x

Kenangan hangat dari atas kota

Iklan

Abta Ibnati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2021

Rabu, 8 Desember 2021 22:28 WIB

Kenangan Hangat dari Atas Kota

Cerpen yang berjudul "Kenangan Hangat dari Atas Kota" ini ditulis oleh Apta Ibnaty Salsabila Lirabbiha. Seorang santri Pondok Ittihadul Ummah Ponorogo yang berusia 13 tahun. Cerpennya berkisah tentang kenangan hangat seorang anak laki-laki bersama ibunya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

KENANGAN HANGAT DARI ATAS KOTA

Air hujan malam ini membasahi seluruh tubuh pemuda tersebut. Air mata berjatuhan dari pelupuk mata ketika dirinya melihat gundukan tanah itu. Air mata yang mengalir bercampur satu dengan sang hujan. Dia alihkan tatapannya kepada sebuah arloji di genggamannya, awan mendung dan hawa yang dingin membuat pikirannya terlempar kembali pada kenangan masa lampau. Akselerasipun menuju ke sebuah awal yang berujung pada detik ini.

                                                                        ***

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Malam itu hujan turun dengan derasnya. Umurku masih 10 tahun ketika dirinya berjalan menjauh sambil membawa koper di atas genangan air.

“Bunda!”, teriakku menarik ujung bajunya.

“Jangan tinggalin Robbi Bun, Robbi nggak mau sendirian”, pintaku sambil menangis. Namun tak ada ekspresi yang terlihat di wajah bunda lalu melepaskan genggamanku.

“Robbi, Bunda harus pergi. Kamu tau kan bunda sama ayah sudah tidak bersama lagi, jadi Bunda harus mencari uang”, ucap bunda sambil mengelus lembut pipiku.

“Tapi Robbi tinggal dengan siapa jika tidak ada Bunda?”, balasku ingin menggenggam tangan itu namun bunda melepaskan sentuhannya.

“Tenang, nanti akan ada seseorang yang menjagamu”, lanjut bunda lalu berbalik dan melanjutkan perjalanan. Aku berlari berusaha menghentikan bunda namun jatuh terpeleset karena genangan air hujan yang licin. Sepertinya hujan malam ini telah meracuni pikiranku. Kepalaku terasa sangat berat. Tubuhku lemas saat mencoba bangkit. Kulihat lagi sosok bunda untuk terakhir kali yang samar-samar mulai ditelan oleh gelapnya malam.

“Bunda”, bisikku lirih sampai akhirnya kesadaranku menghilang di bawah rintikan air hujan.

 

Kubuka mataku perlahan, air matapun mengalir, sepertinya aku baru saja bermimpi buruk tapi ini bukan mimpi biasa, ini adalah dejavu. Ya, mimpi tentang kenangan masa pahitku saat bunda pergi meninggalkanku di sini di gubuk usang di pedalaman gunung ini. Katanya bunda adalah seorang seniman maka dari itu dia pergi ke negara tempat orang-orang yang gila seni yaitu Perancis. Sudah satu tahun semenjak aku tinggal di sini tapi aku sama sekali tidak merasa kesepian walaupun tidak ada sosok bunda di dekatku karena ada seseorang yang selalu senantiasa ada di sisiku.

“Robbi, Bibi akan pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Apa kau ingin ikut?”, tanya Bibi Archel.

Dirinya berdiri di luar di bawah sinar mentari pagi membuat senyum yang ia paparkan menjadi lebih hangat dari sebuah kopi yang dihidangkan saat hujan turun. Aku berlari ke arahnya lalu memeluk Bibi Archel.

“Tentu aku akan ikut ke manapun Bibi pergi”, jawabku.

Lalu Bibi memainkan rambutku. Inilah  hal yang paling aku sukai dari kebiasaan bibi dan menggandeng tanganku saat hendak pergi. Pepohonan hijau rimbun, suara aliran sungai jernih, kicauan merdu para burung yang singgah, dan panorama bukit yang menjulang tinggi sekaligus hawa yang sejuk sungguh menggiurkan mata ini. Aku ingat saat pertama kali datang kemari pasti aku selalu terjatuh saat melewati jalan curam lalu mencaci maki alam. Saat itu aku masih belum terbiasa dengan alam akan tetapi sekarang diriku telah sadar bahwa kehidupan di kota sangatlah jauh berbeda dari kehidupan di sini. Kota suasananya tidak setenang ini apalagi semenjak adanya virus Covid-19 yang merajalela, semakin mengekang kehidupan yang ada. Bahkan dulu aku juga sempat membenci Bibi Archel karena saat itu Bibi Archel tidak lebih dari orang asing yang tidak mempunyai hak untuk menggantikan posisi bunda. Tapi berawal dari situlah aku sadar bahwa pikiranku salah.

”Kita sudah sampai”, kata Bibi Archel membuyarkan diriku dalam dunia lain, mataku terpukau saat berada di puncak itu. Memang sejak awal ke tempat ini mata siapa yang tidak terpukau melihatnya karena dari sini kota terlihat dengan sangat jelas dan indah namun sepi bagai kota terbengkalai mungkin virus ini telah membuat seluruh penduduk terdiam dirumah.

”Robbi, Bibi ingin pergi sebentar untuk mencari kayu bakar. Kamu tunggu di sini dulu ya”, suruh bibi. Aku mengangguk mantap walau sebenarnya takut sendirian tapi tidak diungkapkan karena tidak ingin merepotkan bibi Archel. Aia memainkan rambutku sambil tersenyum lalu pergi ke dalam hutan. Sudah beberapa menit berlalu aku berjalan ke sana sini mencari sesuatu hal yang dapat menghilangkan rasa bosan yang menyiksaku sampai kutemukan sebuah batu besar di hadapanku. Melihat batu besar  itu membuat kenangan  tentang bunda terlintas kembali di benakku. Ketika kami melukis bersama saat diriku masih sangat kecil dan itu membuat dadaku sesak akan kerinduan. Kuambil salah satu kerikil di tanah kemudian membuat lukisan di batu tadi. Setiap suara goresan sungguh membuat jiwaku tenang dan membuncah hingga terciptalah sastra lukisan indah menggoda mata. Di sana terdapat lukisan Bunda dan Bibi Archel sedang memeluk memelukku yang berada di antara mereka.

“Robbi, kamu ngapain?”, Bibi mendadak berada di belakangku sambil menaruh dagunya di pundakku hingga membuat diriku terkejut.

“Bibi bikin kaget aja”, protesku. Bibi Archel menanggapinya dengan tertawa.

“Maaf”, lalu bibi melirik ke arah lukisan di batu tadi.

“wah…lukisan ini Robbi yang buat? Indah sekali”, puji bibi Archel.

”Terima kasih Bibi. Robbi memang suka melukis sejak kecil karena terbiasa melihat Bunda melukis”, ucapku kemudian menunjuk ke arah kota.

“Pemandangan kota dari atas sini bukankah sangat indah, andaikan aku memiliki peralatannya maka aku akan melukisnya. Terlebih sebentar lagi pergantian tahun pasti akan ada perayaan kembang api tahun baru, pasti indah dan seru kita akan melihatnya bersama kan Bi”, seketika wajah bibi Archel menunduk dan murung.

“Ada apa?”, tanyaku mengangkat pelan wajahnya dan menatap langsung dalam mata sayu itu dengan sorot mata nanar.

“Tidak apa-apa. Kita pasti akan melihatnya bersama”, jawab Bibi Archel.

Walaupun dirinya mengatakan bahwa semua baik-baik saja, namun hatiku mengatakan bahwa ada yang ia sembunyikan.

“Ya sudah Robbi pulang duluan saja ya nanti Bibi akan menyusul”, lanjutnya.

Aku langsung memeluk bibi Archel lalu berbisik di sebelah telinganya bagai angina.

“Jangan lama-lama ya…Ibu”, wajahnya terharu ketika mendengar kalimat itu.

“Robbi bolehkan memanggil bibi Archel dengan panggilan ibu, karena bagi Robbi Bibi sudah seperti keluarga Robbi sendiri. Lagi pula tidak semua hubungan kuat itu harus ada hubungan darah karena di dalam hubungan itu hanya butuh kasih sayang dan cinta saja, seperti hubungan antara ibu dan anaknya ini”.

Ibu Bibi yang selanjutnya aku panggil dengan nama “Ibu” tersenyum lebar namun kedua matanya digenangi air mata. Kita akan menangis bahagia, tampaknya kata-kata itu benar. Aku memeluk Ibu kemudian berlari menjauh menuruni lereng gunung,lambaian tangan kuberikan ketika kulihat samar-samar wajahnya yang tersenyum dari kejauhan.

 

“Ibu kok belum pulang ya”, gumamku. Diriku berjalan kesana-kemari sambil sesekali melihat ke arah pintu. Matahari telah bersembunyi digantikan oleh sang bulan, akan tetapi malam ini bulanpun bersembunyi di balik awan hitam yang menangis dengan derasnya. Hatiku sangat gelisah menunggu kedatangan sosok ibu hingga terdengar suara ketukan pintu bergema. Diriku langsung berlari ke pintu di sana kutemukan ibu berdiri membawa sekantong plastik hitam dengan pakaian basah kuyup di bawah guyuran air hujan.

“Ibu!”, teriakku membawa ibu ke dalam rumah. Kuselimuti tubuhnya yang menggigil kedinginan agar tetap hangat.

“Ibu dari mana sampai basah kuyup seperti ini?”, tanyaku.

“Ibu tadi pergi ke kota”

“Untuk apa Ibu pergi ke sana? Ibu taukan di kota virus Covid-19 sedang merajalela bahkan Ibu tidak menerapkan protokol kesehatan. Bagaimana jika virus itu…”

Shuttt… Jarinya bagai rem ketika menempel di bibirku. Ibu tersenyum kemudian memberikan plastik hitam tadi padaku.

“Bukalah”, suruh ibu.

Lalu saat melihat isinya, air mata mengalir di pipiku. Di dalam plastik itu terdapat berbagai macam peralatan melukis dan sebuah arloji. Kubuka arloji itu di dalamnya terdapat gambar ibu dengan diriku terpasang dengan indah. Diriku menjatuhkan diri dalam dekapannya yang hangat.

“Terima kasih Ibu”

Dan kami berdua terbawa oleh arus kasih sayang pada malam itu.

 

 

Ibu sakit! Itulah kenyataan pahit yang harus kuterima. Semenjak saat itu ibu mulai mengalami demam tinggi, batuk, pilek yang tidak segera kunjung sembuh. Telah lewat beberapa minggu, aku harus berjuang menghidupi kehidupan kami berdua seperti memasak, mencari bahan makanan, dan pekerjaan rumah lainnya. Lelah memang, namun melihat tubuhnya berbaring tanpa tenaga di atas ranjang itu membuat rasa lelah menjadi kawan akrab. Tetapi di waktu luang aku pasti akan melukis sebagai sarana refreshing, sudah banyak  lukisan yang kubuat ada pemandangan,hewan dan tumbuhan. Bahkan wajah bunda sebenarnya wajah ibu yang ingin kulukis pertama tapi aku harus menunggu sampai kemampuanku sempurna dan hari ini lukisan itu selesai. Lukisan ibu bersama diriku dengan latar pemandangan kota dari atas puncak.

Hari mulai senja saat diriku kembali ke gubuk dan betapa terkejutnya diriku ketika melangkahkan kaki ke dalam. Sesosok wanita menatap diriku dengan sorot matanya yang sangat kukenal yaitu bunda. Bunda langsung berlari memeluk diriku.

“Robbi, Bunda sangat merindukanmu Nak”, ucap bunda.

Pikiranku kosong. Bukankah seharusnya aku merasa senang?

“ Kenapa Bunda tiba-tiba kembali?”, tanyaku.

“Tentu untuk membawamu pergi ke Perancis”.

Mendengar pernyataan itu membuatku gundah jika meninggalkan ibu sendirian dalam keadaan sakit.

“Ayo, Bunda sudah menyiapkan segalanya”, ajak bunda. Tapi aku menjauh.

”Bolehkah aku berpamitan dengan bibi Archel sebelum pergi?”, pintaku.

Raut wajah bunda menjadi jengkel.

“Baiklah, tapi segera ya. Tadi dia bilang akan pergi ke puncak”.

Aku langsung berlari bagai angin malam mendaki lereng gunung yang gelap menuju puncak membawa lukisan ibu dengan arloji pemberian ibu di tanganku. Sesampainya di sana kutemukan ibu, namun wajahnya tak terlihat jelas karena sinar bulan.

“Ibu!”, teriakku mendekat ke arahnya. Sungguh suara yang sangat ingin didengar ibu itu dari anaknya namun harus ia tahan.

“Berdiri di situ! Robbi berhenti”

“Ibu …, apa Ibu masih sakit?”

