Bintang Kecil, Bidadari Surgaku - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sakinah Risfayanti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 November 2021

Minggu, 12 Desember 2021 14:05 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Bintang Kecil, Bidadari Surgaku


    Dibaca : 873 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Selamat datang Januari 2021, selamat tinggal Desember. Rasanya tak sabar menungu pergantian siang menuju malam. Setiap hari tak pernah terlewatkan untuk menatap kalender yang ada dalam telepon genggamku.

    Hari itu tepatnya Hari Jum'at. Matahari mulai terbit dari ufuk timur. Rasanya perut ini mulai merasa kesakitan pertanda akan lahirnya bintang kecil yang telah lama didambakan. Dengan bersegera kami bersiap menuju rumah sakit bersalin. 

    Di sebuah ruangan, bidan mulai menyapaku dengan ramah seraya mempersiapkan persalinan. Rasa sakit, cemas, dan haru bercampur jadi satu. Tiada lain yang terpikir hanyalah kelahiran bayi yang ada dalam kandungan ini. Berselang 3 jam merasakan sakit yang makin bertambah, tenaga medis yang ada di ruangan itu mulai membantuku. Dan akhirnya tangisan mulai terdengar. Seorang bayi laki-laki berambut hitam lebat dan berkulit putih bersih telah lahir dengan selamat. Tiada lain selain rasa syukur kepada Rabb ku, yang telah memberi karunia-Nya kepada keluarga kami. Ia telah memberikan sinar cahaya dari bintang kecil sebagai penghibur hatiku.

    Tiga hari telah berlalu. Pagi itu, dengan penuh semangat bintang kecil bersiap pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ia disambut oleh anggota keluarga. Mereka merasa bahagia dengan kehadiran putra pertama sekaligus cucu pertama di rumah kami.

    Terhitung malam kedua berada di rumah, tampaknya aku bermimpi melihat cahaya putih memasuki jendela kamarku. Seketika itu aku terbangun dan menggendong si kecil. Hal yang sangat mengherankan, tiada lagi terdengar suara tangisan yang biasa membangunkanku setiap malam. Ku coba menenangkan diriku dan memeluk erat si kecil. Tampaknya hingga matahari terbit, tak juga terdengar tangisannya. Hanya ada gerakan mata dan tangannya sebagai pertanda ia mulai kejang. Suhu badan mulai tinggi dan kulitnya mulai menguning. Semua anggota keluarga di rumah kami mulai panik.

    Menjelang sore hari, kondisi semakin memburuk hingga akhirnya kami memutuskan membawanya ke rumah sakit. Kami membawanya ke tiga rumah sakit, namun juga tidak dapat ditangani. Kemudian dengan merasa sangat cemas, kami segera membawa ke rumah sakit terakhir. Tak ada kata tunggu, tim medis segera menanganinya. Mereka memberikan saran agar diberikan terapi cahaya (fototeraphy). Mereka pun memerintahkan untuk memeriksa sample darah di ruangan laboratorium. 

    Setelah mendapatkan hasil laboratorium, dalam secarik kertas tertulis bahwa si kecil memiliki kadar billirubin yang sangat tinggi melampaui pasien yang pernah dirawat di rumah sakit tersebut. Akhiranya diputuskan agar si kecil di rawat dalam ruang inkubator tanpa didampingi oleh seorang pun dari keluarga kami.

    Dengan berat hati, aku dan keluarga meninggalkan rumah sakit. Perasaan yang tak pernah kurasakan selama ini. Inilah yang mungkin inilah yang dirasakan para ibu ketika anaknya sedang terbaring lemah. Seakan ingin menggantikan posisi anaknya berjuang melawan sakitnya.

    Jum'at 29 Januari 2021, tepat sepekan dari kelahirannya. Aku membesuk di ruang bayi yang terdapat beberapa inkubator itu. Aku menuju inkobator tempat dimana si kecil beristirahat. Salah satu tanganku menggenggam tangannya, dan satunya lagi memegang alat pernafasan yang ada di hidungnya sebagai satu-satunya alat bantu untuk tetap bernafas. Beberapa menit kupegang, nafasnya berhenti pertanda ia akan pergi. Namun, mungkin belum saatnya. Tuhan masih memberikan kesempatan untuk merawatnya lagi. "Nak, kamu kuat. Kamu calon hafiz. Banyak orang yang menanti kehadirannmu." Begitu kataku sambil menggenggam tangannya. Pada saat itu pula kudengar isak tangis suster yang menjaganya beberapa hari ini.

    Tibalah saatnya matahari terbenam. Telepon berdering dari salah satu suter yang ada di rumah sakit. Dengan pelan ia berkata, " Jangan kaget, anak ini sudah meninggal dunia." Tak ada lagi perasaan yang lebih hancur kurasakan. Bintangku telah tiada. Hati yang pernah mendung telah ia sinari dengan cahaya.

    Kehidupan memang sementara. Begitu pun kebahagiaanku. Harapanku yang besar mendidiknya menjadi hafiz sudah musnah. Namun, jawabannya hanyalah keikhlasan dan ketabahan agar ia tanang menjadi bidadari di Surga-Nya.

    Dengan kesedihan ini ku torehkan dalam sebuah puisi untuknya

     

    TAMASSAILE

    Tak akan kembali

     

    AKLAMPA TOJENGMI TAMASSAILE

    Sudah pergi tak akan kembali

    BATTU RI JUMA'NA NA AMMONO RI JUMA'NA

    Datang di Hari Jum'at dan Kembali di Hari Jum'at

    LAMBUSU NAUNG JAPPANA

    Lurus jalannya

    ASSARE PAPPILAJARANG NIKANAYA KASABBARRANG

    Memberikan pelajaran yang bernama kesabaran

    TASALLO WATTUNNA MINGKA AMMOLI PANGNGU'RANGI

    Tak lama waktunya namun menyimpan kenangan

     

    SIKAMMAJINNE SALLONA KUKALAWING

    Seginilah lamanya kugendong

    SIKAMMA TONJI ANNE SALLONA PAKARANNU RANNU

    Segini pula lamanya menyenangkan hati

    BAJI DAKKANA, BAJI TOJEMMI TAMPA'NA RI SURUGA

    Baik langkahnya, baik tempatanya di syurga

    Ikuti tulisan menarik Sakinah Risfayanti lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.