Apabila Gagal Jadi Juara, Haruskah Shin Tae-yong Dipecat Juga? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 17 Januari 2022 12:06 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Apabila Gagal Jadi Juara, Haruskah Shin Tae-yong Dipecat Juga?

    Budaya gonta-ganti pelatih sepak bola di Indonesia ini sepertinya sudah menjadi suatu tradisi manakala pelatihnya gagal membawa tim yang ditangani tidak berprestasi, dan gagal menjadi juara. Mindset para stakeholder, maupun para pendukung sepak bola di Indonesia laiknya seorang Dayang Sumbi yang meminta Sangkuriang supaya membendung telaga hanya dalam tempo satu malam.

    Dibaca : 2.588 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Muncul rumor, bahwa pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, harus dipecat apabila Timnas Indonesia U-23 gagal mempertahankan gelar juara turnamen piala AFF U-23 di Kamboja nanti. 

    Bisa jadi hal tersebut merujuk pada kebiasaan para pendukung sepak bola di Indonesia, yang sudah terbiasa menuntut supaya memecat pelatih yang telah gagal membawa timnya menjadi juara. Ditambah lagi selalu menelan kekalahan dalam setiap pertandingan. 

    Sehingga suka maupun tidak, jajaran pengurus pun tak berdaya. Akhirnya menuruti tuntutan para pendukungnya.  

    Untuk kemudian, pengurus mencari pelatih baru. Tapi ternyata setali tiga uang dengan pelatih yang telah dipecatnya. Tidak berprestasi sesuai dengan ekspektasi. 

    Maka muncul kembali tuntutan untuk memecatnya. Dari para pendukungnya, tentu saja. 

    Begitu terus. Padahal pelatih tersebut baru seumur jagung melatih tim kesayangan mereka, atau paling lama satu tahun. 

    Dan, padahal pelatih itu pun sebelumnya memiliki rekam jejak yang tidak disangsikan lagi. Memiliki keprigelan yang mumpuni. Setiap tim yang ditangani selalu berprestasi. Malahan setelah dipecat pun, dan kemudian melatih tim lain, ternyata mampu membawa timnya menjadi juara dalam setiap pertandingan yang dilakoni. 

    Sementara tim sepak bola kesayangan para pendukung yang selalu menuntut untuk mengganti pelatihnya yang tidak mempersembahkan gelar juara itu pun, justru semakin terpuruk saja.  

    Kebiasaan pecat-memecat pelatih sepak bola di Indonesia, bisa jadi sudah merupakan suatu tradisi. Sehingga suka maupun tidak, sudah menjadi budaya di dalam olahraga sepak bola. 

    Hal itu bermula dari pemahaman bahwa tujuan utama dari suatu pertandingan adalah untuk mendapatkan kemenangan. Sedangkan proses, atau pun filosofi untuk mencapai tujuan tersebut, belum sepenuhnya terpikirkan. 

    Bahkan bisa jadi dalam otak mereka hanya tertanam: Seandainya memiliki pelatih yang hebat, maka tim sepak bola kesayangannya itu juga akan disulapnya menjadi kesebelasan yang hebat pula dengan cepat di dalam waktu yang singkat. 

    Sementara mereka sama sekali tidak menyadari, malahan boleh jadi tidak peduli dengan kondisi para pemain yang kemampuan di dalam cara bermain sepak bolanya saja masih pas-pasan.  

    Bagaimana cara melakukan passing, dribling, atau kapan saatnya untuk menyerang, dan kapan waktu yang tepat untuk bertahan, apa lagi menjaga kekompakan tim (bukankah sepak bola dimainkan oleh 11 pemain?), dalam kenyataannya masih saja kedodoran. 

    Belum lagi mentalitasnya yang juga boleh dikatakan tidak jauh berbeda dengan keterampilan yang masih pas-pasan. Filosofi olahraga yang menjunjung tinggi sportivitas, belum tertanam kuat di dalam kepala mereka. 

    Sehingga bukan sesuatu yang asing lagi bila di dalam pertandingan sepak bola, seringkali disaksikan ada perkelahian saling tinju, dan saling tendang antar pemain dari dua kubu yang tengah berhadapan di tengah lapangan. 

    Tak jarang pula lantaran dianggap tidak adil dalam memimpin pertandingan, wasit pun seringkali menjadi sasaran keberingasan, dan kebrutalan pemain. Wasit yang sejatinya merupakan hakim yang setiap keputusannya harus dihormati, malah di-smack down hingga terkapar di arena pertandingan. 

    Mentalitas yang kedodoran, dan tidak menjunjung tinggi nilai-nilai filosofi olahraga, ditambah lagi dengan ekspektasi yang menjulang tinggi untuk menjadi juara dalam waktu yang cepat, memang sudah sejak lama menjadi suatu mindset yang sudah menjadi budaya di Indonesia.  

    Apakah hal ini lantaran founding fathers negeri ini, Bung Karno yang telah menanamkan faham revolusi - perubahan dengan cepat, di segala bidang, atau lantaran serbuan usaha restoran yang membawa budaya makan dengan hidangan cepat saji, atau juga sudah terbiasa masak mie instan yang bisa segera disantap saat perut minta diisi? 

    Entahlah. Hanya saja yang jelas, para pendukungnya, dan juga para pemangku kepentingan di dalam olahraga, khususnya sepak bola di Indonesia, sepertinya telah memiliki mindset yang sama. Harus berprestasi tinggi secara cepat dalam waktu yang singkat. Sebagaimana halnya pelayanan di restoran cepat saji,  dan juga memasak mie instan.  

    Kita tentunya masih ingat, apa yang terjadi pada beberapa pelatih Timnas Indonesia beberapa waktu yang lalu. Seperti misalnya Alfred Riedl, Wim Rijsbergen, Nilmaizar, dan Manuel Blanco.  

    Bagaimana seorang pelatih ditunjuk untuk mempersiapkan tim, tetapi tiba-tiba posisinya dipecat beberapa hari jelang laga digelar, kemudian mengangkat kembali pelatih timnas yang baru dalam tempo satu hari setelah laga yang seharusnya menjadi debutnya bersama tim nasional Indonesa. 

    Lantas, bagaimana dampaknya bagi prestasi sepak bola Indonesia? Sama sekali tidak ada. Yang jelas malah semakin terpuruk saja. Dan berdampak jika tim nasional Indonesia tidak pernah berhasil menjadi sebuah tim yang solid karena terlalu seringnya gonta-ganti pelatih. 

    Hal itu merupakan fakta yang ada di depan mata, suka maupun tidak betapa para pengurus PSSI dalam memperlakukan pelatih tim nasional terkesan tidak memberikan apresiasi sebagaimana layaknya seorang murid terhadap seorang gurunya. 

    Apakah hal itu masih tetap akan berlaku terhadap pelatih Timnas Indonesia asal Korea Selatan, Shin Tae-yong? 

    Andaikan nanti di turnamen piala AFF U-23 di Kamboja Shin Tae-yong gagal mempertahankan gelar juara, maka federasi sepakbola Indonesia ini akan memecatnya juga, dan tagar #pecatshintaeyong pun ramai disuarakan? 

    Andaikan hal tersebut terjadi kembali, dan terus berulang tiada henti, maka jangan lagi mencari-cari kambing hitam untuk mengalihkan perhatian tatkala Timnas Indonesia tidak pernah dapat berprestasi tinggi, dan tidak mampu berbicara banyak di tingkat Asia Tenggara sekalipun. Apa lagi di tingkat Asia dan dunia. 

    Suka maupun tidak, bahwa hal itu disebabkan karena para stakeholder, pengurus PSSI, dan kita semua sebagai pendukung Timnas Indonesia, meskipun misalnya mendatangkan pelatih sekaliber Jose Mourinho, Pep Guardiola, Ralf Rangnick sekalipun, Timnas Indonesia tidak akan pernah menjadi juara, karena kita semua  memang belum memiliki mental seorang juara. 

    Itu saja. ***

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.