Surga yang Hilang - Fiksi - www.indonesiana.id
x

diawali mimpi, keimanan, keikhlasan, dan keistiqomahan membuatnya menjadi kenyataan

Muhamad Hasim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Rabu, 26 Januari 2022 12:29 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Surga yang Hilang

    Zainal tak pernah menduga kehidupannya yang bahagia akan berakhir tragis.

    Dibaca : 918 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Siang yang garang. Matahari membakar setiap sudut. Manusia merasa seperti ikan teri yang masuk penggorengan, menciut kepanasan, terbakar hingga legam. 

    Kantor Polisi Sektor itu juga terbakar, yang membuat orang-orang berwajah seram di dalamnya jadi bertambah seram, dan tak betah berlama-lama mengerjakan sesuatu. Mereka ingin mengerjakan segalanya dengan cepat dan berharap hari segera berlalu, berganti dengan malam yang sejuk.

    Zainal merasa asing, di tengah orang asing yang panas, yang tak suka melihat kehadirannya. Seorang polisi bertubuh tegap menyeretnya turun dari mobil tahanan, tangan polisi yang kokoh itu menggenggam lengannya yang kini lunglai. Zainal merasa tubuhnya seperti balon tiup yang kehilangan angin separuh dari volumenya. Perjalanan dari rumah ke kantor polisi tadi adalah perjalanan terpanjang yang pernah dia lakukan, sumur hidupnya.

    “Masuk!,” bentak polisi itu. Zainal menurut.

    Dan pintu berjeruji besi itu terhempas rapat.

    ***

    Seberlalunya polisi itu, Zainal terduduk sendiri, terpuruk, tercenung didalam ruang berpintu jeruji besi sekuruan kira-kita tiga kali tiga meter. Sungguh tak ternah terlintas di dalam pikirannya akan berada di dalam tempat seperti itu. Seumur hidupnya tak pernah dia membayangkan dirinya berada di sana. Meski dia cukup sering mendengar cerita orang di dalam sel, tapi dia merasa tak pernah akan ada alasan yang bisa menyeretnya hingga mendekam di sana. Selama ini hidupnya baik-baik saja. Dan cerita orang di balik jeruji besi adalah hiburan yang sering dia tonton di TV.

    “Kasus apa,” tanya orang di sebelahnya.

    Zainal melirik sekilas. Orang itu bertubuh tambun, berkulit gelap terbakar, berwajah lebar dengan mata yang juga lebar, dan alis yang tebal. Suaranya ngebass. Dia mengenakan celana pendek dan berkaos oblong sehingga bulu-bulu kaki dan lengan bawahnya terlihat nyata. Ketika berbicara, dia hanya melirik.

    Di dalam ruangan itu hanya ada dia dan orang yang bertanya itu. Zainal hanya sempat menolehnya sekejab. Dari penampilannya, Zainal menduga dia adalah orang gaul yang punya banyak teman, mungkn termasuk para polisi yang menjebloskan dirinya ke sini tadi. Zainal menduga, orang itu sudah tidak asing dengan tempat seperti ini. Beda dengan dirinya yang baru pertama kali.

    Tapi Zainal diam seribu basa. Dia tak hendak menjawab pertanyaan itu. Kasus yang menimanya sungguh memilukan, dan memalukan sekaligus, berbeda dengan kaus narkoba yang dia duga menyeret orang yang di sebelahnya itu, atau kasus perkelahian, misalnya, yang sering kali membuat si pesakitan malah merasa bangga.

    Tapi yang menimpanya ini, sungguh membuat kepalanya serasa mau pecah.

    Kalau saja dia tidak bertemu dengan perempuan yang menjadi istrinya sekarang, mungkin dia akan tetap bahagia menjalani kehidupan di Pulau Jawa sana, dengan istri dan anak-anak mereka yang lucu-lucu. Walaupun tidak serba berkecukupan, tapi mungkin kehidupan mereka akan nikmat belaka, tanpa konflik, apalagi kasus yang membawa dirinya ke neraka seperti sekarang ini.

    Tapi nasib membawanya bertemu dengan perempuan itu, di sebuah pabrik sepatu di Tangerang. Mereka sama-sama jadi buruh yang sering kali berada dalam satu shift. Karena terlalu sering Bersama, mereka akhirnya saling cinta dan memutuskan untuk hidup bersama sebagai suami istri.

    Tapi setelah menikah, istrinya tak mau tinggal bersama di Tengerang, atau di Pulau Jawa tempat Zainal berasal. Tinggal di gang sempit, di dalam rumah yang juga sempit, dengan para tetangga yang saling berdempetan, bukanlah ide yang baik menurut istrinya. Apalagi nanti, jika anak-anak mereka semakin banyak.

    “Kita pulang ke Sumatera saja, ya. Di sana kita tinggal di rumah yang lebih besar, dengan halaman yang luas. Bapak sudah menyediakan sepetak ladang untuk kita,” kata istrinya.

    Zainal setuju. Terbayang di matanya sebuah rumah yang luas, di pinggir sawah yang selalu hijau, dengan halaman yang juga luas, tempat anak-anak mereka bermain berkejaran. Kontras dengan kehidupan yang mereka jalani di kota, ketika itu, yang serba sempit, panas, dan gersang.

    Kembali jadi petani tak apa, pikir Zainal. Toh, dia juga berasal dari keluarga petani.

    Tak lama kemudian, Zainal mendapati dirinya berada di sebuah kampung di Sumatera, menumpang di rumah mertua, orang tua dari istrinya, yang terletak di pinggir sungai yang airnya selalu jernih di musim kemarau, namun keruh di musim hujan.

    Pekerjaannya sehari-hari adalah bertani, membantu mertuanya di sawah dan di ladang, sebuah pekerjaan yang bukan baru baginya. Dan karena ketekunan dan keberaniannya, dia telah pula mampu mengunduh damar*, sesuatu yang tak terbayang sebelumnya.

    Mengunduh damar tentu saja bukan pekerjaan mudah. Pekerjaan tersebut sangat tradisional dan khas daerah tempat istrinya berasal. Diperlukan keberanian untuk memanjat pohon tinggi besar yang telah dilubangi itu dengan seutas tali rotan yang dililitkan di pinggang, apalagi bagi orang perantau seperti dirinya. Banyak orang menyerah melakukan itu, dan memilih pekerjaan apa saja, asal tidak memanjat pohon.

    Setelah istrinya melahirkan anak mereka yang kedua, mertuanya membuatkan mereka satu unit rumah sederhana, terbuat dari kayu, beratap seng, berlantai adukan semen dan pasir, terletak di pinggir sawah, seperti yang pernah dibayangkannya.

    Kehidupan mereka cukup Bahagia, dan Zainal menikmati itu. Tak lagi ada dalam pikirannya untuk menjadi pengusaha besar yang punya rumah mewah dan harta berlimpah, seperti yang pernah dibayangkannya ketika dia berangkat dari kampung halamannya ke Tangerang untuk mencari pekerjaan, ketika dia baru tamat SLTA.

    Keluarga istrinya cukup support dan toleran terhadap kehidupan yang mereka jalani. Tak pernah ada keributan antara mereka selama mereka tinggal menumpang di rumah mertua, hingga mereka tinggal terpisah seperti sekarang. Kedua mertuanya adalah orang yang baik hati.

    Zainal dan istrinya menanam cita-cita mulia bagi anak-anak mereka, yang kini sudah berjumlah tiga orang. Mereka berdua harus bekerja keras untuk menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi, tidak seperti mereka berdua yang tidak pernah menginjak bangku kuliah.

    Begitulah kebahagiaan itu pelan-pelan menunjukkan bentuknya, cita-cita perlahan menjelma menjadi sebuah masa depan, seperti mobil prototipe yang sudah tercipta namun belum resmi diakui, hingga suatu saat kehebohan itu terjadi; sesuatu yang di luar kuasanya untuk membendung.

    Siang itu seisi kampung jadi heboh. Polisi berdatangan seperti mengepung kampung mereka. Para tetangga ramai berkerumun, berbisik-bisik, seakan tak percaya apa yang terjadi. Ketika dia tiba, tampak bapak mertuanya berada dalam genggaman polisi, diborgol, bersiap menuju mobil tahanan yang terparkir tak jauh dari rumah mereka.

    Dia sempat menangkap air muka bapak mertuanya yang bersemu merah menahan malu, tertunduk dan tak bisa berkata apa-apa. Sang mertua bahkan tak mampu menatap dirinya yang terpana, seperti tak percaya apa yang terjadi di depan matanya. Dalam hatinya berkecamuk ribuan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

    Sementara para tetangga terus berisik-bisik, dari satu mulut ke telinga yang lain, dari satu telinga, ke mulut yang lain, seperti mata rantai yang tak berujung. Samar-samar, dia sempat mendengar percakapan mereka mengarah pada seorang gadis kecil kelas empat SD yang bernama Lia.

