x

Iklan

Rafi Ferdiansyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 November 2021

Rabu, 8 Desember 2021 23:14 WIB

Toleran, Mahasiswa, dan Ferre Sapta Aji

Cerita pendek ini mengisahkan bergeliatnya ekosistem ideologi di Indonesia dalam hal praksis. Pokok dan inti cerita akan pembaca temukan jika ketuntasan dalam hal pembacaan terlaksana.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Amit pak.” (Permisi pak). Membungkuk badannya sembari memasang senyum ramah kepada jajaran orang tua yang sedang duduk di pos kamling, akan tetapi ekspresi wajah mereka beku dan sama sekali tidak responsif.

“Sudahlah Yan, orang kampung tidak menganggapmu sebagai orang yang layak dihargai.” Kata Ferre kepada Luyan.

Dua puluh tahun yang lalu, kakek Luyan dieksekusi di depan pasang mata puluhan warga kampungnya gegara kepergok mencuri televisi tabung dan penanak nasi. Memang sejak kakek Luyan dieksekusi, keluarga besar Luyan kerap dicap sebagai keluarga pencopet ataupun pencuri ulung di kampungnya.  Beban berat Luyan terwarisi oleh citra buruk dari keluarganya, hingga adik kecilnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Si tokoh utama bernama Ferre Sapta Aji. Kerap disapa Ferre. Merupakan seorang remaja berumur dua puluh tahun yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi layaknya teman-temannya. Ferre hidup di perkampungan sederhana dekat bantaran sungai tempat orang membuang sampah dan kotoran badan.

“Hilton tadi kesini mencarimu, kemana tadi?.” Tanya ayah Ferre.

“Biasa yah.” Jawab Ferre.

“Ke rumah dia lagi?.”

“Jangan larang aku. Kiranya diriku sudah dewasa.”

“Re, coba buka matamu. Kamu tau kan posisi ayah di kampung ini?.”

“Maaf yah, untuk itu tidak ada hubungannya sama ini.”

“Dengan kamu bareng dia, secara tidak langsung nama ayah perlahan kotor Re!.” Sentak ayahnya.

“Mengapa ayah dan orang kampung memperlakukan keluarga mereka seperti sampah?.”

“Memang mereka seperti sampah!.” Naik pitam ayahnya.

“Aku letih hari ini. Sebaiknya aku segera tidur.” Tutup Ferre lalu meninggalkan ayahnya.

Sesampainya di kamar, Ferre membaringkan badan capeknya di kasur kapuk kesukaannya. Tidak hanya itu, pikirannya pun capek bahkan melebihi badannya. Berbagai macam desakan dari sang ayah nyatanya mampu membuat Ferre semakin benci terhadap diskriminasi yang dilakukan oleh orang kampung. Ayah yang merupakan seorang RT barangkali ketika sekolah tidak pernah ikut upacara bendera tiap hari Senin. Nyatanya ia tidak hafal Pancasila. Apalagi memahami isinya. Sungguh kasihan.

Ferre dan orang kampung memiliki pemahaman yang berbeda dalam memperlakukan seseorang. Meskipun Luyan dan keluarganya dianggap sampah oleh orang kampung, nyatanya hal tersebut tidak membuat Ferre juga membenci mereka melainkan sebaliknya. Realitas sebenarnya adalah bahwa sebutan pencuri datang dari kesalahan masa lalu yang tidak pernah terjadi pada masa sekarang. Skeptis orang kampung nyatanya terbawa hingga sekarang.

Selain Luyan, orang kampung juga terlalu menjaga jarak terhadap keluarga imigran asal Papua untuk menetap tinggal di kampung Ferre. Bau busuk, perilaku hidup kotor, rambut yang seperti ijuk, dan muka jelek menjadi alasan utama bagi orang kampung untuk setidaknya menjaga jarak dengan mereka. Hal seperti inilah yang sangat Ferre benci. Perlakuan diskriminasi yang dilakukan oleh orang kampung membuat Ferre benci.

*

“Tidak bisa kurang sedikit kah ibu?.” Tawar Honde kepada sosok ibu penjual kangkung di pojokan pasar dekat sungai.

“Sudah pas. Kalau keberatan tidak usah diambil!.” Agaknya marah si ibu penjual kangkung tersebut.

Buk, kangkung telu until piro?.” (Bu, kangkung tiga until berapa?). Tanya pembeli lain kepadanya.

Limo ewu neng.” (Lima ribu ning)

Gak isok kurang Buk? Telu ewu tak jukuk.” (Tidak bisa kurang kah bu? Tiga ribu saya ambil). Tawar pembeli itu.

Wes gapopo neng, kene duwik e.” (Sudah tidak apa-apa ning, sini uangnya). Kata penjual itu sembari menyodorkan tangannya untuk meminta uang dari pembeli tersebut.

Honde kecewa. Si ibu penjual kangkung tidak menggubris tawaran dari Honde. Ia memalingkan wajah dan pergi meninggalkan ibu penjual kangkung tersebut. Semoga saja ia tidak berpikir meninggalkan negeri ini. Meskipun sudah bobrok, setidaknya ia bisa bertahan hidup dengan memanfaatkan SDA yang memang melimpah ruah di sini.

Di arah pertigaan kampung, ia bertemu dengan Ferre. Honde diam. Ferre menghampiri Honde yang diam ketika melihatnya. Ferre kini sudah berada di depan Honde, akan tetapi Honde tetap saja diam layaknya patung si bisu. Sapa Ferre kepada Honde. Ia menanyakan perihal kenapa ia terdiam sedari tadi. Honde menceritakan rasa kecewanya yang baru saja ia dapat. Ferre pun diam. Honde menepuk bahu Ferre.

“Fenomena seperti ini sudah lazim terjadi oleh kami Ferre. Bahkan di tanah tempat kami dilahirkan pun Ferre.” Kata Honde santai.

“Aku suka bingung. Kenapa ras orang hitam di sini jadi kaum hina layaknya etnik negro di Amerika.”

“Luyan ada di rumah kah Ferre? Aku mau menjenguknya. Kudengar ia sakit.”

“Mari ke sana.” Ajak Ferre.

*

Luyan sakit. Hal tersebut disebabkan oleh kelalaian dirinya dalam mencari kerang sungai tempo hari yang lalu. Ia terlalu lama merasakan kotornya sungai di samping kampungnya. Rotasi hidup seorang Luyan adalah menjual kerang sungai di pasar. Hal tersebut ia dan ayahnya lakukan bukan semata untuk membersihkan citra buruk keluarganya, melainkan memang pekerjaan yang bisa ia lakukan demi menyambung hidup di Surabaya yang keras ini.

Citra buruk  di masa lalu oleh almarhum kakeknya pada kenyataanya sama sekali tidak hilang dalam benak masyarakat. Keluarga maling. Keluarga sampah. Keluarga biadab. Sebutan semacam itu laku untuk dikonsumsi masyarakat kampung. Bahkan sekelas RT, RW, hingga anak kecil sekalipun. Padahal apa yang almarhum kakek Luyan lakukan tidaklah lebih biadab dari perilaku maling rakyat.

“Akhir-akhir ini aku merasa bahwa diriku sering sakit-sakitan. Entah hal apa yang membuat diriku seperti ini.” Keluh Luyan yang sedang berbaring di atas tikar.

“Barangkali dirimu perlu ke puskesmas.” Jawab Ferre.

“Sejak aku sakit. Dagangan kami menjadi berantakan. Mengingat ayahku sekarang tidak begitu kuat berjualan lagi. Beliau sudah sepantasnya beristirahat sembari menungguku memberi upah.”

“Andai saja diriku ini bisa bersekolah tinggi layaknya Hilton. Dan andaikan saja dengan tingginya sekolah membuat diriku sukses layaknya ayah Hilton. Sudah pasti diriku ini akan menggaransikan kesehatanmu dan juga ayahmu Luyan.” Kata Honde secara gamblang.

*

Pada kesempatan kali ini, Hilton mengajak Ferre bermain ke kampusnya. Hilton kuliah di universitas terbaik yang ada di kota Malang. Rupanya ia kangen terhadap sohib di kampung halamannya. Setidaknya sudah 1 tahun lebih Hilton tidak sambang sama sekali ke kota pahlawan. Ayah dari Hilton merupakan seseorang yang memuluskan jalan bagi ayah Ferre untuk duduk di kursi RT. Pendidikan tinggi yang menjulang ke langit membuat apapun menjadi mudah bagi ayah Hilton.

Kenyataannya ialah bahwa rumah Hilton dan Ferre cukup jauh, bahkan beda kampung. Jika Ferre tinggal di kampung dekat bantaran sungai, maka Hilton tinggal di komplek mewah yang berjarak empat kampung dengan kampung Ferre. Meskipun rumah mereka jauh, hubungan pertemanan mereka tidaklah jauh layaknya jarak rumah keduanya.

“Kenapa tidak lanjut kuliah Re?.” Tanya Hilton.

“Aku takut merepotkan ekonomi keluargaku Ton.” Jawab Ferre santai.

“Kalau mau, ayahku bisa membuat rekomendasi untukmu.” Tawar Hilton.

“Rekomendasi apa Ton?.” Tanya Ferre.

“Rekomendasi agar bisa kuliah tanpa bayar.”

