Kesiapan Tokoh Agama Menjalankan Perannya dalam Komunitas pada Masa Pandemi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Atika rahma

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Desember 2021

Rabu, 8 Desember 2021 10:25 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kesiapan Tokoh Agama Menjalankan Perannya dalam Komunitas pada Masa Pandemi

    Ditulis Oleh : Atika Rahma Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung

    Dibaca : 178 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hidup pada masa-masa seperti sekarang ini, terutama pada keadaan pandemi, butuh akan agama yang kuat, di mana dengan memiliki agama atau kepercayaan, dapat mengarahkan kita menuju ke arah yang lebih baik lagi. Pada saat pandemic, banyak yang sudah jauh dari agama. Padahal, ada anggapan yang menyatakan bahwa agama merupakan tiang tertinggi dalam kehidupan.

    Terdapat berbagai peluang atau kesempatan bagi tiap orang untuk menjadi diri yang lebih baik lagi melalui diri sendiri maupun orang lain. Apabila kita ingin menjadi pribadi yang baik, maka perlu dilakukan usaha yang benar-benar akan merubah kita menjadi benar-benar orang yang memiliki aura yang positif bagi diri sendiri maupun orang lain yang ada di sekitar.

    Seperti halnya, dapat dicontohkan dengan bunga. Terdapat dua macam bunga yang berbeda, yakni bunga mawar dan bunga bangkai. Mayoritas orang lebih menyukai bunga mawar yang mana identik dengan keromantisan dan keharuman. Dibandingkan dengan bunga bangkai yang memiliki ciri khas yang memiliki bau tertentu. Dilihat dari contoh tersebut, bahwa bunga mawar memiliki nilai lebih daripada bunga bangkai.

    Tokoh agama dapat diibaratkan dengan bunga mawar, di mana dapat memberikan pengaruh yang baik kepada orang lain. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang lebih luas terkait agama dapat membawa masyarakat menuju tatanan kehidupan yang baik. Para tokoh agama berperan penting bagi masyarakat dalam menjalankan kehidupannya.

    Dapat diterapkan dengan dibentuknya sebuah komunitas keagamaan. Masyarakat sangat mendukung adanya komunitas tersebut karena mereka tahu bahwa mereka bisa menambahkan pengetahuan agamanya. Keberadaan komunitas ini membuat beberapa perubahan dalam kehidupan banyak orang.

    Salah satu contoh dari komunitas agama ialah komunitas Majlis Ta’lim Sahi Fisabilillah yang ada di daerah tempat tinggal saya, yakni di Belinyu terutama di Kampung Saber. Dalam komunitas tersebut terdapat beberapa anggota yang sebagian besar berasal dari Kampung tersebut. Didirikannya majlis ta’lim ini dilatarbelakangi oleh tidak adanya komunitas agama di daerah tersebut

    Akan tetapi, selama beberapa tahun ini, di mana kondisi alam semesta sedang tidak baik-baik saja karena munculnya kasus pandemi Covid-19 mengakibatkan banyaknya nyawa yang tumbang. Selain itu juga, hal ini menyebabkan terbatasnya aktivitas keagamaan yang tidak bisa dilakukan seperti hari-hari biasanya. Dengan keadaan seperti sekarang, mengharuskan para tokoh agama agar memutar otak untuk tetap menjalankan perannya.

    Dalam majlis ta’lim, terdapat bebrapa keinginan yang ingin segara dicapai, yakni menjaga relasi antar masyarakat Kampung Saber di mana akan diadakan acara dakwah di Masjid, yang akan disampaikan oleh pendiri majlis dan juga beberapa tokoh agama lainnya, seperti mendatangkan Ustadz yang berasal dari luar daerah Belinyu dan juga yang bukan termasuk dalam anggota majlis. Kegiatan majlis yang bersifat berkumpul tetaplah mengikuti aturan protocol kesehatan dari pemerintah, yakni menjaga jarak dan memakai masker.

    Bagi tokoh agama walaupun memiliki pandangan yang positif dalam masyarakat, akan tetapi dibutuhkan juga para tokoh atau pemuka agama yang memiliki kepribadian yang baik. Apabila si tokoh agama memiliki kepribadian buruk dan mempunyai tujuan ataupun maksud lain yang menjerumuskan pada hal-hal yang berbau negatif, maka perlu kehati-hatian dalam mendapat berbagai informasi apapun mengenai agama. Oleh karena, haruslah pintar-pintar dalam menyaring informasi tersebut.

    Berdasarkan teori Sosiologi Agama yang bertokohkan Ibnu Khaldun, menganngap bahwa adanya interaksi sosial dapat menciptakan peradaban yang dikarenakan bahwa manusia itu merupakan makhluk sosial dalam artian membutuhkan orang lain dalam menjalankan hidupnya. Kehidupan yang baik ialah kehidupan yang ditandai dengan adanya interaksi sosial yang baik pula. Insan yang melakukan interaksi tersebut dapat membentuk perkumpulan-perkumpulan yang akan meningkatkan tali silaturrahmi antarsesama manusia. Sang Pencipta alam dan semesta menginginkan kehidupan yang damai untuk mensejahterakan dan memakmurkan bumi melalui perantara yang telah dipilih-Nya.

    Dengan itu diberikannya perantara, yakni para pemuka agama yang diberikan amanat untuk menyampaikan hal-hal positif yang membimbing kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan terhadap sesama umat manusia di muka bumi ini. Terdapat pepatah yang mengatakan bahwa, balaslah orang yang telah melakukan kejahatan pada kita dengan kebaikan. Mengapa demikian? Hal tersebut dikarenakan apabila kita membalasnya dengan kejahatan pula, maka kita tidak berbeda jauh dengan mereka yang telah berbuat jahat kepada kita.

    Di dalam majlis ini, diajarkan bagaimana kita bersikap dan bertutur kata yang baik kepada orang lain. Sisi positif yang bisa kita ambil ialah kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak untuk kita jadikan teladan dalam hidup. Oleh karena itu, dibutuhkan sosok tokoh agama yang bisa mengarahkan kehidupan ke jalan yang telah ditetapkan oleh sang Pencipta.

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.