Matematika, Cara Sederhana Tertawa Bahagia - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Wahyu Kris

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Kamis, 16 Desember 2021 09:42 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Matematika, Cara Sederhana Tertawa Bahagia

    Guru harus prigel berbagi tugas dengan google. Barangkali masih hangat di kepala kita kisah pembelajaran daring. Ada murid menjawab soal rumit dari gurunya dengan mudah. Usut punya usut, si guru mengambil soal di google. Hanya dengan salin-tempel, murid berhasil menemukan jawaban dalam hitungan detik. Ungkapan zaman manual ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’ berubah menjadi ‘guru googling sehari menyalin soal, murid googling sedetik mendapatkan jawaban”.

    Dibaca : 1.303 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    MATEMATIKA: CARA SEDERHANA TERTAWA BAHAGIA

    Wahyu Kris

     

    Sebagai sarjana matematika, saya terpesona. Terbukti benar sekarang bahwa matematika bukan sekadar cara merumus angka, tapi cara sederhana tertawa bahagia.

     

    Celetukan di atas tetiba saja melompat di kepala ketika saya melihat unggahan seorang kawan. Unggahan itu sebenarnya sudah cukup lama berseliweran di media sosial, tapi baru kali ini saya berkomentar. Soal cerita matematika di foto itu menggelitik: 

    “Harga penggaris adalah Rp 1.000,00. Harga pulpen adalah Rp 2.000,00. Benda yang lebih mahal adalah … (mobil)” 

    Pak Guru tentu hanya bisa geleng-geleng membaca jawaban yang terkesan sekenanya, nggak mikir, asal-asalan, atau seperti jaka sembung alias nggak nyambung itu. Bisa jadi Pak Guru membatin: Kenapa bisa begini? Siapakah yang salah, soalnya, muridnya, atau pembuat soalnya? Daripada menebak gejolak di benak Pak Guru, lebih baik kita telisik kelugasan si murid. 

    Cara murid menjawab soal matematika tergantung pada caranya memahami kalimat soal. Cara memahami kalimat bergantung pada sistem berpikir yang menjadi semesta personalnya. Perbedaan tafsir atas sebuah kalimat sudah jamak dan lumrah terjadi. Hal itu tak selalu kalimatnya yang salah. Bisa juga memang penafsirnya memiliki cara menafsir yang anti-mainstream, out of the box, tidak biasa. Kendati penafsiran dilakukan sebagai candaan, keberagaman menafsir mestinya dirayakan sebagai kemerdekaan bergagasan. Bukankah bangunan merdeka belajar menuntut fondasi kokoh dari merdeka bergagasan? 

    Apabila soal tersebut dibaca oleh enam murid kemudian menghasilkan lebih dari enam semesta personal yang saling berbeda, maka sejatinya murid-murid itu sudah memproklamasikan kemerdekaan belajar. Ini bukan fakta tentang kalimat yang ambigu dan menimbulkan banyak tafsir, melainkan betapa luas spektrum pemikiran murid-murid di sekolah. 

    Mereka selama ini dipenjara oleh kewajiban berpikir sebagaimana guru berpikir. Mereka dikungkung oleh keharusan belajar sebagaimana guru belajar--padahal gurunya belum tentu belajar. Mereka dipasung oleh sistem pendidikan serba tunggal-homogen yang mengingkari fitrah manusia yang jamak-heterogen. 

    Dalam kondisi jamak-heterogen itulah, sebagai entitas, matematika sanggup menemukan jalan hidupnya sendiri. Ia bisa menjelma raja sekaligus hamba. Sebagai hamba, matematika harus tunduk pada sang raja, yaitu manusia. Manusia bebas memilih persamaan matematika untuk menyelesaikan persoalannya. Sebagai raja, matematika punya kekuasaan absolut memerintah manusia agar tunduk pada aksioma dan seperangkat prosedur yang melekati teori matematika. 

    Ketika menghadapi persoalan aritmatika sosial misalnya, kita sebagai raja bebas memilh metode penyelesaiannya. Mau eliminasi, substitusi, atau matriks, silakan. Namun, ketika sudah memilih satu metode, kita harus tunduk pada aturan di dalamnya. Jika kita pilih metode matriks maka kita harus tunduk pada aturan matriks. Mustahil sekaligus konyol jika kita menggunakan teori eliminasi untuk menyelesaikan artimatika sosial secara substitusi. 

    Manusia mesti hidup berdampingan akrab dengan matematika agar memahami matematika sebagai kawan tumbuh bersama. Ini mutlak karena matematika memang lahir dan tumbuh seiring persoalan manusia. Matematika bukanlah rumus dari langit yang hanya digunakan untuk menghitung pendaratan pesawat ruang angkasa ataupun menentukan usia galaksi. Lebih sederhana sekaligus lebih dalam dan lebih luas dari itu, matematika adalah cara manusia menyelesaikan persoalan sehari-hari. 

    Hidup bersama matematika berarti menempatkan matematika sebagai kawan penyelesai masalah. Itu sebabnya, penting untuk bercakap akrab dengan matematika, berbincang dengannya untuk menyelesaikan pertolongan bersama, ataupun mengembangkannya sebagai ucapan terima kasih. Matematika tak lahir di ruang hampa, melainkan di ruang kontekstual yang mewujud dalam hal-hal sederhana. 

    Kesederhanaan itu tampak pada contoh berikut: Berapakah 12.000 dikurangi 7.000? Kita pasti menjawabnya 5.000 karena matematika mengajari kita 12.000 dikurangi 7.000 sama dengan 5.000. Mutlakkah jawaban itu? Jawaban itu mutlak jika matematika ditempatkan di ruang hampa, jauh dari keseharian dan tak mengenal peradaban manusia. 

    Anekdot berikut bisa dijadikan contoh untuk menyelami bagaimana matematika ada dan hadir dalam keseharian. 

    Anton: “Saya mempunyai uang Rp 12.000, lalu saya membeli pensil seharga Rp 7.000.  Berapakah kembaliannya?”

    Toni: “Gampang, tentu saja Rp. 5.000.”

    Anton: “Salah, yang benar Rp 3.000.”

    Toni: “Kok bisa?”

    Anton: “Uang saya selembar 10.000-an dan selembar 2.000-an. Yang saya serahkan ke kasir kan yang Rp 10.000-an saja.”

     

    Kita boleh tertawa dengan anekdot di atas, tapi jangan lupa tetap tertawa apabila ada yang menemukan alternatif jawaban lain. Jika uang Anton terdiri dari 6 lembar 2.000-an, maka kembaliannya adalah 1.000 karena yang diserahkan hanya 4 lembar.   Jika Anton memiliki pecahan 1.000-an bisa jadi tidak ada uang kembalian.  

    <--more-->  

    Matematika merupakan salah satu penggerak perubahan. Di mana ada kecangggihan teknologi digital, di situ ada matematika. Kecanggihan teknologi informasi dalam rupa DNA (Device, Network, dan Apps) tak mungkin terwujud tanpa algoritma yang dikembangkan Al Khawarizmi. Pun dengan kecerdasan artifisial yang melekati media sosial. Di balik perkembangan akseleratif perangkat digital ada aljabar Boolean. Di balik kemudahan perangkat elektronik ada teori Fuzzy. 

    Tak melulu yang rumit-rumit, matematika sederhana pun turut menyokong perangkat teknologi informasi. Coba perhatikan bentuk penampang pengisi daya tipe-C! Bentuknya lebih simetris dibandingkan tipe mikro-USB. Bukankah itu adalah penerapan teori simetri putar dan simetri lipat yang biasa dipelajari murid SD?  Pun dengan bentuk SIM-card dibuat seperti persegi panjang terpotong sudutnya untuk memastikan pemasangannya tidak terbalik.  

