Alasan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Tri Le dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Jumat, 24 Desember 2021 14:25 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Alasan

    Seorang pedagang sayur yang mempertanyakan alasan dia membantu sesama.

    Dibaca : 813 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

              Aku dibangunkan oleh alarmku. Aku meminggirkan selimutku dan menuju ke kamar mandi. Setelah segar, aku menyiapkan lauk untuk sahur. Aku menyalakan televisi dan melihat berita. Aku melihat banyak orang yang memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan di bulan puasa ini. Terutama mereka yang memiliki nama, bulan ini lah di mana mereka banyak membantu orang. Orang-orang pasti mengatakan mereka hanya meningkatkan citra diri mereka dan aku adalah salah satu yang beranggapan seperti itu. Mengapa hanya di bulan suci ini? Walaupun begitu, apa pun alasannya, mereka tetap membantu mereka. Lain halnya dengan aku yang makan untuk dua kali sehari saja sudah hebat. Lagipula, mereka yang memiliki rezeki berlebih bisa kapan saja bersedekah. Bagaimana dengan yang rezekinya pas-pasan? 

               Setelah shalat Subuh, aku tidak tidur. Aku bekerja sebagai penjual sayur keliling. Ibu-ibu rumah tangga menungguku. Aku berangkat ketika matahari mulai bersinar. Aku mulai berjalan menuju ke komplek perumahan. Aku sudah bisa melihat ibu-ibu di kejauhan. Aku mempercepat langkahku. “Sayur bang.”, teriak ibu-ibu. Aku berhenti dan mulai mendengarkan permintaan mereka. “Sayur kangkung dua ikat bang.”, ujar seorang ibu dengan keranjang sayurnya. Mereka mulai membeli daganganku. Alhamdulillah, dagangan kali ini hampir habis, hanya tersisa satu bungkus tomat, dua buah ikan, dan satu bungkus cabai halus. Sepertinya bukaan hari ini adalah sambal ikan.

                Saat perjalanan pulang, aku melihat ibu dengan anaknya yang sedang duduk di pinggiran jalan. “Ada apa bu?” Aku menyapa ibu itu. “Saya tidak tahu lagi pak. Anak-anakku menunggu makanan di rumahku, tapi dagangan takjilku dicuri orang pak.”, ujar ibunya. Siapa yang tega mencuri keranjang takjil? Ada apa dengan orang zaman sekarang? “Ini ada jualan saya yang berlebih bu.”, ujarku. Ibu itu berdiri dan melihat daganganku yang belum terjual. “Saya tidak punya uang pak.”, ujar ibunya. Aku mengambil plastik dan mulai memasukkan ikan, cabai, dan tomat tadi. “Tidak apa-apa bu. Ambil saja.”, ujarku sambil memberikannya. Walaupun aku berkata bahwa orang kaya lah yang harus bersedekah, aku tetap tidak bisa menerima pendapatku itu sepenuhnya. Ketika aku melihat raut wajah mereka, badanku bertindak sendiri. “Terima kasih banyak pak.”, ujar ibunya. Dia memegang tanganku dengan erat. Mungkin, memiliki orang yang menunggumu di rumah pasti menyenangkan.

                Pekerjaanku selesai di sore hari dan aku pergi ke panti asuhan di dekat sungai desa kami. Aku mulai membuat mainan dari tangkai daun kelapa. Aku membuat mobil dan senjata dari tangkai kelapa tersebut. Namun, di perjalanan aku melihat anak yang duduk sendirian di pinggir sungai. Bajunya terlihat sangat bagus untuk anak dari panti asuhan yang aku kunjungi. “Kamu tersesat ya?” Dia mengangguk namun tidak melihat ke arahku. Aku mengeluarkan mobil mainan yang aku buat. “Lihat ini.”, ujarku. Dia mulai tertarik dan melihatku memainkan mobil tersebut. “Ayo ikut abang ke sana.”, ujarku. Aku menunjuk ke arah panti asuhan di seberang sungai. Dia memegang tanganku dan mengikutiku.

