x

Camat Teras Mustakim (membawa bendera start) sesaat akan memberangkatkan jalan sehat memperingati hari sumpah pemuda di Lapangan Teras, Selasa (29/10/2019).

Iklan

Darren
Bergabung Sejak: 9 Desember 2021

Kamis, 9 Desember 2021 15:45 WIB

Peran Pemerintah, Pendidikan, dan Orang Tua dalam Mewujudkan Generasi Emas Indonesia Tahun 2045

Artikel ini membahas tentang peran peran pemerintah, pendidikan, dan orang tua dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia Tahun 2045. Pada tahun 2045 nanti, Indonesia akan mengalami bonus demografi, dimana 70% jumlah penduduk Indonesia berada dalam usia produktif. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2020, jumlah pemuda Indonesia yang berusia 16-30 tahun mencapai 64,50 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk pemuda yang tersebut, Indonesia mempunyai peluang untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang besar. Indonesia berpeluang masuk ke 5 negara di dunia dengan ekonomi terbesar pada tahun 2045 mendatang.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ditulis oleh: Darren

Peran Pemerintah, Pendidikan, dan Orang Tua dalam Mewujudkan Generasi Emas Indonesia Tahun 2045

Masa depan bangsa Indonesia ada di tangan para pemuda. Bahkan Ir. Soekarno selaku presiden pertama bangsa Indonesia pernah berkata, "Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia". Ucapan tersebut mengindikasikan bahwa peran pemuda sangatlah penting, karena sejatinya merekalah yang akan menjadi penerus bangsa Indonesia. Pemuda adalah agen perubahan bagi bangsa Indonesia, yang akan membawa negara Indonesia dari negara berkembang menjadi negara yang maju.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pada tahun 2045, Indonesia akan mengalami bonus demografi, dimana 70% jumlah penduduk Indonesia berada dalam usia produktif (15-64 tahun). Jika Soekarno menyebutkan bahwa 10 pemuda saja dapat mengguncangkan dunia, maka seharusnya ribuan pemuda di Indonesia saat ini bisa melakukan lebih daripada hanya mengguncangkan dunia saja. Tetapi yang menjadi permasalahannya adalah bukan tentang kuantitas pemuda yang dimiliki bangsa Indonesia, akan tetapi bagaimana menciptakan pemuda-pemuda bangsa yang memiliki kualitas untuk memajukan bangsa. Karena jika hanya tentang jumlah pemuda yang banyak tanpa memiliki kualitas yang baik hal itu akan menjadi percuma. Oleh sebab itu, bonus demografi yang dialami oleh Indonesia harus diinisiasi dengan sebaik-baiknya sehingga dapat memberikan dampak positif seperti meningkatkan laju perekonomian negara.

Untuk membentuk pemuda sebagai penerus bangsa di masa mendatang dibutuhkan Kerjasama dari berbagai pihak seperti: pemerintah, institusi pendidikan, orang tua, dan diri pemuda itu sendiri. Dari sudut pandang sosiologis, hal ini dapat dilihat melalui teori fungsionalisme structural dari Talcott Parsons. Menurut analisis fungsional, masyarakat merupakan satu kesatuan utuh yang terdiri atas bagian-bagian yang berhubungan yang saling bekerjasama. Asumsi dasar dari teori ini yaitu bahwa masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan.

Peran Pemerintah

Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2020, jumlah pemuda Indonesia yang berusia 16-30 tahun mencapai 64,50 juta jiwa, atau dengan kata lain 1 dari 4 Penduduk Indonesia adalah pemuda. Dengan jumlah penduduk pemuda yang mencapai seperempat jumlah keseluruhan dari total penduduk saat ini, Indonesia mempunyai peluang untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang besar. Indonesia berpeluang masuk ke 5 negara di dunia dengan ekonomi terbesar pada tahun 2045 mendatang. Pada tahun 2045, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 309 juta orang dengan angka Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mencapai 29 ribu dolar AS per tahun. Dengan demikian, Indonesia mempunyai peluang untuk dapat menikmati 'bonus demografi', yaitu percepatan pertumbuhan ekonomi akibat berubahnya struktur umur penduduk yang ditandai dengan menurunnya rasio ketergantungan (dependency ratio) penduduk non-usia kerja kepada penduduk usia kerja.

Kualitas pemuda Indonesia akan menjadi salah satu penentu untuk mewujudkan peluang tersebut. Dengan demikian, investasi pada kelompok pemuda saat ini akan menentukan dividen yang diraih Indonesia pada masa mendatang. Investasi pada peningkatan kualitas pemuda merupakan salah satu kegiatan prioritas dalam pembangunan SDM di Indonesia. Untuk menciptakan pemuda yang berkualitas, tidak hanya diartikan membangun individu pemuda semata, tetapi juga harus membangun lingkungan sekitar yang menjadi sumber kehidupan mereka. Oleh karena itu, pembangunan pemuda harus bersifat lintas bidang yang meliputi aspek pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, pekerjaan, partisipasi politik, dan kesetaraan gender. Dalam membangun pemuda juga harus memperhatikan prinsip bahwa posisi pemuda adalah objek sekaligus subjek pembangunan. Selain itu hal yang harus diperhatikan adalah kondisi antarindividu atau kelompok pemuda itu tidak sama, jadi harus dipastikan bahwa hasil dari pembangunan pemuda bisa dinikmati oleh semua orang.

Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menanggap bahwa pembangunan pemuda sangat menentukan kesuksesan pembangunan SDM yang unggul dan berdaya saing dengan indikator Indeks Pembangunan Pemuda (IPP). IPP disusun berdasarkan tiga lapisan domain pembangunan pemuda yang menjadi ruang lingkup IPP, yaitu pembangunan individu, pembangunan penghidupan dan kesejahteraan, serta partisipasi dan diskriminasi terhadap pemuda di berbagai bidang

Berikut penjelasan dari masing-masing lapisan domain pembangunan pemuda yang menjadi ruang lingkup IPP:

1. Lapisan Pembangunan individu

Peningkatan pendidikan, kesehatan, dan ketersediaan ruang publik yang aman merupakan komponen pembangunan individu pemuda yang penting untuk diperhatikan. Dalam pengukuran IPP, indikator terkait komponen- komponen ini dikelompokkan ke dalam dua domain, yaitu pendidikan serta kesehatan dan kesejahteraan.

2. Lapisan Pembangunan Penghidupan dan kesejahteraan

Hal mendasar yang harus dilakukan untuk membangun penghidupan dan kesejahteraan pemuda adalah meningkatkan akses mereka terhadap lapangan dan kesempatan kerja. Terdapat satu domain dalam lapisan ini yang disebut dengan domain lapangan dan kesempatan kerja.

3. Lapisan Partisipasi dalam berbagai bidang kehidupan

Peran pemuda sebagai subjek pembangunan tecermin pada lapisan terluar kerangka kerja IPP yang terdapat dalam domain partisipasi dan kepemimpinan. Lapisan ini juga mencantumkan aspek gender dan diskriminasi untuk memastikan terwujudnya kesetaraan pembangunan bagi kelompok pemuda marginal.

Peran Pendidikan

Dunia pendidikan mempunyai peranan penting dalam menciptakan pemuda sebagai generasi emas 2045. Untuk menciptakan pemuda berkualitas tidak dapat dilakukan secara instant, tetapi dibutuhkan proses Panjang yang dimulai dari pembinaan saat mereka masih sekolah. Dalam rangka menyiapkan bangkitnya generasi emas Indonesia diperlukan pembangunan pendidikan dalam perspektif masa depan, yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkualitas, maju, mandiri, dan modern, serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Keberhasilan dalam membangun pendidikan akan memberikan kontribusi besar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional secara keseluruhan. Untuk itu, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membuat peta jalan yang memuat kebijakan strategis tahapan-tahapan dalam pencapaian kualitas pendidikan tahun 2016 hingga tahun 2045 yang sesuai dengan sasaran pembangunan nasional.

Berdasarkan peta jalan yang dibuat Kemendikbud, untuk mewujudkan cita-cita Bangkitnya Generasi Emas 2045, arah kebijakan pendidikan diprioritaskan pada pendidikan usia dini yang digencarkan sampai ke desa-desa, dan pendidikan dasar dan menengah yang berkualitas dan merata. Rehabilitasi gedung-gedung sekolah yang sudah tak layak pakai dan pembangunan gedung-gedung sekolah secara besar-besaran. Intervensi peningkatan angka partisipasi kasar (APK) untuk SMA dan atau sederajat dengan target sebesar 97% tahun 2020. Yang diperkirakan jika tanpa intervensi baru akan mencapai 97% tahun 2040. Peningkatan APK perguruan tinggi dengan meningkatkan akses, keterjangkauan dan ketesediaan. Kemudian dari berbagai program di atas diharapkan akan terbentuknya output yang berupa generasi cerdas komperhensif, yaitu produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul.

Peran Orang Tua

Orang tua memiliki peranan yang tidak kalah penting dalam menciptakan pemuda hebat masa depan bangsa. Orang tua seharusnya memiliki hubungan yang lebih intim dengan anaknya dibandingkan dengan siapapun. Orang tua adalah agen sosialisasi primer yang pertama kali mengajarkan nilai-nilai dan norma kehidupan kepada anaknya. Proses sosialisasi yang berhasil dari orang tua dapat menciptakan anak yang nantinya akan ketika beranjak dewasa.

Selain itu, orang tua yang supportive dapat memberikan dampak yang besar bagi kesuksesan pemuda. Supportive disini dapat diartikan orang tua yang mendukung minat dan bakat yang disukai anaknya. Orang tua juga harus memperhatikan kesehatan mental anaknya, terutama di usia remaja yang mana mereka sangat rentan terhadap kesehatan mental. Orang tua juga bisa menjadi teman bercerita anaknya ketika mereka menghadapi berbagai masalah di dalam kehidupan, sekaligus memberikan saran ataupun nasihat untuk anaknya. Hal-hal seperti ini sangat dibutuhkan seorang anak dan mendorong mereka untuk menjadi semangat meraih kesuksesan.

Kesimpulan

Dalam membentuk pemuda yang berkualitas, diperlukan sinergitas antara pemerintah, institusi pendidikan, dan juga orang tua. Hal ini ditujukan untuk memanfaatkan bonus demografi yang tengah dialami Bangsa Indonesia, sekaligus mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 sebagai milestone 100 tahun pasca Indonesia merdeka. Harapannya, para pemuda Indonesia dapat membuat negara Indonesia menjadi negara yang besar, maju, bermartabat, dan disegani oleh negara-negara lain.

DAFTAR PUSTAKA

Bappenas. (2019). Indeks Pembangunan Pemuda Indonesia 2019. Jakarta: Kementrian PPN/Bappenas.

Kemendikbud. (2017). Peta Jalan Generasi Emas Indonesia 2045. Jakarta: Kemendikbud RI.

Wirawan, IB. (2012). Teori-Teori Sosial dalam Tiga Paradigma. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Ikuti tulisan menarik lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu