Jasa yang Tak Dihargai - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Abdurrahman Rais

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 November 2021

Rabu, 8 Desember 2021 07:55 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Jasa yang Tak Dihargai

    Ini adalah cerita pendek singkat tentang seorang wisudawan bernama Genta yang lulus kuliah dan berjuang mencari pekerjaan namun sulitnya minta ampun, hingga pada suatu saat ia mendapat pekerjaan namun tidak dihargai oleh ayahnya. Bagaimana rincian ceritanya? Silahkan dibaca ya guyss....

    Dibaca : 134 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Jasa yang Tak Dihargai
    Karya : Abdurrahman Rais

     

    Pada tengah-tengah pandemi tibalah hari yang sangat penting bagi Genta, anak dari seorang tokoh agama yang ada di suatu desa yang ada di Malang. Hari yang telah dinanti-nantikan olehnya sejak tadi malam hingga ia tak cukup tidur. Susah senang yang telah ia jalani selama enam tahun akhirnya tercapai. “Selesai kuliah walau skripsi ngulang terus bukan hal yang buruk kan? Hehe....” ucap Genta dalam hati.

    Ayam berkokok merdu menandakan matahari segera bangun. Tubuh yang menggeliat bertutup selimut karena dingin, tidak menghalangi semangat dalam dirinya. Ibu yang sudah bangun lebih dulu segera menyiapkan sarapan dan baju untuk datang ke acara wisuda. Genta segera bangun dan menghampiri ibunya.

    “Bu...rajin amat mau ke acara wisuda, sampe bangun pagi-pagi buta gini lagi.”

    “Pastilah nak, kamu kan anak ibu yang paling berprestasi. Kuliah aja sampe enam tahun.” Ujar ibu

    “Hehe iya maap bu...tapi makasih ya ibu selalu support Genta terus.”

    “Iya sama-sama nak, ya udah sana mandi! habis itu sarapan terus pake toga dan kita langsung berangkat.”

    “Oke siap komandan!”

                    Ia segera mandi dan kebiasaannya pun muncul. Karaokean di kamar mandi menjadi hal wajib yang dilakukannya. “Woouwoouwoo....” gumamnya. “itu anak dari kecil masih sama aja kebiasaannya, nyanyi-nyanyi di kamar mandi hingga tak jarang ada tetangga datang menanyakan hal yang tidak-tidak.”

    “Cepat nak! Udah hampir pukul setengah tujuh ini! Kamu kan wisuda pukul tujuh lebih lima belas menit. Kita memakan waktu juga di perjalanan lho.” cakap ayah kepada Genta.

    “Baik yahh, satu menit lagi.” Balasnya.

                    Lima menit kemudian mandinya baru selesai, lalu mereka segera sarapan dan bersiap-siap untuk berangkat. Sesaat sebelum berangkat, Genta bersiap-siap memakai toga disertai fantofel sehingga terlihat keren. Kegagahan pun ditunjukkan oleh baju tersebut membuat rasa bangga tersendiri bagi Genta maupun ayah ibunya.

    “Baiklah, sebelum berangkat mari kita berdoa semoga prosesi wisuda nanti berjalan lancar dan selepas itu Genta dapat mencari pekerjaan dengan mudah dan mandiri menjalani kehidupannya.” Ucap ayah sembari memimpin doa.

    Sesampainya di kampus, prosesi wisuda pun dilakukan. Ramainya orang di ruang audiotorium menunjukkan betapa meriahnya wisuda tersebut. Wisudawan saling tersenyum gembira satu sama lain membuat para orang tua tentunya bangga anak-anaknya telah lulus dan menjadi sarjana.

                    Genta...lulusan kampus Universitas Brawijaya, kini telah meraih gelar sarjana pendidikan. Nasibnya kini mungkin akan berubah. Rasa malas yang suka ia rasakan dan jalani selama kuliah berharap pergi darinya. “Akhirnya aku lulusssss......” teriak Genta di hadapan semua orang. Rasa senang ditampakan oleh keluarga Genta.

    Sehabis prosesi wisuda selesai, Ayah berpesan, “Nak, sekarang kan kamu sudah lulus. Sudah saatnya kamu mulai hidup mandiri. Jangan mengandalkan orang tua dalam menyelesaikan urusan atau masalahmu. Habis ini carilah pekerjaan dan berlatih mencukupi kebutuhanmu sendiri.”

    “Iya yah, Genta akan berusaha mencari pekerjaan dan mencukupi kebutuhanku sendiri. Genta juga ingin berlatih hidup mandiri dan tidak bergantung ke ayah maupun ibu.” Balasnya.

    “Ibu akan terus mendoakan untuk kebaikanmu nak, dan berharap yang terbaik untumu.” Ujar ibu turut menasihati.

    Rasa tangis disertai bahagia menyelimutii Genta seraya mengucap, “Iya bu, Genta sangat berterima kasih kepada ayah ibu yang telah membimbing dan membesarkan diriku hingga besar dan memperoleh gelar sarjana.” Kedua orang tuanya pun berterima kasih juga.

                    Mereka lalu pulang dan beberapa hari pun berjalan. Genta mulai mencari lowongan ke sekolah-sekolah yang mungkin kekurangan guru pengajar. Berjalan menyusuri ramainya kota mencari pekerjaan ternyata tidak semudah itu. Disisi lain juga saat ini banyak sekolah-sekolah yang sudah banyak tenaga pengajar sehingga ia pun ditolak mentah-mentah. Bahkan ia pernah mengajukan diri bekerja sebagai guru di sekolah asalnya, namun tetap ditolak.

                    Suatu ketika saat Genta sedang berada di dekat pasar untuk membeli makan, ia melihat dua orang anak sekitar umur 10 tahun dengan gerak-gerik yang aneh. Mereka mendekati seorang ibu-ibu tua membawa tas, lalu yang satu mengajak ngobrol si ibu, sementara yang satunya lagi diam-diam merogoh tas milik si ibu dan mengambil sebuah dompet berwarna coklat. Setelah itu mereka berdua langsung pergi meninggalkan si ibu dan membawa dompetnya. Sontak ia pun terkejut, “kenapa anak seumurannya bisa melakukan hal seperti itu?” Lalu ia memutuskan untuk membuntuti kedua anak tersebut. Selang beberapa menit, ia tiba di suatu tempat seperti gedung tua yang kemungkinan adalah markas mereka. Ternyata benar, terdapat beberapa anak di tempat tersebut yang mungkin gerombolan mereka. Ia langsung masuk dan mengundang para anak-anak itu.

    “Bang, siapa kamu? Beraninya masuk markas kami.” Cakap Rian, salah seorang anak di tempat tersebut.

    “Perkenalkan nama abang adalah Genta...sebelumnya ada yang pengin abang omongin nih dengan kalian.” Jawab Genta

    “Omongin apa bang? Mau ngasih uang ke kami kah?”

    Semua anak-anak pun tertawa, “Hahahaha....”

    Lalu, tiba-tiba ada seorang wanita muda nan manis datang dari atas tingkat dan bilang “Eh ada abang-abang ganteng. Tumben sekali ada orang datang ke tempat ini. Mau apa kesini?”

    Genta lalu berfikir yang tidak-tidak soal anak-anak ini. Kemungkinan mereka diajari hal kurang benar dan dipaksa untuk mencopet oleh wanita tersebut. Hal tersebut membuatnya semakin penasaran dan timbulah rasa keinginan untuk mendidik anak-anak tersebut.

    “Abang pengin ngobrol berdua dengan neng manis. Boleh apa tidak ya?” ucap Genta sembari bulu kuduknya bergetar.

    “Okay, ke lantai atas aja bang”

                    Genta dengan berani mengajak wanita tersebut mengobrol dan menawarkan keinginannya.

    “Mau ngobrol apa bang? Pasti soal anak-anak itu kan? Halah ga usah ikut campur urusan kita!” ucap wanita tersebut.

    “Abang belum bilang apa-apa kok udah dibantah. Sebelumnya, namamu siapa? Kenapa anak-anak tersebut harus melakukan hal seperti itu?” Genta bertanya sambil menahan emosinya.

    “Hahaha...dengan alasan apa aku harus memberitahu namaku dan kenapa anak-anak bisa sampai melakukan hal itu? Bahkan aku juga belum tau abang itu siapa.”

    “Baiklah...abang akan memperkenalkan diri dulu. Nama lengkap abang Genta Nur Oktavian, panggil aja Genta. Lulusan Universitas Brawijaya dan sekarang memperoleh sarjana pendidikan. Saat ini sedang berpetualang mencari pekerjaan tapi ngga dapet-dapet. Rumah abang di negara Indonesia, provinsi Jawa Tengah, kabupaten....“

    “Eittsss...ga usah kepanjangan, kaya mau kenalan sama cewe cantik aja. Sama aku santaii aja asalkan abang dengan niat baik-baik.” tabrak wanita tersebut memotong pembicaraan.

    “Kamu emang cantik neng...”

    “Halah abang bisa aja.” balas wanita tersebut dengan rasa malu.

    “Emang cantik, tetapi lebih cantik lagi kalo kamu bantu abang.”

    “Haha terimakasih. Btw kenalin namaku Siska, pemimpin kumpulan anak-anak pencopet itu sekaligus penjaga mereka, dengan tau namaku jangan kau sebar dan cap namaku di poster dengan bertulis ‘awas pemimpin copet, waspadalah!” ucap wanita tersebut sambil saling bersalaman.

    “Haha okee Siska, abang bukan tipikal orang seperti itu.”

                    Keinginan Genta untuk mendidik anak-anak pencopet itu pun disampaikan ke Siska. Nampaknya Siska mulai memahami keinginan baiknya. Bahkan mereka sepakat untuk mendidik anak-anak pencopet itu. Disisi lain Siska ternyata awalnya juga berkeinginan seperti itu, namun gagal dan malah ikut terbawa ke dalam kumpulan tersebut hingga dianggap sebagai pemimpin karena yang paling dewasa.

                    Keinginan itu berubah menjadi sebuah proses yang mulai dijalankan. Dengan adanya Siska di pihaknya maka mengatur anak-anak itu juga menjadi lebih mudah. Awal-awal mereka berdua tidak melarang anak-anak tersebut melakukan kebiasaannya yaitu mencopet. Namun, proses yang dilakukan secara bertahap pasti akan lebih berhasil. Disamping proses tersebut, Siska pun rela penghasilan mencopetnya itu dibagi beberapa untuk Genta. Dengan berat hati, Genta pun setuju.

    “Bang, kenapa si kita harus punya pendidikan?” tanya Zain, anak termuda diantara anak-anak itu.

    “Hehe, jadi kenapa pendidikan itu merupakan hal terpenting yang harus dimiliki oleh tiap orang, dengan adanya pendidikan kita nantinya dapat merubah dunia.” Jawab Genta.

    “Merubah dunia? Menjadi dimensi lain maksudnya?” Saut anak lain saling bingung sembari ketawa dengan kata-kata dari Genta.

    “Merubah dunia dengan pendidikan maksudnya adalah dengan ilmu pengetahuan kita dapat menciptakan hal-hal baru, melakukan suatu hal baik seperti membantu orang lain, mendapat penghasilan dari uang halal, jadi seakan-akan dunia itu milik kita sendiri.”

    “Ooo gitu ya bang...” balas Zain yang diikuti anggukan dari yang lain.

                    Proses pendidikan yang dilakukan oleh Genta dan Siska bisa dibilang lancar. Berminggu-minggu mereka habiskan waktu bersama untuk mengajar. Anak-anak semakin pintar, terdidik dan penuh rasa keingin tahuan terhadap ilmu pengetahuan. Disamping itu, penghasilan Genta dari mengajar tersebut bahkan sampai dapat merubah tempat tua tersebut menjadi lebih layak digunakan untuk belajar.

    “Wahh...Bang, ini tempat belajar kita sekarang? Kelihatan lebih bagus dari sebelumnya. Papan tulis berdiri megah, dan didepannya terdapat bangku-bangku untuk kita belajar. Buku-buku pun tertata rapi bak perpustakaan umum.” ucap Zain sembari melihat-lihat ruangan barunya dengan penuh rasa senang.

                    Dalam lingkup keluarganya, Genta belum memberitahu orang tuanya terkait pekerjaan barunya.  Ayahnya bahkan seringkali memintanya untuk diberitahu tentang pekerjaannya. Namun, ia tetap menutup-nutupi hal itu, entah mencari alasan yang kiranya masuk akal, ataupun berbohong. Hal itu sengaja dilakukannya karena ia tak mau orang tuanya terkejut atas siapa yang diajarnya.

                    Pada suatu ketika saat Genta akan berangkat menuju markas untuk mengajar.

    “Nak, ayah minta sekali lagi...ayah pengin ditunjukkan tempat kamu mengajar, dan melihat juga bagaimana kamu mengajar juga.” minta ayah kepada Genta.

    “Kenapa emang yah? Genta sedang buru-buru nih karena udah telat. Besok aja ya yah!” jawab Genta sembari cari alasan supaya ayahnya tak ikut.

    “Subhanallah..kamu nih...ngeles terus, sebenarnya kamu kerja apa si? Mengajar bukan?”

    “Iya mengajar yah, tapi belum saatnya ayah tau soal pekerjaan Genta.”

    “Kenapa emang? Ayah ga akan negur atau memarahi kamu kok asal kamu bener.”

    “Iya yah Genta tau, tapi kali ini aja tolong...Genta pengin berlatih hidup mandiri dulu.”

    Selang perdebatan yang cukup lama, akhirnya ayah Genta memilih mengalah. Tetapi, diam-diam ia mengikuti kemana anaknya berangkat. Langkah kaki yang sengaja dibisukan sengaja dilakukan olehnya supaya tak ketauan oleh anaknya. Sesampainya di markas, Genta seperti biasa mengajar anak-anak pencopet itu bersama Siska. Lalu saat ditengah-tengah pembelajaran, ayahnya masuk. Sontak semua orang yang ada di markas tersebut bingung siapa bapak-bapak tua tersebut.

    “Loh yah...jadi ayah ngikutin Genta?” ucap Genta ke ayahnya. Ayahnya pun menjawab, “oo jadi ini tempat mengajar kamu, yang kamu ajar juga anak-anak ulung, sungguh mulia sekali kamu Gen.”

    “Hustt...Bang, dia tuh siapa? Datang-datang komen kaya gitu.” Bisik Siska ke Genta.

    “Dia tuh ayahku Sis...”

    “Kenapa komennya emang neng?” balas ayah Genta lagi.

    “Gapapa si pak hehe” Siska kembali bicara.

    “Anak-anak... kenalin nih ayah abang.” Ucap Genta ke anak-anak.

    Anak yang bernama Rian pun ikut memperkenalkan diri, “Kenalin pak, namaku Rian. Pencopet handal yang sekarang sedikit berubah menjadi anak yang lebih terdidik.”

    “Apa? Pencopet?” ucap ayah dengan kaget.

    “Iya yah, jadi mereka itu anak-anak yang tersesat didunia pencopetan, jadi Genta berinisiatif untuk mendidik mereka, pemimpin dari pencopet ini, Siska..juga mendukungku.”

    Bukannya bangga, namun ayahnya malah terkejut dan merasa emosi, “Astaghfirullah nak...kenapa kamu bisa sampai seperti ini...jadi penghasilan selama ini yang kamu dapat berasal dari uang-uang hasil nyopet?”

    “Iya yah...”

    “Ya ampun nak, itu tuh uang haram. Kenapa kamu tidak mencari pekerjaan yang halal aja, didunia masih banyak kok.”

    “Yah tapi alasan Genta mengajar mereka juga baik yah.”

    “Bukan masalah itu Gen...tapi apa jadinya kamu nanti...bahkan selama beberapa minggu ini kau telah memakan uang-uang haram hasil nyopet.” Ayah semakin emosi atas yang dilakukan Genta.

    Hal itu membuat emosi Genta pun ikut terpancing, “Jadi gini yah, dengan mandirinya Genta mendapat pekerjaan, kenapa si Ayah malah komplennnn terus. Masalah penghasilan, itu juga bentuk inisiatif dari Siska. Diriku tak pernah mengharap apa-apa selain terdidiknya anak-anak ini supaya tak mencopet lagi.”

    “Tetapi kamu menerimanya. Cobalah mengerti, dengan menerimanya uang itu dan memakainya untuk memenuhi kebutuhan, maka kebutuhan yang kamu pakai itu haram. Pahamm gak?” ayahnya kembali menyaut.

    Emosi Genta semakin naik, “Ayah ini terlalu fokus ke penghasilan, tetapi tak memikirkan bagaimana nantinya anak-anak ini apabila dibiarkan terus mencopet.”

                    Ayahnya tetap tak terima dengan alasan dari Genta. Tanpa panjang waktu akhirnya Genta memilih mengalah. Hal itu supaya tak memperpanjang masalah. Tak mau dicap sebagai anak durhaka juga jadi alasannya. Ayahnya lalu memerintahkannya untuk mencari pekerjaan yang lain, dan Genta pun menurutinya. Ia kini diterima mengajar di salah satu SMP di Malang yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Namun, sesekali ia juga mendatangi tempat itu untuk melihat bagaimana perkembangan anak-anak yang telah ia dan Siska ajar. Disisi lain ternyata berminggu-minggu disitu ternyata membuat hati Siska luluh kepadanya. Namun sangat disayangkan, hati ayah tak merestui anaknya dekat apalagi menikah dengan seorang mantan bos copet. Padahal, perjalanan mendidik anak-anak pencopet berjalan sukses. Tetapi pandangan ayah Genta terhadap semua itu berkata lain, dan tetap kekeh pada keputusannya.

     

    Ikuti tulisan menarik Abdurrahman Rais lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Arif Munandar Prayitno

    12 jam lalu

    Senja

    Dibaca : 85 kali


    Oleh: Farhanaang__

    12 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 135 kali