                “Ah! Abang itu sudah datang!” Anak-anak mulai berkeluaran dari bangunan itu. “Bang, mainan seperti apa untuk hari ini?” Mereka menyerbuku dengan wajah ceria. “Hari ini ada mobil dan senjata.”, ujarku. Mata mereka bersinar melihat mainan yang sederhana itu. Namun, anak tadi terlihat tidak mau memasuki panti asuhannya. “Hei. Dia ingin bermain bersama kalian, tetapi dia malu.”, bisikku ke Doni. Dia yang paling tua di panti asuhan ini. “Oke bang.”, ujarnya. Dia menuju ke arah anak tadi dan langsung menariknya ke dalam. “Ayo bermain!” Dia mengangguk dan mengikutinya. Aku melihat Pak Rizal dan mendatanginya. “Terima kasih ya selalu membuat mereka senang.”, ujar Pak Rizal. Dia menepuk pundakku. “Ahaha, tidak masalah pak. Aku juga senang mengunjungi mereka.”, ujarku. Aku harap mereka bisa terus tersenyum seperti ini. Anak tadi juga terlihat senang. “Pak, aku tadi menemukan anak yang tersesat dan membawanya ke sini.”, ujarku sambil menunjuk ke arah anak tadi. Pak Rizal mengangguk dan telah mengetahuinya. “Ahhh, sebentar lagi akan berbuka pak. Apakah ada yang bisa saya bantu?” Dia tersenyum melihatku dan mengajakku ke dapur. Bu Helmi dan bu Sayuti selalu datang membantu panti asuhan ini. Hari ini juga mereka memasak untuk bukaan anak-anak panti asuhan. “Ada yang bisa dibantu bu?” Mereka menyambutku dengan hangat. “Tentu saja. Ayo masuk.”, ujar bu Sayuti. Aku mulai mengaduk sup sayur yang ada di kuali besar.

                “Bang, sepertinya ada yang mencari anak yang tadi.”, ujar si Doni. Aku membersihkan tanganku dan keluar. Aku melihat seorang pria paruh baya sedang berdiri di pintu gerbang. Bukannya dia seorang artis? “Ada yang bisa dibantu pak?” Dia melihatku dengan tajam. “Mengapa anak saya berada di sini?” Dia seolah-olah menuduh kami mengambil anaknya. “Anak bapak sepertinya tersesat, kami menemukan dia di pinggir sungai sedang duduk sendirian.”, ujarku. Dia masuk dan menarik telinga anak itu. Anak itu terlihat kesakitan. “Pak, sepertinya bapak tidak harus memarahinya.”, ujarku. Dia berbalik arah dan menghadapku. “Dia anakku, bukan anakmu.”, teriak bapak itu. Kemudian, pak Rizal mendatangi pria itu. “Ohhh, pak Danny. Terima kasih atas bantuan yang bapak berikan kepada masyarakat desa ini.”, ujar Pak Rizal. Dia mendekati Pak Rizal, namun tetap menatap ke arahku. “Tentu saja. Sudah sewajarnya orang kaya membantu orang miskin.”, ujarnya. Aku tidak suka perkataan dia barusan. “Ketika aku membagikan bantuan, anakku tidak terlihat, dan menemukannya di sini. Mengapa dia bermain dengan anak-anak di panti asuhan ini?” Aku mendekati pak Rizal dan berbisik dengannya. “Sepertinya sudah saatnya untuk mengusir pria ini pak.”, ujarku. Pak Rizal mengangguk dan membawa pria itu keluar. Anak yang tadi kelihatan murung. Aku dan anak-anak panti asuhan lainnya melambaikan tangan kepadanya. Dia kembali tersenyum dan membalasnya.

                “Aku harap dia bisa datang ke sini lagi bang.”, ujar si Doni. Aku menepuk kepalanya dan membawanya ke dapur untuk berbuka puasa. “Bagaimana kalau nanti malam waktu shalat Tarawih, kau yang menjadi bilal?” Dia kelihatan siap dan mengangkat dua kepalan tangannya. “Oke bang. Aku harus kelihatan keren di hadapan adik-adik yang lain.”, ujar si Doni. Aku melihat senyuman Doni dan kembali mengingat senyuman ibu penjual takjil dan anak yang tersesat tadi. Aku baru menyadarinya sekarang, aku tidak perlu kaya untuk membantu orang, dan sepertinya aku telah memiliki alasan untuk membantu mereka. Dan aku harap, alasanku ini berkah.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.