Perjuangan Diplomatik Pelajar Indonesia di Timur Tengah Saat Revolusi Kemerdekaan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Sabtu, 26 Maret 2022 12:14 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Perjuangan Diplomatik Pelajar Indonesia di Timur Tengah Saat Revolusi Kemerdekaan

    Peran pelajar-pelajar Indonesia di luar negeri menyumbangkan perjuangan diplomatik yang luar biasa. Ismail Banda dan kawan-kawannya berhasil menjalin hubungan dengan media-media di Timur Tengah untuk turut mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka aktif mengikuti kongres-kongres yang diadakan oleh negara-negara Arab.

    Dibaca : 1.129 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Di masa pergulatan mempertahankan kemerdekaan atas nama Republik, peran pelajar merasuk ke semua aspek perjuangan. Selain menggabungkan diri ke dalam ketentaraan, para pelajar juga turut memainkan peran diplomatik. Bahkan, peran tersebut dilakukan oleh sekelompok pelajar Republik yang berada di luar negeri.

    Menurut yang tertulis pada Islamijah Journal of Islamic Social Science, kiprah mereka terbilang amat penting dalam mendukung diplomasi yang dijalankan oleh senior-seniornya. Adul kahar Muzakkir memberikan kesaksian bahwa Ismail Banda adalah pejuang kemerdekaan Republik Indonesia di luar negeri. Muzakkir menulis sebuah artikel berjudul “Ismail Banda Almarhum, Pelopor Kemerdekaan di Luar Negeri”. Tulisan ini terbit di Harian Nasional pada akhir bulan Desember 1951. Ada beberapa hal menarik dalam artikel itu.

    Sewaktu masih di Makkah, tulis Muzakkir, Ismail Banda “menyatukan ribuan pelajar dan diarahkannya pada cita-cita nasional Indonesia. Ia menyatukan berbagai perhimpunan Indonesia dan menghilangkan ‘provincialisme’. Buah perjuangannya sungguh dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia di Makkah”. Selama di luar, Ismail Banda menggabungkan diri dengan Perhimpunan Indonesia Malaya (Perpindom) -dimana Ismail Banda pernah menjadi ketuanya- yang menurut Muzakkir, “sedikit banyak membuahkan rasa persaudaraan bangsa Indonesia baik yang di Indonesia sendiri maupun di Malaya”.

    Pun Ismail Banda, kata Muzakkir, “sebagai ketua Panitia Perjuangan (Pembela) Kemerdekaan Indonesia, bertugas sebagai penghubung (Republik Indonesia) dengan pemerintah Mesir, partai-partai politik, surat kabar-surat kabar, dan kedutaan-kedutaan asing di Cairo”.

    "Usahanya dalam mengadakan demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa Universitas Al Azhar dan lainnya untuk memprotes agresi militer Belanda di Indonesia telah berhasil baik sekali, sehingga semua lapisan rakyat Mesir dan negeri-negeri Islam lainnya mengenal dan membantu perjuangan rakyat Indonesia”. Muzakkir meneruskan bahwa, “surat kabar-surat kabar, partai Wafd, Ikhwanul Muslimin, dan Syubban Muslimin telah memberikan sokongan yang nyata kepada perjuangan kita.

    Demikian juga kaum buruh menyambut dan menyokong dengan hebatnya”. Mengenai dua pernayataan terakhir dari Abdul Kahar Muzakkir itu, M. Zein Hassan yang merupakan sahabat dan saksi mata perjuangan Ismail Banda, memberikan informasi terperinci dalam bukunya yang berjudul Diplomasi Revolusi Indonesia (1980). Sewaktu menjadi ketua Perpindom, Ismail Banda menggalang upaya-upaya persatuan demi kemerdekaan Indonesia.

    Setidaknya ada empat usaha perjuangan yang dilakukan Ismail Banda. Pertama dari sebuah koran di Kairo, Le Journal d’ Egypte, dimana diberitakan bahwa, “rakyat Indonesia di luar negeri menyatakan tekad akan sama-sama rakyat Belanda membebaskan Indonesia dari pendudukan Belanda”. Hassan menunjukkan berita itu kepada Ismail Banda sebagai ketua Perpindom, dan mereka sepakat tidak akan membiarkan aktivitas Belanda di Timur Tengah yang memberikan berita-berita tidak benar.

    Keduanya pun mengadakan pertemuan dengan empat orang lainnya yakni Ahmad Hasyim Amak, Abdulrahman Ismail, Abdul Jalil Hasan dan Muhammad Dawam. Mereka disebut Panitia Enam, yang sepakat bahwa gerakan mereka adalah rahasia dengan tugas pokok merencanakan dan mengkordinasi kegiatan-kegiatan perlawanan terhadap Belanda dimana mereka berusaha membangun persatuan antar bangsa Indonesia, serta mendekati untuk meraih dukungan dari masyarakat Mesir serta berbagai partai politik, organisasi Islam maupun media cetak di Mesir.

    Tujuan gerakan bawah tanah ini oleh Ismail Banda dan koleganya dimaksudkan untuk merusak rencana Belanda yang berusaha mendapatkan dukungan masyarakat Indoensia di Mesir, selain juga memberikan pemahaman kepada bangsa Arab tentang perjuangan bangsa Indonesia dalam melepaskan diri dari kolonialisme Belanda (Hassan, 1980: 32-35).

    Kedua, saat Pan Arab yang kemudian menjadi Liga Arab mengadakan kongres di Iskandariyah, Mesir, di bulan September 1944, Perpindom mengutus Ismail Banda dan M. Zein Hassan untuk melobi para peserta kongres yang merupakan para perdana menteri dan menteri luar negeri dari negara-negara Timur Tengah guna menyampaikan tiga tuntutan sebagaimana diungkap Hassan (1980: 41), yaitu pengakuan atas kemerdekaan Indonesia, jaminan kesatuan Indonesia, dan wakil Indonesia diikutsertakan dalam menentukan masalah perdamaian setelah perang. Tiga tuntutan tersebut diajukan atas nama Perhimpunan Indonesia dan berhasil meraih simpati bahkan dukungan dari para peserta kongres dimana mereka sepakat bahwa Indonesia harus merdeka.

    Yang ketiga, yakni beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan tepatnya pada 16 Oktober 1945, Konferensi Arab Islam diadakan di gedung Jam’iyah Syubban Muslimin di Mesir. Konferensi ini dihadiri oleh pejabat dan tokoh negara-negara Arab. Pada acara pembukaan, Ismail Banda dan M. Zein Hassan memberikan uraian tentang Islam di Indonesia, perjuangan dan proklamasi kemerdekaan Indonesia serta perkembangan terakhir pasca proklamasi kemerdekaan.

    Mereka juga menyampaikan dua hal: menuntut negara-negara Arab mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia, dan menyodorkan draft resolusi yang disusun dalam tiga bahasa (Arab, Inggris dan Perancis). Dua diantara tujuh poin dalam resolusi itu adalah “menuntut semua negara dan terutama negara-negara Arab dan Islam supaya mengakui RI”, dan “mendesak Inggris supaya jangan menyokong Belanda…”. Dan, berkat dukungan dari Jenderal Saleh Harb Pasya, ketua Panitia Pembela Indonesia dan Kemerdekaan beserta ketua Jam’iyah Syubban Muslimin diperbolehkan untuk menyampaikan resolusi yang disusun oleh Ismail Banda dan M. Zein Hassan.

    Upaya tersebut membuahkan banyak hasil, dimana puncaknya pada 19 November 1946, semua media cetak di negara-negara Timur Tengah menyampaikan keputusan Dewan Menteri Luar Negeri Liga Arab. Semuanya memuat, “mewasiatkan negara-negara Arab supaya mengakui Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat” (Hassan, 1980: 63-65). Maka atas usaha-usaha pelajar seperti Ismail Banda, Mesir pun menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indoensia selain juga mendorong negara-negara Arab untuk melakukan hal yang sama (Salim HS., dalam Lindsay dan Liem, 2012), termasuk pula Saudi Arabia (Jamil, 1977).

    Keempat, pada tanggal 26 September 1948, Ismail Banda masuk dalam jajaran tim misi haji pertama. Misi haji ini diadakan untuk menghadang propaganda Belanda yang terus meningkat di Saudi Arabia, dimana Belanda juga mengirimkan berbagai misi diplomatik dan misi agama (haji). Oleh karena itu, untuk melawan propaganda tersebut, pemerintah Republik Indonesia mengirimkan tim misi haji pertama dengan mengutus KH. Moh. Adnan, Ismail Banda, Saleh Suady TH, dan Syamsir St. R. Ameh (Hassan, 1980: 263).

    Abubakar Aceh (1957) secara terbuka menyebutkan bahwa Ismail Banda dalam misi haji pertamanya bertugas sebagai Sekertaris I. Abubakar Aceh memuji Ismail Banda sebagai orang yang mempunyai kecerdasan dengan mengatakan bahwa tugas tim ini adalah “menjelaskan kepada dunia Islam (tentang) politik pemerintahan RI dewasa itu serta mempropagandakan perjuangan rakyat bangsa Indonesia baik selama di Makkah maupun selama perjalanan pulang pergi…” (214, 650). Secara khusus pula, Ismail Banda atas kapabilitas dan kompetensi berbahasa Arabnya, ditugaskan melalui pers Arab untuk mengenalkan perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan kolonial Belanda. Kehadiran misi haji pertama ini mendapatkan simpati dari negara-negara Islam yang akhirnya turut memperkukuh pengakuan kedaulatan Republik Indonesia (Kementerian Agama, 1996: 28).

    Tak ketinggalan Jenderal Abdul Haris Nasution, yang turut memuji perjuangan Ismail Banda di luar negeri dalam rangka merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Proklamasi, Jenderal Nasution mengungkap bahwa Ismail Banda bersama para pelajar dan masyarakat Indonesia lain terus berusaha mewujudkan persatuan di kalangan pelajar dan masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri. Nasution menyebut bahwa Muhammad Zein Hassan dan Ismail Banda, dua orang tokoh yang terkenal, selalu berunding dan mencari jalan untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah. Ia bahkan menjadi penghubung pemerintah Indonesia dengan pemerintah Mesir dan kekuatan sosial politik yang ada di sana terutama Ikhwanul Muslimin (Nasution, 1977: 163-168).

    Sedangankan perihal perjuangan pelajar di Mesir, oleh Ismail Banda sendiri, pernah disampaikan makalah ketika di Yogyakarta dengan judul “Pengakoean Mesir dan Arab League” (Sitompul, 1986).

    Untuk Ismail Banda dan kawan-kawannya, Jenderal Abdul Haris Nasution (1977) mengatakan: "Dalam pada itu, gerakan illegal kita di Mesir sudah bekerjasama sama secara erat dengan pelbagai organisasi organisasi dan persuratkabaran, sehingga timbul pengertian dan simpati yang luas terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Organisasi-organisasi yang besar minat dan bantuannya adalah Ikhwanul Muslimin, dalam mana Ismail Banda sendiri menjadi penghubung kita... Ditentukanlah siasat untuk memperoleh pengakuan negara-negara Arab. Kebetulan pula kongres negara-negara Arab sedang berlangsung di istana negara di Alexandria… Ismail Banda dan Zein Hassan secara menyamar sebagai orang Irak dari perutusan Irak -memakai songkok Irak mengendarai taksi- dapat masuk ke dalam istana yang dijaga keras itu… Semua delegasi (negara-negara Arab) ditemui dan semua bersimpati kepada kemerdekaan Indonesia. Mereka menyanggupi bantuan-bantuan yang mungkin (h. 168).

    Setelah Indonesia merdeka, Ismail Banda tetap aktif memainkan perannya di kancah diplomatik sebagai politisi Masyumi. Ia bekerja di Kementrian Agama dan kemudian di Kementrian Luar Negeri. Oleh pemerintah Indonesia ia lantas dipercaya untuk menjadi Kuasa Usaha Republik untuk Iran dan Afghanistan. Tetapi naas, saat menjalankan tugas dari Teheran hendak ke Afghanistan pesawat yang ditumpanginya kecelakaan dan meledak hingga jasadnya hangus terbakar. Ismail Banda pun dimakamkan di Teheran, Iran.()

    Ikuti tulisan menarik Bayu W |kuatbaca lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Priskila Naomi

    19 jam lalu

    Asa

    Dibaca : 79 kali