Keramaian di Kantor Baruku - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Menyeramkan. Karya G. Lopez di Pixabay.com

Regina Nikijuluw

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 November 2021

Minggu, 27 Februari 2022 10:57 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Keramaian di Kantor Baruku

    “Aku tadi di ruang arsip mengambil catatan pembelian untuk membuat invoice. Saat aku membalikkan badanku seorang perempuan jelek, wajahnya penuh darah, menyeringai sambil memandang aku.”

    Dibaca : 1.119 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pikiranku melayang pada kejadian di kantor dua minggu lalu.

    Hello Mailera! How’re things going?” Timothy menyapaku dengan logat Australianya yang kental. Dia adalah Direktur Marketing kantor periklanan, di tengah kota Yogya, tempatku berkarya selama hampir empat tahun.

    Not too bad, Tim! And you?” Tim adalah nama panggilannya dan dia mengangkat jempolnya menjawabku. Rita, sekretaris pribadinya, menyampaikan bahwa ada sesuatu yang Tim ingin bicarakan denganku.

    Tim berjalan menuju meja kopinya dan menuangkan dua gelas. Dia sangat paham kesukaanku dengan kopi karena itu menjadi teman yang sepadan dengan kebiasaan merokokku.

    Well, you know that we’re opening a new office in Manado,” dia mulai membuka arah dari pertemuan ini setelah aku mengucapkan terima kasih untuk kopiku. “Would you be interested to be a General Manager there?

    Aku sekarang menempati posisi manager sehingga tawaran itu sangat menantang sekaligus menarik. Tanpa berpikir panjang, aku, lajang, berumur hampir 29 tahun, menjawab, “I would love to, Tim. Thank you so much for your trust and I will try my best to make you proud!

    ***

    Bayangan yang terhenti karena aku sudah tiba di muka kantor baruku. Mendekati pukul 10 pagi, aku memarkirkan motorku di depan rumah lantai dua berwarna putih cerah yang didirikan jaman Belanda. Aku melangkahkan kakiku. Hari itu pertama kali kami semua masuk dalam kantor.

    Resepsionis, berambut lurus tebal, putih dan manis, mengucapkan selamat pagi ketika aku masuk,” Selamat pagi Bu. Bisa dibantu?”.

    “Pagi. Aku Mailera dari Yogya. Aku …” kata yang belum selesai aku ucapkan, sang resepsionis berdiri, “Oh, aku Aini. Mari Ibu, aku antar ke Ibu Karinda.”

    Ibu Karinda, Kepala Cabang, berbadan agak gemuk, tidak terlalu tinggi dan memiliki wajah ceria dan penuh senyum. Dia mengajak aku berkeliling untuk menemui karyawan yang lain. Mateo adalah illustrator dan desainer, Freya yang menguasai konten dan Amorette bertanggung jawab pada keuangan dan administrasi. Ibu Karinda juga menjelaskan posisi Aini yang merangkap sebagai sekretaris muda.

    “Sekitar jam 5 sore, seorang satpam datang dan menjaga kantor sampai pagi,” penjelasan tambahan yang diberikannya. “Sekarang kita memang baru berenam, tambah satu Eros, office boy. Dalam waktu dekat kita akan merekrut beberapa karyawan baru.”

    Saat makan siang, aku bertemu Eros. Dia merangkap juga sebagai tukang kebun dan membantu pengurusan makan siang seisi kantor. Istrinya menyiapkan rantang untuk kami semua.

    “Selamat siang Ibu Mailera. Makan siang sudah di meja, Bu,” sapanya sambil menunjukkan tangannya ke satu rantang di meja. Semua sudah makan dan aku yang terakhir menyantap. Kebiasaanku sejak di Yogya yang hampir selalu melewatkan waktu makan siang.

    “Terima kasih Eros,” aku tersenyum dan bersyukur makan siang sudah di depan muka.

    “Ibu suka kerja sampai malam?” dia melanjutkan pembicaraan sambil tangannya menyapu cucian dengan spons kuning yang dicampur sabun.

    “Iya, aku bukan anak pagi. Otakku baru berjalan lancar kalau matahari sudah tinggi,” sambil menyeruput kopi buatannya dan menghisap rokok Marlboro, aku mengungkapkan kebiasaanku.

    “Hati-hati ya Bu,” matanya memandang tajam. Aku berterima kasih dan menganggap pernyataan Eros bagiku mengingatkan bahwa pada malam hari banyak orang jahat.

    Ruanganku terletak di lantai dua. Ibu Karinda sedikit merenovasi bagian atas untuk disesuaikan dengan kebutuhan desain dan penjualan. Mateo, Freya dan aku berbagi dalam satu ruangan besar, sementara di sisi ruangan kami ada ruang rapat kecil, dan di ujung tersedia kamar mandi.

    Malam ketiga, aku masih terus berkutat dengan kertas permintaan klien. “Tidak heran Tim membuka kantor di sini,” pikirku melihat tumpukan permintaan yang datang.

    Namun malam ini agak berbeda, ruang kerja terasa agak dingin padahal aku mematikan alat pendingin ruangan. Mateo dan aku sama-sama menyukai kerja malam dan kami biasa mematikan pendingin karena kami lebih memilih rokok kami.

    “Udara dingin sekali ya Mateo,” sahutku sambil mengenakan jaketku dan mengancingkannya. Anehnya semua bulu kudukku berdiri.

    Belum lagi Mateo menjawab pertanyaanku, aku menghirup bau sedap malam dan melati menusuk hidung. Aku mengerenyitkan keningku dan terus memandangi Mateo yang terlihat mengenduskan hidungnya. Kami berpandangan beberapa saat dengan pemikiran yang sama bahwa kantor kami tidak ada bunga sedap malam dan melati. Lewat beberapa detik, kami akhirnya menghiraukan bau itu dan kembali pada kesibukan kami.

    Belum lama berselang, kami mendengar suara tawa anak kecil dari halaman belakang. Kantor kami memang bersebelahan dengan sekolah dasar. Ibu Karina kadang membebaskan anak masuk dan bermain.

    “Ah paling itu anak dari SD sebelah,” pikirku sebelum aku terhentak dalam kesadaran waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kesadaran yang membawa aku mengangkat kepala mendengar suara beberapa sepatu berlari menaiki tangga menuju ruang kami.

    “Koq belum pulang?” suara salah satu anak perempuan kecil, tanpa bentuk, tak terlihat, hanya suara yang kami dengar.

    Dengan bulu kuduk berdiri, memandangi pintu yang tidak ada apapun, reflek aku menjawab sambil membereskan barang-barangku, “Iya, ini kami mau pulang.” Rerspon yang membawa mereka berlari cekikik menuruni anak tangga. Beberapa anak kecil bersenda gurau di malam hari.

    Tentu kejadian itu membawa kehebohan saat Mateo ceritakan di kala makan siang. Kantor menjadi sepi di pukul 5 sore. Hanya Mateo dan aku yang masih bekerja mengejar beberapa tenggat.

    Dua malam sesudahnya, Mateo dan aku, beristirahat sejenak, menikmati kopi dan rokok kami. Jam di ruang kerja menunjukkan sekitar setengah sembilan malam. Kami melihat beberapa batang bambu di halaman bergoyang keras. Sementara pohon-pohon sekitarnya diam karena memang tidak ada angin yang bertiup.

    “Kata Eros, tuyul-tuyul sedang menari,” Mateo menceritakan komentar Eros tentang goyangan batang bambu. Mataku terus menatap batang yang menari sambil menghirup asap rokokku. Penghuni lain di kantorku, tuyul yang senang menari di batang bambu kuning.

    Ibu Karinda terkenal seorang yang penakut. Setelah mendengar cerita anak kecil di malam itu, dia meminta Amorette untuk bekerja di ruangannya. Kamar Ibu Karinda cukup besar dan ada kamar mandi di dalamnya.

    Siang itu, hari ke tujuh di kantor baru, kami makan siang bersama di ruang Ibu Karinda sambil berdiskusi tugas dan rencana ke depan. Ibu Karinda sering mengajak anaknya, Valentino, empat tahun. Aku merasakan suasana dingin yang berbeda. Aku tahu itu bukan dingin dari alat yang ada di ruangan. Namun aku memilih diam supaya suasana kental yang ada tidak menjadi suram karena ketakutan.

    “Mama,” suara Valentino memotong diskusi kami. Matanya memandang di belakang Ibu Karinda. Wajahnya tenang tapi penuh keheranan. Dia melanjutkan, “Itu Tante sama Kakak siapa yang berdiri di belakang Mama?”

    Pertanyaan yang membuat Ibu Karinda terpaku tanpa kata. Aku mengangkat badanku, berlutut di depan Valentino, “Tino bilang  ke Tante dan Kakak kalau Tino sudah bawa mainan. Tante dan Kakak boleh pergi.” Aku berasumsi mereka mau mengajak Tino bermain. Tak lama Eros datang dan mengajak Tino bermain bersamanya.

    “Astagaaa, aku takutnya setengah mati,” Ibu Karinda berteriak mengeluarkan emosi yang dia tahan selama Tino ada di ruangan. “Suamiku selalu bilang aku tidak boleh menularkan penakutku ke anak. Makanya tadi aku terdiam tapi dada ini menghentak layaknya genderang.” Aku menambah catatanku seorang tante dan anaknya.

    Seusai makan siang, Mateo, Freya dan aku kembali ke ruangan kami. Meletakkan buku catatan di meja, Freya berjalan menuju kamar mandi di ujung. Mateo dan aku langsung tenggelam dengan tugas kami.

    “Kaaak,” suara Freya dari depan pintu. Kami mengangkat muka dan melihat wajahnya putih pucat dan peluh memenuhi tubuhnya. “Tadi tidak dengar aku teriak kaaah?” suara Freya bergetar dan aku menyadari badannya menggigil.

    Aku menggiringnya duduk dan Mateo mengambil air putih dari dispenser di sudut ruangan. “Minum dulu dan tenangkan diri Freya,” aku memberikan gelas air putih.

    Tak lama, dengan suara menahan tangis, dia bercerita,”Ada kakek tinggi besar di kamar mandi… Dia berdiri di depan aku… Matanya tajam.” Freya menangis sesegukan. “Aaaku terpaku Kak, tidak bisa bergerak… Aku berteriak memanggil Kakak berdua,” lanjutnya di sela isakan tangisnya.

    “Maaf Freya, kami tidak dengar,” suara Mateo dari belakang badanku sementara aku terus mengelus badannya berusaha menenangkannya.

    Belum dua minggu di kantor baru, peristiwa Freya menambah satu lagi dalam catatanku, kakek berbadan tinggi besar bermata tajam.

    Hari Jumat, dua minggu di kantor baru, Amorette berbagi kisahnya saat makan siang di ruang makan. Terus terang, kejadian seru di kantor membuat aku mengubah kebiasaanku makan siang sendiri.

    Saat Amorette melihat Ibu Karinda sudah kembali ke ruangannya, dia membuka mulutnya, “Sialan, hari ini aku yang kena.”

    “Eh ada apa? Kamu mengalami hal lain juga?” tanyaku penasaran. Aku tahu dia pemberani sehingga tidak heran dia dengan santai menceritakan apa yang dialaminya.

    “Aku tadi di ruang arsip mengambil catatan pembelian untuk membuat invoice. Saat aku membalikkan badanku seorang perempuan jelek, wajahnya penuh darah, menyeringai sambil memandang aku,” Dia menguraikan sambil tertawa dan melanjutkan, “Aku bilang ke dia, kamu serem ah, jangan ganggu-ganggu kami.”

    Memang aneh temanku satu itu, dia menceritakan hal yang seram tetapi sambil tertawa. Tentunya cerita itu menciptakan pemikiran lain juga bagiku, “Satu lagi, perempuan berwajah seram.

    Belum selesai kami mendengar ceritanya, Ibu Karinda tergopoh-gopoh dan meminta Eros membawa Tino ke mobil. “Cukup sudah,” katanya. “Aku melihat perempuan berbaju putih duduk di mesin pemanas air di kamar mandi. Aku akan mengajukan pengunduran diriku.”

    Kami semua terdiam dan cukup kaget dengan keputusan Ibu Karinda yang sudah berjalan menuju ke mobilnya.

    Perempuan berbaju putih,” pikirku.

    Keramaian di kantor baruku adalah penghuni gelap yang tidak terdata. Cukup beruntung aku selalu ingat kata ayahku sedari aku kecil, “Kita kalau takut itu ke manusia karena mereka bisa berbuat jahat yang kita tidak bisa lawan. Jangan takut ke hal yang tidak kelihatan karena mereka itu takut pada Tuhan, sementara Tuhan itu kan teman kita.”

    ***

    Ikuti tulisan menarik Regina Nikijuluw lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.