    Zainal mengenal anak kecil itu karena rumahnya sering dia lewati ketika dia berangkat ke ladang milik mertuanya.

    Semuanya berlangsung cepat, hingga dia mendapati dirinya berada dalam sel tahanan ini, sendirian. Sang bapak mertua justru sudah dipulangkan; terlepas dari jeruji besi yang sangar, yang memisahkan dua dunia berbeda itu.

    Dari tempat duduknya, dia bisa melihat rumah mereka di desa di Jawa; bapaknya yang mulai ringkih setelah dua tahun ditinggal ibunya; keponakan lelakinya yang kelas enam SD yang suka sekali menyanyikan lagu Bip Bop A Lula dengan syair yang sembarangan. (Dia tersenyum bila mengingat hal ini). Tiba-iba, dia jadi sangat merindukan bapaknya.

    Dia lihat lagi anak gadis kakaknya yang tertua tersenyum menyambut kedatangannya dengan ramah, setelah bertahun-tahun lamanya mereka tak bertemu. Keponakannya itu yang merasa dirinya seperti orang asing yang masuk ke rumah mereka.

    Dia masih ingat jelas air muka ibunya yang suram, yang erat menahan deraian air mata ketika melepas kepergiannya dulu.

    Bayangan peristiwa sekitar lima belas tahun lalu itu kini menjelma dalam bentuknya yang paling jelas di mata Zainal. Tak pernah dia mengingat peristiwa itu sejelas seperti sekarang.

    Di ruangan berjeruji besi yang tembus ke ruang tamu di kantor polisi itu, dia juga melihat anak-anaknya. Yang tertua sudah kelas lima SD, berusia hampir sebelas tahun. Yang nomer dua kelas dua SD berusia tujuh tahun lebih. Dan yang terakhir belum lagi genap setahun, masih lucu-lucunya, dan belum lancar berbicara.

    Anaknya yang terakhir ini selalu bersama mertuanya jika siang hari Zainal berangkat ke kebun, dan istrinya berangkat kerja. Istrinya bekerja sebagai buruh penyortir damar milik tauke Erwin. Buruh penyortir damar adalah pekerjaan khusus buruh perempuan karena tak ada laki-laki yang mau melakukan itu karena mereka harus membedaki wajah mereka dengan lumpur untuk menghindari debu damar lengket. Ini adalah pekerjaan unik yang cuma ada di kampung istrinya ini. Seumur hidup, sebelum pindah ke kampung istrinya ini, dia tak pernah melihat orang membedaki tubuhnya dengan lumpur sebelum bekerja.

    Zainal beruntung punya mertua yang ikhlas membantu menjaga anak-anaknya ketika mereka tidak sedang di rumah, bukan hanya anaknya yang bungsu sekarang, tapi semua anak-anaknya. Anaknya yang bungsu sekarang adalah permata keluarga; berwajah tampan dan berkulit putih seperti istrinya, yang membuat semua orang merasa gemas dan ingin menggendongnya.

    Zainal hampir tak kuasa membendung air mata ketika mengingat anak bungsunya itu.

    Lalu kelebat bayangan itu berganti dengan wajah istrinya. Seorang perempuan perkasa yang tak pernah gengsi melakukan peekrjaan apa saja demi men-support ekonomi keluarga mereka.

    Lalu bapak mertuanya yang baik hati, yang sedang menggengam sebilah pisau. Mata bapak mertuanya itu nyalang menyala tertuju ke arah dirinya. Dan nyala itu kemudian menghunjam, menusuk hulu hatinya.

    Sekilas kemudian, Zainal mendapati dirinya terbang melayang ke awan.

    Nun di bawah sana, dia bisa melihat istrinya menangis sesenggukan, dan para tetangga yang berdatangan ke rumah mereka.

    Dia juga sempat melihat sosok bapak mertuanya berada di antara kerumunan orang-orang yang menurunkan tubuhnya yang tergantung di jeruji lubang angin kamar kecil, di kantor polisi itu.***

    • Memetik getah pohon damar.

    Ikuti tulisan menarik Muhamad Hasim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.



    Oleh: Merta Merdeka

    13 jam lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 83 kali