x

Ilustrasi Pemimpin. Karya: Mariana Anatoneag dari Pixabay

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 8 April 2022 06:57 WIB

Merenovasi Sikap Mental

Whenever they rebuild an old building, they must first of all destroy the old one. (Maulana Jalaludin Rumi). Maksud Rumi tentu bukan tentang bangunan fisik. Saya menafsirkan quote ini ada kaitannya dengan sikap mental. Mari kita otak atik.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

Whenever they rebuild an old building, they must first of all destroy the old one.  (Maulana Jalaludin Rumi).  Ketika mereka akan membangun kembali bangunan lama, pertama mereka harus menghancurkan yang lama dulu.  Kali ini lagi lagi Rumi menulis sebuah metafora.  Saya memperkirakan dia sedang berbicara tentang sikap mental.  Dia menganjurkan agar kita move on, kita meninggalkan sikap mental yang lama menuju sikap mental yang baru agar kita bisa berbuat sesuatu yang baru.

Dalam bahasa Jawa ada frasa owah gingsiring jaman, yang artinya perubahan dunia.  Maksudnya dunia ini sangat dinamis.  Selalu ada perubahan.  We live in a changing world, kata wong londo. Bung Karno dulu suka mensitir  kata kata Herakleitos, panta rei yang artinya senada dengan frasa Jawa tadi.   

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dalam dunia kerja bakal banyak perubahan.  Di masa depan yang dekat bakal banyak profesi yang hilang dan bakal banyak profesi yang muncul.  Artinya bakal banyak ketrampilan baru yang dibutuhkan.  Ketrampilan yang dulu tak terbayangkan.  Di dunia pariwisata sekarang muncul virtual tour.  Para pramuwisata ramai ramai mempelajarinya. Sepuluh tahun yang lalu orang tidak membayangkan pekerjaan sebagai vlogger.  Bahkan hari ini masih banyak yang tidak tahu, apalagi menguasai ketrampilannya.

Semua ketrampilan baru itu membutuhkan sikap mental yang baru juga. Tanpa sikap mental yang mendukung ketrampilan yang dicapai akan kurang maksimal efeknya.  Sikap mental bagaimana yang akan mampu mendukung ketrampilan baru nanti? 

Persaingan ketat dunia kekinian di segala sektor menuntut sikap mental melayani.  Hanya mereka yang memiliki sikap mental melayanilah yang akan mampu memaksimalkan ketrampilannya.  Hermawan Kertajaya pernah mengatakan bahwa semua bisnis sejatinya adalah bisnis jasa, meskipun yang dijual adalah benda.  Mereka harus mampu melayani dengan baik kalau tidak mau ditinggalkan konsumennya dan dilibas perkembangan jaman.

Dunia pendidikan juga bakal mengalami perubahan besar yang menuntut sikap mental dan ketrampilan baru.  Pendemi Covid-19 mempercepat proses ini.  Masyarakat terkejut dan tidak siap ketika tiba tiba harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh.  Banyak yang belum paham dengann e learning dan distant learning. Maka banyak yang gagap melaksanakannya. Proses pemerolehan bahasa Inggris misalnya, juga akan mengalami perubahan pesat. Akan semangkin banyak sumber dan metoda pembelajaran sehingga lembaga kursus akan mendapatkan kompetisi yang semangkin berat.  Kalau tidak siap bisa dipastikan perannya akan surut, demikian juga pendapatannya.

Demikian juga sektor pemerintahan. Ke depan akan semangkin dituntut untuk mampu melaksanakan public service yang semangkin baik. Pemerintahan di negara maju, bahkan para tetangga di Asia sudah lama menerapkan prinsip ini.  Artinya mereka harus terus menerus memperbaiki sikap mentalnya, harus move on dari mentalitas menguasai menjadi mentalitas melayani.

Sadar atau tidak manusia dipengaruhi oleh budayanya. Sayangnya kita mewarisi budaya yang feodalistis.  Budaya semacam ini membentuk sikap mental yang feodalistis, sikap mental yang meminta dilayani, bukan melayani.  Maka ini adalah sebuah kendala serius.  Jadi kita harus hijrah, harus meninggalkan budaya feodalistis menuju budaya yang egaliter, yang mementingkan amal, artinya melayani sesama.  Bukan mentalitas yang takabur, yang merasa lebih tinggi dari orang lain. Bagaimana melakukannya?  Tidak mudah memang.

Itulah sebabnya saya sedang merancang sebuah buku yang mengaitkan budaya dengan tingkah laku kita.  Gagasan pokoknya adalah memilih dan memilah warisan budaya yang kita terapkan dalam keluarga agar anak anak kita memiliki sikap mental yang baik, yang tepat untuk mengantisipasi perkembangan jaman modern ini. 

Monggo ubah sikap mental kita.  Hijrah dari sikap mental menguasai menjadi sikap mental melayani.  Dari pasif menjadi aktif.  Dari menerima saja warisan budaya feodalis menjadi aktif mencari budaya baru yang egaliter.  Hanya dengan sikap egaliter kita mampu melayani masyarakat dengan baik dengan karya kita.

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB