" 

Aku berjalan menghampiri televisi yang melihatkan foto persis seperti yang ada di tanganku.

"Aku dan ketiga korban, seharusnya hanya ada delapan pasang sepatu. Ibuku selalu menggunakan sendalnya di dalam rumah. Dibelakang, "D" tepat di kakinya masih ada sepasang sepatu. Apa yang sebenarnya terjadi? siapa satu orang lagi?" Jelasku masih memikirkan rentetan kejadian.

"D,A, dan N ketiga korban jika di gabungkan menjadi "DAN", Daniel Dekker ya bajingan itu..."

*Ah...ah...ah...ah...* Suara nafas terengah-engah

"Kenapa? lanjutkan, apa yang ia perbuat sampai membuat mu marah seperti ini?"

"Diam kau, psikopat itu pantas mati. Dia melecehkan ibuku saat aku pergi dari rumah!"bentakku

*Prakkk* suara pecahan kaca yang ditinju sangat kuat.

"Ketiga temanku pingsan dan dia memuaskan nafsu birahinya pada ibuku yang dengan kondisi seperti itu, Manusia paling tidak berakal di dunia. Seratus tusukan di perutnya tidak cukup untuk menebus dosa bedebah itu!"

*HAHHAHAHAHA* Pria bertopeng tertawa terbahak-bahak.

"Jika dia psikopat, lalu kau apa, bedebah? Ketiga temanmu mati setelah itu, kau yang membunuh mereka!"

"Semua yang pernyataanku dari awal adalah kebalikan dari pertanyaan tersebut. Seolah-olah kau korban dicerita yang kau buat, sunggu tidak ada rasa malu"

"Sahabatmu "D" mati karena kau membenci manusia yang lemah. disini kau adalah pembullynya bukan yang di bully"

"Yang terjadi pada "A" kau membunuhnya karena kau tidak ingin ibumu memperhatikan orang lain selain dirimu, tidak pernah merasa iri katamu? kau benar-benar tidak waras!"

"Kekasihmu "N" adalah wanita yang tulus mencintaimu, ia berkata sopan meski si brengsek Dan itu menggodanya. Bahkan saat di detik terakhir kematiannya ia masih sempat mengatakan dia menyukaimu. Tapi apa yang terjadi? kau membunuhnya!"

*Hentikan...Tolong hentikan!* Tegasku

"Aku mengerti, Kamu adalah aku dari masa depan.  dari tadi kau membantuku untuk berubah, tau segalanya tentang diriku. Kau ada untuk memberi tahuku bahwa aku salah dalam menjalani masa remajaku. Tapi kenapa harus seperti ini? kenapa?" Terangku sambil menangis tersedu-sedu.

*Pria bertopeng tanda tanya membuka topengnya*

"Dengarkan, aku kecewa pada diriku di masa lalu. Karenamu tidak ada lagi masa depan kita. Aku melewati tahun ke tahun mencari sesuatu yang bisa memperbaiki diri kita. Kenyataannya tidak ada yang bisa kuubah karena kita sangat menyayangi ibu dan karena si Dan emosi itu meluap menjadi rasa benci pada sahabat kita. Tragedi ini tidak bisa di hindari. Dilain sisi,  aku bangga kita selalu mengutamakan ibu lebih dari apapun itu"

*10 menit menuju eksekusi*

"Apakah ibu akan baik-baik saja?" Tanyaku pada diriku

"Ya, ibu tinggal bersama wanita yang menyayanginya sama seperti kita."

Seorang wanita berjalan keluar dari ruangan monitoring, menghadap atasannya membawa surat pengunduran diri.

"Pak, Saya ingin mengundurkan diri. Saya tidak sanggup bertemu ibu dari anak itu jika saya masih mengenakan seragam ini." 

Kasus ditutup "Daniel Dekker" ditemukan dalam keadaan tanpa busana terkubur di depan rumah. Kasus ini tidak pernah di terekspos karena tersangka pelecehan seksual memiliki kerabat yang mempunyai kekuasaan di pemerintahan.

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Aditya Zadira

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Sentimental

Selasa, 7 Desember 2021 14:09 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content

Mimpi

Minggu, 19 Desember 2021 10:34 WIB

img-content
img-content
img-content
Lihat semua