Anak Bayi 2 - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Christian Abella dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Selasa, 28 Desember 2021 06:02 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Anak Bayi 2

    Seorang detektif yang menyelidiki kasus penculikan yang aneh, dihadapkan dengan kenyataan pahit saat dia sudah menemukan jejak-jejak terkait kasus penculikan tersebut. Ternyata, semua tidak kelihatan seperti kasus penculikan biasa.

    Dibaca : 1.189 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

               “Berita panas hari ini! Dikabarkan rumah sakit Kolak Pisang telah diserang oleh teroris! Kondisi rumah sakit sedang gawat darurat! Mari kita saksikan saudara-saudara!” Tiba-tiba suasana sekitar terasa mencekam terlihat dari ekspresi reporter tersebut. “Lihatlah pemirsa! Ada seseorang yang keluar dari rumah sakit!” Wanita tinggi putih yang muncul di hadapan semua orang tersebut tiba-tiba menghilang. “Dia menghilang! Ke mana dia pergi?! Pemirsa, apakah kalian melihatnya barusan?!” Seseorang mematikan televisinya dan melemparkan rimutnya. “Lihatlah yang mereka perbuat! Siapa yang waras memasukkan kecerdasan ke dalam monster itu?!” Pria tersebut menelpon seseorang. “Apa yang akan kau lakukan?! Semua orang sudah melihatnya!” Pria yang dihubunginya tersebut hanya tertawa. “Lebih baguslah seperti ini. Buatlah masyarakat sadar akan keberadaan mereka. Aku sudah muak dengan dunia yang tidak memiliki imajinasi dan budaya lagi.”, ujar pria yang ditelpon. Pria tersebut kesal dan menutup teleponnya.

                “Cika, mengapa kau di sini? Cika!” Aku terbangun di rumah sakit yang sama. Aku masih melihat kondisi yang kacau di dalamnya. Semua orang masih kebingungan dengan apa yang terjadi. “Maaf mba, apakah ada petugas keamanan di sini?” Suster itu masih terlihat ketakutan. “Tidak ada pak, mereka masih sibuk menghalau para reporter yang ingin memasuki rumah sakit ini.”, ujarnya. Suster tersebut dipanggil oleh atasannya. Aku melihat suasana yang ricuh di luar. “Bagaimana keadaannya Pak Cecep?” Dia masih menatapku dengan sinis. “Para reporter ingin meminta penjelasan kepada kepala rumah sakit terkait kejadian tadi malam. Aku bahkan masih tidak percaya. Siapa itu? Apakah itu bisa disebut sebagai manusia?” Aku juga tidak tahu. Mengapa dia memiliki suara seperti Cika? Tidak mungkin makhluk itu adalah Cika. “Aku juga tidak tahu pak.”, ujarku. Dia mengeluarkan rokoknya. “Pak, bukannya bapak tidak merokok?” Aku bahkan tidak pernah melihat dia merokok saat istirahat. “Semua ini membuat kepalaku pusing. Aku butuh tembakau.”, ujar Pak Cecep. Aku melihat Lita yang kesulitan menahan kerumunan massa. “Tahan!” Aku mencoba menahan massa yang hampir memasuki rumah sakit. “Lepaskan aku! Aku ingin melihat anak perempuanku!” Jadi dia bukan reporter ya? Aku melepaskannya dan dia pun berlari ke dalam rumah sakit. “Mengapa kau lakukan itu pak Broni?” Dia memukul pundakku. “Selain media dan reporter, apalagi kalau keluarga yang berkepentingan aku rasa tidak ada masalahnya membiarkan mereka masuk.”, ujarku. Dia memalingkan wajahnya dan kembali bertugas.

                “Setelah kejadian kemarin malam, rumah sakit Kolak Pisang ditutup untuk sementara. Pihak keamanan sedang menyelidikinya untuk pemberitahuan selanjutnya.”, ujar Pak Dudi. Aku melihat laporan terkait wanita yang menghilang selama satu tahun terakhir tetapi aku tidak menemukan deskripsi yang sama dengan wanita yang muncul kemarin malam. Aku bahkan ragu jika ada manusia yang terlihat seperti itu. “Pak Broni, ada telepon untukmu.”, ujar Lita yang datang dengan telepon dengan wajah yang masih murung. “Ada apa Lita? Apakah kau masih marah terkait kejadian tadi malam?” Dia hanya diam dan memberikan teleponnya kepadaku. “Pihak kemananan. Ada apa?” Aku mendengar Prista yang ingin berterima kasih kepadaku terkait kasus bapaknya yang baru saja terjadi. “Maaf Lita, jika Pak Dudi mencariku aku sedang bertemu korban terkait kasus penculikan bayi kemarin.” Dia berhenti mengetik dan akhirnya menatap wajahku. “Siapa?” Hey, hey. Sepertinya profesionalismemu perlu dilatih. “Prista, anak yang diduga tersangka penculikan bayi tersebut.”, ujarku. Dia kembali murung dan bekerja. Aku harap dia mengatakannya ke pak Dudi nanti.

                “Maaf Pak Broni, memanggilmu di hari kerja.”, ujar Prista yang membawaku ke kafe terdekat. “Tidak masalah, aku juga butuh ini untuk mengalihkan pemikiranku.”, ujarku. Dia hanya menatapku yang meminum kopiku. “Ada apa?” Dia mengeluarkan sebuah foto. “Apakah bapak mengenali wanita ini?” Tentu saja. Aku sangat mengenali dia. “Ada apa? Tiba-tiba menunjukkan foto keluargamu.”, ujarku. Dia terdiam dan memasukkan fotonya kembali. “Aku memang bukan anak kandungnya, tetapi bu Cika sangat baik dan periang. Aku masih belum bisa menerima kepergian dia. Dan sepertinya bapak mengenalinya dan juga bapakku. Apakah bapak kalah?” Anak kurang ajar ini. Siapa yang berani bertanya itu kepada orang? “Analisamu bagus, tapi tidak ditempatkan dengan baik. Iya, lebih tepatnya aku tidak bisa berada di sisinya waktu itu. Sudahlah, tujuanmu menemuiku hanya untuk mengkonfirmasi itu?” Dia menggelengkan kepalanya dan terlihat bersalah telah menyinggung topik itu. “Saya ingin bertanya terkait bapak saya. Apakah dia benar yang melakukan penculikan bayi tersebut?” Hal ini seharusnya tidak boleh dibahas dengan publik, tapi ini adalah ayahnya. “Sepertinya iya, semua bukti mengarah kepadanya. Sudahlah, hal ini tidak boleh dibahas dengan masyarakat.”, ujarku. Aku rasa aku sudah berapa kali melanggar protokol akhir-akhir ini.

                “Oh iya, kamu dengar tidak terkait penculikan yang sedang marak akhir-akhir ini?” Dua orang wanita sedang membahas sesuatu di belakang kami. “Iya, anakku baru saja kehilangan kartu ATM miliknya. Padahal dia tidak membawa dompet di hari itu.”, ujar salah satu wanita tersebut. Kami berdua diam dan menyimak pembicaraan mereka berdua. “Pak Broni tidak tahu terkait pencurian itu. Hal itu banyak sekali dibahas belakangan ini. Kartu ATM milikku juga dicuri padahal aku tidak membawa dompet di hari kehilangannya.”, ujar Prista. Aku rasa mereka hanya teledor di mana meletakkannya. “Bagaimana menurut bapak?” Aku menghabiskan kopiku dan kembali berdiri. “Jika tidak ada lagi, aku akan pergi. Biarkan aku saja yang bayar. Berhati-hatilah di jalan pulang.”, ujarku. Dia berlari dan menahan lengan bajuku. “Antar aku pak.” Apa yang dibicarakan gadis ini?

                “Terima kasih pak!” Aku harap tidak ada yang melihat kami barusan. Tiba-tiba aku melihat pria berjubah hitam yang sedang melarikan diri. “Markas, kirimkan bantuan. Aku melihat orang berjubah hitam misterius yang sedang melarikan diri.”, ujarku. Tiba-tiba markas langsung menjawab laporanku. “Petugas Broni, tolong bantu petugas lain yang sedang mengejar pria tersebut.”, ujar petugas dari markas. Aku mematikan radionya dan mengejar pria tersebut. Larinya sangat cepat. Aku kehilangan dia namun menemukan botol bayi yang jatuh dari jubahnya. “Maaf pak, kami kehilangan dia.”, ujarku. Aku rasa kami petugas keamanan butuh latihan berlari tambahan. Aku harap bapak dari Jamaika datang melatih kami.

                “Maaf pak, kami kehilangan pria tersebut. Aku hanya menemukan botol bayi ini jatuh dari jubahnya.”, ujarku. Pak Dudi mengambil botol tersebut dan membawanya bersama tim penyidik lain. “Lita, aku masih belum tahu terkait pria berjubah hitam tersebut.”, ujarku. Dia masih terlihat murung menceritakan kasus pencurian yang sedang marak belakangan ini. Setiap pencurian, pria tersebut sudah tiga kali berada dekat dengan lokasi pencurian saat aku membaca laporannya. “Lita, aku menemukan kafe yang enak, selesai bekerja apakah kau ingin pergi bersama?” Dia menunduk dan memukul punggungku dengan keras. Apakah ini artinya iya? Aduh, sakit sekali.

                “Terima kasih pak Broni telah mengajakku.”, ujarnya. Aku hanya tersenyum, bagaimana ekspresi dia bisa berubah 360 derajat seperti itu? Tetapi baguslah kalau begitu. Kami menikmati waktu bersama di kafe. Aku mengambil dompetku untuk membayar tetapi aku tidak menemukan kartu ATM milikku. Huh? Aku bahkan tidak pernah membuka dompetku. “Lita, maaf apakah kau bisa membayar untuk hari ini? Kartu ATM milikku sudah hilang.”, ujarku. Dia malahan terlihat khawatir daripada terlihat marah. “Apakah ini berhubungan dengan kasus pencurian tersebut?” Aku berusaha mengingat ke mana saja aku pergi. Apakah dompetku jatuh saat mengejar pria berjubah hitam tersebut? Kami pulang setelah Lita yang membayar pesanan kami. “Maafkan aku yang tidak bisa menjadi senior yang baik.”, ujarku. Dia hanya senyum dan berlari ke hadapanku. “Tidak, kau adalah senior yang sangat baik.”, ujar Lita. Aku hanya tersenyum sambil memegang kepalanya.

                Aku tiba-tiba mendengar kegaduhan di rumah yang sedang ditinggal pemiliknya saat perjalanan pulang. “Petugas Broni ke markas, aku memasuki rumah penduduk. Aku mendengar kegaduhan di dalamnya. Aku akan memeriksanya.”, ujarku. Aku memasuki rumah tersebut dan menemukan barang-barang yang sudah diacak-acak. Aku mendengar suara bayi yang sedang tertawa. Apakah mereka meninggalkan bayi mereka? Aku mendekati asal suara tersebut dan melihat bayangan kecil yang sedang menjarah lemari. Aku menyinari bayangan tersebut dan melihat bayi yang memakai popok dan dipenuhi bedak. Bayi siapa yang berkeliaran malam-malam seperti ini? Tiba-tiba bayi itu berbalik dan menunjukkan matanya yang hitam semuanya. Aku terkejut dan menjatuhkan senterku. Aku kembali mendapatkannya dan menyinari bayi tersebut kembali. Tetapi aku tidak menemukannya dan tiba-tiba aku dipukul oleh seseorang yang tidak dikenali dari belakangku. Aku tersungkur dan tidak sadarkan diri. Aku sempat melihat wanita yang berjubah hitam menggendong bayi tersebut. “Apakah kau serius?” Aku kehilangan kesadaran setelah melihat peristiwa aneh itu.

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Farhanaang__

    7 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 125 kali