“Aku baik-baik saja”

“Wajah Ibu tidak terlihat jelas apa aku boleh mendekat”

“Tidak boleh! Di situ saja”

Langkah kaki yang sudah selangkah pelan-pelan mundur.

“Aku…malam ini akan pergi ke Perancis”

“Sudah tau”

“Aku meminta hal tak masuk akal untuk dipertemukan dengan ibu”

“Bunda pasti sedih, jangan lakukan itu lagi, buat bundamu bahagia”

“Setelah sampai di Perancis, bolehkah aku menelepon Ibu?”, tanyaku.

“Tidak”

“Kalau surat?”

“Tidak, tidak perlu”

Air mataku bercucuran sambil menatap telapak kakinya sesaat.

“Berarti Ibu akan menengokku?”, tanyaku lagi.

“Jangan menunggu, pokoknya sebelum umurmu 20 tahun jangan pernah kembali ke sini”, suruh ibu cuek namun di dalam hatinya sangat terluka.

Aku menganggukan kepala, air mata masih terus berjatuhan.

“Apa masih ada yang ingin kau katakan? Jika tidak penting maka pergilah”, suruh ibu lagi lalu kumengulurkan lukisan yang kubawa dengan arloji pemberian ibu.

“Ini adalah lukisan ibu dengan diriku, mungkin jika ibu merindukanku maka ibu dapat memandangnya, dan jika aku merindukan ibu aku akan melihat arloji ini”, kataku sambil menaruh lukisan itu di tanah. Sepertinya ibu ingin menangis tapi ia tahan di pelupuk matanya.

“Sekarang cepat pergilah!”

Aku membalikkan badan. Diriku menangis meraung-raung memukul tanah dengan tumit.

“Berdirilah yang tegap. Kau harus lebih kuat dari sekarang dan jangan pernah melihat ke belakang”, teriak ibu.

Aku patuhi perintah ibu, berjalan menjauh ke dalam kegelapan hutan hingga saat terakhir dia tidak berbalik ke belakang. Ibu menjatuhkan dirinya di tanah, air mata yang menumpuk di pelupuk matanya pecah seketika dan jatuh ke tanah.

Maaf…maafkan Ibu Nak, sebenarnya Ibu juga ingin bersama dirimu lebih lama lagi tapi sayang Tuhan tidak mengizinkannya, karena ibu telah divonis positif Covid-19 jadi Ibu tidak ingin membebani dirimu lebih dari ini. Tapi ingatlah walau jarak memisahkan kita namun ikatan kasih sayang ini tidak akan pernah dapat putus bahkan oleh kematian sekalipun. Karena engkau adalah anak yang paling kubanggakan yaitu kamu anakku Robbi.

 

                                                                      ***

 

Akselerasi kembali lagi pada masa ini. Hujan telah berhenti dan dia alihkan tatapan dari arloji ke arah gundukan tanah di depannya.

“Ibu…aku telah kembali”, ucap Robbi.

Kini dia bukanlah bocah 10 tahun lagi melainkan seorang pemuda tampan berumur 20 tahun yang memakai setelan jas hitam.

”Lihatlah, aku sudah menjadi orang sukses. Aku adalah seorang seniman terkenal aku sudah membahagiakan bunda, apakah sekarang ibu telah bangga?” lanjut Robbi.

Menangis adalah yang ingin ia lakukan sekarang namun ditahannya dengan tetap tersenyum,karena ia tahu walau raga ibunya telah tiada tapi jiwanya berada di sini menatap dirinya dalam keheningan yang dingin. Tiba-tiba suara kembang api yang indah menghiasi langit malam kota hingga memecahkan lorong keheningan ini. Kota itu kini telah hidup kembali semenjak virus Covid-19 musnah dari muka bumi. Dia menyandarkan tubuhnya di sebelah nisan ibunya sambil memandang indah pemandangan kota pada malam tahun baru ini yang dipenuhi dengan senyum hangat dari setiap penjuru kota.

“Bukankah ini sangat indah Ibu? Akhirnya keinginanku untuk malam ini terwujud”, lanjutnya mengulang kenangan hangat bersama ibu yang mengalahkan dinginnya malam ini. Dari atas kota dia berteriak “SELAMAT TAHUN BARU UNTUK DUNIA YANG INDAH”, bersama dengan ibu yang senantiasa di dalam pikiran, hati, dan hatinya.

Ikuti tulisan menarik Abta Ibnati lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu