Antitesis Gerakan Literasi, Kolaborasi, kok, dalam Kejahatan? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Senin, 10 Januari 2022 06:32 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Antitesis Gerakan Literasi, Kolaborasi, kok, dalam Kejahatan?

    Zaman begini banyak orang bersekongkol dalam kejahatan. Menebar kebencian dan prasangka. Akhlak baik semakian diabaikan. Antitesis gerakan literasi

    Dibaca : 372 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Menurut berita, ada 9 tersangka kasus suap dari OTT KPK di Kota Bekasi. Dalam proses pengadilian militer pun, ada 3 tentara jadi terdakwa. Akibat kasus tabrak lari yang berujung tewasnya dua sejoli di Nagrek. Di Cikarang pun seorang remaja tewas dibacok 2 remaja berboncengan motor, diduga terlibat keributan antarpelajar. Kasus-kasus itu bukti ada persekongkolan dalam kejahatan. Tolong menolong dalam keburukan.

     

    Mungkin, banyak orang sudah lupa. Bahwa“Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim No. 1017). Suka tidak suka, hari ini ada realitas sosial tolong menolong dalam kejahatan. Berkolaborasi dalam kejelekan atas nama pergaulan, atas nama pertemanan. Sehingga dianggap sah dan boleh berbuat apa saja, sekalipun kejelekan.

     

    Agak aneh memang. Kok tolong menolong dalam kejahatan dan permusuhan? Kolaborasi kok dalam perbuatan dosa. Memotivasi kok untuk membenci orang lain. Bukankah pendidikan semakin tinggi amanahnya untuk tolong menolong dalam kebaikan? Bukankah mengaji agar menjadi lebih baik? Lalu, kok bisa grup-grup WA dibuat hanya untuk menggibahi orang atau kelompok lain yang dianggap salah? Terlalu cepat menghakimi orang lain salah padahal hanya tahu sedikit saja. Lagi pula jika orang lain salah, apa mereka pasti benar?

     

     

    Ibarat pohon nangka. Sekalipun berada di satu pohon yang sama. Ada buah yang bagus ada pula yang busuk. Ada nangka yang aromanya wangi tapi rasanya pahit. Tampak luarnya bagus tapi dalamnya busuk. Mungkin, karena buah-buah nangka itu kurang dirawat. Tapi buah nangka yang baik, pasti dirawat dengan baik. Dengan cara-cara yang baik pula. Nangka-tok, kok tolong menolong dalam kejahatan.

     

    Tolong-menolong harusnya dalam kebaikan. Bukan dalam keburukan. Untuk apa bersekongkol dalam korupsi seperti di Kota Bekasi? Kenapa berkolaborasi dalam pembunuhan setelah tabrak lari? Kenapa pula harus membacok sesame pelajar? Sama-sama berjuang untuk kejahatan, kok bisa?

     

    Bila ada orang yang salah, tentu perintahnya dinasihati. Dimotivasi untuk tidak berbuat kejahatan. Diberi tahu yang benarnya dan apa yang dilarang. Karena sudah jadi kewajiban sesama untuk menegakkan kebaikan, di mana pun dan kapan pun. Bukan malah bekerjasama dalam keburukan. Apalagi membuat fitnah, gibah atau gosip yang sama sekali tidak memberi solusi.

     

    Maka penting hari ini diingatkan kembali. Untuk konsisten tolong menolong dalam kebaikan.Bukan sebaliknya, berkolaborasi dalam kejahatan. Siapapun manusianyam di mana pun lingkungannya punya tanggung jawab moral untuk menebar kebaikan. Saling menasihati dalam kebaikan. Bahkan bertindak untuk menjadikan keadaan lebih baik, membangun lingkungan yang lebih maslahat. Bukan malah membangun banyak prasangka, apalagi menebar kebencian dan permusuhan. Bukankah diajarkan “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya" (Q.S.5:2).

     

    Tolong menolong ya dalam kebaikan. Nasihat ya untuk kemaslahatan, begitu ajarannya. Lagi pula, tidak ada orang baik yang tidak punya masa lalu. Tidak ada pula orang jahat yang tidak punya masa depan. Maka jangan memandang remeh seseorang karena masa lalu dan keadannya. Teruslah menjadi lebih baik, kapan dan dimana pun.

     

    Spirit itulah yang terus ditebarkan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak. Tetap istiqomah untuk menyediakan akses bacaan, menasihati akan pentingnya berbuat baik. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi anak-anak dan masyarakat. Terserah apa kata orang, biarlah waktu yang akan membuktikan? Karena sejatinya, tidak ada kebaikan yang dibangun dari persekongkolan jahat atau prasangka dan kebencian. Kebaikan sekecil apapun memang harus diciptakan. Dan selebihnya dijaga dan dirawat. Itu di taman bacaan.

     

    Maka berhati-hatilah, untuk tidak tolong-menolong dalam kejahatan. Tetaplah berbuat baik dan benar. Bila tidak mampu ya diam atau tidak terlibat dalam kejahatan itu sendiri. Hingga akhirnya, kebaikan dan kebenaran itu akan menemui jalannya untuk mengungkapkan dirinya sendiri. Salam literasi. #TamanBacaan #PegiatLitersi #TBMLenteraPustaka



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.