“Memang apa yang membedakan antara SMA dan Universitas Ton?.”

“Kami dituntut untuk bisa menerapkan ilmu yang kami dapat.”

“Terus?.”

“Karena aku anak hukum, maka aku bisa membela masyarakat yang membutuhkan advokasi hukum dan jeratan pasal.”

“Siapa masyarakat yang kamu maksud Ton?.”

“Ya masyarakat Indonesia lah Re”

“Apakah hanya itu saja keunggulan dalam berkuliah Ton?.”

“Ada lagi. Di kuliah kami juga dituntut untuk bisa berpikir kritis.” Kata Hilton dengan yakin.

“Kritis seperti apa Ton?.”

“Kritis dalam artian bisa memahami suatu fenomena.”

“Memahami seperti apa Ton?.”

“Ya setidaknya suatu fenomena tidaklah dipandang sekilas, akan tetapi bisa dipandang secara menyeluruh dan konkret.”

“Adakah keunggulan lain selain yang kamu sebut tadi Ton?.” Tanya lagi Ferre.

“Kami sebagai mahasiswa merasa bangga karena peka terhadap masyarakat dan mampu mengawal negeri Re.”

“Bangga dalam rangka apa Ton?.”

“Dari kami lahir sebuah solusi, pemecahan masalah, perubahan, perbaikan sistem tatanan negara, dan lain sebagainya.”

“Dari apa yang kamu sampaikan tadi. Aku mendengarnya hanya sebagai buah teori saja Ton.”

“Coba kamu lihat di berita. Mahasiswa Malang termasuk kampusku tempo lalu melakukan aksi untuk membela pedagang kaki lima yang mendapat perlakuan kasar oleh Satpol PP. Tidak hanya itu saja, banyak sekali aksi yang dilakukan oleh mahasiswa di seluruh penjuru Indonesia dalam rangka memperbaiki kondisi bangsa Re.”

“Aku tidak mempertanyakan soal itu Ton.”

“Lantas apa yang kamu maksud?.”

“Tidak perlu jauh-jauh ke rakyat. Cobalah untuk melihat lingkungan sekitarmu dahulu.”

“Memang ada apa di lingkungan sekitarku Re?. Semua baik-baik saja kukira.”

“Harusnya sebagai mahasiswa kamu peka.”

“Kamu pasti tau Luyan dan Honde kan?.” Tanya Ferre.

“Kenapa kamu menyebut si sampah itu?.”

“Kenapa kamu menyebut dia sampah?!.” Mulai naik pitam Ferre.

“Karena dia keturunan pencuri dan orang negro.” Tegas Hilton.

“Hanya karena dia keturunan pencuri kecil saja kamu berani menyebutnya sampah dan merendahkannya. Sedangkan kamu lebih menghargai pencuri besar yang melalap uang rakyat dengan cara berpakaian sopan dan bertutur kata halus. Dimana makna dari apa yang kamu sebut tadi Ton?.”

Keduanya berdebat. Tak kunjung usai. Hingga matahari sore pun perlahan membenamkan dirinya. Seolah ia tak rela menyinari negeri yang sudah bobrok ini. Hidayah Tuhan beberapa kali diumbar. Masalahnya adalah manusia tidaklah tahu cara mengambilnya.

*

Fenomena di negeri tempat Ferre lahir nyatanya kurang adanya rasa toleran terhadap masyarakat yang memiliki citra buruk. Mereka menganggap bahwa toleran hanya sebatas kepentingan agama, pendapat, atau musyawarah saja. Toleran dalam fenomena ini tidaklah lain perlu dianggap sebagai sebuah pengayoman antar sesama masyarakat. Buruknya ialah mereka menganggap pencuri kecil sebagai sampah dengan merendahkan dan memperkucilkannya. Sedangkan mereka menganggap pencuri besar yang melalap uang rakyat dengan berpakaian sopan dan bertutur kata halus.

Pancasila bahkan hanya dipahami sebagai teori. Mahasiswa pun begitu. Indonesia pandai mencetak bibit unggul yang mahir. Tentunya mahir dalam hal berbicara. Kata Hilton, mahasiswa adalah agen perubahan. Darinya lahir sebuah solusi, pemecahan masalah, perbaikan, perubahan sosial, pembelaan atas yang lemah, hingga perbaikan sistem kenegaraan. Harapannya ialah semoga apa yang disebut Hilton di atas mampu diimplementasikan secara generik. Tidak perlu jauh memandang rakyat jika lingkungan sosial di sekitar saja masih berantakan dan amburadul.

-Selesai-

 

 

(Rafi Ferdiansyah, 2021)

Ikuti tulisan menarik Rafi Ferdiansyah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler