x

Iklan

Rafi Ferdiansyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 November 2021

Rabu, 8 Desember 2021 22:50 WIB

Bukan Kasus Orang Gila

Cerita pendek ini mengisahkan tentang rumitnya interogasi oleh kepolisian terhadap Setya Hawa. Pokok dan inti cerita akan pembaca temukan jika ketuntasan dalam hal pembacaan terlaksana.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“Kapan anda mulai melakukannya?.” Tanya opsir tersebut. Ia terlihat seperti memasang kuda-kuda untuk mengayunkan bilah besi kecil ke arah kepala Setya Hawa. Itu ia lakukan jika Setya Hawa tidak mengaku.

“Dua tahun lalu.” Santai Setya Hawa.

“Kenapa anda melakukan itu?.”

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Entahlah.”

Prang!!

Opsir rendahan itu memukul kepala Setya Hawa. Ritme yang diayunkannya sangat kencang. Layaknya ayunan smash Lin Dan. Kepala Setya Hawa bocor bagian kirinya. Ia tak menunjukkan rona wajah kesakitan. Justru sebaliknya. Teman opsir rendahan tersebut kemudian datang. Ia menghajar Setya Hawa yang senyum malang. Babak belur. Luka tadi sore kini bertambah. Ia pingsan. Kekuatan otot kedua opsir rendahan tersebut mampu membuat pingsan orang kurus.

Keesokan harinya. Penanganan kasus Setya Hawa mengalami perubahan. Teknik interogasi semalam tidak berhasil. Kini diubah menjadi interaksi. Bukan opsir kemarin yang bertugas. Tetapi ahli psikiater. Rupanya Kepolisian Wonoayu menganggap Setya Hawa gila. Psikiater datang ke ruang rawat Setya Hawa. Penghajaran semalam nyatanya membuat kakinya lumpuh. Maka dari itu ia didatangi, bukan mendatangi. Mirip seperti bos.

“Siapa saja yang saudara bunuh?.” Tanya psikiater dengan nada lembut.

“Kekasih saya.” Enteng Setya Hawa.

“Semuanya?.”

“Benar.”

“Kenapa saudara membunuh mereka?.”

“Entahlah.”

“Baiklah.”

“Berapa lama setidaknya saudara menjalin hubungan dengan satu orang kekasih?.” Tanyanya lagi.

“Tak sampai satu hari.”

“Dari mana saudara kenal mereka?.”

“Karimun. Sahabat saya. Beberapa juga berasal dari Dolly dan tenda biru.”

“Berapa kali saudara menjalin hubungan kekasih?.”

“Lima puluh lebih.”

“Baik. Terima kasih atas responnya. Saya pamit.” Kata psikiater tersebut sembari membereskan buku dan catatan yang dibawanya.

“Kamu cantik. Mau jadi kekasih saya?.” Rayu Setya Hawa dengan wajah genit pembunuh.

“Jangan kurang ajar!.” Marah psikiater itu lalu meninggalkan Setya Hawa yang tersenyum sendiri bagai orang gila.

Kasus sementara ini masih pada tahap proses penyelidikan. Entah ia akan membusuk di tahanan. Entah pula ia akan dilempar ke laut Nusa Kambangan. Semua tak ada yang tau akan nasibnya ke depan. Sungguh malang.

Kasus ini adalah pembunuhan. Pelakunya ialah Setya Hawa. Korban pembunuhan ditemukan pada sebuah sumur dekat dapur. Di atas penutup sumur itu terdapat kardus berisi terasi. Seolah ia sengaja mengecoh tamu yang sekadar numpang kencing agar tak curiga. Jika ditanya mengenai bau busuk di area dapur. Maka ia dapat menjawab bahwa itu adalah bau terasi. Sesederhana dan seenteng itu.

Di sumur itu tertimbun banyak sekali mayat. Dominannya adalah perempuan. Bahkan terdapat beberapa mayat yang sudah menjadi tulang. Hal itu sulit untuk diidentifikasi. Ia memulai aksinya dua tahun yang lalu. Terburuknya bahwa semua korban adalah kekasihnya. Ia selalu saja menjawab “entahlah” ketika ditanya mengenai alasan. Hal tersebut membuat tim penyelidikan bekerja lebih lama. Bahkan ia hampir mati gegara dihajar lima algojo karena tak sopan terhadap psikiater tadi. Di sela penghajaran itu pun tak terlewatkan pula momen pengulangan pertanyaan itu. Tetapi tetap saja ia berkata “entahlah”. Barangkali hingga kiamat pun akan tetap seperti itu. Tak akan ia ubah dan berubah. Itu ia lakukan atas dasar tak tahu.

“Belum selesai. Besok kami akan lanjut interaksi lagi.” Kata psikiater kepada kepala polisi.

“Apa saja yang diperlukan?.” Tanya kepala polisi.

“Kami perlu interaksi dengan teman dekatnya. Namanya Karimun.”

“Siap laksanakan. Besok jam berapa?.”

“Jam 10 pagi.”

*

Agaknya perkataan polisi bahwa ia gila agak benar adanya. Baru dua hari ia disini. Nyatanya gejala tidak warasnya mulai ia tunjukkan. Ia suka berbicara sendiri. Bahkan ia sering menjerit ketika tidur. Barangkali ia bermimpi buruk. Lebih buruk daripada kondisi lukanya saat ini. Tidak hanya itu. Baru saja ia menjerit sembari berkata “pergilah!” ketika melihat perawat menyuguhkan makan padanya. Kata perawat ia gila. Akan tetapi kata psikiater tidak.

Karimun datang. Humas polisi menyuruhnya untuk tidak bertemu dengan Setya Hawa. Dua sahabat ini tidak ditakdirkan bertemu hari ini. Tak lama kemudian psikiater pun datang. Polisi agak terkejut. Psikiater hari ini lain dari kemarin. Kelanjutan ini diganti oleh Bayu, kawan dari Nurin, psikiater yang sempat dirayu oleh Setya Hawa kemarin. Agaknya psikiater cantik itu takut. Dengan wajah cantiknya ia tak mau bernasib sama seperti kekasih Setya Hawa. Mengingat Nurin sempat melihat data foto korban. Mereka semua cantik. Katanya “Kasihan, orang secantik mereka bernasib tragis di sumur”. Semua tak ada yang tau. Nasib manusia ada di tangan Yang Maha Tahu.

“Sudah berapa lama anda berteman dengannya?.” Tanya Bayu.

“Sejak kecil.” Jawab Karimun.

“Bagaimana tanggapan anda terkait kasusnya?.”

“Saya tidak menyangka dia akan berbuat sekeji itu.”

“Sejak kapan dia berkepribadian aneh?.”

“Dua setengah tahun yang lalu.”

“Bagaimana keanehan yang anda ketahui?.”

Karimun bercerita panjang. Ia menerangkan pengalamannya bersama Setya Hawa. Seolah ini adalah nostalgia. Sungguh dilema rasanya. Bayu menangkap serius omongan Karimun. Ia menangkap dengan cara menulis cepat. Pendengaran seorang psikiater patut diapresiasi. Beginilah kiranya isi dari penjelasan Karimun:

3 tahun yang lalu.

Seorang berkumis mendekat. Ia menuju ke ruang administrasi. Rupanya cerah seperti cahaya. Berwibawa laksana perwira muda. Kumisnya yang tipis mengundang rasa suka. Kemeja wanginya membuat candu para wanita.

“Ay. Kita makan bareng di kantin.” Ajaknya yang masih memegang gagang pintu ruang administrasi.

Seorang dengan rambut hitam terurai menghampiri ajakan itu. Wajahnya bening laksana kaca. Tubuh moleknya laksana gitar Italia. Bibir merahnya memikat mulut para pria untuk mengecupnya. Sungguh sempurna.

Mereka adalah pasangan romantis adam hawa. Si lelaki bernama Setya Hawa. Si perempuan bernama Aydana Ningsih. Hubungan kasmarannya sudah terjalin lima tahun. Waktu yang relatif lama. Utamanya untuk sekelas pekerja. Sesampai di kantin. Dilepasnya genggaman tangan oleh Setya Hawa. Ia menarik kursi. Mempersilahkan Aydana Ningsih duduk. Mirip seperti drama roman kerajaan. Semangat romantis mereka menyala. Bagai arang yang membara.

Tiga bulan setelahnya. Mereka berpisah. Aydana Ningsih berkata bahwa Setya Hawa tak pantas menjadi suaminya kelak. Kalimat itu ia teruskan dari ibunya. Sungguh kejam. Setya Hawa marah. Ia luapkan dengan cara menangis di depan Aydana Ningsih. Dibungkukkannya badan kurus itu. Laksana prajurit. Aydana Ningsih tak menggubris permohonannya. Ia pergi acuh. Menanggalkan luka dalam bagi Setya Hawa. Setya Hawa pun pergi keluh. Membawa luka dalam yang diberi oleh Aydana Ningsih. Selepas itu dirinya dihantui rasa berpikir penasaran. Mengapa Aydana Ningsih tidak mengusahakannya terhadap ibunya. Bahkan ia tak sedih ketika mengatakan itu. Nada bicara Aydana Ningsih bahkan mirip seperti orang masjid memberikan informasi terlihatnya hillal di malam 1 Syawal. Tidak menyiratkan duka apapun. Seminggu setelahnya. Aydana Ningsih menikah. Dengan motivasi oleh Karimun ia dapat tenang. Meskipun ia masih saja kepikiran soal mantannya. Terutama tiap malam. Ia selalu menjerit. Hal itu Karimun ketahui setelah Setya Hawa berpisah dengan kekasihnya. Sungguh malang nasibnya.

Tiga hari berikutnya. Ia putus kerja. Alasannya adalah tidak mau melihat Aydana Ningsih lagi. Ia memutuskan untuk tidak melihat pabrik itu lagi. “Entah kenapa, saat ini diriku tidak fokus kerja” jawaban yang keluar ketika tetangganya bertanya. Ia senang memutuskan untuk menganggur. Bahkan untuk sekadar mencukur jenggot saja ia malas. Hari-harinya kini membosankan. Tak lama setelahnya. Sosok Karimun menawarkan teman perempuannya. Alasan logis Karimun agar kawannya tak kesepian. Setya Hawa sepakat. Ia kemudian menjalani hari-hari normal. Karimun menjadi pemasok perempuan paling banyak bagi Setya Hawa. Itu ia lakukan agar kawannya tak gila. Ketika stok habis, maka Dolly dan tenda biru adalah pelariannya. Jika lelaki jatuh dalam cinta. Dirinya akan menghamba terhadap kekasihnya. Terburuknya jika keos adalah gila. Bahkan bunuh diri. Pengetahuan itu Karimun dapat di koran.

*

2 tahun setelahnya.

Seseorang masuk ke rumah tua. Ia menuju ke arah sumur. Tempat itu dekat dengan dapur dan kamar mandi. Terlihat ia sedang menyeret karung berisi mayat. Mirip seperti orang menyeret karung beras. Ia buka sumur tua itu. Diceburkannya karung berisi mayat itu ke dalam sumur. Setelahnya ia tertawa. Seolah bangga dengan perilaku biadabnya. Ditutupnya kembali sumur itu. Di atasnya diletakkan sebuah kardus berisi terasi. Ia lalu pergi ke kamar.

“56. Rasanya sudah cukup banyak.” Gumamnya sembari telanjang di depan cermin.

“Aku tak tau kenapa perlakuan biadab ini membuatku bangga.” Gumamnya lagi.

“Entahlah apa yang mendorongku sebiadab ini?.” Tanya dia pada dirinya.

“Jujur. Gegara ini aku tak ingin masuk penjara. Siapa yang memuaskan hasratku ketika dikurung nanti?. Ah sudahlah. Semoga aku aman” Tutupnya lalu tidur, tanpa busana.

Ia bangun. Dirinya kemudian menyadari dalam kondisi tersekap di mobil polisi. Tentunya sudah berbusana. Para polisi kreatif dengan memakaikan sarung berukuran besar sebagai busananya. Sungguh malang. Entahlah. Kenapa polisi bisa tau?. Utamanya ialah mengenai kasus dan alamat rumahnya.

-Selesai-

 

 

(Rafi Ferdiansyah, 2021)

Ikuti tulisan menarik Rafi Ferdiansyah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler