Meski Bergelimang Investasi, Namun Morowali Masih Krisis Listrik - - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi pemadaman listrik. Sumber foto: makassar.terkini.id

Chika Lestari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

Minggu, 12 Desember 2021 11:02 WIB

  • Topik Utama
  • Meski Bergelimang Investasi, Namun Morowali Masih Krisis Listrik

    Perputaran uang pun terbilang tinggi seiring berkembangnya sektor usaha lain di sekitar jalanan menuju kawasan industri Morowali. Ekonomi terlihat bertumbuh di daerah Kabupaten Morowali. Namun, ternyata Morowali masih memiliki permasalahan krisis listrik.

    Dibaca : 394 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Seperti yang kita tahu, listrik tak hanya berperan penting di kehidupan rumah tangga ataupun sebagai penerangan lampu-lampu jalan di daerah, namun juga digunakan pada skala besar seperti perindustrian termasuk di daerah-daerah luar Pulau Jawa.

    Seperti daerah Morowali, Sulawesi Tengah yang mempunyai kawasan industri Obvitnas (Objek Vital Nasional) hingga Proyek Strategis Nasional (PSN) yaitu PT IMIP (Indonesia Morowali Industrial Park). 

    Meski secara ketersediaan listrik, PT IMIP tidak terganggu secara langsung karena memiliki PLTU tersendiri demi menunjang pemasokan listrik setiap harinya, namun daerah Morowali nyatanya masih krisis listrik.

    Bahkan, saking sudah mengganggunya pemadaman bergilir ini, masyarakat Morowali yang diwakili oleh Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Morowali (AMMM) dan Aliansi Pelanggan Listrik Menggugat (Pelita) Morowali melakukan aksi unjuk rasa ke pihak pemerintah setempat pada November 2021. Mereka semua ingin krisis listrik ini segera diatasi. 

    Bisa Saja PLTU Swasta Salurkan Listrik ke Warga, Namun..

    Namun tidak bisa dilakukan begitu saja. Dalam pendistribusian listrik oleh PLTU dari sektor industri, tentunya dibutuhkan kerja sama antara PLTU dengan pihak pemerintahan terutama PLN. Diketahui selama ini PLN juga melakukan jual beli listrik lewat Penandatangan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) yang diatur melalui Kementerian ESDM.

    Padahal, ketidakstabilan penyediaan listrik di daerah sekitar bisa memberikan efek domino kepada kegiatan yang ada di perindustrian.

    Diketahui, dengan adanya pengembangan kawasan industri Morowali yang baru hadir selama kurang dari 10 tahun terakhir sudah bisa berkontribusi kepada pendapatan daerah, hingga mengantarkan Morowali menjadi daerah dengan PDRB tertinggi se-Sulteng di 2020.

    Perputaran uang pun terbilang tinggi seiring berkembangnya sektor usaha lain di sekitar jalanan menuju kawasan industri Morowali. Diketahui, hingga 2020 telah tumbuh 129 perusahaan dan 2.261 sarana perdagangan baik itu toko hingga warung. Ekonomi terlihat bertumbuh di daerah kabupaten Morowali.

    Tentu saja, bila kegiatan warga sekitar yang juga merupakan pekerja di kawasan industri Morowali terganggu, bukankah akan berakibat pada kegiatan perekonomian hingga perindustrian yang kini sedang terbangun di Morowali. Memang seharusnya, krisis listrik ini segera mendapatkan jawaban atas upaya penyelesaiannya.

    Ikuti tulisan menarik Chika Lestari lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.