Bila Jurnalis Memanjakan Selebritas - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi wartawan televisi. shutterstock.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 3 Januari 2022 13:43 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bila Jurnalis Memanjakan Selebritas

    Jurnalis dan media massa semestinya menghindari peran sebagai penyambung lidah selebritas dan orang-orang yang haus popularitas hanya karena pernyataannya kontroversial dengan mengabaikan kepentingan masyarakat umum.

    Dibaca : 1.095 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sejak memulai debut profesionalnya, seorang jurnalis selalu dibekali dengan pedoman bahwa profesi mereka adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat: menemukan kebenaran dan menyampaikan informasi yang benar agar masyarakat dapat mengambil manfaat dan kebaikan dari informasi itu. Media massa yang kontennya diproduksi oleh jurnalis merupakan ruang publik yang selayaknya diabdikan untuk kemaslahatan masyarakat luas.

    Tugas menjaga kepentingan masyarakat di ruang publik tidak selalu mudah. Jurnalis juga manusia yang bisa tergoda untuk menulis dan memuat konten mengenai apa saja yang menurut dia menarik, walaupun itu tidak memberi kebaikan bagi masyarakat. Misalnya, perselisihan di antara selebritas, atau perseteruan di antara orang-orang dekat selebritas yang juga ingin jadi pusatperhatian masyarakat. Misalnya, rebut hak asuh atau peringatan kematian selebritas secara mencolok dan diliput secara luas.

    Menarik memang salah satu tolok ukur yang dipakai untuk memutuskan apakah suatu informasi akan dipublikasi atau tidak. Sayangnya, sebagian jurnalis kemudian menjadikannya subjektif dan prioritas. Apapun yang dilakukan selebritas berpeluang besar untuk dipublikasi hingga hal yang remeh temeh sekalipun. Apakah tujuannya hanya untuk memuaskan hasrat ingin tahu apa yang dilakukan selebritas dan menyediakan bahan gosip?

    Sebagian jurnalis tergoda menjadikan mereka sumber berita karena memandang pernyataannya kontroversial, meskipun tidak cukup berbobot dan tidak memberi manfaat apapun bagi masyarakat banyak untuk dipublikasi. Pernyataan itu bisa berupa pelaporan, gugatan, kritik pedas, dan sejenisnya namun dalam konteks relasi pribadi. Banyak berita yang mengesankan bahwa sebagian jurnalis hanya menjadi kepanjangan tangan selebritas. Apakah karena sebagian jurnalis menikmati relasi yang akrab dengan selebritas?

    Popularitas yang berpadu dengan kontroversi seringkali menjadi ukuran yang lebih disukai sebagian jurnalis dibandingkan apakah berita itu berkontribusi bagi perkembangan positif masyarakat. Sering terjadi, sebuah berita di media online hanya memuat satu pernyataan saja yang berasal hanya dari satu sumber, dan itu bukan dalam konteks peristiwa tertentu, melainkan pernyataan yang dilontarkan begitu saja layaknya omongan sehari-hari.

    Di sisi lain, banyak orang memanfaatkan media massa untuk mendongkrak ataupun mempertahankan popularitas dengan memberi pernyataan atau informasi yang diinginkan jurnalis. Orang-orang ini tahu apa yang dimaui jurnalis tertentu. Mempertahankan kontroversi, umpamanya, merupakan cara yang kerap dipakai agar mereka tetap dalam liputan jurnalis. Sayangnya, banyak jurnalis teperangkap oleh skenario ini, sehingga publikasi mereka sama saja dengan menyia-nyiakan ruang publik untuk sesuatu yang tidak memberi manfaat kepada kemaslahatan banyak orang.

    Jurnalis dan media massa semestinya menghindari peran sebagai penyambung lidah selebritas dan orang-orang yang haus popularitas hanya karena pernyataannya kontroversial dengan mengabaikan kepentingan masyarakat umum. Banyak pernyataan itu yang bersifat urusan personal di antara mereka, dari kabar tentang hobi, liburan, hingga konflik disajikan kepada publik. Informasi jadi komoditas untuk memuaskan hasrat ingin tahu urusan pribadi yang dipertemukan dengan hasrat selebritas untuk jadi pusat perhatian masyarakat, tak peduli positif ataupun negatif. Pokoknya populer.

    Bila jurnalis dan media massa terus memberi ruang yang besar kepada sumber berita semacam itu, dan mengabaikan suara rakyat yang lebih membutuhkan ruang, maka jurnalis dan media massa akan terjerembab dalam kesia-siaan yang mengingkari peran, fungsi, serta tanggung jawab mereka. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.