Mimpi Kecil Sekte Petani - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ian Hasan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Desember 2021

Rabu, 8 Desember 2021 19:43 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Mimpi Kecil Sekte Petani

    “Ceritakanlah sekarang, Mam!” desak Momon kepada ibunya, menegaskan bahwa dirinya saat ini sudah cukup usia untuk mendengarkan kisah lebih utuh tentang legenda perjuangan nenek-buyutnya.

    Dibaca : 210 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Musim Semi, Awal tahun 2094

    Pada satu pagi berkabut yang dingin, sepulang dari ziarah ke situs petilasan leluhur, Momon dan Eli—ibunya berdiskusi panjang perihal ritual perjalanan yang baru saja mereka tunaikan. Sepanjang menempuh perjalanan 868,3 kilometer kembali ke selatan, pada beberapa ruas penghubung antar kota, mereka sempat beberapa kali melintas di bawah kanopi albizia (pohon sutra) yang sedang berbunga lebat.

    “Ceritakanlah sekarang, Mam!” desak Momon kepada ibunya, menegaskan bahwa dirinya saat ini sudah cukup usia untuk mendengarkan kisah lebih utuh tentang legenda perjuangan nenek-buyutnya.

    Maka, Eli pun bercerita tentang Balaclavista, suatu milisi kaum adat bertopeng yang tak pernah menunjukkan wajah tiap-tiap personilnya demi membangun kesatuan identitas pewaris tradisi dan tanah leluhur yang nyaris porak-poranda.

    Di tempat lain, Walikota 8th Dome City (Kota Kubah Kedelapan) sedang marah besar. Kota yang menjadi salah satu ikon hyptech-city itu menjadi taruhan. Ia merasa dipermalukan ketika masih ada saja sebagian warganya yang terlibat sekte petani udik. Ia jelas-jelas tak mau dikatakan lambat mengatasi kelompok petani tradisional yang kian mengancam eksistensi kota itu, di tengah arus peradaban dunia yang kian maju dan canggih.

    “Kalau begini caranya,” geramnya, “bisa-bisa ikon kota ini hancur gara-gara kalian. Dasar orang-orang primitif! Kurang apa aku menjamin kebutuhan kalian, ha?” sembari tangannya mengepal selepas melemparkan stik remote ke wallscreen yang terpampang di depannya.

    Tayangan video ratusan orang melakukan perayaan upacara Adora la Madre Tierra[1] itu seketika padam, bersamaan timbulnya retakan dan kilat api pada layar hitam disertai bunyi yang memantul ke seluruh penjuru dinding Grand Capytown, kantor walikota. Tak butuh waktu lama, pejabat kota yang teknokrat itu mengumpulkan kepala-kepala dinas beserta segenap anggota presidium Dewan Pertimbangan Kota.

    Pada waktu yang sudah direncanakan, segenap undangan hadir di Town Ball, balaikota berbentuk mirip bola raksasa yang melayang ditopang pancaran air mancur serupa menara, dikelilingi danau dengan kanal utama yang menghubungkannya dengan laut. Seperti yang sudah-sudah, ia tumpahkan sederet rencana strategis disertai data-data pendukung guna membasmi sisa-sisa pengikut sekte petani sampai ke akar-akarnya.

    “Bapak dan ibu yang terhormat,” demikian ia memulainya,” bertahun-tahun kita semua hidup berdampingan dengan damai di kota yang serba teratur ini. Tak ada hal sekecil apapun yang tidak tertata dengan baik. Kedaulatan tanah leluhur kita telah kembali, saat kita mau bersatu-padu mengelola dan merawatnya secara demokratis. Tidak hanya jalan, taman, lahan pertanian, dan blok-blok hunian yang selalu tampak asri. Segala sesuatu seakan terjadi menurut jadwal yang sudah pasti. Pemerintah juga telah menjamin tak ada satupun warga yang kelaparan, telantar, ataupun terabaikan kesejahterannya, termasuk para manula, pelaku sejarah yang telah berjasa mewariskan generasi terbaik untuk masa depan kota ini. Sekalipun kita pernah kehilangan mata air terakhir, tetapi berkat kepiawaian dan dedikasi para ahli, kita telah dapat menciptakan watercon yang kita konversi dari udara kotor. Meskipun demi efisiensi ruang hidup beberapa sektor primer harus kehilangan zona sebarannya, kita telah dapat mengonversikan pula kebutuhan itu ke dalam satu modul terintegrasi, semacam pertanian urban yang tidak harus berbasis lahan. Dan atas keseriusan kita mengelola itu semua secara profesional, keberkatan sepenuhnya menyertai hari-hari warga 8th Dome City. Matahari tak pernah ingkar, terbit tepat ketika seseorang di kota ini bangun paling dini. Begitu pula saat senja tiba, nyaris bisa dipastikan matahari terbenam pada saat semua orang telah duduk rapi menghadap meja makan bersama keluarganya.” Seperti sengaja, walikota itu memanjangkan pidato pembuka agar bisa memberi penekanan pada hal-hal penting yang berhubungan dengan perasaan pendengarnya. Ia seakan mengerti betul tentang ‘Nuestra palabra es nustra arma,’[2] sebuah slogan klasik yang menjadi kebanggaan warga kota.

    Hadirin tentu saja terpukau dengan penjelasan yang begitu rinci, canggih, serta melibatkan perasaan yang dalam seperti itu. Terlebih warga kota, yang bisa ikut menyaksikan tayangan langsung pertemuan itu di setiap tempat mereka beraktivitas. Termasuk para penyimak berita real time yang bisa mengakses tayangan itu dari seluruh penjuru dunia, akan dapat segera saja mengambil penafsiran atas apa yang terjadi di 8th Dome City. Kota yang dicitrakan modern dan terbuka itu, seakan sedang menunjukkan kesan mendesak atas ancaman eksistensi segelintir penganut Sekte Petani terhadap kemajuan peradaban mutakhir warganya.

    “Bapak dan Ibu tentu masih ingat dengan pelajaran dari para pendahulu,” lanjut walikota, “bahwa kota ini dibuat dengan sangat cermat oleh para ahli di bidang masing-masing. Semua hal dirancang agar publik tak mengenal kata susah dan repot, karena terpenuhinya hak-hak publik adalah segalanya. Setiap kesalahan seakan langsung diperbaiki dengan cekatan, tak perlu menunggu timbulnya keluhan apalagi kecaman dari banyak orang,” dengan mimik muka serius, di bagian itu walikota menambah lantang suaranya.

    Sementara itu dari arah tenggara, sebuah capsy car (mobil kapsul) melesat di jalan utama, menyusuri jalur penghubung antar cluster di pusat kota, setelah melintasi alun-alun tempat Town Ball berada. Tampak Eli bersama anak laki-lakinya di dalam kabin. Perempuan itu menjelaskan tentang keadaan kota yang sejatinya memprihatinkan. Banyak hal telah bergeser dari apa yang dulu pernah dicita-citakan para pendahulu. Rekayasa teknologi telah membuat setiap orang berdecak kagum tanpa menyadari dampak kerusakan ekosistem dalam jangka waktu panjang. Banyak solusi membuat lebih banyak orang menjadi bergantung, karena persoalan kota seakan teratasi tanpa disertai terbangunnya visi dan kesadaran antar warga penghuninya.

    “Bukankah seharusnya kita bersyukur dengan semua ini, Mam?,” celetuk Momon, sembari tak henti mengedarkan pandangannya.

    “Oh, begitukah menurutmu?” Eli menanggapinya dengan senyum, memaklumi keterbatasan pengertian anaknya.

    “Memangnya ada yang salah? Momon balik bertanya keheranan, kepalanya berpaling dengan pandangan tajam ke arah ibunya.

    “Aku harap kamu akan tahu pada saatnya nanti,” tandas perempuan itu, sembari bersenandung.

     

    ‘We ne ‘inóma sewá aminá wasachí jáwame

    We'kanátame sewá ne tibúma napu

    ikin nilú ne neséroma napulegá semá

    rewélema sajae gawíwalachi[3]

     

    Pidato walikota masih terdengar lirih dari siaran yang menyala di dalam kabin. Sampai pada penjelasan mengenai ancaman membahayakan dari keberadaan Sekte Petani di 8th Dome City, perhatian Momon terpusat ke layar kecil di atas dashboard.

    “... Akankah kita biarkan generasi muda kota ini diperdaya oleh tahayul dan klenik peninggalan peradaban kuno seperti itu, yang jelas-jelas menyelisihi upaya kita sejauh ini?” tanya walikota ke segenap hadirin, “Sedangkan kita sedang berjuang keras memperbaiki kualitas hidup dan kehidupan kita secepatnya, selekasnya, bersama masifnya teknologi aktual yang kita punya dan akan kita kembangkan seterusnya,” tegas walikota disambut tepuk tangan hadirin.

    Rapat terbuka di Town Ball sore itu ditutup dengan penandatanganan persetujuan oleh presidium Dewan Pertimbangan Kota yang mengizinkan walikota bertindak untuk dan atas kepentingan warga kota.

    Tanpa menunggu lama, malam harinya, walikota memerintahkan komandan militer untuk mengerahkan sejumlah pasukan elit ke daerah-daerah yang diduga menjadi tempat persembunyian anggota Sekte Petani. Setiap personil dipersenjatai dengan alat tembak dan detektor canggih—dapat meleburkan tanpa sisa sasaran tembak dari jauh, sehingga kecil kemungkinan siapapun orang yang tertangkap akan selamat. Tetapi sayang, laporan yang diterima walikota keesokan harinya justru mengabarkan penemuan seragam dan peralatan tentara di tempat-tempat hiburan kalangan borjuis.

    Tak kurang akal, walikota lantas berinisiatif merangkul para cendekiawan dan pemuka-pemuka agama untuk melakukan pendekatan persuasif kepada kelompok sesat itu, berharap tradisi kuno mereka terpatahkan oleh argumentasi ilmiah dan ketuhanan. Tak pelak mereka harus bergerilya ke hutan-hutan kecil di pinggiran kota agar bisa menjumpai langsung komunitas pembangkang itu. Tetapi lagi-lagi laporan yang kembali adalah kegagalan. Para ahli penyandang otoritas keilmuan itu justru berbalik memihak Sekte Petani, hanya gara-gara mendengar bermacam-macam suara serta melihat langsung pelbagai jenis serangga dan hewan melata di cluster pemukiman mereka. Para ahli itu seakan tersadar bahwa selama ini hanya dapat mempelajarinya dari buku dan ensiklopedia tanpa pernah menyaksikannya langsung di depan mata.

    Sementara malam itu walikota dibuat cemas oleh kegagalan beruntun yang dideritanya, embusan angin dari lereng pegunungan Lacandon menyelinap masuk ke kamar Momon. Ia sedang khusyuk mendengarkan ibunya mendongeng diselingi senandung, setelah seharian berkebun menanam benih warisan nenek-buyutnya.

    “Ya se mira el horizonte. Para que salgamos en la lucha avante. Porque nuestra Patria grita y necesita. Hombres, niños y mujeres acabar la explotación,”[4] senandung Eli terdengar merdu, sembari tangannya mengelus-elus dahi Momon.

    “Itu lagu apa, Mam?” tanya bocah itu dengan mata terpejam, seakan meresapi keindahannya.***

     

    [1] Secara harfiah berarti ‘memuja ibu bumi’ dalam bahasa Spanyol-Mexico

    [2] ‘Kata adalah senjata,’ slogan yang dicetuskan Commandante Marcos, simbol perlawanan Zapatista terhadap pemerintah Mexico dan kapitalisme global

    [3] Aku akan melihat bunga yang tumbuh di pedesaan// Aku mau merawat bunga yang berbeda// Aku hendak melindungi semua yang ada// Agar mereka kembali, indahnya gunung kita. (Satu bait puisi dalam bahasa asli Mexico, berjudul Mésiko Nilúame Sewá, karya Dolores Batista)

    [4] Sekarang kita melihat cakrawala// Untuk ambil bagian dalam perjuangan ke depan// Karena Tanah Air kita menangis dan memerlukan// Lelaki, anak-anak, dan wanita// Agar eksploitasi berakhir. (Cupllikan baris-baris lirik dari lagu kebangsaan Zapatista Army of National Liberation, Mexico)

     

    Ikuti tulisan menarik Ian Hasan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Arif Munandar Prayitno

    11 jam lalu

    Senja

    Dibaca : 82 kali


    Oleh: Farhanaang__

    11 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 134 kali