Dia yang Sedang Makan dan Kita yang Sedang Tertidur - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Foto oleh Prettysleepy dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Rabu, 16 Februari 2022 12:06 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Dia yang Sedang Makan dan Kita yang Sedang Tertidur

    Orang sering tidak bisa tertidur di malam hari, baik karena stres atau terlalu sering tidur siang. Kami punya solusi yang tepat buat anda yang mengalami masalah tersebut, tetapi anda akan tidur sangat pulas hingga tidak akan ingin bangun dari dunia mimpi.

    Dibaca : 1.378 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

              Malam itu sangatlah aneh bagiku. Aku melihat langit-langit kamarku yang gelap dan berabu. Aku setiap hari bangun melihat pemandangan ini, namun aku merasakan sesuatu yang janggal di malam ini. Aku mendengar suara seseorang. Suaranya terdengar seperti sedang mengunyah sesuatu. Aku bahkan tidak ingat membawa seseorang ke kamarku. Aku yang hidup sendiri di apartemen ini, tentu saja merasa aneh mendengar suara ini. Aku juga merasakan ketakutan ketika merasakan badanku tidak dapat digerakkan. Aku sering melihat fenomena ini di media.

           Aku lupa mereka menyebutnya sebagai apa. Aku hanya ingat deskripsi yang diceritakan oleh abangku. Aku sekarang sedang ditimpa setan. Mataku terbuka, namun aku tidak dapat bergerak. Aku mengeluarkan segala energiku untuk mencoba bergerak. Usahaku tidak membuahkan hasil. Perhatianku dialihkan oleh suara kunyahan yang semakin terdengar disertai suara tertawa. Suara ini terdengar seperti perempuan. Aku kembali mencoba membalikkan badanku dan anehnya aku sama sekali tidak bisa melakukannya. Aku bahkan sama sekali tidak bisa merasakannya. Setan yang menindihku pasti besar sekali. Aku hanya pasrah dan menghitung laba-laba di langit-langit kamarku. 

              Aku tiba-tiba merasakan kantuk yang sangat berat. Aku tidak pernah merasa letih seperti ini. Aku kemudian mencoba menutup mataku. Aku tiba-tiba dibangunkan oleh suara tawa yang keras dari kamarku. “Apakah kau masih hidup? Maaf ya, aku tidak tahan lagi, jadi aku memilihmu,” ujar seorang wanita. Apakah aku masih berada di dunia mimpi? Atau aku sudah bangun dari tidurku? Aku harap aku masih bermimpi. Aku tidak ingin mendengar suara orang asing di kamarku saat aku sedang ditindih setan. Aku mencoba menggerakkan badanku lagi. “Maaf ya, kau tidak bisa bergerak seperti itu, ya. Biar aku bantu,” ujar wanita itu.

       Ketakutanku meningkat saat gerakanku dan perkataannya selaras. Orang asing memang sedang berada di kamarku. Aku dengan paksa menggerakkan badanku. “Kau sekarang bisa berbalik. Aku tahu rasanya tidak bisa membalikkan badan saat tidur. Aku tidur dengan ketiga saudaraku di kasur yang sama. Aku bahkan tidak bisa bergerak saat tidur,” ujar wanita itu. Aku berbalik dan melihat seorang wanita dengan rambut panjang hitam dan rupa yang kurus kering. Semua dari wanita ini terlihat aneh. Tangannya yang dipenuhi luka, posturnya yang bungkuk, dan matanya yang terlihat seperti mereka yang tidak tidur selama lima hari, namun yang paling membuatku ketakutan dari wanita ini adalah mulutnya yang dilumuri saos sambal yang berbau besi.

         Aku berusaha berpikiran positif walaupun di saat seperti ini. “Terima kasih atas makanannya. Aku harap kau belajar dari pengalaman ini. Jangan terlalu sering begadang. Aku harap kau bisa tidur nyenyak hari ini. Dadah,” ujar wanita itu. Wanita itu akhirnya pergi dari kamarku yang diikuti dengan pemandangan yang memuakkan di meja makanku. Aku melihat sepiring tulang dan saos sambal yang berhamburan di mana-mana. Bau busuknya juga membuatku ingin muntah. Apa yang dimakan wanita itu di kamarku? Dia bahkan tidak membersihkan piringnya. Sialan. Rasa kantukku kemudian terasa semakin parah. Aku ingin menggaruk pelipisku yang gatal, tetapi aku masih belum bisa merasakan tanganku. Aku akhirnya berusaha untuk kembali tidur. Aku harap mimpiku kali ini bisa menyelamatkan adik-adikku seperti pahlawan-pahlawan di film. “Selamat malam,” ujarku dengan suara yang lemah. 

              “Bagaimana dengan kasus kali ini?” Seorang polisi bersama rekannya sedang berada di rumah seseorang. “Sama pak. Dia memotong kedua lengan dan kaki korban. Penyebab kematian adalah kehabisan darah,” ujar rekannya. “Kasus ini sudah menjadi yang ke-10 di kelurahan ini. Sialan!” Rekannya kemudian menunjukkan sebuah foto yang diambilnya dari korban. “Lihatlah pak, korban kali ini juga memiliki ekspresi wajah yang sama. Mereka terlihat hanya seperti sedang tidur nyenyak,” ujar rekannya. “Aku tidak peduli itu! Cari bukti lagi! Bisa jadi kita melewatkan sesuatu!”

    Smartphone milik polisi itu menunjukkan sebuah pemberitahuan. “Bapak bisa datang hari ini jam 3 sore untuk terapi terkait permasalahan tidur. Terima kasih telah memberikan kepercayaan kepada jasa kami. Sampai jumpa di kursi terapi kami!” 

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Merta Merdeka

    1 hari lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 114 kali







    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.475 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi