Secercah Harapan Itu Bernama Dudung - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Jenderal Dudung Abdulrachman. Tempo/Dewi Nurita

Muhamad Hasim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Senin, 13 Desember 2021 14:42 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Secercah Harapan Itu Bernama Dudung

    Kemunculan Jenderl Dudung merupakan angin segar dalam penanganan konflik keagamaan.

    Dibaca : 1.378 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kemunculan Jenderal Dudung Abdurachman sebagai petinggi TNI  telah memancing banyak reaksi dan kontroversi terkait pernyataan-pernyataannya seputar Islam garis keras dan pola kehidupan beragama umat Islam golongan tertentu. Tokoh-tokoh Islam garis keras banyak yang kebakaran jenggot dengan pernyataan dan tindakannya yang berani, yang berbeda dengan para petinggi TNI sebelum dia.

    Yang terbaru adalah reaksi keras Wakil Sekjen Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin atas pernyataan Jenderal Dudung yang meminta agar bangsa Indonesia tidak terlalu mendalam dalam mempelajari agama. Bamukmin meminta agar sang jenderal mundur dari jabatannya. "KSAD saat ini wajib mengundurkan diri karena sudah menghina kemuliaan ajaran Islam. Ini juga sangat bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45," kata Bamukmin, seperti yang dikutip berbagai media.

    Namun, tidak semua ustad atau pemuka agama Islam sependapat dengan Bamukmin. Ada juga ustad yang setuju dan mendukung pernyataan Jenderal Dudung. Salah saunya adalah Ustad Miftah yang cukup dikenal di Facebook. Lewat akun Facebook-nya Ustad Miftah mengatakan bahwa apa yang dikatakan Jenderal Dudung itu sudah pernah dikatakan oleh Nabi Muhammad, Saw. "Dan jauhilah oleh kalian sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama." (HR. Ahmad), tulis Ustad Miftah dalam akunnya.

    Keberanian Jenderal Dudung pertama kali terlihat ketika dia menjabat sebagai Pangdam Jaya. Waktu itu dia dengan berani, tanpa tedeng aling-aling, memerintahkan anak buahnya menurunkan spanduk-spanduk yang dipasang Habieb Rizieq. Spanduk itu bertebaran di sana-sini, di seluruh penjuru Jakarta. Meski banyak dipertanyakan oleh orang yang ragu apakah itu bagian dari tugas TNI atau bukan, Jenderal Dudung tetap jalan terus. Dan dia berhasil. Spanduk-spanduk Habib Rizieq tersapu bersih dalam waktu sekejap.

    Keberanian itu membuat kagum banyak pihak. Belum ada petinggi TNI yang berani berbuat seperti itu sebelumnya.

    Dan, meski tidak berterus terang, saya kira Presiden Joko Widodo (Jokowi)  juga mengagumi, merestui, dan menyetujui tindakan Sang Jenderal. Buktinya, tak lama setelah itu, Jenderal Dudung, yang waktu itu menyandang pangkat bintang dua, dipromosikan menduduki jabatan Pangkostrad.  Jenderal Dudung naik pangkat menjadi bintang tiga, alias Letnan Jenderal.

    Dan tak perlu lama menjabat sebagai Pangkostrad, beliau kemudian diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dengan pangkat sebagai jenderal penuh. Kini bintang empat berjejer di pundaknya.

    Dari sini, tentu kita dengan mudah membaca posisi pemerintah dalam menghadapi konflik kehiduan beragama. Pemerintah selama ini gamang; antara bertindak tegas dan ketakutan akan mendapat stigma sebagai pemerintahan yang anti-Islam. Pengangkatan Jenderal Dudung merupakan strategi untuk meredam gerakan Islam garis keras, yang disinyalir, bahkan, telah menyusup di kalangan TNI.

    Dengan demikian, pengangkatan Jenderal Dudung sebagai petinggi TNI adalah angin segar dalam penanganan konflik pemerintah dengan Islam garis keras. Selama ini pemerintah tidak berani menindak gerakan Islam garis keras yang selalu ingin mendikte pemerintah. Selama ini tidak ada tokoh pejabat yang berani bertindak tegas seperti Jenderal Dudung.

    Coba ingat, sudah berapa kali pemerintah membatalkan keputusannya karena desakan dari elemen garis keras melalui demo-demo masif dan berkepanjangan. Salah satu yang menjadi milestone adalah demo tentang Ahok yang dituduh telah melecehkan agama Islam. Ingat, waktu itu pemerintah memutuskan bahwa apa yang dikatakan Ahok bukanlah pelecehan, dan tidak dikategorikan sebagai penghinaan terhadap agama Islam. Reaksi  dari kelompok Islam Garis Keras tentu saja dahsyat dan bukan alang kepalang. Lalu, timbullah demo besar-besaran yang melibatkan tokoh-tokoh Islam, antara lain Habib Rizieq, yang membuat pemerintah kewalahan dan memutuskan jalan kompromi. Akhirnya, bisa ditebak, pemerintah mengalah dan Ahok ditetapkan sebagai tersangka penghinaan terhadap agama Islam. Konsekuensinya, dia harus meringkuk di penjara selama tuga tahun. Ini hanya salah satu contoh.

    Dari sini jelas sekali bahwa pemerintah kewalahan dan seolah tak berdaya. Pemerintah seperti tidak ada, nonexistent, atau disetir dari jalanan. Sampai kapankah keadaan seperti ini akan berlangsung? Sampai kapankah pemerintah akan disetir dari jalanan oleh sekelompok aliran? Sampai kapankah pemerintah akan kehilangan wibawa dan takluk pada demo-demo jalanan? Jawabannya, pasti masih akan lama, atau bahkan selamanya jika tidak muncul seorang tokoh pemberani yang berani bertindak tegas menghadapi kelompok-kelompok seperti itu. Dan kini tokoh itu sudah muncul; dia adalah Jenderal Dudung Abdurachman.

    Waktu kepulangan Rizieq dari Arab beberapa waktu lalu, banyak kalangan yang meramalkan akan terjadi kekacauan,  akan terjadi demo besar-besaran dari para pendukung Rizieq, dan Pemerintah akan kewalahan menghadapi itu. Namun, dengan Jenderal Dudung pada posisi sebagai Pangdam Jaya, semua itu bisa diatasi. Rizieq bisa dibungkam dan dijebloskan dalam penjara dengan tanpa ada gejolak yang berarti.

    Waktu Jenderal Dudung memerintahkan anak buahnya menurunkan spanduk-spanduk dan baliho Rizieq dari jalan raya, banyak orang yang menduga akan terjadi kekacauan. Tapi terbukti tidak terjadi apa-apa.

    Sudah waktunya pemerintah berani bertindak tegas melawan kelompok radikal yang bercita-cita, baik yang sudah berjuang untuk itu, maupun yang masih menyimpan keinginan semata, ingin membelokkan ideologi negara ini dari Pancasila.

    Kemunculan Jenderal Dudung adalah momen yang tepat untuk itu. Jenderal dudung adalah masa depan bangsa ini. Dan bersama dengan Jenderal Andika sebagai Panglima TNI, dia bisa bekerja sama, membentuk sinergi yang kuat untuk mewujudkan hal itu.***

     

     

    Ikuti tulisan menarik Muhamad Hasim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.
















    Oleh: Akhmad Sekhu

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:41 WIB

    Sajak Seribu Tahun

    Dibaca : 612 kali