Anak Bayi 4 - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Christian Abella dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Selasa, 11 Januari 2022 12:54 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Anak Bayi 4

    Broni akhirnya menemukan petunjuk terkait penculikan aneh itu dan membawanya kepada penyesalannya selama ini. Apakah penyesalan masa lalunya berhubungan dengan kasus penculikan aneh selama ini?

    Dibaca : 1.192 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

               Apakah hanya aku saja menganggap semua hal ini semakin tidak masuk akal? Pencuri bayi aneh, bayi aneh, dan bayi transparan. Apakah aku baru saja bermimpi? Aku melihat botol bayi yang baru saja kudapatkan dari pria aneh itu, sehingga kesimpulan yang kudapatkan adalah aku tidak bermimpi sedikit pun. Aku kemudian membeli susu bayi seperti perkataan pria itu. Pertanyaannya adalah di mana aku harus menguji semua ini. Aku akhirnya kembali ke tempat aku pertama kali melihat bayi bermata hitam itu.

                Aku melihat rumahnya yang sedang berpenghuni. Aku harus melakukan ini jika aku tidak ingin menjadi seorang tersangka. Aku melakukannya di bawah jendela luar rumah mereka. Aku membuat susu bayinya dan meletakkannya. Aku bahkan tidak harus menunggu satu menit, botol tersebut bergerak dan kemudian terjatuh. Aku tidak sengaja menutup botolnya dengan ketat, sehingga terdengar suara tangisan bayi yang samar-samar. Apakah kau serius? Apakah semua acara-acara pemburu hantu itu nyata? Aku akhirnya membuka botolnya dan dengan mata yang terbelalak, aku melihat susunya yang menjadi lebih sedikit. Aku juga mendengar tawa bayi. Setelah semua ini selesai, aku ingin pergi liburan ke pantai dan meminum air kelapa muda. Aku janji! Aku kemudian merasakan tarikan di lengan bajuku. Tubuhku pun merinding. Aku memberanikan nyaliku dan mengikuti tarikan itu. “Berhenti di sana! Ini pihak keamanan!” Sial! Aku ketahuan. Aku kemudian berlari. Syukurlah aku memakai jaket hitam yang misterius. Kerja bagus, diriku! Aku mencoba lepas dari kejaran rekanku sendiri. Aku tidak ingin memperparah keadaanku. Aku juga tidak merasakan tarikan aneh itu lagi. “Bagus sekali.”, ujarku. Aku melompati pagar dan melompat ke dalam selokan dan bersembunyi. Aku harap tidak ada kapal kuning yang sedang berlabuh di sini.

                Lima menit kemudian, polisi itu akhirnya pergi. Aku kemudian merasakan tarikan itu lagi. Apakah aku tanpa sadar menggendong bayi setan? Pengalaman yang menarik. Tarikan itu membawaku ke sebuah rumah tua dan kumuh. Aku juga melihat seorang wanita yang sedang menuju ke gudang di samping rumahnya. Aku berniat menangkapnya sekarang walaupun tanpa lencana. Aku berharap menemukan jawaban terkait Cika. Aku memasuki gudang yang ditinggalinya dan melihat banyak tempat tidur untuk bayi. Gudang itu berbau bedak bayi, namun aku tidak melihat bayi di mana pun. Apakah aku akan bertemu bayi setan di sini lagi? Tarikan yang kurasakan tidak ada lagi. Apakah maksud dari tarikan itu kepadaku untuk membawanya pulang ke sini? Aku tiba-tiba mendengar pintu yang terbuka. Aku bersembunyi di balik jerami. Aku kemudian mengintip dan tidak melihat wanita tua itu lagi. “Apa yang kau lakukan di sini nak?” Aku membalikkan badanku yang diikuti dengan tusukan jarinya ke dahiku. Aku tersungkur dan merasakan sakit kepala yang luar biasa. “Kau tidak boleh berada di sini nak. Kau mengganggu anak-anakku.”, ujarnya. Aku berusaha untuk berdiri dan aku melihat sesuatu yang selama ini sedang kubayangkan. Aku melihat banyak bayi dengan mata hitam yang melihat ke arahku. Apakah aku ketahuan karena ini. “Bagaimana menurutmu nak? Bukankah mereka lucu?” Aku mencoba mengambil pistolku, namun sudah berada di salah satu tangan bayi setan itu. “Kau seharusnya sadar nak, semua ini berada di luar kendalimu. Seharusnya kau membiarkan bosmu yang mengatasi semua ini.”, ujarnya. Bosku? Apa yang dikatakan wanita ini? Aku kemudian tersungkur tidak sadarkan diri.

