Jagalah Tata Krama: Horror Anthology #3 - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Pexels dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Selasa, 4 Januari 2022 07:13 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Jagalah Tata Krama: Horror Anthology #3

    Seorang grup teman-teman kuliah yang sedang berlibur di salah satu kampung temannya. Mereka mengira ini hanya akan menjadi liburan bersama alam sekitar, tetapi mereka yang teledor dan tidak mematuhi peraturan sekitar menghadapi sesuatu yang lebih mengerikan dari alam itu sendiri. Orang-orang di kampung tersebut juga menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang jahat.

    Dibaca : 712 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                 “Akhirnya libur semester! Ayo pergi ke mall atau kolam renang!” Temanku yang satu ini memang paling semangat jika hari libur sudah tiba. Aku bebas ingin pergi ke mana. “Bagaimana denganmu Dudi?” Mengapa selalu aku yang menjadi pengambil keputusan? Iya juga, aku tidak ingin pergi ke mall hanya melihat-lihat saja. Aku lebih suka jika pergi ke kampungku. “Bagaimana kalau kita pergi ke kampungku?” Rodi membalikkan badannya dan menanyakan teman-teman yang lain. Tentu saja, mereka generasi millennial. Berbaur dengan alam sangat menyenangkan teman-temanku sekalian. “Betul juga. Aku belum pernah pergi ke kampungnya Dudi. Dia membantuku saat ujian semester ini, jika dia ingin pergi ke sana, aku juga ingin pergi ke sana.”, ujar si Juli. Dia lahir di bulan Juni. Jangan tanya mengapa? Aku juga bingung. “Ayolah teman-teman. Siapa yang ingin digigiti nyamuk atau lintah? Aku jelas tidak mau!” Seno datang memegang pundaknya Rodi. “Apakah kau pernah mendengar istilah ‘Bunga Desa’?” Wajahnya tampak serius dan berdiskusi sebentar bersama Rodi. “Oke teman-teman, mari kita ke kampung Dudi!” Fitri dan Abdi juga ikut. Mereka berdua selalu mengikuti Seno. Aku mencium bau-bau pahit manis masa remaja di antara mereka bertiga. Akhirnya, kami berenam berangkat ke kampungku. Kampungku terletak jauh dari pusat kota dan masih erat dengan adat istiadat. Aku memang menyukainya di sana tetapi banyaknya aturan membuatku terkadang malas pergi ke sana. Tetapi aku sudah setahun tidak pulang kampung. Aku masih peduli kepada nenekku di sana.

                “Dudi, apakah kau tahu tempat ‘Bunga Desa’ biasanya berkumpul?” Apakah hanya wanita yang ada di otak anak ini? Aku bahkan tidak tahu jika ada bunga desa di sana. “Tentu saja, mereka biasanya belanja sayur di pagi hari.”, ujarku. Dia menepuk pundakku sambil mengeluarkan jempolnya. Juli menatapku dengan tajam. Ada apa dengan anak ini? Jangan-jangan?! Dia menyukai Rodi! Apakah kau serius Juli? Dengan pria ini? “Ada apa Juli?” Dia memalingkan wajahnya dariku. Tepat sasaran. Padahal aku suka bersama dengan dia. Jika dibandingkan dengan Rodi, aku pasti kalah. Aku bahkan tidak pernah bercanda di depan teman-temanku. Apakah ini rasanya menjadi karakter sampingan? “Dudi, kira-kira berapa jam kita sampai ke sana?” Abdi memang orang yang serius. “Kira-kira dua jam,” ujarku. Dia kembali duduk di samping Fitri. Hmmmm, aku yakin ada sesuatu.

                Akhirnya kami sampai di kampungku. Aku sudah lama tidak melihat gapura ini. Gambaranku masih ada di sini. “Rumahku lewat sini.”, ujarku. Kami melewati lahan persawahan yang sangat luas. “Bagaimana Rodi?” Dia menutup hpnya dan melihat ke arahku. Kau serius ada orang seperti ini? “Lumayan. Bagaimana dengan bunga desanya?” Anak ini. Aku harap dia bertemu bunga pasir terlebih dahulu. “Setelah kita sampai ke rumahku, biasanya mereka ada di pondok-pondok sawah mengantarkan makan siang.”, ujarku. Wajahnya senyum dengan lebar dan wajah Juli cemberut ke bawah. Serius Juli? Hahh, apa boleh buat.

                Setelah kami sampai, Rodi langsung mengajak kami ke sawah. “Dudi.”, ujar nenekku. Nenekku memanggilku dengan wajah yang sedikit pucat. “Hati-hati ya jika pergi ke sawah. Jaga tata krama dan sopan santun. Terutama kepada teman-temanmu yang bukan orang lokal.”, ujar nenekku. Nenekku tidak pernah seperti ini. Apa yang terjadi selama aku tidak datang ke sini? “Baik nek. Dudi janji.”, ujarku. Dia memberiku kunci ke gudang gubuk sawahnya. Kami pun pergi ke sawah. Rodi langsung melihat gubuk yang dihuni dua bunga desa. Dia tanpa ragu melucur ke gubuk itu. Juli memegang tanganku yang ingin turun ke parit sawah. “Oh, jadi begitu ya.”, ujarku. Julia heran dengan apa yang barusan kukatakan. Aku juga ikut turun bersamanya. “Hati-hati lintah.”, ujarku. Dia memukulku dan menarik Fitri ke parit juga. Abdi dan Seno hanya berdiri melihat kerbau yang sedang bekerja. Kalau Rodi tidak usah ditanya.

                “Hati-hati nak!” Bapak itu menghimbau kami agar tidak merusak pematang sawahnya. “Iya pak. Lintah ya maksud bapak?” Tanya Juli. Bapak itu menggelengkan kepalanya. “Hati-hati dengan lahan sawahnya!” Hmm, peringatan bapak itu terdengar aneh. Kemudian, beliau pergi meninggalkan kami. Kami melihat Rodi di gubuk tujuannya. “Ayolah pergi bersama abang, abang tinggal di kota dengan banyak mobil di garasi.”, ujar Rodi. Para bunga desa jelas terlihat tidak nyaman dengan kedatangan Rodi. Seorang bapak dengan cangkulnya mendatangi Rodi. Kami pun datang ke gubuk itu. “Pergilah nak, jangan ganggu anakku!” Rodi terlihat jengkel dan tetap berusaha untuk berkenalan dengan para bunga desa. “Maaf pak, ini perkumpulan anak-anak muda. Orang tua seperti bapak jangan ikut campur.”, ujar Rodi. Bapak itu terlihat jengkel dan menaruh cangkulnya. Bapak itu kemudian menolak Rodi ke lahan sawahnya. Kami akhirnya sampai di gubuk itu. “Ada apa ini pak?” Bapak itu melihat aku dan memegang pundakku. “Kau warga lokal ya? Jagalah teman-temanmu!” Mengapa dia bisa tahu kalau aku warga lokal? Mungkin tetangganya nenek. “Baik pak, maaf.”, ujarku. Dia meninggalkan kami bersama putri-putrinya. Rodi masih marah sambil meneriaki bapak itu. “Pak tua! Sini kau! Aku tidak terima diperlakukan seperti ini! Aku datang dari kota, lebih maju dan cerdas daripada kalian!” Aku juga semakin kesal dengan perkataan Rodi. “Hey orang kota! Apakah kau bisa keluar dari situ?” Dia terlihat terkejut dengan ucapanku. Dia berusaha keluar namun kelihatannya kakinya sangkut. “Maaf bro, sepertinya kakiku sangkut. Kau bisa menarikku?” Siapa yang sangkut di lumpur sawah? Apakah pria ini ingin menarikku juga ke dalam? Seno datang dan menarik Rodi dan tiba-tiba dia menarik Seno ke lumpur bersamanya. Sudah kuduga. “Hahahaha, kena kau Seno!” Mereka langsung bergulat di lahan sawah orang. “Bagaimana Dudi, aku sudah lapar. Kita juga belum salat Dzuhur.”, ujar Abdi. Kami berempat meninggalkan mereka yang sedang bergulat di sawah itu.

                “Sialan kau Rodi! Ini baju yang aku beli seharga dua juta!” Mereka terus bergelut menghiraukan mata yang tertuju kepada mereka. “Hati-hati bang. Nanti kalian tidak bisa pulang.”, ujar seorang anak kecil yang lewat sambil memberi peringatan kepada mereka. “Jumadil! Sini! Tinggalkan abang-abang itu!” Mereka terus saja bergelut hingga Rodi menunduk meminta maaf. “Maaf Seno!” Seno menahan pukulannya dan membersihkan mukanya yang penuh lumpur. “Lihatlah! Kau telah merusak sawah warga.”, ujar Seno. Rodi tetap menunduk dan menghiraukan perkataan Seno. “Rodi? Hey, jangan bercanda lagi!” Rodi tetap saja tidak merespon dan kemudian dia terlihat semakin dalam di lumpur sawah tersebut. “Hey Rodi! Ada apa?! Hey!” Seno terus memukul Rodi namun tetap tanpa respon. Kemudian Seno melihat leher Rodi yang telah dililit sebuah akar dan terus menariknya ke bawah. Seno mulai ketakutan dan berusaha keluar dari sawah itu. Tetapi tangannya telah dililit oleh akar itu. “Sial! Tolong!” Seno berteriak meminta tolong namun tidak ada yang mendengarkannya. Seorang ibu-ibu lewat tetapi menghiraukan teriakan Seno. Semua orang yang lewat menghiraukan dia. “Hey! Bapak tua! Tolong aku!” Semua orang beraktivitas seperti biasanya. Tidak ada yang memerdulikan Seno dan Rodi. “Apakah seperti itu kalian meminta tolong di kota sana nak?” Bapak itu terlihat kesal sambil menghisap rokoknya. Seno semakin marah melihat penduduk sekitar yang tidak peduli dengannya. “Tolonglah! Apakah kalian cemburu dengan kami orang kota? Huh!” Bapak itu meninggalkan Seno sambil membuang punting rokoknya. Seno mulai kelihatan panik. Dia berbalik dan tidak melihat Rodi lagi. Dia telah lenyap ditelan sesuatu di bawah sawah ini. “Maaf pak, tolong aku! Aku tidak bermaksud begitu! Maaf pak!” Bapak itu berhenti dan memberikannya sebuah tali lalu melanjutkan perjalanannya. “Hanya ini? Woy! Apakah kau serius pak?!” Dia hanya bisa pasrah dan mengambil talinya. Dia melemparkannya ke arah pohon pisang. Dia berusaha bergulat dengan akar yang menariknya. Namun, batang pisang itu mulai roboh. Dia kemudian berhasil memegang kaki gubuk tersebut dan berhasil keluar dari sawah itu. “Kau lihat itu? Hahaha! Aku berhasil melawan sawah kalian.”, ujar Seno. Dia melempari sawah itu dengan batu besar dan terus tertawa. “Aku akan melaporkan ini ke polisi dan kalian semua akan ditangkap! Lihat saja!” Dia berlari pergi ke rumah nenek Dudi. “Dor!” Tiba-tiba seseorang dengan senapan angin menembak dia tepat di dadanya. “Dasar anak kota. Apakah kalian tidak diajar tata krama di sana? Maaf dewiku. Kami sudah menyingkirkan hamanya.”, ujar bapak itu kepada seseorang dengan kulit bersisik yang berdiri di sampingnya. Kemudian mereka pergi mendatangi rumah nenek si Dudi.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.