    Era digital punya tantangan berbeda dengan zaman manual. Pembelajaran matematika pun  mesti bertransformasi satu langkah di depan perkembangan zaman. Zaman manual awal belum mengenal kalkulator, maka penting belajar operasi matematika jumlah-kurang-kali-bagi secara manual. Sekarang, semua gawai bisa disemati aplikasi untuk mengerjakan perhitungan kompleks dengan sekali pindai. Math Tricks, Mal Math, Photomath, Mathway, Qanda, dan Cymath hanyalah segelintir dari sekian banyak aplikasi yang bisa mempercepat perhitungan matematika. Pertanyaannya kemudian, masihkah matematika diajarkan seperti zaman manual? 

    Transformasi pembelajaran matematika mesti meniscayakan kehadiran mesin perambah ultracanggih, ruang simpan digital tak terbatas, kecerdasan artifisial, dan seperangkat teknologi informasi lainnya. Google, Cloud, AI, media sosial, dan superapps adalah kawan baru yang mesti diajak bermatematika. 

    Sisi lain yang perlu diperhatikan adalah karakteristik generasi alpha yang hari ini berada di usia sekolah. Generasi alpha menyukai multitasking, cenderung kolaboratif, senang tantangan kontekstual, dan hidup amphibi di dunia nyata sekaligus jagat maya. Kemahiran jejari mereka adalah daya dukung yang bisa dioptimalkan dalam pembelajaran. 

    Pembelajaran matematika mesti kolaboratif  dengan google. Google di sini merepresentasikan teknologi informasi dengan segala daya dukung digitalnya. Prasyarat mutlak berkolaborasi dengan google adalah cermat memilah mana yang bisa dipercayakan pada google, mana yang harus dipaham-kuasai murid. Di titik itulah peran guru menjadi krusial. Jika tidak, kesalahan memilah hanya akan mendatangkan sial. 

    Guru harus mandiri membekali diri dengan keprigelan bermatematika, prigel berbagi tugas dengan google. Pernik kegagalan memilah bisa ditelisik di media sosial. Barangkali masih hangat di ingatan kita kisah pembelajaran daring. Ada murid menjawab soal rumit dari gurunya dengan mudah. Usut punya usut, si guru mengambil soal di google. Hanya dengan salin-tempel, murid berhasil menemukan jawaban dalam hitungan detik.  Ungkapan zaman manual ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’ berubah menjadi ‘guru googling sehari menyalin soal, murid googling sedetik mendapatkan jawaban”. 

    Matematika dan google secara imajiner mesti bersepakat dalam MoU untuk berbagi peran. Yang membutuhkan berpikir tingkat rendah, percayakan pada google. Yang menuntut berpikir tingkat tinggi, serahkan pada matematika. Tak perlu cemas berlebihan jika murid sulit menghafal rumus luas permukaan kerucut. Cemaslah apabila murid menggunakan rumus volume silinder untuk menghitung luas permukaan kerucut.

    Budaya digital butuh matematika yang selaras dengan karakteristik digital. Ini bukan tentang kecepatan, tapi ketepat-gunaan. Matematika tak bersemayam di langit yang hanya bisa diangankan, tapi membumi di tanah di mana kaki kita melangkah. Juga di sekujur dinding media sosial di mana kita mengunggah segala risau dan gundah. Dalam pada itu, bisakah matematika memecahkan persoalan budaya digital hari ini? Ketika kabar bohong melumuri ruang publik, di manakah matematika?

    Matematika tak bisa mencegah kabar bohong, tapi bersama matematika kita bisa berlatih bernalar kritis. Matematika adalah ladang subur untuk meragukan segala sesuatu agar timbul rasa ingin tahu. Dari situlah tumbuh tekad untuk membuktikan kebenaran melalui proses mengumpulkan, mengolah, dan menganalisa data, serta mengambil keputusan. Termasuk keputusan bahagia bersama matematika.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.