Fenomena Investor FOMO dan Belajar dari IPO Bukalapak - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Investasi Saham

Alwin Jalliyani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Januari 2020

Sabtu, 25 Desember 2021 06:02 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Fenomena Investor FOMO dan Belajar dari IPO Bukalapak

    Investor FOMO layak disematkan kepada mereka yang membeli sebuah saham hanya berdasarkan tren atau ikut-ikutan saja. Mereka melakukan itu tanpa melakukan riset dan analisa mandiri sebelumnya. Fenomena ini didorong oleh melonjaknya jumlah investor retail di tanah air.  Memang, apa dampaknya?

    Dibaca : 817 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Investor FOMO layak disematkan kepada mereka yang membeli sebuah saham hanya berdasarkan tren atau ikut-ikutan saja. Mereka melakukan itu tanpa melakukan riset dan analisa mandiri sebelumnya. Fenomena ini didorong oleh melonjaknya jumlah investor retail di tanah air. 

    FOMO merupakan kependekan dari Fear Of Missing Out. Sebuah ungkapan yang ditujukan kepada seseorang yang merasa takut ketinggalan hal baru, seperti berita atau tren. Mereka yang mengalami FOMO cenderung menghabiskan waktu untuk mencari tahu topik pembicaraan orang banyak. Ketakutan mereka adalah ketinggalan informasi dalam ruang percakapan atau diskusi bersama orang lain. Namun, FOMO memiliki dampak yang berbahaya apabila diterapkan pada investasi saham. 

    Mengacu data yang dirilis Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor pasar modal telah menembus lebih dari 6,43 juta investor per akhir September 2021. Terjadi peningkatan sebesar 5,41% dibanding bulan Agustus yang mencapai 6,10 juta investor. Total jumlah investor pada akhir 2020 tercatat 3,88 juta investor, sepanjang tahun 2021 telah bertumbuh sebesar 65,73%. 

    Dalam menentukan keputusan transaksi, investor pemula lebih sensitif terhadap pemberitaan, anjuran influencer, atau rekomendasi saham teman. Mereka yang belum memahami analisa teknikal atau fundamental akan mengandalkan sentimen dari eksternal dalam melakukan transaksi. Minimnya pengetahuan dan pengalaman membuat mereka cenderung membeli saham yang banyak dibicarakan. Meskipun tidak mengetahui tentang perusahaan yang dibeli, meliputi kinerja, laporan keuangan, atau prospek. 

    Suteja dan Gunardi (2016) mengungkapkan bahwa informasi yang diterima investor menjadi dasar pengambilan keputusan, termasuk dalam lingkup makro dan mikro. Informasi yang beredar akan menjadi pendorong terjadinya transaksi dan menyebabkan pergerakan harga saham naik atau turun. Sama seperti hukum ekonomi, harga saham naik apabila terdapat lebih banyak permintaan dibanding penawaran, berlaku pula sebaliknya.

    Kondisi ini berlawanan dengan pertimbangan ideal seorang investor dalam membeli saham. Fomburn (1996) menjelaskan bahwa terdapat tiga aspek yang seharusnya menjadi pertimbangan. Pertama, keuntungan, investor cenderung memilih perusahaan dengan catatan perolehan laba yang tinggi. Perolehan laba akan berpengaruh terhadap besaran dividen yang diterima investor kelak. Kedua, stabilitas, perusahaan yang memiliki stabilitas dan bisnis berkelanjutan akan mengurangi risiko investor dalam menyimpan dananya. Ketiga, prospek, investor bukan hanya membeli saham untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Perusahaan yang memiliki visi dan proyeksi pertumbuhan akan lebih menarik bagi investor.

    FOMO pada IPO Bukalapak

    FOMO pada saham dapat kita jumpai pada momentum IPO Bukalapak. Masifnya pemberitaan dan rekomendasi publik figure memicu investor retail berburu penawaran saham perdana perusahaan tersebut. Rencana penawaran saham perdana Bukalapak telah digaungkan media massa sejak Februari 2021. Bahkan, akhir tahun 2020 wacana IPO Bukalapak sudah masuk pemberitaan. Pemberitaan semakin masif menjelang waktu resmi saham Bukalapak dengan kode emiten BUKA diperdagangkan di BEI pada 6 Agustus 2021.  

    Alhasil, pada perdagangan hari perdana saham Bukalapak di BEI, emiten dengan harga penawaran Rp850 tersebut mengalami kenaikan sebesar 24,71%. Bahkan, saham Bukalapak mengalami Auto Rejection Atas (ARA) dan menyentuh harga penutupan Rp1.060 per lembar. Baru lima menit perdagangan bursa dibuka, tepatnya pukul 09.05 WIB, transaksi saham Bukalapak mencapai Rp 320,86 miliar. Dampaknya, nilai kapitalisasi pasa Bukalapak melonjak mencapai Rp 109,25 triliun dari nilai kapitalisasi awal Rp86,7 triliun. 

    Perdagangan hari kedua saham Bukalapak kembali menembus batas ARA dengan kenaikan 25% menyentuh harga Rp1.325 per lembar pada penutupan. Pemberitaan mengenai peningkatan saham yang signifikan di hari pertama membuat investor lain tidak ingin ketinggalan. Total transaksi pada hari tersebut mencapai Rp50,17 miliar. Peningkatan ini kembali memperbesar nilai kapitalisasi pasar Bukalapak menjadi Rp136,56 triliun. 

    Kisah manis perjalanan IPO Bukalapak tidak bertahan lama. Pada perdagangan hari ketiga, harga saham turun menembus batas Auto Rejection Bawah (ARB) karena mencapai 6,76% dengan harga Rp1.035. Penurunan harga saham Bukalapak dipicu oleh investor asing yang melakukan taking profit dengan menjual saham senilai Rp152,96 miliar. Jumlah tersebut menjadikan Bukalapak sebagai saham yang paling banyak dilepas asing pada perdagangan hari Selasa, 10 Agustus 2021. Trend turun terus berlanjut sampai hari-hari berikutnya dan menyentuh ARB sebanyak lima kali beruntun.

    Iklim investasi yang sedang bertumbuh harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Apabila para investor retail mengalami pengalaman buruk yang berulang karena rugi, hal ini dapat memberikan efek jera dan melesukan pasar modal tanah air.  

    Dampak laten lainnya adalah trauma atau ketakutan investor untuk membeli saham IPO perusahaan teknologi. Padahal, perkembangan perusahaan rintisan berbasis teknologi di Indonesia sedang bertumbuh pesat. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim sampai periode September 2021, tercatat sebanyak 2.100 perusahaan rintisan di tanah air. Sebanyak tujuh di antaranya berstatus unicorn dan dua berada di tingkat decacorn.

    Saya pernah mendengar kisah seorang teman yang ingin menggandakan uang dengan transaksi saham. Dana yang digunakan adalah modal nikah, dengan harapan uang tersebut akan berlipat ganda. Pria ini terdorong melihat kesuksesan trader saham yang terlihat mudah memperoleh keuntungan dari pasar modal. Namun, saham yang tiga hari sebelumnya naik, saat dibeli malah turun tajam. Akhirnya, dia memilih menunda pernikahan sampai waktu yang tidak ditentukan, sembari berharap harga saham miliknya kembali naik.

    Dari pengalaman di atas dapat dipetik dua pelajaran bagi para investor FOMO. Pertama,  berinvestasi menggunakan uang dingin, bukan dengan uang kebutuhan sehari-hari. Uang dingin merupakan dana alokasi investasi khusus yang apabila hilang, tidak akan mengganggu rutinitas setidaknya satu tahun ke depan. Kedua, jangan membeli hanya berdasarkan ikut tren. Pelajari metode analisa secara mandiri untuk meminimalisir risiko investasi. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.