                Aku bangun melihat seorang wanita tua yang sedang bermain dengan anak-anaknya. Badanku masih terasa lemah dan diikat di kursi. “Kau sudah bangun? Maafkan aku, aku hanya bertindak sebagai orang tua. Aku kira kau akan mencuri bayi-bayiku.”, ujarnya. Aku melihat pistolku yang jauh berada di meja. “Apakah kau yang selama ini mencuri kartu-kartu ATM warga?” Wanita tua itu terlihat kebingungan. “Aku tidak melakukan hal buruk seperti itu nak. Aku hanya ingin tinggal bersama anak-anakku.”, ujarnya. Sudah kuduga tidak semudah itu. “Aku melihatmu mencuri di rumah warga sambil menggendong bayi di punggungnya.”, ujarku. Dia kemudian terlihat cemas. Aku melihat bayi setan yang mendekatiku. Mata mereka hitam, sangat hitam. “Maaf nak, aku tidak tahu apa yang kau katakan, tetapi kau sudah berada di rumahku, akan tidak baik jika aku tidak memberimu makanan. Mari kita makan bersama.”, ujarnya. Aku kemudian dibawa ke dapur yang bersih dan makanan yang lezat. “Kau tidak ingin makan nak?” Aku melihat bayi-bayi tadi yang dengan lahap meminum susu dari mangkok-mangkok. Aku mempunyai firasat buruk terkait makanannya. Aku berusaha melonggarkan ikatannya. “Aku sarankan kau tidak melakukannya. Aku bisa saja membuatmu menyesal datang ke tempatku, tetapi aku sudah lama tidak kedatangan tamu, jadi tolonglah bersikap sopan dan baik. Terima kasih.”, ujarnya.

                Suapan kemudian datang dari wanita tua itu. Aku berusaha menghindarinya. “Tidak usah khawatir nak, makanan nenek sangat enak. Hihihihihi!” Tawanya sangat menyeramkan. Pandanganku kemudian berubah drastis. Dapurnya yang bersih tiba-tiba berubah jadi kotor dan makanannya yang enak berubah menjadi menjijikkan. Suapan yang diberikannya juga berisikan belatung dan bangkai. Sialan! Apa yang sedang terjadi? Aku kemudian melihat wanita itu dengan hidungnya yang besar dengan rambut putih yang berantakan. “Apakah kau serius? Aku bertemu dengan orang yang paling dibenci anak kecil.”, ujarku. Wanita tua itu kemudian mengeluarkan tawa khasnya yang membuat semua anak kecil mimpi buruk. Aku kemudian mendapatkan suapan yang menjijikkan itu. Aku berusaha membuangnya namun wanita tua itu mencegahnya. Malam itu, aku memakan sesuatu yang paling menjijikkan di dunia ini dan kehilangan kesadaran.

                Aku bangun keesokan harinya di ruangan bawah tanah. Aku berusaha bergerak, namun tenagaku belum kembali. Aku belum memakan apa pun selain sampah tadi malam. Aku kemudian melihat bayi setan yang menarikku. “Apakah itu kau?” Dia menganggukkan kepalanya dan menunjukkan ke sebuah terowongan kecil yang dipenuhi cacing. “Kau sudah gila jika menyuruhku untuk melewati terowongan itu.”, ujarku. Aku kemudian mendengar tawa khas itu mendekat. Aku membuang semua kejijikanku dan melewati semua cacing itu yang membawaku keluar dari rumah itu. “Aku rasa tidak ada lagi di dunia ini yang membuatku jijik.”, ujarku. Tawanya kemudian berubah menjadi teriakan. Aku kemudian berlari menuju peradaban. Aku sudah diikuti oleh wanita tua dengan sapu terbangnya. Dia juga menembakkan cahaya-cahaya yang aneh ke arahku. Aku tidak boleh terkena sinar aneh itu. Itulah yang dikatakan oleh instingku.

                Aku kemudian terjatuh. Sialan kau botol kaca. Wanita tua itu sudah berada tepat di hadapanku. Aku rasa sampai di sini saja. Aku berharap aku bisa mengulang semua ini dan tidak pernah melihat sisi dunia yang aneh ini. Aku kemudian dibutakan sesaat oleh cahaya dari sesuatu. Aku melihat botol kaca itu. “Sudah cukup kejar-kejarannya! Bayi-bayiku di rumah sudah lapar!” Dia menembakkan cahaya anehnya dan diikuti oleh tangkisan dari botol kacaku yang mengenai dirinya sendiri. Wanita tua itu kemudian melihatku dan tersungkur ke bawah. Dia tiba-tiba lumpuh. Aku bangun dan mengambil sapu terbangnya. “Bagaimana kau mengemudikan ini?” Wanita tua itu hanya diam. Aku kemudian meninggalkannya. Aku kembali masuk ke rumahnya. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Semua bayi setan itu telah berubah menjadi bayi biasa. Tangisan pun terdengar di heningnya hutan. Aku mencoba menghubungi kantorku. “Apa yang akan kujelaskan kepada Pak Dudi?” Aku kemudian melihat anak dari Pak Lnus. Tunggu dulu. “Hai Broni, apakah kau sudah merubah pemikiranmu?” Aku melihat Cika dengan gaun putihnya yang berlumuran darah. “Cika?” Aku kemudian berdiri menghadap penyesalan masa laluku.

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Farhanaang__

    5 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 120 kali